AKHIR SANG PENULIS TAKDIR

AKHIR SANG PENULIS TAKDIR
13


__ADS_3

Setelah berjalan cukup jauh, Lucy sampai di sebuah Padang gurun yang suhunya sangat panas. Tidak heran jika banyak orang mati di tengah gurun tersebut. Namun bagi Lucy yang telah berkali-kali berada dalam situasi hampir mati, panas gurun bukanlah apa-apa.


Saat sedang berjalan, Lucy melihat sesuatu yang terbaring di tengah pasir gurun.


"Apa itu? Bangkai?" Ucap Lucy penasaran yang kemudian berjalan mendekatinya


"Sialan itu manusia!" Ucap Lucy yang kemudian segera menolongnya.


Orang itu adalah seorang prial, pria tersebut pun diberikan air oleh Lucy.


"Tunggu, bagaimana jika dia adalah musuh yang menyamar? Sebaiknya aku membunuhnya" ucap Lucy sambil mengeluarkan pedang dan hendak membunuhnya


"Tenanglah nona, mengapa nona ingin membunuh seorang penyair buta sepertiku?" Ucap pria tersebut yang ternyata telah bangun


*Matanya.... sepertinya dia memang buta* ucap Lucy dalam hati sambil beberapa kali melambaikan tangan di depan mata pria tersebut.


"Apa yang dilakukan seorang penyair buta sepertimu di padang gurun seperti ini? Kau tidak bisa melihat, lalu bagaimana caramu menentukan arah jalanmu?" Tanya Lucy dengan curiga


"Aku memang tidak bisa melihat, tapi aku bisa menentukan jalanku lewat arah angin. Meski indra pengelihatan ku tidak berfungsi, namun indra ku yang lain bisa dikatakan di atas rata-rata. Selain itu, aku juga memiliki seekor anjing yang selalu membantuku. Namun dia mati saat hendak melindungiku dari seekor serigala. Aku telah meremehkan gurun ini..." Ucap pria tersebut dengan perasaan menyesal


"Berani berjalan melewati gurun seperti ini, sebenarnya apa yang tujuan mu?" Tanya Lucy


"A-(Qrrrrrrrrr)" belum selesai berbicara, terdengar bunyi perut dari pria tersebut


"Sepertinya kau kelaparan, makan dan minumlah dulu. Aku yakin anjingmu melindungimu bukan untuk melihatmu mati kelaparan di gurun yang sama" Ucap Lucy yang kemudian memberikan pria tersebut roti dan air


"Kau benar..." Ucap pria tersebut yang kemudian menyantap roti dan air yang diberikan Lucy padanya

__ADS_1


Setelah beberapa menit, pria tersebut pun selesai menyantap makanan dan minumannya. Tak lupa ia pun berterimakasih pada Lucy lalu menjelaskan tujuannya melewati gurun tersebut.


"Pertama-tama aku ingin berterimakasih pada nona karena telah menyelamatkanku, terimakasih" ucap pria tersebut


"Umm (iya)" balas Lucy sambil mengangguk


"Perkenalkan nama saya adalah Kaill, saya adalah seorang penyair yang telah melakukan banyak perjalanan selama hidup saya dan membuat banyak syair puisi dari setiap perjalananku. Suatu saat, aku bertemu dengan seorang wanita yang bernama Martha. Aku jatuh cinta padanya, sehingga membuatku menetap di tempat itu. Setelah beberapa kali berkencan, kami sadar kami saling menyukai. Aku selalu membacakannya puisi dan menyanyikannya syair buatanku. Dia sangat menyukainya, dia juga menerima keadaanku yang buta ini. Namun suatu saat, dia terkena penyakit yang sebenarnya telah ia derita sejak kecil. Hari demi hari penyakitnya makin parah, bahkan untuk bangun pun susah. Hingga sebelum kematiannya, ia meminta agar jasadnya dibakar, lalu abunya di pulangkan ke kampung halamannya yang katanya ada di kota di balik gurun ini. Setidaknya inilah yang bisa aku lakukan untuknya." ucap Kaill dengan perasaan sedih


"Apa yang dilakukan seorang penyair kerdil sepertimu di tengah gurun? " Tanya Lucy yang sebenarnya tidak peduli


"Begitu yah, maafkan aku telah berburuk sangka. Oh ya kalau tidak salah tadi katamu di balik gurun ini ada sebuah kota, kota apa itu?" Tanya Lucy


"Itu adalah kota yang terkenal sebagai kota dagang yang sangat ramai penduduknya. Hampir seluruh pendatang, pengelana, dan penjarah di seluruh benua singgah ke sana" ucap Kaill memperjelas


"Kota dagang..." *Ku harap aku bisa menemukan petunjuk mengenai kerajaan Dallveon dan kelemahan kerajaan Valdimora di sana* batin Lucy


"Aku terbantu, terimakasih" ucap Lucy


"Tidak perlu berterimakasih, ini bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan pertolongan nona tadi." Ucap Kaill


Setelah berjalan cukup jauh, terlihat bulan mulai muncul yang menandakan malam akan tiba. Mereka pun memutuskan untuk berkemah dan beristirahat di gurun tersebut.


"Permisi nona, kalau boleh tahu nama nona siapa?" Tanya Kaill


"Namaku Lu- Givelda. Namaku Givelda." Ucap Lucy yang hampir saja keceplosan


"Givelda yah... Nama yang cantik. *Aku yakin tadi dia ingin menyebut nama lain*" ucap Kaill menutupi kecurigaannya

__ADS_1


"Oh ya, kau bilang kau adalah seorang penyair kan?" Tanya Lucy


"Akhirnya kau tertarik. Memang betul aku adalah seorang penyair, bahkan telah banyak syair buatanku yang terkenal." Ucap Kaill


"Benarkah?" Tanya Lucy


"Nona tidak percaya? Mungkin nona tidak percaya padaku, namun aku yakin nona bisa percaya pada syairku. Beberapa yang terkenal adalah: 'Malam berbintang', 'Senandika angin', 'kerajaan lindap', menar-" Ucap Kaill yang terpotong


"Kerajaan lindap? Apa itu?" Tanya Lucy dengan penasaran


"Itu adalah sebuah syair yang kutulis tentang sebuah kerajaan yang kini telah jatuh akibat perang dahulu. Kuberi judul 'Kerajaan lindap (redup)' karena aku percaya bahwa kerajaan tersebut belum sepenuhnya mati. Aku percaya suatu saat akan ada cahaya baru yang membangkitkan kembali kerajaan tersebut." Ucap Kaill menjelaskan


"Seperti apa isi syairnya" tanya Lucy


"Isinya: '♪Sebuah dersik membawaku pada kerajaan baswara yang mulai lindap.


Dari jauh, kudengar litani tulus dari tiap sanubari. Mahligai batara dan maharani kian temaram, hmmmm~



Tiap doa dan asa naik hingga ke dirgantara,


membuat langit menyanyikan elegi.


Dengan renjana, mereka terus berharap. Percaya akan nawasena yang niscaya terwujud.


__ADS_1


Hingga kini, kidung mereka telah amerta di telinga tiap insan♪" Syair Kaill


__ADS_2