Akibat Menikah Muda

Akibat Menikah Muda
rencana kuliah untuk Jo


__ADS_3

" kalau kalian sudah faham, silahkan lanjutkan pekerjaan kalian" perintah pak Anggara tegas.


" baik Pak, bu, tuan besar, kami pamit. " ucap para asisten dan meninggalkan keluarga besar tuan Anggara.


" sekarang, kita bahas masalah kamu nak, " Pak Anggara menatap putrinya, Joana. Joana pun balik menatapnya.


" iya pa. " Joana menjawab.


" kamu adalah penerus usaha kami yang akan datang, jadi kamu harus meneruskan kuliah agar kamu mendapatkan ilmu yang bisa kamu pakai untuk mengelola perusahaan. " ujar pak Anggara lagi.


" pa, Joana aja belum bersalaman dengan opa dan kakeknya, kamu sudah membahas masalah kuliah. " bu Anggun mengingatkan suaminya.


" Astagfirullah, papa lupa. pergilah kamu salami mereka. " perintah pak Anggara. dan Joana pun berdiri dan melangkah mendekati sesepuhnya .


opa Broto dan kakek Suseno berdiri menyambut cucu kandungnya.


mereka berebut untuk. memeluk cucunya.


" gantian dong pa, " bu Anggun mengingatkan papanya.


" heh heh, soalnya sudah sangat lama aku merindukan cucu ku yang satu ini. " ujar Opa Broto. yang lain pun tersenyum, kecuali Erwin dan Liana yang segera meninggalkan mereka yang sedang bahagia.


" maafin opa ya Jo, gara gara opa dan kakek yang dulu menyuruh membuang kamu, sehingga akhirnya kamu mengalami kepedihan dalam hidup kamu. " opa Broto memeluk erat tubuh cucunya. air mata yang coba ditahannya pun keluar karena rasa haru dan bahagia yang sangat besar di hatinya.


" itu sudah menjadi bagian hidup saya opa, tidak perlu disesalkan lagi. yang terpenting sekarang kita sudah bisa berkumpul lagi. " Joana dengan legowo memaafkan semuanya.


" kakek juga minta maaf ya cu, andai kami dulu bisa menerima kehadiran bayi mungil yang tentu sangat lucu. " kek Suseno pun ikut memeluk cucunya.

__ADS_1


" sudah kek, opa, kita lupakan semua kejadian yang pahit di masa lalu. kalau dulu Jo tidak dibuang, belum tentu Jo menjadi manusia yang kuat. Jo tetap berterimakasih pada kalian, karena tempaan hidup yang telah Jo dapatkan." Jo tersenyum pada dua kakeknya itu. pak Anggara dan bu Anggun yang menyaksikan pun ikut menangis hari. kebahagiaan terpancar di mata mereka.


...****************...


sementara dua pasang mata yang menyaksikan dari lantai atas memandang mereka dengan sinis.


" emang kamu percaya kalo dia adalah anak kandung mama dan papa Win? " Liana bertanya pada Erwin.


" anak kandung atau bukan aku nggak peduli, yang jelas aku tidak ingin dia ada disini. akulah yang harus jadi pewaris pertama di keluarga ini. " dengan angkuhnya Erwin berkata.


" kalau dia anak kandung mama dan papa, tentu dialah yang akan jadi pewaris pertama, karena mereka tidak menganut laki laki harus jadi yang utama, tapi yang lebih dewasa harus digembleng menjadi orang yang mampu memegang perusahaannya." Liana mengingatkan masalah yang akan timbul dengan kedatangan Joana.


" aku gak peduli, aku akan membuat dia keluar dari rumah ini, bagaimana pun caranya. " Erwin mengetatkan rahangnya.


Liana langsung memandang Erwin dengan tajam.


" kamu cukup diam saja. apapun yang akan aku lakukan, cukup diam saja. " tegas Erwin lagi. dan mereka melangkah ke kamar masing masing tanpa dikomandoi.


...****************...


kembali ke ruang makan, melihat mereka yang sedang berbahagia, kini mereka membahas tentang kuliah Joana.


