
"Eh tapi.. Jangan deh. Kalo gue kerjain nanti dia makin kesel lagi sama gue, bales apa adanya ajalah" ucap Gavin lalu dia mulai mengetik pesan untuk Anin
"Waahh baru ketemu kemaren udah lupa.. Padahal kamu sendiri yang ngefollow aku duluan lohh, kenapa? nona ini udah sadar kah kalo aku itu emang ganteng?" Gavin lalu mengirim pesannya
--
Tring..
Anin yang sedang melamun menyesali perbuatannya dikagetkan oleh notifikasi itu. Dia lalu membaca pesan balasan dari Gavin. Seketika emosinya meledak, dia berpikir kenapa ada orang sepercaya diri ini yang pernah dia temui. Anin lalu berpikir untuk membalas apa pada Gavin. Saat dia akan mulai mengetik tiba tiba ada yang menelponnya
"Halo kak, apa kabar?? Gimana disana, gimana kuliah kakak, lancar semua kan? Kakak baik baik aja kan disana?" ucap Anin menanyakan semua pertanyaan sekaligus, karena ia begitu senang kakaknya menelpon.
"Iyaa Anin sayang.. Aku baik baik aja, semuanya juga lancar.. Mama gimana keadaannya?" tanya Gryfan pada adiknya yang begitu ia sayangi.
"Mama baik.. Aku juga baik.. Kakak kenapa? Pagi pagi begini nelpon.. Ehh iya Kakak gak tidur? Di sana itu malem kan? Kita beda 6 jam, kalo disini jam 7 disana sekitar jam 1. Kakak ku ini kenapa belom tidur??" ucap Anin khawatir
"Aku abis ngerjain tugas, nin. Terus aku kangen kamu, aku pikir karena disini malem, jadi disana udah pagi makanya aku nelpon kamu sebelum aku tidur.. Ngomong-ngomong Keseharianmu tanpa aku gimana? Kangen aku pastinya kan?" tanya Gryfan dengan nada meledek
"Wahh udah ada tugas aja baru beberapa hari masuk..
Ishh.. Jadi orang jangan kepedean deh kaakk yaampun gini nih kalo orang tidur malem mulu, kebanyakan halu. Padahal belum 1 minggu kamu pergi, buat apa aku kangen.. Hidup tanpamu itu bebas tau. Hihi" ucap Anin
"Masa sihh.. Tadi kamu khawatir gitu, nanya nanya kabar aku segala. Kamu kangen kannn ngaku deh." ucap Gryfan masih meledek adiknya itu
"Iya dehh aku emang ga bisa boong sama kakak." ucap Anin menyerah
Lalu Anin berbincang dengan kakaknya itu menceritakan semua kejadian kemarin yang ia alami. Dia mulai menceritakan kejadian setelah pulang ujian. Gryfan begitu marah dan khawatir pada adiknya, tapi dia tau sifat ceria dari Anin akan menutupi semua lukanya dan dia dengan mudah melupakan semua masalahnya.
Dia bahkan menceritakan bahwa ia tak sengaja mencium Gavin. Gryfan yang awalnya marah dan khawatir menjadi begitu kaget, dia tertawa dengan kekonyolan dan kepolosan adiknya itu. Tapi entah mengapa ada perasaan disudut hatinya yang begitu mengganjal, entah perasaan apa itu.
Lalu Anin menceritakan kejadian hari ini, yang ia tak sengaja memfollow akun Gavin. Gryfan tertawa dengan kecerobohan adiknya itu, dia memberi beberapa saran pada Anin untuk membalas pesan pada Gavin.
Lalu mereka melanjutkan saling bercerita, Anin menceritakan keseharian mama Lina dan kesehariannya tanpa Gryfan. Tentu saja obrolan mereka tidak jauh dari saling meledek satu sama lain.
__ADS_1
"Anin, sudah bangun belum.. Sarapan dulu yuk, sayang." teriak mama Lina dari meja makan.
"Iya maa udah.. Tunggu sebentar." teriak Anin pada mamanya
"Kak, aku udah dipanggil suruh sarapan. Kakak tidur gih istirahat yaa, kita sudahi dulu story tellingnya haha." ucap Anin pada Gryfan
"Iya kamu sarapan dulu gih, biar cepet tinggi.. Selamat makan adikku sayang.. Muach.." ucap Gryfan memakai nada manja pada adiknya
"Ihh lebay nih kakak.. Kakak juga selamat tidur yaa. Guten Abend" ucap Anin sambil menggunakan bahasa Jerman
"Ja, guten Appetit" ucap Gryfan lalu menutup telponnya.
