
pagi pagi semua berkumpul di meja makan untuk sarapan seperti biasa. Joana pun sudah berpakaian rapi dengan memakai sedikit bedak yang sudah dibelikan oleh mamanya.
" kamu tambah cantik sayang. " puji bu Anggun melihat putrinya.
" makasih ma" sahut Joana malu malu.
" biasa aja keles, gak pernah dipuji sih, jadi nya lebay kalo dengar orang muji, apalagi yang muji nyonya besar. " Liana yang semakin hari semakin membenci Joana mengeluarkan umpatan pad kakak yang tidak diakuinya itu.
" kamu nggak boleh gitu lah Li, dia itu kakak kita lho. " Erwin bersuara sangat lembut membela Joana. semua yang ada dimeja makan pun menoleh ke arah Erwin yang sedang tersenyum manis.
" kamu sehat Win? " Liana segera meraba kening Erwin dengan punggung tangannya. tidak lupa dengan wajah herannya.
" tentu saja aku sehat Liana, emangnya aku gila? " Erwin mengembangkan senyumnya. " udah ayo sarapan, terus berangkat. kamu mau bareng aku berangkat ke kampusnya Jo? " Erwin menatap Joana yang sedang memandangnya.
" nggak Win, Terima kasih. aku naik angkot aja. " tolak Joana halus. dia masih merasa canggung akan sikap Erwin yang tiba tiba baik pada nya itu.
" nggak, Jo akan mama antar hari ini, nanti pulangnya biar di jemput oleh Heru, sopir kantor mama nanti. " bu Anggun menanggapi omongan Jo, dia memang sudah merencanakan untuk menempatkan Heru sebagai sopir Joana, sebelum dia bisa menyetir sendiri.
__ADS_1
" nggak usah ma, Jo bisa naik angkot kok. sudah biasa ma. " Joana menolak usulan mamanya.
" kamu ikuti saja kata kata mama kamu Jo, semua untuk kebaikan kamu juga. " opa Broto berkata lembut pada Jo.
" jadi kalian nggak mau nerima niat baik aku yang ingin dekat dengan kakakku nih? " Erwin terdengar kecewa.
" kamu kan harus segera sampai ke sekolah tepat waktu Win. " pak Anggara ikut angkat bicara.
" nggak apa apa, pa, sekalian aku mau minta maaf karena aku sudah gak mengakui dia sebagai kakakku. " Erwin seolah memaksa.
" yee, gitu dong ma. yuk Jo, Li, ayo kita berangkat. " Erwin beranjak dari kursinya dan menoleh pada Liana agar segera mengikuti nya. dan Joana yang diajak pun segera ikut bangkit. dia menyalami semua yang ada di meja makan, tidak dengan Erwin dan Liana, mereka nyelonong saja.
" bagai bumi dan langit" gumam kek Suseno lirih.
" iya, yah, sangat miris. Anggun juga sedih melihat perkembangan yang terjadi pada kedua anak itu, anak yang mereka besarkan setelah diadopsi dari panti asuhan, sebagai pengganti bayi Joana yang tidak ditemukan. mereka sengaja mengambil dua bayi, agar langsung mendapatkan sepasang anak langsung.
" kita harus tetap hati hati pada Erwin, karena sepertinya dia masih belum mau menerima Jo sebagai kakaknya. " opa Broto yang terbiasa waspada mencurigai kebaikan Erwin pada Joana.
__ADS_1
" iya, aku juga seperti aneh melihat kebaikan Erwin pagi ini pada Jo, tadi malam aja dia masih sinis pada Jo, kok, tiba tiba pagi ini dia menjadi baik banget? " kek Suseno ikut mengeluarkan pendapat nya.
" sekarang kita lihat aja, apa yang akan dia lakukan pada Jo." pak Anggara menyudahi pembahasan masalah Erwin. karena mereka juga harus segera pergi bekerja.
...****************...
dijalan, Erwin tersenyum sinis pada Joana yang duduk dibelakang.
"kamu tadi bilang mau naik angkot kan?
nah, aku kasih kamu kesempatan untuk naik angkot, turun sana. " Erwin mendorong pundak Joana dengan kasar. Joana yang hatinya sudah senang karena Erwin yang dikiranya sudah berubah, ternyata hanya baik di depan orang tua mereka saja.
" ha ha ha aku kira kamu beneran berubah Win,,, " Liana tertawa senang melihat Erwin yang menurunkan Joana dipinggir jalan.
" aku? berubah, ya nggaklah. nggak mudah bagi seorang Erwin untuk tunduk pada penipu. " Erwin pun tergelak senang. Joana turun dari mobil, hatinya menangis tapi dia sengaja menahan air matanya agar tidak tumpah. dia harus kuat.
dan dengan langkah lebar, Joana harus cepat mendapat angkot, karena dia tidak ingin terlambat ke kampus. karena takut terlambat, akhirnya Joana memesan taksi online lewat ponsel yang dibelikan oleh mamanya kemaren.
__ADS_1