Aku Diantara Mereka

Aku Diantara Mereka
Bertemu


__ADS_3

CEKLEK..


Suara pintu terbuka, sontak Anin dan Firli melihat, siapa yang datang. Betapa terkejutnya mereka berdua melihat orang yang membuka pintu. Mereka langsung menutupi wajahnya.


"Dek maaf, kakak terlambat, tadi ada..." suara seorang pria yang tiba tiba berhenti, melihat ada tamu yang begitu tak terduga. Pria itu mengenali mereka berdua, walaupun mereka menutupi wajahnya.


"Itu pria tadi" ucap Anin berbisik pada Firli


"Udah aku bilang, kayanya pria itu ga asing, gak taunya bener, itu kakaknya Azura, ka Azril." ucap Firli masih berbisik.


Azril memerhatikan tingkah aneh mereka lalu dia pun melanjutkan kalimatnya yang terputus.


"Tadi ada 2 orang gadis yang begitu menjengkelkan. Kamu liat ini? Nih.." ucap pria itu sambil menunjukkan dagunya yang memar.


"Ini adalah hasil karya mereka. Dan kamu tau? Si blek, sampe lecet, karena jatoh disenggol sama 2 gadis sialan itu." lanjut pria itu


"Yaampun, benarkah kak? Terus kamu bisa nangkep mereka ga?" tanya Zura


"Engga, dek. Mereka udat terlanjur kabur. Kalo mereka sampe ketangkep, beuhh abis mereka sama aku. Eh mereka ini siapa?" ucap Azril sambil menunjuk Anin dan Firli


"Ohh kenalin kak,ini temen aku waktu SMP, Firli. Dan satu lagi Anin, dia temennya Firli." ucap Azura


"Ohh gitu ya, kenalin. Saya Azril, kakaknya Azura." ucap Azril sambil menyodorkan tangannya ke Firli. Dan Firli hanya mengangguk sambil tersenyum bodoh.


"Kayanya muka kalian ga asing, rasanya saya pernah liat tapi dimana ya? Hmmm." ucap Azril menatap Firli tajam


"Ah masa sih kak? Mungkin dulu karena aku sering kerumah Azura. Ehehe" ucap Firli gugup mencari alasan


"Kamu kalo main ke rumah aku aja dia belom pulang sekolah, jadi ga pernah ketemu ka Azril, fir." ucap Azura heran.


"Oh iya? Halo mah? Iya.. iya.. Iya ini mau pulang.." ucap Anin sambil mengarahkan ponselnya ke telinga. Dia berpura pura ditelpon mamanya.


Padahal saat itu Azril melihat ponsel Anin menyala dan sedang berada di 'Home'.

__ADS_1


"Gadis bodoh." ucap Azril dalam hati.


"Aku udah ditelpon mama. Ayo kita pulang, fir" ucap Anin


"Wahh.. wahh.. kalian buru buru banget sih. Aku bawa makanan nih, se engganya kalian harus icip icip dulu lahh..." ucap Azril menahan mereka berdiri, lalu mengeluarkan makanan dan minuman yang ia bawa


"Nihh ada minumannya juga. Aku beli minumannya di supermarket situ tuh, yang deket pertigaan. Kalian tau ga?" ucap Azril tersenyum jahat.


"Engga ka. Udah ga usah repot repot. Kami pulang dulu ya." ucap Anin.


Ketika mereka akan menuju pintu dan membukanya. Ada yang masuk. Itu adalah seorang suster yang akan memberi obat untuk Azura.


"Azura waktunya minum obat." ucap suster itu.


"Ehh tante." ucap Firli


"Eh ada tamu?" ucap suster itu.


Suster itu meletakkan obatnya di meja. Lalu mereka kembali lagi dan bersalaman


"Ohh Firli, iya iya mama inget. Kalo yang ini siapa?" tanya suster itu menunjuk Anin


"Saya Anindita Savina tante. Temennya Firli." ucap Anin sambil menyalami tangan suster itu.


Suster itu langsung membulatkan matanya. Betapa terkejutnya ia mendengar nama itu. Ia mengingat kembali kejadian malam itu. Dan langsung memeluk Anin. Azura, Azril, dan Firli hanya bisa melihat dan heran. Ya suster itu, adalah suster Neva. Suster yang membantu persalinan, dan membantu merawat  Anin waktu ia lahir, dan saat berada di ruang NICU.


Malam itu, hatinya tergerak untuk menyelamatkan ibu dari sang bayi, dan mengurus bayi itu.


"Kamu udah sebesar ini sekarang." ucap suster Neva masih memeluk Anin


"Tante? Tante kenapa?" tanya Anin heran


Lalu suster Neva menjelaskan bahwa dia yang membantu mamanya anin diruang persalinan. Dan membantu mengurus Anin sewaktu di ruang NICU. Anin pun sangat berterima kasih pada suster Neva.

__ADS_1


Suster Neva sangat senang karena bisa bertemu dengan bayi yang waktu ia rawat beberapa hari. Bayi itu sangat lucu dan begitu mungil. Karena rasa iba nya dan wajah bayi itu yang begitu lucu. Ia pun merasa sangat sayang dengan bayi itu. Walaupun hanya sebatas tugas. Tapi dia melakukannya dengan sepenuh hati. Suster Neva tak berani mengungkap bahwa ibu kandungnya Anin telah meninggal. Karena dia tau bahwa bukan hak nya untuk memberi tahu ini semua.


"Ohh mama kenal gadis ini?" tanya Azril memecah suasana pembicaraan suster Neva dengan Anin.


"Iya nak, gadis ini sangat lucu waktu masih bayi dulu." ucap suster Neva


"Kalo gitu kami pamit pulang dulu ya tante. Kita juga udah lama disini." ucap firli masih ketakutan dengan Azril


"Ohh kalian udah lama ya? Yaudah kalian hati hati ya. Dan Anin kamu sering sering dateng ya kesini." ucap Suster Neva menorehkan senyumannya.


Anin dan Firli pun segera keluar, menghindari Azril. Tapi tanpa mereka sadari Azril pun ikut keluar. Azril masih tak terima dengan kejadian motornya yang lecet karena jatuh.


Saat akan pergi, tiba tiba tangan Anin di tahan oleh seseorang. Lalu ia pun menengok ke belakang. Ternyata Azril sudah memegang tangan Anin, dan mencegah mereka pergi begitu saja tanpa bertanggung jawab atas kejadian motornya yang lecet.


"Mau pergi kemana? Tanggung jawab dulu!" ucap Azril


"Tapi kita buru buru kak." ucap Anin ketakutan


"Kamu kira aku bodoh, percaya saja bahwa kamu ditelpon mama mu? Sudah cepat tanggung jawab pada motor kesayanganku." ucap Azril


"Baik ka baik. Aku yang menyenggolnya. Jadi, ini kartu nama papa ku. Kamu tinggal telpon dia dan minta tanggung jawab." ucap firli


Masalah pun terselesaikan secara damai. Lalu Firli dan Anin bisa pulang dengan tenang. Hari sudah hampir gelap.


Firli mengantar Anin pulang dengan selamat. Lalu Firli pamit pulang dengan mama Lina. Kedua sahabat itupun berpisah, setelah melewati hari yang begitu sial.


Bertemu dua orang pria dalam satu hari. Dan masing masing pria, membawa masalah tersendiri.


Bersambung....



hai readers jangan lupa like and comment yaa. Biar aku makin semangat nulis novelnya.

__ADS_1


__ADS_2