Aku Diantara Mereka

Aku Diantara Mereka
Paparazzi


__ADS_3

Anin pun berdiri dan mendekati pria itu secara perlahan. Ia mencari waktu yang pas untuk memfoto pria itu secara diam diam


Cekrik..


Anin berhasil memfoto pria itu lalu dia langsung kembali ke tempat duduknya dan mulai melihat lihat hasil jepretannya.


Pria itupun tersadar bahwa dirinya difoto secara diam diam oleh seorang wanita. Tak terima akan hal itu lalu dia mengendap - endap berjalan mendekati Anin, lalu mengarahkan kameranya tepat didepan wajah Anin


"Nona" ucap pria itu


"Iya kena.." ucap anin terhenti saat melihat kamera pria itu sudah ada di depan wajahnya.


CEKREK..


Anin kaget dia sempat diam beberapa saat lalu dia tersadar bahwa dia telah difoto oleh seseorang


"Aaahhh... Siapa kamu? Atas dasar apa kamu melakukan itu?" tanya Anin merasa kesal, malu, dan heran.


"Seharusnya saya yang bertanya, kamu siapa tiba tiba memotret saya secara diam diam.. Lagipula apa ini? Ekspresinya.. Ahahaha" ucap pria itu tertawa sambil melihat hasil jepretannya


"Aihhh jangan tertawa. Hapus itu segera, saya mohon.." ucap Anin memohon dengan mengeluarkan jurus andalannya, jurus wajah imut sedang memohon. Tapi pria itu masih saja tertawa


"Apa? hapus? kamu tidak.. Tunggu.. Kamu..." ucap pria itu terhenti saat dia menatap wajah Anin. Dia mengingat Anin, karena dia baru saja menyelamatkan Anin kemarin.


Ya, pria itu adalah Gavin. Sungguh pertemuan yang sangat tak terduga. Wajah Gavin langsung berubah, dia bingung harus bagaimana. Jika dia memberi tau Anin, maka nanti Anin akan langsung bertanya kejadian kemarin. Gavin tak mau abangnya terlibat lagi masalah ini.


"Saya? Kenapa? Kamu kenal saya?" tanya Anin heran


"Tidak, tidak.. Mana mungkin saya mengenal kamu." ucap Gavin. Dia memilih untuk pura pura tidak mengenal Anin

__ADS_1


"Kalau begitu, tolong segera hapus foto saya, tuan paparazzi"


"Apa? Saya? Paparazzi? Ha Ha Ha.. Heyy nona, berkaca lah sebelum berbicara. Kamu duluan yang memotret saya diam diam! Untuk apa, Hah?" tanya Gavin sambil mendekatkan wajahnya ke Anin


"Umm, hmmm itu.. Ituu..." ucap Anin bingung dan canggung karena seorang pria tampan berada sangat dekat dengan wajahnya saat ini.


"ITU APA" ucap Gavin sengaja membuat Anin kaget


"Untuk menggambar kamu" ucap Anin spontan karena kaget, ia lalu tersadar bahwa ia keceplosan, iapun langsung menutup mulutnya. Anin lalu mendorong Gavin agar tak terlalu dekat dengannya.


"Owww lihatlah, sekarang siapa yang paparazzi? Dan bahkan mau menggambar wajah saya.. Hmmm bagus nona.. bagus.. Kamu mau menggambar saya untuk apa? Apa kamu mau memantrai saya?" tanya Gavin, entah kenapa Gavin sangat senang menggoda gadis yang ada dihadapannya ini. Karena tingkahnya benar benar sangat lucu.


"Ayolahh jaman sekarang Tuan ini masih percaya dengan dukun. Heyy bangunlah, kita hidup di jaman apa.."ucap Anin sambil menjentikkan jarinya di depan wajah Gavin


"Aku mau menggambar kamu, karena aku akan memainkan sebuah permainan dengan temanku. Yang kalah akan mentraktir yang menang." ucap Anin


"Hmmm benarkah? Lalu apa balasan untukku, jika aku bersedia menjadi objek kalian? Bahkan setelah kamu memotret ku diam diam?" tanya Gavin mengerutkan dahinya


"Baiklah.. Tapi tidak hanya itu, yang kalah juga harus mentraktir aku makan, bagaimana?" ucap Gavin.


