
Rapat kerajaan pun dimulai, seluruh anggota kerajaan didampingi pengawal pribadi mereka pun satu-persatu pergi menuju ruang rapat.
Saat dalam perjalanan menuju tempat rapat, Hazzel didampingi Lucy bertemu dengan dua orang pelayan yang tidak tahu diri.
"Bersiaplah" ucap Hazzel pada Lucy
"Hah, bersiap untuk apa?" Tanya Lucy yang tidak paham
Saat berpapasan, salah seorang pelayan dengan sengaja akan menyiramkan gelar berisi air ke Hazzel dan Lucy. Namun Lucy dengan cepat merampas gelas tersebut lalu memecahkannya ke atas kepala pelayan tadi, yang membuatnya kepalanya berdarah dan pingsan.
"KYAKKKKK!!!" Teman dari pelayan yang pingsan tersebut pun berteriak histeris yang membuat salah satu pangeran bersama pengawal pribadinya menghampiri mereka.
"Apa yang terjadi di sini?!" Tanya sang pengeran
"Pangeran Raizel! Syukurlah anda ada di sini. Begini, saat tadi saya dan Viona (pengawal yang pingsan tadi) sedang berjalan, tiba-tiba kami dihadang oleh pangeran Hazzel dan pengawalnya. Kami pun menunduk dan memberikan salam pada pangeran, namun tiba-tiba pengawal dari pangeran Hazzel mengambil gelas yang dibawa oleh Viona lalu memecahkannya di kepala Viona yang membuatnya tidak sadarkan diri. Nampaknya pengawal tersebut bekerjasama dengan pangeran Hazzel untuk mempermalukan kami" ucap pelayan tersebut yang memberikan cerita palsu
"Mau kupecahkan juga di kepalamu?" Tanya Lucy yang tidak senang akan cerita palsu tersebut
__ADS_1
"Givelda! Diam!" Bentak Hazzel
"Apakah itu benar?" Tanya pangeran Raizel yang kemudian tersipu saat melihat Lucy
"Itu benar." Jawab Lucy dengan cepat
"Giv-" Hazzel yang ingin berbicara pun disela dengan cepat oleh pangeran Raizel
"A-apa alasanmu melakukannya?" Tanya Raizel
"Apa lagi?! Sudah pasti mereka ingin mempermalukan kami!" Jawab si pelayan
Raizel yang mendengarnya hanya tertegun sambil menatap kursi roda Hazzel dan bajunya yang sedikit basah akibat cipratan air. Ia pun langsung paham apa yang terjadi lalu menyuruh pengawalnya untuk menyeret kedua pelayan tersebut dari kerajaan karena mereka telah dipecat. Raizel merupakan satu-satunya pangeran yang tidak pernah merendahkan pangeran Hazzel, ia menganggapnya sama dengan yang lain.
*Kalau tidak salah namanya tadi Givelda yah, dia...menarik* pikir Raizel yang sedang melamun dengan wajah yang sedikit merona
Pengawal Raizel yang telah kembali lalu melihatnya melamun pun bertanya dengan khawatir: "Pangeran, ada apa?"
__ADS_1
"Ah tidak apa-apa. Ayo cepatlah, kalau tidak kita bisa terlambat mengikuti rapatnya." Ucap Raizel
•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•
"'Lihatlah dengan mata kepala anda, lalu nilai dengan mata hati anda' Apa kau gila berkata seperti itu?! Bagaimana jika dia salah paham? Yang ada kita akan sama-sama kesulitan. " Ucap Hazzel
"Aku tahu dia bukan orang bodoh yang akan termakan hasutan pelayan" jawab Lucy
Hazzel hanya menghela nafas. Mereka pun tiba di ruang rapat, di sana terlihat dua orang pangeran dan dua orang putri. Jika dijumlahkan, total ada enam keturunan raja termasuk Hazzel dan Raizel.
Para calon penerus tahta pun satu-persatu mulai memasuki ruang rapat. Hingga terlihat Raizel dan pengawalnya yang hampir telat.
Hazzel pun ikut masuk ke dalam ruangan, sementara para pengawal pribadi termasuk Lucy tidak diperbolehkan ikut. Lalu, Raizel tiba-tiba menghampiri Lucy dan berkata pelan: "Aku telah melihat dengan mata kepala dan mata hatiku."
Lucy pun menundukkan kepalanya sedikit yang berarti "iya".
Saat pintu ruang rapat ditutup, Lucy pun dihampiri oleh seorang pengawal yang genit.
__ADS_1
"Jadi kau adalah pengawal pribadi dari pangeran lumpuh itu? Sayang sekali gadis cantik sepertimu menjadi pengawalnya. Bukankah aku jauh lebih tampan darinya?" Ucap pengawal tersebut sambil mengusap rambut Lucy.
*Ah persetan, toh aku akan segera pergi* batin Lucy yang kemudian melemparkan jarum yang sudah ia olesi obat bius ke tiap pengawal yang kebetulan sedang lengah, yang membuat mereka semua pingsan. Lucy pun segera memakai topeng, jubah, dan topinya lalu mencari tempat untuk menguping pembicaraan di rapat. Saat tengah berjalan, tiba-tiba dua orang prajurit datang dengan masing-masing membawa sebuah gulungan yang ditutup kaca.