
setelah pembuktian Joana sebagai anak tuan rumah, maka Joana pun mendapatkan kamar yang layak sebagai putri seorang konglomerat. dia mendapatkan kamar di lantai atas, di samping kamar orang tuanya. awalnya Joana menolak, biarlah dia tetap dikamar yang diberikan dari awal. tapi mereka tentu saja tidak mengijinkan. dan dengan tatapan sinis dari adik adiknya, Jo pindah ke kamar barunya.
" ngapain juga dia di kasih kamar di dekat kita ma. nggak pantes. " ujar Erwin sinis.
" iya ma, namanya pembantu, kamarnya ya di bawah, bukan disini. " Liana adiknya ikut bicara. bu Anggun dan pak Anggara serentak menoleh pada mereka dengan melotot kan mata mereka.
" dia kakak kalian, bukan pembantu, ingat itu baik baik. dia anak tertua di rumah ini. " hardik pak Anggara yang tidak Terima mereka menyebut Jo sebagai pembantu, walaupun awalnya disini dia diterima sebagai pembantu. Erwin dan Liana yang mendapat hardikan dari papanya langsung terdiam . mereka masih melirik sinis pada Jo, yang hanya didiamkan saja oleh Jo. dia berpikir bahwa Erwin dan Liana belum mengenalnya, makanya mereka tidak menyukai nya. biarkan saja dulu mereka bersikap seperti itu.
Dengan wajah yang menahan marah Liana menatap Joana. " lihat saja, akan ku buat kamu nggak betah disini. " dengan suara lirih Liana melewati Joana yang hanya diam saja itu.
" jangan pikirkan kelakuan mereka ya nak. apapun yang terjadi, kamu adalah putri kandung kami. kami tidak akan membiarkan kamu hidup susah lagi. " pak Anggara berusaha menyejukkan hati Joana. Jo mengangguk dengan tatapan sendu.
__ADS_1
" Jo udah biasa hidup susah pa, jadi nggak aneh dengan cibiran dan tatapan sinis dari orang sekitar Jo. " Joana tersenyum menenangkan hati orang tuanya.
"kamu istirahatlah dulu, nanti mama suruh silvi mengantarkan makanan kemari ya. " bu Anggun membelai kepala anaknya, seakan belum puas untuk bersama. rasanya tidak ingin meninggalkan kamar ini. dia ingin terus bersama dengan putri yang baru kembali itu.
"ayo ma, kita masih harus mengurus pekerjaan, dan juga dua anak itu, harus kita urus juga, agar tidak membuat kekacauan di masa depan. " pak Anggara menarik tangan istrinya.
" mama sebenarnya masih ingin bersama dengan anak mama ini pa. " wajah bu Anggun terlihat murung.
" Silvi, tolong kamu antar kan makanan pada Joana di kamar atas ya. " ucap bu Anggun. Silvi yang sedang memasak pun menoleh pada bu Anggun heran, karena baik Anggun maupun oak Anggara belum ada mengatakan perihal kepindahan Joana ke kamar atas, dan kenapa sampai harus diantarkan makanan ke kamarnya. tapi Silvi tidak mau kurang ajar, jadi dia hanya menuruti saja perintah majikannya itu.
" baik bu. " jawab Silvi.
__ADS_1
dan dengan cekatan Silvi menyiapkan makanan yang akan dibawa ke kamar Joana. setelah selesai, dia pun bergegas menuju kamar yang dikatakan oleh bu Anggun. belum sampai di kamar yang akan dituju, Silvi sudah dihadang oleh Erwin dan Liana.
" mau kamu bawa kemana makanan itu mbak? " tanya Liana dengan angkuh.
" mau dibawa ke kamar Joana, non. " jawab Silvi takut takut, karena kedua majikan muda ini sangat lah menakutkan kelakuan nya.
" emang siapa yang menyuruhmu? berani sekali dia menyuruh kamu, dia pembantu seperti kalian, tidak berhak menyuruh nyuruh kalian di rumah ini. " Liana berteriak dengan lantang dan angkuh.
Silvi menunduk ketakutan. " ibu yang menyuruh saya non. " jawab Silvi dengan gemetar.
" mama lagi mama lagi, dasar orang tua bodoh. gampang sekali dibohongi oleh penipu. gampang sekali percaya dengan kebohongan yang diciptakan oleh pembantu baru itu. " Erwin berteriak dengan nada yang sangat marah.
__ADS_1
Joana sebenarnya mendengar keributan yang terjadi diluar kamar yang ditempatinya. tapi dia sengaja tidak mau keluar, karena jika dia keluar kamar, takutnya malah akan memperkeruh suasana di rumah ini.