Aku Diantara Mereka

Aku Diantara Mereka
Aku Menyadarinya


__ADS_3

"Aku baru menyadarinya. Aku mencintainya."


Mereka yang tengah asyik membaca buku dan mendengar musik bersama. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang tak senang melihat mereka bersama.


Sepasang itu melihat dengan penuh kebencian dan rasa iri. Ya sepasang mata itu adalah mata milik Novi. Novi melihat wajah Anin yang begitu senang dan malu karena duduk berdua dengan Gavin. Mulai saat itu ia bersumpah akan merebut Gavin dari Anin. Lalu Novi pergi dengan rasa kesalnya itu meninggalkan perpustakaan.


Waktu sangat cepat berlalu.


Mereka memutuskan untuk mengakhiri baca membaca hari ini. Gavin beranjak dari duduknya dan menyodorkan tangan pada Anin "yuk pulang, udah malem."


Anin sempat terkejut dan malu melihat tingkah Gavin, akhirnya neraih tangan Gavin dan beranjak dari duduknya.


Mereka pulang bersama, berjalan menuju stasiun. Tak beberapa lama, kereta yang mereka tunggu akhirnya datang. Kereta itu sangat penuh, mungkin karena jam pulang kerja. Jadi mereka terpaksa harus berdiri.


Begitu penuh, hampir sesak. Anin yang badannya kecil itu sempat terdesak oleh banyak orang. Gavin karena takut hal yang sama terjadi lagi. Gavin mendorong Anin ke pojok dan melindunginya disana.


Pipi Anin terlihat jelas sangat bersemu. Dia bingung ada apa dengan tingkah Gavin, dari tadi sangat aneh.


Mereka pun sampai di tempat tujuan


"Kamu, emang turunnya disini?" tanya Anin


"Iya, yuk aku anter kamu pulang." ucap Gavin meraih tangan Anin.


Sekarang mereka berjalan dengan bergandengan tangan. Seperti sepasang kekasih yang membuat orang lain iri dan salah sangka, bahwa sebenarnya mereka belum memiliki hubungan apapun.


Mereka berjalan bersama, Gavin yang merasa sangat canggung memecah kesunyian diantara mereka


"Coba kamu ceritakan tentang kehidupanmu."

__ADS_1


Anin menceritakan semuanya. Mulai dari papanya yang meninggal saat dia masih kecil, hingga Gryfan, kakak yang paling ia sayang dan yang sangat dekat dengannya.


Dia bilang bahwa, walaupun dia telah kehilangan ayah, tapi ia tak kehilangan kasih sayang seorang ayah. Kehangatan yang kak Gryfan berikan padanya sama seperti sosok seorang ayah. Orang yang paling Anin idolakan adalah kakaknya. Anin sempat berfikir, jika saja kakaknya adalah orang lain. Maka ia bersedia menikahi kakaknya itu.


Gavin yang mendengar itu tertawa


"Kamu, mau menikahi kakakmu sendiri. Bwahahahaha...


Dasar aneh." ucap Gavin


"Iihh bukan, aku kan bilang 'seandainya' bukan berarti iya" ucap Anin memukul mukul Gavin agar berhenti tertawa.


Anin balik bertanya pada Gavin, seperti apa kehidupannya. Gavin menceritakan semuanya bahwa ia adalah anak kedua dari keluarga yang terbilang 'cukup bahagia' dia punya kakak yang aneh dan orang tua yang terus bekerja siang malam. Andaikan tak bekerja, mereka hanya memikirkan diri mereka berdua. Jadi Gavin hanya dekat dengan kakaknya sewaktu kecil, dan bibi pengasuhnya. Hidup Gavin sebenarnya tak terlalu bahagia, walaupun ia memiliki orang tua yang lengkap, tidak seperti Anin.


Kedua orang tuanya juga terkadang pernah beberapa kali berselisih pendapat. Mereka menyebutkan seseorang dengan sebutan 'DIA'. Gavin sendiri tak tau apa yang mereka ributkan. Ia lebih memilih bermain di kamarnya.