"Oke.. Aku juga memiliki syarat. Jika aku menang, maka kamu harus menghapus fotoku itu, deal?" ucap Anin


"Oke deal" ucap Gavin sambil menyodorkan tangannya. Anin pun menggenggam tangan Gavin, dan mereka berjabat tangan.


"Wahh.. wahh.. wahh.. Hebat kamu Anindita Safina, baru aku tinggal beberapa menit udah dapet cowok ganteng, bahkan sudah saling berjabat tangan. Hidup Anin.. Hidup Anin.. Hidup Anin..." ucap Firli dengan nada meledek Anin


"Diamlah kau. Kamu bilang apa? Dia? Ganteng? Heh.." ucap Anin sambil memberikan senyum masam


"Nonaa.. Apa masalahmu? Temanmu benar, Aku sudah sangat tampan sejak lahir hahaha" ucap Gavin sambil tertawa jahat

__ADS_1


"Aku rasa juga begitu.. Kamu bahkan sebenarnya tidak dilahirkan. Ibumu mendapati kamu saat sedang membuka bungkusan kuaci." ucap Anin sambil menjulurkan lidahnya dan meledek Gavin


"Sudahlah.. Ngomong ngomong, tuan ini siapa?" tanya Firli untuk menghentikan pertengkaran kedua orang ini.


"Ehemm.. Biar saya perkenalkan diri.. Nama saya Gavin Aditya Wira" ucap Gavin menyodorkan tangannya pada firli


"Saya Firli Fairuza" ucap Firli menyambut tangan Gavin. Sementara itu Gavin menyodorkan tangannya pada Anin


"Anin" ucap Anin sedikit kesal juga malu.


"Nama yang unik" ucap Gavin menatap Anin sambil tersenyum


"Oke jadi kita mulai aja ya lombanya, fir. Jadi Apin ini bakal jadi objek, sekaligus juri kita. Nanti aku kirim fotonya. Dan Nanti yang kalah harus traktir dia juga, dan yang menang harus ngasih hasil gambarnya ke dia. Paham kan sampe sini?" ucap Anin menjelaskan pada Firli


"Oke oke.. aku paham." ucap firli


"Tunggu.. Apa tadi? Apin? Bukankah sudah aku jelaskan namaku Gavin." ucap Gavin kesal


"Apa pedulimu. Terserah padaku mau memanggilmu apa." ucap Anin ketus


"Ohhh.. Nona Anin ini sudah memberi panggilan special kah?" ucap Gavin dengan nada meledek


"Kamu... Terserahlah. Lebih baik secepatnya kita mulai permainannya. Makin cepet makin baik." ucap Anin mengalihkan pembicaraan.


Mereka pun memulai permainannya. Waktu menunjukkan pukul 10.30. Mereka diberi waktu 1 jam untuk menggambar. Gavin hanya bisa memperhatikan keduanya. Gavin mulai merasa bosan, dia mulau memotret objek di sekitarnya. Tanpa dia sadari kameranya malah terarah ke posisi duduk Anin. Lalu diam diam Gavin memotret Anin.


Lalu Dia berjalan ke belakang bangku, tempat Anin dan Firli duduk. Ia memperhatikan gambar Firli, lalu gambar Anin.


Gavin membungkukkan badannya Saat ia akan melihat gambar Anin, dia mendekat. Dan betapa terkejutnya Anin ketika menoleh ke kanan, Gavin sudah berada di samping kanannya. Bagaimana tak terkejut. Tanpa sengaja bibir Anin menyentuh pipi, pria yang sangat tampan itu. Gavin yang sedang memandangi gambarnya itu sontak kanget. Dan langsung berdiri. Gavin melihat sekitar, semoga tak ada yang melihatnya

__ADS_1


"Yaampun, suasana apa ini? Kenapa malah jadi begini.." ucap Anin dalam hati ia begitu malu, sambil memegang bibirnya. Anin jadi tak fokus, ia begitu canggung.


Bersambung...


__ADS_2