Akibat Menikah Muda

Akibat Menikah Muda
menemui kakek dan opa


__ADS_3

"maaf tuan muda, " Silvi yang tidak bersalah tetap saja meminta maaf.


" bawa kembali makanan itu. jangan pernah kalian tunduk pada perintahnya, karena dia pembantu disini, bukan majikan. ingat kata kataku ini. " Erwin kembali membentak Silvi. karena ketakutan pada majikan mudanya ini, Silvi akhirnya membawa makanannya ke dapur lagi.


Joana yang sebenarnya sudah merasa lapar, hanya bisa berdiam diri dalam kamar, untuk keluar kamar dia masih takut bertemu dengan adik adiknya yang ternyata sangat tidak menyukainya. terpaksa dia harus menahan lapar, hingga waktu yang belum ditentukan. memang perih hidup yang dijalani oleh Joana ini, selama ini hidup bersama dengan orang tua angkat yang ekonomi nya pas pasan sehingga dia seringkali menjadi bahan bullyan oleh teman teman di sekolahnya. dia hanya bisa sabar, tidak bisa bertindak tegas. dan sekarang ketika dia telah bertemu orang tua kandungnya pun dia mendapatkan perlakuan yang kurang mengenakkan oleh adik adik yang seharusnya menghormatinya sebagai kakak.


sementara itu pak Anggara dan bu Anggun sedang menuju ke rumah ayah mereka.


sepanjang jalan mereka hanya diam, hanyut dalam. pikiran dan kebahagiaan masing masing. mereka bahagia telah menemukan putri mereka, tapi disisi lain, mereka bingung akan sikap dua anak mereka yang lain, yang mempunyai kepribadian keras dari kecilnya.


mereka sampai di pekarangan rumah sederhana dengan pepohonan yang menaungi sekitar rumah itu. sangat teduh dan sejuk , itulah perasaan ketika memasuki pekarangan rumah itu. dari jauh tampak dua orang yang sudah sepuh sedang asyik mengobrol di ayunan, di bawah pohon mangga yang sedang berbuah.


"itu mereka, seperti anak kecil yang tidak memikirkan kerasnya dunia luar" bu Anggun tersenyum memandang mereka.


" benar, bahagia rasanya melihat mereka seperti itu. " pak Anggara menyahut dengan tersenyum bahagia. turun dari mobil, mereka terus melangkah menuju keberadaan ayah mereka.


opa Broto dan kakek Suseno memandang tamu yang mendekati mereka, kalau dari jauh, mata mereka sudah tidak bisa mengenali orang lagi, harus menggunakan kacamata, dan saat ini, mereka tidak menggunakan kacamata, karena mereka hanya ingin duduk santai dibawah pohon mangga yang sedang berbuah lebat itu. dengan di temani oleh dua orang pengawal mereka, Joko dan Sutrisno.


"coba kamu lihat siapa yang datang itu Ko? " opa Broto menyuruh Joko. Joko dengan sigap berdiri. dan memandang ke arah tamu yang sedang mendekati mereka. sedangkan Sutrisno dengan sigap pula berdiri dibelakang kedua orang sepuh itu. dia sudah bersiaga , jika terjadi hal yang tidak diinginkan.

__ADS_1


" itu pak Anggara dan bu Anggun tuan. " lapor Joko atas penglihatannya.


" hah, benarkah mereka yang datang? ketika aku merindukan mereka, mereka seperti mendengar isi hatiku, dan segera datang kemari. " ucap kakek Suseno.


"aku pun memikirkan mereka dari pagi tadi. " opa Broto tidak mau kalah.


setelah berkata seperti itu, keduanya pun berdiri untuk menyambut kedatangan anak anak mereka.


" ayah," bu Anggun menyalami kedua orang tua nya dengan khidmat, diikuti oleh suaminya melakukan hal yang sama.


" kalian mengapa baru datang? " tanya opa Broto.


" sesibuk apapun kalian, wajib untuk berlibur setiap minggu, agar kalian tidak jenuh. dulu, kami seperti kalian, tidak memikirkan istirahat, tapi sekarang kami sangat bahagia, bisa hidup dalam ketenangan disini. " ujar kek Suseno. pak Anggara dan istrinya segera duduk di samping orang tua mereka.


" tapi kulihat kali ini kalian sepertinya membawa berita lain kemari, bukan sekedar menjenguk kami. " kembali opa Broto bicara dengan memandang mereka bergantian. yang dipandang pun tersenyum pada sang orang tua.


" papa benar, kami kemari membawa berita bahagia. " bu Anggun memulai cerita dengan berbinar binar.


" jadi penasaran nih, berita apa yang membuatmu sepertinya sangat bahagia itu nak. " opa Broto memandang putrinya.

__ADS_1


bu Anggun menatap suaminya. dan pak Anggara pun mengangguk, mempersilahkan istrinya untuk bercerita.


" ehm, kami, " bu Anggun memandang ke papa dan mertuanya bergantian, dan yang dipandang pun menjadi gemas, karena menunggu kelanjutan omongan dari anak mereka itu.


" ayo katakan, jangan membuat jantung kami lepas sebelum. waktunya Anggun,,, " opa Broto mulai tidak sabaran.


" he he he" pak Anggara tertawa " ternyata kalian pun termasuk orang tua yang gampang penasaran ya? " pak Anggara kembali tertawa.


"'iya, baiklah, tapi sebelumnya Anggun mau nanya sama papa dan ayah, apakah kalian ingin bertemu dengan putri kecil kami karena kalian menyayanginya atau kalian masih ingin menyingkirkan dia? " bu Anggun terlihat serius.


"maksud kamu apa nak? kami menyesal atas kejadian sembilan belas tahun yang lalu, dan kami ingin bertemu dengan anak itu, karena kami ingin menebus kesalahan kami dimasa lalu itu nak. hingga saat ini, hanya satu itu yang masih mengganjal dalam hati kami. kalau kita sudah menemukan putri kamu itu, kami akan segera menyerahkan semua harta dan perusahaan kami atas nama kalian dan putri kalian itu." ujar kakek Suseno.


" apakah kalian sudah menemukannya? itu sebab kalian kesini dengan wajah yang bahagia. " tebak opa Broto memandang bu Anggun. yang dipandang pun hanya tersenyum senyum penuh arti.


" papa bisa menebaknya kan? " bu Anggun memberi kalimat yang ambigu.


" benarkah itu nak? " kakek Suseno mencari kepastian lewat wajah anaknya Anggara. pak Anggara pun mengangguk.


" Alhamdulillah ya Allah, akhirnya doa doa dan penantian panjang kita di jawab oleh Allah. " opa Broto langsung sujud syukur yang diikuti oleh besannya, tanda syukur mereka.

__ADS_1


__ADS_2