Kakaknya adalah orang normal, menyayangi adiknya. Dia adalah orang yang gegabah, tidak berfikir dahulu sebelum bertindak. Dia juga mudah marah dan tersinggung. Sifatnya berubah ubah, Gavin sendiri pun tak mengerti seperti apa karakter kakaknya itu. Tidak mudah ditebak dan dipahami tingkah lakunya.


Cerita mereka begitu asyik, sampai tak terasa mereka telah sampai di rumah Anin.


Tanpa mampir Gavin langsung pamit pulang dengan mama Lina..


--


Keesokannya


Gavin akan berangkat kuliah, dia akan berangkat menggunakan mobilnya yang lain. Tapi dia mengingat kejadian kemarin, dia memutuskan untuk berangkat menggunakan kereta lagi. Dia pun meminta supir untuk mengantarnya ke stasiun terdekat.


Sampainya dia di stasiun, tak butuh waktu lama untuk menunggu kereta tujuannya. Dia pun langsung menaiki kereta. Di waktu yang sama seperti kemarin, dia berharap bisa bertemu lagi dengan Anin.

__ADS_1


Dia pun menaiki kereta itu, menyusuri setiap gerbong. Kali ini kereta tak terlalu sesak seperti kemarin. Setidaknya dia bisa  berjalan menyusuri gerbong kereta, mencari gadis yang sedang ia incar..


Matanya terus mencari kesana kesini, dann BINGGO. Matanya yang sedang mencari, begitu senang bisa menemukan orang yang sedang ia cari. Begitu senang bisa melihat Anin ada di kereta yang sama sepertinya. Saat tengah menatap Anin dari kejauhan, tiba tiba Anin menangkap tatapan Gavin dari kejauhan itu. Mereka pun saling kontak mata.


Anin langsung tersadar bahwa mereka kebetulan bisa menaiki kereta yang sama. Anin menghampiri Gavin dan berkata


"Ohh tuan muda, sekarang ini udah bangkrut ya, kok kayanya naik kereta mulu? Mobil mewahnya mana? Hihihi" ucap Anin meledek Gavin


Gavin hanya bisa tersenyum Seraya berkata


"Haha iyanih, bangkrut. Makanya kamu temenin aku ya naik kereta ini."


"Siap boss, tapi kamu emangnya kuat diri terus?" tanya Anin masih dengan nada meledek


"Aku sih gak masalah, tapi aku takutnya kamu yang ga kuat diri. Makanya mendingan kamu pura pura cacat mental deh, biar dapet duduk." ucap Gavin balik meledek Anin


"Iiihhh cowok sialan." ucap Anin sambil memukul dada Gavin yang ada di dekatnya


Dan membuat orang yang berada di depan mereka tertawa kecil melihat kelucuan dua orang yang saling meledek ini.


Mereka terus saling meledek, tak mau kalah satu sama lain. Sampai beberapa stasiun, kereta semakin sesak. Mode melindungi Anin pada diri Gavin pun aktif. Gavin langsung mengambil posisi untuk melindungi Anin dari om om cabul yang ada di kereta. Begitu perhatian dan sangat menyayangi Anin.


--


Gavin selalu ingin melindungi Anin dimanapun dan kapan pun selagi dia bisa. Hingga setiap harinya Gavin memutuskan untuk berangkat kuliah menggunakan kereta, di waktu yang sama.


Sepertinya memang ada perasaan spesial dalam diri Gavin, untuk Anin. Mungkin memang ia telah jatuh cinta.


Untungnya semakin hari, mereka berdua semakin dekat. Gavin juga telah mengetahui Anin dari fakultas apa. Sesekali mereka pernah makan siang bersama. Semakin lama semakin sering mereka menghabiskan waktu berdua. Bahkan Gavin memutuskan dalam waktu dekat ini, akan memberi tau perasaannya pada Anin.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2