Aku Diantara Mereka

Aku Diantara Mereka
Hai


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 11.30 tak lama kemudian dokter pun keluar setelah memeriksa keadaan Gryfan "bagaimana dok, keadaan putra saya?" tanya Lina dengan wajah penuh kekhawatiran


"Gryfan mengalami gejala tifus. Itu sebabnya ia pingsan saat istirahat. Beruntung ia secepatnya dibawa kesini, dan langsung diberikan pertolongan pertama." ucap dokter menenangkan Lina, karena dokter tau semalam Lina baru saja kehilangan sahabatnya, di rumah sakit yang sama.


"Jadi apa dia perlu dirawat dok?" tanya lina pada dokter dengan tatapan khawatir


"Untuk saat ini lebih baik dirawat selama 3-4 hari, karena harus diberikan asupan cairan dan nutrisi yang akan dimasukkan ke dalam pembuluh darah melalui infus. Agar menghindari gejala yang lebih serius, sebagai tindakan pencegahan mengalami kekurangan cairan (dehidrasi)." ucap dokter.


"Baiklah, dok. Terima kasih" ucap lina. Dokter pun hanya mengangguk sambil tersenyum lalu pergi meninggalkan ruang ICU


Setelah mendengarkan ucapan dokter, setidaknya Lina merasa sedikit tenang, tapi wajahnya begitu pucat dan lemas. Bu guru yang menyadari perubahan wajah Lina itupun bertanya ada apa dengan Lina. Lina hanya menjawab dia belum sarapan dari pagi sehingga merasa lemas dan begitu pucat. Bu guru pun berbaik hati membelikan makanan untuk Lina dan langsung pamit untuk kembali ke sekolah. Lina mengantar bu guru pergi keluar rumah sakit. Dan dia masih harus berada di rumah sakit untuk menunggu anaknya.


Setelah selesai makan siang, Lina diminta untuk mengurus administrasi untuk perawatan anaknya dan si bayi terlebih dahulu. Gryfan lalu di pindahkan ke ruang rawat inap dan Lina setia menunggu anak semata wayangnya itu. Tak lupa juga menengok keadaan si bayi mungil di ruang NICU.

__ADS_1


3 hari kemudian


---


Lina diberi kabar bahwa si bayi mungil sudah boleh dibawa pulang hari ini. Tentunya ia sangat senang, karena hari itu bersamaan dengan pulangnya Gryfan dari rumah sakit.


Setelah mengemas barang barang Gryfan, mereka pun langsung menuju ruang NICU untuk mengurus kepulang si bayi mungil.


Beberapa saat kemudian


Kini si bayi sudah berada di pelukan Lina, dengan sangat hati hati dan penuh kasih sayang lina membelai rambut dan mencium kening bayi mungil itu "Haii makhluk kecil yang cantik, mulai sekarang aku adalah mama mu. Kamu akan memanggil aku mama ya" Lina pun menitikan air mata tanpa ia sadari. Senyuman terpancar di wajah wanita berumur 27 tahun itu, lalu mengecup pipi si bayi mungil. Seketika iya mengingat wajah Farah yang begitu mirip dengan bayi mungil ini.


"Waahh aku juga mau liat dia dong ma" ucap Gryfan merasa senang karena mamanya bilang bahwa anak itu akan memanggil mamanya dengan sebutan 'mama' juga, berarti bayi mungil ini akan menjadi adiknya.

__ADS_1


Lina pun duduk di kursi agar Gryfan bisa melihat anak yang sedang berada dipelukannya itu.


"Dia akan menjadi abangmu nak, panggil dia kak Gryfan yaa" ucap mama Lina sambil memperkenalkan wajah Gryfan ke bayi mungil itu


"Benar ma? Aku akan jadi abangnya kan? Lalu siapa namanya ma?" tanya Gryfan heran, karena dari tadi mamanya belum menyebut namanya sama sekali


"Hmm nama ya? Nama yang bagus apa yaa untuk bayi mungil nan cantik ini....


Bagaimana kalau Anindita safina, artinya bayi yang sempurna seperti sebuah mutiara"


"Waahh nama yang sungguh cantik bu." suster Neva ikut senang mengetahui nama baru si bayi mungil itu


"Hmm baiklah.. Aku akan memanggilnya Nindi. Haii Nindi selamat datang di keluarga baru mu, aku akan menjadi abangmu, ingat itu yaa, jangan dilupakan, hahaha" ucap Gryfan dengan wajah imutnya. Tak disangka, Gryfan menerima Nindi begitu saja, tanpa takut kasih sayang mamanya terbagi. Dia berfikir, bahwa asal bisa membuat mamanya bahagia dia akan tetap mendukung mamanya itu.

__ADS_1


Senyuman ditorehkan oleh mama Lina ketika mengetahui anaknya bersedia menjadi abang untuk Nindi. "Lihatlah Farah, kamu telah melahirkan seorang bayi yang sangat cantik dan imut ini. Bahkan anakku mau menerimanya sebagai adiknya. Semoga anakmu akan tumbuh menjadi pribadi yang baik seperti ibunya." mama Lina pun menangis bahagia bisa berada di momen seperti ini.


__ADS_2