
setelah menceritakan pada orang tua mereka tentang Joana yang datang sendiri mencari mereka dengan berpura pura melamar pekerjaan. dan membahas pemindahan nama hak waris, serta rencana kedepannya untuk cucu mereka satu satunya itu, mereka pun berangkat untuk bertemu dengan sang cucu yang sangat dirindukan.
setelah menempuh perjalanan selama dua jam, mereka pun sampai dikediaman sang anak yang seperti istana. turun dari mobil mereka segera masuk ke dalam rumah yang sudah dibukakan oleh mbok Sri.
" Joana mana mbok? " bu Anggun langsung bertanya.
" ada di atas bu, apa perlu saya panggilkan? " tanya mbok Sri sopan..
" nanti saja mbok, sekarang siapkan makan malam saja, setelah itu, panggilkan Joana ke ruang makan ya mbok. " mbok Sri mengangguk.
" baik bu. non Liana dan tuan muda Erwin bu?" tanya mbok surti
" yah sekalian panggilkan mereka untuk makan saja mbok. " pak Anggara ikut bicara.
mbok Sri pun bergegas memanggil para anak majikannya, tapi tentang Joana, dia belum mengetahui, apa sebabnya Joana yang diterima sebagai asisten di rumah ini, tiba tiba dipindahkan ke kamar atas, berdampingan dengan kamar majikan mereka. dan tidak melakukan apapun dari tadi.
__ADS_1
" non, dipanggil bapak di bawah, mereka menunggu untuk makan malam, " mbok Sri mengetuk pintu kamar Liana, setelah memanggil Erwin dan Joana.
" iya mbok, nanti aku turun. " teriak Liana dari dalam, yang sedang asyik video call dengan sang kekasih Arjuna.
sebenarnya bukan kekasih Liana, tapi Liana sangat menyukai Arjuna yang sangat tampan, dia adalah kakak kelas nya di SMU Muda Bakti, dan sekarang sudah menjadi mahasiswa di sebuah perguruan tinggi ternama di kota ini. Arjuna tidak pernah menganggap hubungannya dengan Liana sebagai suatu hubungan istimewa, karena dia sudah memiliki seseorang yang istimewa dalam hatinya. dulunya mereka bertemu dalam perlombaan matematika antar SMU, dan gadis itu begitu terlihat sederhana dan menarik. hingga saat ini dia belum bisa melupakan gadis yang sudah menetap di sudut hatinya itu. karena mendengar mbok Sri memanggil Liana tadi, maka Arjuna pun mempunyai alasan untuk menyudahi video call mereka.
" kamu udah dipanggil tuh Li, aku tutup dulu ya." ujar Arjuna, ingin segera mengakhiri panggilan itu.
" ah, biarin aja kak, mereka pasti nungguin aku kok. aku kan anak kesayangan mereka. " jawab Liana dengan sombongnya.
" nggak boleh seperti itu Li, mereka orang tuamu, kamu harus menghormati mereka. " Arjuna kembali berkata dengan lembut.
" InsyaAllah ya Li, soal nya aku juga harus mengerjakan tugas kuliahku ni. " Arjuna berusaha mengelak.
" pokoknya sesudah makan aku akan tetap nelpon kakak. dah dah kak. " akhirnya Liana menutup telponnya setelah memberi ciuman jarak jauhnya. Arjuna hanya menggeleng geleng sendiri. dia adalah orang yang selalu merasa tidak enak jika membuat orang kecewa, makanya dia selalu mengangkat panggilan dari Liana, padahal selalu mengganggu.
__ADS_1
setelah menutup telponnya, Liana pun turun menuju meja makan, dan dia sangat terkejut melihat kedua orang kakeknya sudah ada disana. dan diapun melihat Joana ada disana bersama dengan keluarganya, menjadikan emosi Liana memuncak.
" kamu, kenapa kamu ada disini, meja makan ini khusus untuk keluarga kami, apalagi ada opa dan kakek. kamu hanya gadis kampung, tidak pantas duduk di sini. " hardik Liana menatap Joana tajam. dan membuat yang ada di sana menatap gadis yang baru turun itu.
" jaga mulut kamu Liana" hardik opa Broto pada Liana.
" opa? kok opa malah marah padaku? aku ini cucu opa lho. " Liana yang tidak terima di hardik oleh sang opa pun menjawab.
" kalau kamu mau makan, silahkan duduk Liana. " pak Anggara menatap Liana dengan sorot menakutkan. Liana langsung tertunduk, tapi dia tidak bermaksud tunduk, dia akan tetap menyingkirkan Joana yang baginya adalah orang lain. Liana duduk di samping Erwin dan kakek Suseno.
" sekarang kita makan dulu, dan setelah makan papa dan mama ada hal yang penting yang akan diumumkan pada kalian semua, termasuk asisten asisten dan para satpam semua ya. " bu Anggun membuat pengumuman pada penghuni rumah.Joana yang belum mengenal mereka secara mendalam hanya diam mendengarkan. dan ketika ada perintah untuk makan, maka diapun ikut mengambil nasi dan lauknya, dia mengunyah makanan nya dengan pelan, walaupun dia selama ini hidup sederhana, tapi dia tidak menjadi serakah melihat makanan yang sangat banyak di meja makan ini. dia mengambil apa yang akan dia makan saja. tidak secara berlebihan.
" makanlah yang banyak nak, mama tau, kalau kamu belum makan dari tadi siang. dan mulai malam ini, kamu tidak akan merasakan kelaparan lagi. kamu putri kami yang tidak boleh direndahkan. " bu Anggun menyodorkan lauk pauk pada Joana.
" nggak ma, cukup, Jo emang tidak bisa makan banyak. " tolak Joana halus dengan senyum manis nya.
__ADS_1
" mama? woi sadar, kamu ini siapa? " Erwin yang dari tadi hanya diam pun akhirnya mengeluarkan kata kata tajamnya. dan kembali para orang tua pun memandang tajam ke arahnya.
" kalau kamu mau makan, kamu lebih baik jangan bersuara Win. " kakek Suseno angkat bicara. Erwin kembali mengalihkan pandangan pada piring di hadapan nya.