Aku Diantara Mereka

Aku Diantara Mereka
Jangan Lupa Pulang


__ADS_3

"Kamu anak yang sangat manis Gryfan. Tapi mama rasa akan lebih bagus memanggilnya Anin, setuju?" ucap mama lina


"Hmmm.. Kedengarannya bagus juga ma" Gryfan pun setuju akan nama panggilan baru si bayi mungil itu.


"Anin, sungguh nama yang imut" ucap Gryfan pelan, sambil tersenyum


"Hahaha baiklah nak" ucap mama Lina tak berdaya melihat putranya yang begitu manis.


Tiba tiba dipikirannya terlintas untuk menyembunyikan semua kebenaran dari Anin


"Saat dia sudah besar nanti, tolong kamu sembunyikan semua kebenarannya ya nak. Jangan pernah bilang, bahwa dia bukan adik kandungmu" ucap mama Lina dengan wajah khawatir dan memohon pada Gryfan


"Baik, ma" Gryfan pun menuruti permintaan mamanya, karena Gryfan sendiri adalah anak yang begitu penurut.


Mama Lina dan Gryfan pun pulang. Mereka memutuskan untuk pindah rumah. Agar Anin tidak pernah bertanya akan masa lalunya. Mama Lina pun membeli rumah yang tak begitu mewah, dengan hasil penjualan rumah dan beberapa aset peninggalan Papa rasyid, papanya Gryfan. Untuk menyambung hidupnya, mama Lina membuka butik kecil, dan dia menjahitnya sendiri. Mereka pun melewati semuanya bersama sama. Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun.


🌷🌷🌷


Tak terasa 17 tahun sudah terlewatkan.

__ADS_1


Tiba saatnya mama Lina dan Anin melepas kepergian Gryfan untuk melanjutkan S2 ke Jerman. Gryfan mengambil jurusan kedokteran saat itu. Ia mendapatkan beasiswa dari kampusnya, karena Gryfan adalah salah satu murid yang ber prestasi di kampusnya. Tak hanya pintar dan berprestasi, Gryfan tumbuh menjadi seorang pria tampan yang menjadi idola banyak gadis. Tanpa membuang kesempatan, Gryfan pun menyetujuinya. Walau dengan berat hati Gryfan harus meninggalkan mama dan adik tersayangnya itu.


---


Ditengah keramaian bandara. Mama Lina menangis untuk melepas kepergian sang putra, sambil memeluk mamanya, Gryfan berkata "Sudahlah ma.. Kita sudah membicarakan ini sebelumnya. Mama sepakat untuk membiarkan aku melanjutkan pendidikanku ke Jerman." ucap Gryfan melepas pelukan mamanya lalu mengelap airmata mamanya itu.


"Iya ma sudahlah.. Lagipula dia hanya pergi sebentar. Dia juga tidak akan lupa pulang, dan melupakan bantal gulingnya yang bau itu.. Hihihi..." ucap Anin memecah suasana kesedihan, membuat mama Lina sedikit tersenyum dan menyeka air matanya.


"Lagipula ma tak ada dia dirumah, hidup kita akan tenang. Kita tak perlu lagi mendengar suara sember dari orang yang sedang mandi di kamar mandi.. Pfftt" lanjut Anin masih terus menggoda kakaknya


"Diamlah kau.. Sebegitu suka nya ya dengan suaraku, jadi kau dengan setia mendengarkannya secara seksama, hahaha.." ucap Gryfan tak mau kalah dari adiknya itu.


"Tak bisakah kalian berhenti saling mengejek disaat seperti ini, hah? Adik kakak yang normal, pada umumnya akan bersedih saat akan berpisah." ucap mama Lina sambil menjewer kedua anaknya itu, sontak membuat kedua anaknya kesakitan


"Itulah ma. Kami ini tak normal.. Hahahaha.." ucap Anin langsung merangkul kakaknya itu. Lalu anin membalikkan badannya. Dan saat ini mereka saling berhadapan.


"Pergilah kak.. Gapai cita cita mu, raihlah keberhasilanmu setinggi mungkin. Asal jangan lupa pulang. Jangan pernah lupa, kami menunggu kamu dirumah. Buat mama dan aku bangga telah menjadi keluargamu. Doa ku selalu bersamamu kak." dengan mata yang menatap Gryfan penuh harapan, Anin pun memeluk kakaknya itu dan meneteskan air mata. Gryfan pun membalas pelukan dari sang adik.


Sebenarnya sangat berat dia harus melepaskan kakaknya pergi. Karena hanya Gryfan lah satu satunya lelaki yang selalu melindunginya, selalu menghiburnya, selalu berusaha agar tak membuatnya menangis. Bahkan Gryfan adalah Satu satunya pria yang Anin cintai dengan sangat mendalam. Cinta sebagai seorang saudara tentunya.

__ADS_1


Dia masih mengingat saat dia diberi tahu bahwa papanya telah meninggal saat dia masih di dalam kandungan. Dia sangat terpukul, dan terpuruk. Dia bahkan belum sempat melihat wajah papanya sedikitpun. Anin melihat wajah papanya hanya dari selembar foto. (Tentunya itu adalah foto papa Rasyid).


Dan saat tengah bersedih, hanya ada Gryfan yang menghiburnya. Membuatnya kembali tertawa.


Anin masih mengingat kata kata sang kakak yang bisa menenangkan hatinya


"kehilangan, dikhianati, dikecewakan, dilupakan, ditinggalkan. Adalah sesuatu yang wajar dan sering terjadi di kehidupan ini. Itu sudah jalan takdir, dan tak bisa kita hindari. Hanya saja, sikap seperti apa yang harus kita ambil untuk menghadapi semua itu. Jangan menyerah, jadilah kuat dan tabah. Dan berusahalah untuk bangkit dari keterpurukan. Jika ingin menangis, maka menangislah, tapi jangan terlarut terlalu dalam. Jangan biarkan orang terdekatmu merasakan kesedihan yang kau rasakan. Jadilah sebuah pelita kebahagiaan untuk orang lain. Tersenyumlah adikku."


Sungguh kata kata yang begitu indah dan menenangkan hati. Berkat kata kata kakaknya itu. Anin tumbuh menjadi gadis yang ceria dan kuat menghadapi semua cobaan.


Hanya kakaknya yang sangat ia percaya. Bahkan Anin lebih dekat dengan Gryfan dibanding mama Lina, mungkin karena mama Lina terlalu sibuk dengan butiknya.


"Sudahlah tak usah cengeng begini. Jadilah kuat. Jaga mama baik baik saat aku tak ada. Jadilah gadis baik, oke? Aku hanya pergi beberapa tahun. Tunggulah aku pulang..


Daann saat aku pulang jangan lupa untuk mengganti sprei kamarku. Dan jangan memakai guling dan bantalku saat aku tak ada, ingat itu.. Hahaha" Bisik Gryfan melepas pelukan sang adik dan mengelap air mata yang menetes sangat deras itu.


"Iya.. Iyaa.. Pergi sana, tak usah pulang kalau perlu, hihihi.." ucap Anin berusaha tersenyum, lalu merangkul mamanya.


Setelah perpisahan yang begitu panjang, Gryfan pun pergi karena pesawat yang akan ia tumpangi, akan segera berangkat.

__ADS_1


Waktu menunjukkan pukul 12.30 Mama Lina pun memutuskan untuk mengajak Anin makan siang diluar, dan membicarakan persiapan ujian masuk universitas.


__ADS_2