
bu Anggun segera menelpon suaminya agar segera pulang ke rumah. .
" pa, bisa pulang ke sini sekarang gak ? " bu Anggun meminta suaminya untuk pulang dengan nada yang dibuat agak cemas. sehingga berhasil membuat pak Anggara cemas. dengan tergesa-gesa, pak Anggara memasuki rumahnya dan menuju kamarnya.
" ma, ada a,, " belum selesai pak Anggara berkata , dia melihat istrinya sedang merangkul pundak seorang gadis asing yang sangat cantik.
" siapa dia ma? mengapa kamu menyuruh ku pulang dengan nada suara membuatku cemas? " pak Anggara mendekati bu Anggun. bu Anggun tersenyum bahagia.
" ini yang membuat mama menyuruh agar papa segera pulang. papa tau siapa dia? " bu Anggun menunjuk gadis dalam pelukan nya. tentu saja pak Anggara langsung menggeleng.
" papa nggak tau siapa dia ma, kamu kan belum memberitahu kan papa. " sahut pak Anggara dengan wajah bingung. Joana masih diam, dia tidak berani mengeluarkan suara, karena dia takut kalau papanya ini adalah orang yang kejam. karena mamanya belum menceritakan penyebabnya mengapa mereka membuang Joana bayi.
" dia, dia Joana kita pa" air mata bu Anggun pun berjatuhan karena tidak sanggup menahan haru yang dari tadi ditahannya. pak Anggara terpaku di samping bu Anggun dan Joana.
" maksud kamu ma? " pak Anggara masih belum memahami perkataan istrinya itu.
__ADS_1
" kamu belum faham pa? " bu Anggun memandang suaminya kecewa.
Joana semakin menunduk, dia takut pak Anggara akan marah. hatinya sudah ketar ketir.
" belum, ma, tolong jelaskan pada papa. karena Joana kita tidak tahu dimana keberadaan nya sekarang ma" pak Anggara masih belum ingin mempercayai ucapan istrinya yang sudah difahami arahnya.
" dia Joana kecil, ya g sekarang sudah dewasa pa. tidakkah kamu lihat persamaan di wajahnya denganku pada? " Joana memang memiliki wajah yang mirip dengan bu Anggun, dari awal melihatnya tadi pak Anggara sudah melihat itu. tapi banyak sekali manusia memiliki orang yang mirip dengan manusia lain. itu belum bisa membuktikan apapun.
" pa, di tadi datang kesini untuk melamar pekerjaan, kamu tah rumahnya dimana? " tanya bu Anggun yang tentu saja dijawab dengan celengan oleh pak Anggara.
" rumahnya di desa A, desa yang dikatakan oleh mario sebelum menghembuskan nafas terakhirnya dulu pa. "bu Anggun menjelaskan. mereka memang menyuruh asistennya untuk menaruh bayi kecil Joana di rumah salah seorang penduduk, yang jauh dari tempat tinggal mereka saat itu. karena orang tua mereka yang tidak merestui pernikahan mereka kala itu. dan hendak membunuh bayi mereka maka Anggun muda dan Anggara muda menyuruh asisten mereka untuk membawa bayi mereka ke suatu tempat yang aman dengan memberikan tanda tanda pengenal, agar mereka mengenal bayi mereka lagi jika sudah dewasa kelak. dan naasnya mario, sang asisten meninggal karena sakit yang dideritanya.
Pak Anggara memandangi Joana. dia memang seperti melihat wajah istrinya dalam diri anak ini.
" bagaimana kamu yakin bahwa dia anak kita ma? " pak Anggara masih belum ingin mempercayai ucapan istrinya. " bisa saja dia membuat buat omongan ma, banyak sekali zaman sekarang ini anak muda yang menipu orang lain karena malas bekerja ma. " pak Anggara memandang sang anak dengan seksama.
__ADS_1
" papa, " teriak bu Anggun sambil menatap tajam pada suaminya. " jangan pernah kamu mengatakan hal itu pada anakku pa. dia tidak pernah mengatakan langsung bahwa dia anak kita pa, dia datang kesini untuk melamar menjadi pembantu disini. aku yang mencurigai nya sejak dia menyebutkan namanya tadi. dan ketika dia melihatku sedang memegang foto ini, dia menangis, apa ini bukan bukti pa? " bu Anggun menangis karena kalimat suaminya yang sudah menjatuhkan harga diri anaknya itu. yah, kalau laki laki instingnya memang tidak setajam kaum hawa.
pak Anggara kembali memandang anaknya yang masih menunduk.
" angkat wajahmu nona. lihat saya. " pak Anggara memerintah anaknya. dan Joana mengangkat wajahnya, dia memandang wajah pak Anggara, air matanya tampak sudah membasahi pipinya. pak Anggara langsung merasakan ikatan antara dia dan anak ini. tapi dia masih belum ingin mengakuinya. " mengapa kamu menangis melihat foto ini? " tanya pak Anggara pula, sambil menunjukkan foto yang tadi dipegang oleh istrinya.
" karena saya juga memiliki foto itu pak. " Joana menjawab dengan terbata karena dia menangis tersedu sedu.
" mana? tunjukkan pada saya. " pak Anggara menadahkan tangannya meminta foto itu.
" ada di tas saya pak. " jawab Joana lagi.
" mana tas kamu nya? " rasa penasaran membuat pak Anggara menutup perasaan nya sendiri. bu Anggun memeluk Joana yang masih terisak.
" ayo kita ambil tas kamu nak. " bu Anggun membimbing Joana untuk berdiri dan mengajak nya untuk pergi ke kamar yang akan ditempati oleh Joana. pak Anggara mengikuti langkah mereka.
__ADS_1