Anin pun mau beranjak dari tempat tidurnya. Tapi ia teringat dengan pesan dari Gavin, dia lalu menyempatkan untuk membalas Gavin terlebih dahulu
"Pak Gavin, tolonglah anda bangun dari tidur.. Ini sudah siang, jangan terlalu banyak berhayal.. Haha
Kamu ada apa mengirim pesan?" Anin merasa lebih baik menanyakan langsung tujuan Gavin daripada harus ribut. Dia lalu meletakkan ponselnya lalu pergi untuk sarapan.
---
"Kamu.... Bisa gak kita ketemu lagi? dan Akankah takdir mempertemukan kita lagi?" Gavin langsung mengirimkan pesannya tanpa ragu. Dia sedikit menyisipkan kata kata yang berlebihan untuk menghibur Anin. Lalu dia menunggu balasan, menunggu dan terus menunggu hingga mama nya masuk ke kamar dan memanggilnya nya untuk sarapan.
---
Gavin dan Anin tidak memiliki kegiatan lain, mereka hanya harus menunggu pengumuman hasil ujian dan mendaftarkan diri ke universitas impian mereka. Jadi, mungkin waktu Gavin dihabiskan untuk berfoya foya, jalan kesana kemari mencari inspirasi, berkumpul dengan temannya, karena memang Gavin adalah anak dari keluarga kaya.
Sementara Anin selain membantu mamanya menggambar desain, dia hanya membantu mamanya mengurus butik. Dia jarang untuk pergi jalan jalan, selain dengan Firli. Karena Anin memang anak rumahan, dia lebih suka menghabiskan waktunya di rumah.
---
30 menit kemudian Gavin kembali ke kamarnya, saat ia melihat ponsel ia sudah menerima balasan dari Anin
"Bahasamu pak Gavin.. Hahaha..
__ADS_1
Sebenarnya sih aku gak mau bertemu lagi sama orang pembawa sial kaya kamu. Hihi
Tapiii... 2 hari lagi ada pameran seni aku mau kesana, kalo kamu mau kita ketemuan disana aja." ucap Anin
Gavin bingung ntah apa yang dia rasakan saat ini, intinya dia senang bisa bertemu Anin lagi. Padahal memang sebenarnya Gavin juga ada rencana mau ke pameran seni itu, untuk memotret hasil karya seni orang orang berbakat. Tak disangka Anin juga mau ke tempat itu. Kalau saja Gavin tak mengajak Anin bertemu, pada dasarnya mereka juga akan tetap bertemu secara tidak sengaja.
"Ohh pameran itu. Aku juga sebenernya mau kesana. Haha sebuah kebetulan ya.. Kalau begitu kita ketemu disana ya. Oh ya biar lebih gampang, boleh gak aku minta nomor kamu?" ucap Gavin meluncurkan triknya memikat seorang gadis. Lalu dia mengirim pesannya
"Yaampun, pak Gavin ini tukang modus yaa." Anin membalas pesan Gavin
"Yaa.. Namanya juga usaha, karena Seorang lelaki tuh diciptakan untuk berusaha. Dan perempuan diciptakan untuk memudahkan usaha lelakinya. Gimana? Boleh laaahh.." balas Gavin
"Gimana ya? Aku takut kalo nyimpen nomer kamu, takutnya handphone aku tiba tiba meledak atau error, kan ga lucu." balas Anin bermaksud meledek Gavin
"Yaampun.. Tenang sih, aku aja ga takut buat nyimpen nomor kamu. Walaupun handphone aku harus berubah dari 'telephone pintar' menjadi 'telephone bodoh' aku terima kok." balas Gavin tanpa mau kalah dari Anin
"Lelaki sialan.. 085648826677 tuh nomorku. Jangan kamu kasih ke dukun yaa. Haha" Balas Anin
Gavin hanya bisa tersenyum melihat tingkah lucu Anin
"Okee.. Makasih, gadis bodoh. Nanti aku kirim kamu pesan lagi ya."ucap Gavin
"Yaa, terserah. Aku gak nungguin juga ko." balas Anin
Gavin hanya membaca pesan Anin dan langsung menyimpan nomor Anin. Lalu dia beranjak dari tempat tidur untuk mandi. Karena dia sudah ada janji dengan teman temannya.
Bersambung....
Maaf yaa untuk readers yang nunggu aku update. Aku baru update lagi nih. Novel aku diantara mereka, bukan novel yang update setiap hari. Karena aku sendiri susah untuk nulis kalau misalnya ga di tempat tenang. Butuh waktu lama dan tempat tenang untuk nulis novel nih.. Karena aku baru pertama kali nulis novel, jadiii yaaa masih kurang bagus ceritanya juga.. Maap yaa readers. Tapi aku bakal mengusahakan yang terbaik ko untuk ceritanya. Intinya jangan lupa like and comment yaww
Lopyu all ❤🌷🌷
__ADS_1