" papa akan mendaftarkan kamu di kampus Muda Bakti Jo, kamu harus menjadi pengusaha setelah ini. kami akan menyerahkan perusahaan pada kamu. " ujar pak Anggara berubah ke mode serius.


" pa, kalo perusahaan tentu saja harus papa dan mama serahkan pada Erwin, dialah pewaris kalian, secara dia adalah anak laki laki satu satunya kan? " Joana berusaha mengelak dari pembicaraan mengenai warisan perusahaan. karena dia tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya.


" suka atau tidak, mau atau tidak, kamulah yang harus memegang semua perusahaan kami Jo. " bu Anggun ikut berbicara.

__ADS_1


" benar Jo, dan ini, ini adalah surat surat kepemilikan perusahaan yang sudah opa pindah namakan atas nama kamu sebelum kamu kembali kesini. " opa Broto menyerahkan map biru pada Joana. Joana mengambil dan membukanya, dia tidak mengerti dengan isi yang ada di dalamnya.


" Jo tidak mengerti apa isinya opa, " Jo menyerahkan kembali map tersebut pada opa Broto.


" ini hanya kopian surat kepemilikan perusahaan atas namamu Jo. yang asli sudah opa serahkan pada pengacara. dan opa akan mengesahkannya nanti, di usiamu yang keduapuluh satu. " opa Broto sedikit menjelaskan.


" tidak opa, Jo tidak mau berurusan dengan perusahaan, Jo tidak mengerti. lebih baik serahkan pada Erwin saja opa. " Jo memandang opanya dengan serius.


" itu gunanya kamu harus kuliah Jo, agar kamu mengerti tentang perusahaan dan cara mengelolanya. dan soal Erwin, kamu akan tahu suatu hari nanti. sekarang kamu masih baru berada di sini. jadi kamu lihat dan dengar saja dulu ya, dan fahami lah seiring waktu. " nasehat kakek Suseno yang tentu membuat Joana bingung.


"sudahlah Jo, sekarang kamu tidur aja dulu, besok,mama akan mengantarkan kamu ke kampus untuk mendaftarkan kamu di sana. " ujar bu Anggun menyudahi kebingungan Joana.


" iya Jo, sebaiknya kamu tidur dulu ya. hari sudah malam. " pak Anggara menyetujui ucapan istrinya. Joana yang pada dasarnya adalah anak penurut pun patuh pada omongan orang tuanya. diapun melangkah menuju ke kamarnya di lantai atas.


...****************...


Joana memasuki kamarnya, dia membaringkan tubuhnya, menatap langit langit kamar yang sudah didesain dengan indah itu. dia tidak pernah menyangka akan menemukan kehidupan seperti ini. selama ini dia tidak pernah berkhayal yang terlalu tinggi, karena dia tahu untuk menempatkan dirinya. Jam tiga, barulah dia tertidur, setelah pikirannya yang sedang bahagia lelah mencerna semua keajaiban yang di dapatnya hari ini.


walaupun dia tidur sudah hampir subuh, tapi dia tidak bisa bangun kesiangan, jam lima Joana sudah bangun dan menuju kamar mandi yang ada dalam. kamarnya itu. setelah membersihkan diri diapun melaksanakan shalat subuh.dan keluar kamar, dia menuju dapur, yang berada di lantai bawah, terlihat para asisten yang sedang melakukan tugasnya masing masing. Joana mendekati mbok Sri yang sedang membuat sarapan.


" ada yang bisa dibantu mbok? " tanya Jo yang sukses membuat mbok Sri terkejut.


" non Jo, kok sudah bangun? " tanya mbok Sri yang heran melihat majikannya ada di dapur.


" mbok, jangan panggil non, Jo aja mbok. " kembali Jo mengingatkan mbok Sri yang memanggilnya dengan panggilan non.


" eh maaf, iya Jo. mau dibuatin sarapan apa Jo? " tanya mbok Sri pula.

__ADS_1


" saya makan apa aja mbok. " jawab Jo.


__ADS_2