
mereka terus menuruni anak tangga, dan sampai didepan kamar yang dituju. Joana membuka pintunya. dia masuk kedalam dan mengambil tasnya. dibukanya tas dan diambilnya bungkusan yang diberikan oleh orang tua angkatnya. diserahkannya bungkusan itu pada pak Anggara yang tentu saja membuat mereka terperanjat, ini adalah bungkusan yang mereka berikan pada Mario saat itu. dibukanya bungkusan itu, tampak, kalung berliontin yang sama dengan liontin milik bu Anggun, selembar foto yang sama dengan yang dari tadi dipegang oleh mereka, dan sepucuk surat yang ditulis tangan oleh bu Anggun. pak Anggara langsung memeluk putrinya itu. Joana masih diam tidak bereaksi, hanya bahunya yang turun naik karena isak nya.
" maafin kami nak, maafin papa yang tadi masih meragukan mu. " pak Anggara membalikkan wajah anaknya agar menatapnya. " kamu masih marah pada papa nak? " pak Anggara berkata dengan sangat lembut.
" apakah seorang anak bisa memilih, untuk marah atau tidak pada orang tuanya? " Joana akhirnya bersuara.
pak Anggara terkejut mendengar ucapan anaknya itu.
" mengapa kamu mengatakan itu nak? kamu berhak marah pada kami" ucap pak Anggara mengelus pundak putri nya itu.
" buktinya aku tidak bisa memilih untuk tidak dicampakkan hari itu. " teriak Joana yang masih mengeluarkan air matanya .
__ADS_1
bu Anggun mendekap putri nya itu.
" maafin mama nak, kami akan jelaskan mengapa kami menitip kan mu pada keluarga mu itu. " urai bu Anggun.
" bukan menitipkan, tapi kalian membuang ku di rumah itu. kalau kalian menitipkan, pasti kalian akan datang untuk menjemput ku, tapi kenyataan nya, aku yang mencari kalian." Joana berkata lantang. entah mengapa dia menjadi emosi, padahal dari awal dia tidak pernah berniat untuk marah pada mereka, dia hanya ingin bertemu mereka, tapi melihat ketidak percayaan yang ditunjukkan oleh pak Anggara tadi, membuat emosi Joana bangkit.
" maafkan kami nak, tolong berikan kami maaf nak. mama bisa menjelaskan semuanya. " bu Anggun meraih tubuh Joana untuk memeluknya, namun Joana bergeser, sehingga dia tidak bisa memeluk putrinya itu.
" kamu mau kemana nak? kalau sikap papa tadi membuat kamu marah, papa minta maaf ya, wajarlah papa bersikap seperti itu, karena papa tidak ingin ada orang yang berniat menipu di keluarga kita ini. " pak Anggara berdiri di hadapan Joana yang akan keluar kamar.
" iya sayang, tolong maafkan kami, nanti mama jelaskan semuanya, akan mama ceritakan pada kamu, mengapa sampai kami menaruh kamu di rumah orang tua yang mengurus dan merawat mu itu. tolong dengarkan kami nak" bu Anggun kembali menangis. karena pada dasarnya hati Joana memanglah lembut, sehingga dia menjadi luluh dengan tangisan dari wanita yang telah melahirkannya itu. dia berhenti dan membalikkan badannya menuju bu Anggun. dengan tatapan datar, dia berdiri di hadapan bu Anggun yang masih duduk di ranjang.
__ADS_1
" cerita kan semua, saya tidak ingin ada yang ditutup tutupi. saya sudah dewasa, dan saya mengerti kebohongan dan kebenaran dari apa yang anda ucapkan. " perkataan Joana mampu membuat bu Anggun sedikit lega, itu berarti dia masih ada harapan untuk tetap memeluk putri yang telah terbuang dari rumahnya ini.
pak Anggara mendekati mereka. dia duduk di samping istrinya.
" kamu duduklah juga nak, kita bicara sambil duduk, tidak baik kalau bicara sambil berdiri. pak Anggara menarik kursi dimeja hias di kamar itu.
dan Joana pun duduk di kursi itu. dia menunggu orangtuanya itu untuk bicara.
" siapa yang akan bercerita pa? " bu Anggun menatap suaminya. " pak Anggara mengangguk.
" cerita ini berawal dari permusuhan antara orang tua kami nak, kakek dan opa kamu. mereka adalah lawan bisnis, mereka selalu bersaing dalam segala hal. " pak Anggara menarik nafasnya. lalu memandang Joana yang mendengarkan dengan serius.
__ADS_1
" lalu? " Joana yang tidak sabar mendengar kelanjutan ceritanya pun bertanya.