
Lucy yang terluka parah diselamatkan oleh seorang nenek beserta cucunya. Lucy pun menyembuhkan diri di desa tersebut selama seminggu sembari memikirkan rencana selanjutnya. Hingga saat malam tiba, Lucy memutuskan untuk segera pergi dari desa tersebut, ia tidak ingin berlama-lama disaat waktu terus berjalan.
"Begini, aku harus melanjutkan perjalananku esok, apakah kau bisa menyembuhkan lukaku lebih cepat?" Tanya Lucy pada si nenek
Sang nenek awalnya tidak menyarankannya, namun karena Lucy bersikeras akhirnya ia pun mengiyakan: "Berdirilah, buka bajumu, biar aku lihat lukamu"
Lucy pun membuka bajunya, ia hanya memakai mingset berwarna hitam, sementara perutnya dililit perban.
"Pegang rambutmu, biar aku buka perbannya" ucap sang nenek
"Aku tahu kakak adalah wanita yang cantik, tapi melihat kakak seperti ini membuat kakak terlihat seratus kali lebih mempesona, woahh" ucap Lily yang terpukau melihat body Lucy serta wajahnya yang cantik, ditambah dengan perut Lucy yang sixpack membuatnya begitu menawan
Sementara Lucy hanya terdiam karena menganggapnya berbohong.
"Apa yang dikatakannya itu benar, kau wanita yang cantik dan gagah. Kau tahu? Anak kecil jujur dalam memuji" ucap sang nenek
Lucy pun tersenyum lalu mengangguk, itu adalah pertama kalinya ia tersenyum pada orang.
"Saat tersenyum wajahmu sangat manis.....nah perbannya sudah terbuka, biar aku lihat. Hmm...sudah lebih baik namun belum begitu baik. Aku akan memberimu salap untuk mempercepat penyembuhannya." Ucap sang nenek
"Terimakasih." jawab Lucy
Malam itu, mereka pun makan bersama untuk yang terakhir kalinya. Usai makan, mereka pun berbincang-bincang.
"Aku telah menyiapkan pakaian mu yang dulu kau pakai, hanya saja, topeng mu telah rusak, jika kau mau aku akan memberimu kain untuk kau tutupi wajahmu." Ucap sang nenek
Lucy yang mendengarnya pun terkejut
__ADS_1
*Apakah sebenarnya dia telah tahu sejak awal siapa aku?* Batin Lucy
"Aku bingung, padahal wajah kakak secantik ini tapi kenapa memakai topeng?" Tanya Lily
"Aku ingin bicara", ucap Lucy sambil melirik ke arah si nenek
Sang nenek pun mengerti dan menyuruh Lily meninggalkan mereka berdua untuk berbicara.
"Kau telah tahu siapa aku sebenarnya bukan? Kenapa justru berpura-pura?" Tanya Lucy
"Aku tidak peduli siapa dirimu, pada dasarnya kita sama-sama hanyalah korban. Keadaan membuat kita berperang, namun bukan berarti mengubah kita menjadi jahat. Lalu, aku juga tahu bahwa kau telah sangat menderita."Jawab sang nenek
Lucy hanya bisa tertunduk. Sang nenek pun berusaha menghiburnya dengan ingin memeluknya.
"Aku tidak suka dipeluk!", Ucap Lucy dengan tegas, namun sang nenek tetap memeluknya, pada akhirnya Lucy pun hanya pasrah dalam pelukan hangat sang nenek.
Pagi pun tiba, setelah berpamitan Lucy pun meninggalkan desa tersebut.
"Perasaan apa ini? Sejak meninggalkan desa jantungku terus berdetak, rasanya janggal." Ucap Lucy sambil berjalan perlahan
(DUARRRRR) suara ledakan
"SIALAN, APA ITU?! Suaranya berasal dari arah belakang....GAWAT, DESA!!!" Lucy segera berlari menuju desa dengan cepat, berharap seluruh penduduknya baik-baik saja.
Saat sudah agak dekat dengan desa, Lucy mencium bau asap yang sangat busuk, ia kemudian melihat gumpalan asap dari arah desa. Dengan gemetar dan sesak nafas, Lucy tetap berjalan untuk memastikan.
Dan benar saja, seluruh isi desa telah ludes terbakar.
__ADS_1
"NENEK!! LILY!! SEMUA DI MANA KALIAN?!!! KUMOHON... Muncullah...hiks.. kumohon... jangan pergi.. kumohon...kumohon... kumohon...hiks.."
Tiba-tiba, terdengar suara lemah dari bawah puing-puing: "K-kakak...."
"HUH? LILY! LILY KAU KAH ITU?! DI MANA KAU? KATAKAN!!" Teriak Lucy
"Ka..kak...aku disini..."
Lucy pun segera pergi menuju puing-puing suara Lily berasal. Dengan cepat ia mengangkat puing-puing itu satu persatu. Terlihat tangan Lily yang telah patah, dan kakinya yang telah hangus akibat terbakar. Sambil menangis, dengan perlahan Lucy mengeluarkannya.
"Lily! Bertahanlah! Mana yang lain?! Siapa yang melakukan ini pada kalian?!"
"Percuma kak, hah...hah..mereka semua telah dibunuh. Bahkan nenek pun dibunuh, tinggal aku sendiri...tapi..tapi aku malah terjebak di dalam puing-puing.... Orang yang membunuh kami ada banyak, me..mereka membawa bendera berwarna ungu b-b-bertuliskan 'D-d..allveon bangkit!' " Ucap Lily dengan tersendat-sendat
*APA?! Kerajaan Dallveon?! bohong, bohong bohong bohong bohong bohong bohong bohong! Ini pasti bohong kan? Iya kan?...* Batin Lucy yang tidak percaya
"Syukurlah kakak b-baik...saja.."
"Maaf! Maafkan aku...jika saja, jika saja aku datang lebih cepat..hiks.. maafkan aku.... kumohon bertahanlah... Lily.."
"Kakak, apa jika aku besar nanti, aku bisa secantik kakak?" Tanya Lily
"Pasti! Kau sekarang sudah sangat cantik! Jika besar nanti kau pasti jauh lebih cantik dari siapapun! Jadi.. tetaplah hidup kumohon.."
"Begitu yah?... syukurlah..aku senang, ini pertama kalinya seseorang menyebut ku cantik. Hehe...kakak..mata kakak seperti permata indah, kakak harus bahagia..." Lily pun menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan Lucy dengan mata terbuka.
"Lily?! LILY! LILY HEY BANGUN!! Lily? Tidak, ini tidak mungkin, Lily..hei.. hiks...aaaa..........
__ADS_1
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!....." Teriak Lucy yang hatinya telah tercabik-cabik