
Malam itu adalah malam yang sangat cerah. Rembulan bersinar terang. Cahayanya merasuk ke seluruh penjuru sebuah rumah sakit. Membuat mereka yang merasakannya sungguh damai dan tentram. Tapi tidak bagi seorang wanita yang sedang menangis, dalam sepinya lorong rumah sakit. Menangis begitu sendu setelah mendengar kabar dari seorang dokter.
"Maaf bu, kami sudah berusaha semaximal mungkin, tapi ibu dari sang bayi tak bisa kami selamatkan" ucap sang dokter dengan penuh penyesalan, dan kembali ke ruang icu.
Betapa terkejutnya dia, mengetahui kabar dari sang dokter. Seperti terkena sengatan listrik. Jantungnya berdegup kencang. Kakinya begitu lemas seakan semua tulangnya tak ada tenaga sedikitpun. Tanpa sadar deraian air mata yang begitu deras sudah membasahi pipinya.
Dia jatuh terduduk di lantai, menyesali semua yang telah terjadi. "Farah, maafkan aku seandainya aku bisa memutar kembali waktu, aku sungguh menyesal farah. Maafkan aku.. Maafkan aku.." ucapnya dalam hati dengan penuh penyesalan, sambil menatap kosong ruang ICU sahabatnya itu.
Tak lama setelah itu, lamunannya itu terpecah setelah dia mendengar suara tangisan bayi
Oek.. Oek... Oekk...
Tatapannya yang kosong, dan pikirannya melayang langsung tertuju pada tangisan bayi itu.
Sesosok bayi mungil keluar ruangan persalinan, yang sedang digendong oleh suster, untuk segera dibawa ke ruang intensif perawatan khusus bayi (NICU).
Wanita itupun mengikuti suster, dan benar saja si bayi harus di masukkan ke inkubator, karena dia dilahirkan secara prematur.
__ADS_1
Karena memang saat itu tim dokter sepakat untuk mengeluarkan sang bayi saat ibunya tengah kritis. Takut hal tidak diinginkan terjadi, mereka memilih untuk mengutamakan keselamatan sang bayi terlebih dahulu. Dan tim dokter sebenarnya telah mengetahui bahwa harapan hidup sang ibu sangat tipis.
----
Suster pun meletakkan bayi itu di inkubator sambil melihat sang bayi dengan sangat iba. Dia masih mengingat betul kejadian saat sang ibu dibawa oleh ambulance dan akan dilarikan ke ruang ICU.
~FLASHBACK~
Ngiung.. Ngiung.. Suara ambulance yang berhenti tepat didepan rumah sakit, langsung menurunkan blankar yang terdapat ibu hamil dengan kondisi kritis. Saat itu suster Neva yang sedang berjalan menuju gerbang keluar untuk membeli makan malam, langsung membantu mengarahkan blankar ke ICU. Sambil membantu mendorong brankar tiba tiba pasien tersebut memegang tangan suster Neva, karena saat itu suster Neva berada di posisi terdekat dengan Farah.
"To..Tolong u..utamaa..kan.. kes..selamatan ba..yi sa..ya dulu" ucap farah terbata bata karena sesungguhnya dia sudah sangat tidak memiliki tenaga lagi, dengan kondisinya yang kritis saat itu. Suster Neva hanya mengangguk, dan menatap iba.
-Flashback End-
Tanpa ia sadari dari luar terdapat sosok wanita yang tengah memperhatikan bayi mungil itu dengan deraian air mata.
Setelah beberapa saat, suster neva dan rekannya keluar dari NICU dan mendapati seorang wanita yang masih menangis di depan kaca ruangan tersebut.
__ADS_1
"Ibu kerabat dari bayi itu?" Tanya suster Neva
Sambil menyeka air matanya wanita itu berkata "iya sus, saya kerabat bayi itu, nama saya Lina, mulai sekarang saya akan menjadi keluarga bayi itu. Bagaimana keadaannya sus?" tanya Lina ingin mengetahui kondisi sang bayi
"Untuk saat ini dia masih harus berada di inkubator, karena dia dilahirkan sebelum waktunya, dia masih begitu lemah. Jadi tidak ingin mengambil resiko, maka sebaiknya bayi ini dirawat secara intensif terlebih dahulu." ucap suster Neva
"Berapa lama dia harus berada disana sus?"tanya Lina khawatir
"Ibunya baru mengandung dia 8 bulan, hampir mendekati 9 bulan. Jadi mungkin saja tidak membutuhkan waktu berminggu minggu untuk bayi ini berada di inkubator" jawab suster Neva sambil tersenyum untuk menenangkan Lina
"Baiklah terima kasih sus." ucap Lina. Suster Neva mengangguk dan tersenyum mengisyaratkan bahwa ia hendak permisi dengan rekannya.
Lina kembali menatap si bayi dari luar ruangan yang hanya terhalang kaca besar dan meletakkan tangannya di kaca seperti sedang mengelus si bayi. "Aku akan menebus penyesalan terbesarku, dengan merawat anakmu, Farah. Aku akan menjadi ibunya. Aku akan merawatnya seperti anakku sendiri. Dan di masa depan aku tidak akan membiarkan ayahnya bertemu dengannya. Aku akan berkata bahwa ayahnya sudah meninggal saat dia masih berada dikandunganmu" ucap Lina dalam hati. Sambil menitikan airmata penyesalan dan dendam untuk ayah sang bayi.
"Tenang saja nak, kamu akan bersamaku, kamu akan memanggilku mama, kamu akan menjadi anakku. Dan aku akan menjadi ibumu. Kelahiranmu telah membawa takdirmu sendiri. Bulan yang bersinar terang itu telah menjadi saksi atas lahirnya seorang bayi cantik sepertimu, kamu akan tumbuh menjadi gadis sempurna dan akan selalu disayangi dan dicintai oleh semua orang, aku tak akan membiarkanmu bersedih dan membuat kesalahan yang sama seperti kesalahan yang aku perbuat pada ibumu." ucap lina dengan penuh harap agar temannya bisa memaafkan kesalahan yang dia anggap begitu besar.
Lina pun duduk di bangku depan ruangan tersebut sambil tak hentinya menatap sang bayi mungil itu dengan penuh kasih. Lina pun bersandar, dan tanpa sengaja ia tertidur karena sangat lelah.
__ADS_1
Hai readers, gimana sama kisah awal dari novel ini? Maaf yaa kalo kurang bagus. Karena sebenernya aku baru pertama kali nih nulis novel. Maaf yaa kalo ada kesalahan penulisan. Atau ceritanya kurang menarik. Tapi ini masih awalnya aja ko, mohon ditunggu sampe si bayi udah besar yaa. Semoga kalian suka ceritanya lop yu all ❤