Aku Diantara Mereka

Aku Diantara Mereka
Kehilangan


__ADS_3

"Selamat jalan sahabatku, semoga kamu tenang disana. Tak perlu memikirkan anakmu yang masih kecil aku akan menggantikanmu menjadi ibunya, damailah disana dan maafkan aku." sambil menangis dan terus memegang dadanya yang begitu sesak. Semua rasa penyesalan telah merasuki ke dadanya, deraian air mata tak lagi bisa dihentikan. Ia harus mengikhlaskan kepergian sahabatnya itu.


Para warga pun mulai menimbun tanah untuk menutupi liang lahat yang luasnya 2×1 meter itu. Sedikit demi sedikit, tanah mulai menutupi jenazah sahabat yang sangat dikasihi Lina. Air mata yang sedari tadi sudah mengalir. Angin semilir, semakin merasuki jiwa yang masih dilanda penyesalan itu. Lina masih terpukul atas apa yang terjadi padanya. Sahabatnya sedari SMA, mereka yang tak terpisahkan bagai sepasang sayap yang saling melengkapi. Kemanapun tak pernah terpisahkan, walaupun mereka sudah memiliki keluarga masing masing, mereka tak putus hubungan. Sampai Lina yang harus kehilangan suaminya saat anaknya masih sangat kecil. Farah setia menemani dan memberinya semangat.


"Lagi lagi, aku harus merasakan sakit yang sama. Kehilangan. Kehilangan orang yang sangat berarti, Ditinggalkan orang yang paling aku sayang. Kedua kalinya aku harus merasakan ini semua. Sungguh malang nasibku. Aku harus terus berada dalam rasa bersalah, tenggelam didalamnya. Suamiku, sahabat ku, kalian orang yang aku sayangi pergi meninggalkanku untuk selamanya." ucap Lina didalam hatinya, rasa penyesalan yang mendalam.


Tapi ada yang membedakan sifat antara Lina dan Farah. Farah yang selalu putus asa dan selalu tenggelam dalam keterpurukan saat dia memiliki masalah besar. Lain halnya dengan Lina, ia adalah sesosok wanita kuat, ia akan berusaha menghadapi dan mencari jalan keluar dari sebuah masalah.


Itulah mengapa mereka tak terpisahkan. Mereka saling melengkapi dan memahami satu sama lain. Tapi entah kenapa kejadian malam itu sangat berbeda, Lina terlalu lelah untuk menasehati sahabatnya itu. Ia seperti kehilangan kesabaran atas masalah temannya. Padahal disaat terpuruk seperti ini. Farah membutuhkan dukungan dan dorongan dari orang terdekatnya, bukan malah ditinggalkan sendirian. Bisa saja dia berbuat nekat jika dia sudah tak tahan dengan masalahnya itu.

__ADS_1


Untung saja, dia masih memiliki alasan untuk tetap hidup. Si bayi perempuan, yang bahkan belum menampakkan dirinya di dunia ini, menjadi alasan kuat untuk dia bisa bertahan beberapa saat menghadapi masalahnya. Namun naas, itu adalah sebuah kecelakaan yang berujung maut untuk Farah.


---


Semua orang yang ada di pemakaman sudah mulai bepergian. Karena proses pemakaman sudah selesai, kecuali Lina. Ia masih berada di pemakaman, ia melamun, pikirannya melayang, dadanya begitu sesak menahan perasaan sakit karena harus kehilangan. Keterpurukan yang terus menggerogoti jiwanya. Matanya semakin sembab dan masih meneteskan air mata yang tak hentinya. Penyesalan yang begitu mendalam "kenapa saat itu aku meninggalkanmu dalam keterpurukan? Maafkan aku Far" ucap Lina sambil mengelus batu nisan sang sahabat. "Tak boleh seperti ini, aku harus menebus semuanya." Lina pun tersadar dan dia harus keluar dari penyesalan ini, bukan berarti dia tak menghargai kepergian temannya. Melainkan ada sebuah tanggung jawab yang harus ia laksanakan. Ia pun menyeka air matanya "Semoga kamu tenang, Far." Ucap Lina dalam hati setelah itu membaca doa dan beranjak pergi untuk kembali lagi ke rumah sakit.


---


Drrttt... Drrrtttt.. Drrrttt..

__ADS_1


"Halo. Iya siang. Apa?? Dia sekarang dimana bu?? Baik, terima kasih." Lina langsung menutup telponnya. Betapa tergejutnya ia mendengar kabar dari telpon itu. Jantungnya berdegup kencang dan ia pun bergegas pergi ke persimpangan. Ia mencari tukang ojek, karena angkutan umum tak kunjung datang. "Kerumah sakit bang" ucap Lina ke abang tukang ojek.


"Semoga baik baik saja.. Semoga baik baik saja.. Semoga baik baik saja... Aku tak siap.. Aku tak siap... Gryfan.. Gryfan.." hanya kata itu yang Lina ucapkan sepanjang jalan. Pikirannya panik, ia sangat khawatir dengan anak lelaki semata wayangnya itu. Pikirannya melayang jauh. Ia begitu takut akan kehilangan lagi. Hanya ada kekhawatiran di pikirannya saat ini. Tubuhnya lemas dan kakinya gemetar karena sedari pagi Lina belum sarapan


---


Tak butuh waktu lama Lina sampai didepan rumah sakit dan langsung menuju ICU. Ia melihat sudah ada seorang wanita di ruang tunggu. "Bagaimana keadaannya bu? Gryfan kenapa?" tanya Lina pada wanita itu "Gryfan dia pingsan, saat istirahat, penyebabnya belum diketahui saat ini"


Wanita itu adalah guru TK tempat Gryfan bersekolah.

__ADS_1


Saat ini Gryfan kecil masih berumur 5 tahun dan tengah duduk di bangku TK. Dia adalah anak yang pintar dan tampan. Kepergian ayahnya tidak mempengaruhinya menjadi anak yang lemah dan cengeng, dia tumbuh menjadi pribadi yang kuat, dan selalu menghibur mamanya jika mamanya bersedih. Yang hanya ia pikirkan saat ini adalah kebahagiaan mamanya, untuk saat ini dan masa depan. Sungguh mulia niatnya itu, niat yang tak sepatutnya dipikirkan anak seumurannya.


Kemarin malam ia dititipkan ke tetangga Lina, setelah Lina mendapat kabar tentang kebakaran rumah Farah.  Lina khawatir sesuatu yang serius terjadi pada anaknya karena saat ditinggal kemarin sebenarnya Gryfan demam dan kurang enak badan beberapa hari terakhir. Dia semakin khawatir mengingat kemarin anaknya yang sedang demam, dan selalu berfikir yang tidak tidak. Tapi dia harus berpikir jernih agar dia tidak kehilangan kendali.


__ADS_2