Aku Diantara Mereka

Aku Diantara Mereka
Ingin Mendekati


__ADS_3

Anin juga melanjutkan aktivitasnya. Dia keluar kamar dan menghampiri mama Lina untuk membantu mama Lina mengurus butiq. Tapi sejujurnya mama Lina takut, jika terlalu dekat dengan Anin dia akan tidak sengaja mengungkap masa lalunya. Mama Lina hanya bisa memberikan kasih sayang yang begitu besar, tapi sedikit berkomunikasi. Sedari kecil, Anin terbiasa berbicara dan menceritakan segala hal hanya kepada kakaknya, Gryfan. Mama karena terlalu sibuk dengan butiqnya, jadi dia memiliki alasan untuk lebih sedikit berkomunikasi dengan Anin.


Dan Gryfan menjalankan tugasnya sebagai seorang kakak dengan baik. Ia mengayomi, merangkul dan melindungi Anin, tanpa peduli status Anin. Sulit menjelaskan hubungan mereka seperti apa. Tapi pada intinya mereka saling menyayangi satu sama lain. Dan kasih sayang itu begitu besar.


---


Entah kenapa, di setiap malam setelah kejadian itu Anin merasa selalu sedih. Dia menangis di dalam gelapnya malam. Dia merasa hari itu begitu sial. Walaupun dia bertekad untuk melupakan kejadian itu. Tapi ia masih merasa dirinya begitu kotor. Hanya satu yang bisa ia jadikan sebagai hiburan dan bisa mengurangi kesedihannya setidaknya ia 'tidak kehilangan kesuciannya'. Walaupun masih ada yang mengganjal di hatinya, ia berusaha menghapus semua itu. Tapi saat ini Anin hanya ingin menangis dalam sepinya sebuah kamar yang begitu gelap. Anin menangis begitu sendu, tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Ia tak mau mama mendengarnya sedang menangis, karena ia takut mamanya akan khawatir.


Sebenarnya hanya Gryfan yang sedang dia pikirkan saat ini. Dia merasa tak ada Gryfan, hidupnya begitu hampa. Tanpanya masalah yang Anin miliki seperti akan menerkam semua kehidupannya. Hanya Gryfan yang bisa memberinya semangat dan menghibur Anin dan melupakan masalahnya. Anin ingin menelpon Gryfan dan menangis, tapi dia tidak enak untuk mengganggu Gryfan, menelponnya hanya untuk menceritakan kesedihannya.


---


2 hari kemudian..


Hari dimana Gavin dan Anin akan bertemu. Tentunya ini adalah hari yang sangat ditunggu Gavin. Dia begitu penasaran, dan begitu tertarik terhadap Anin.


Gavin sama sekali tidak mengirim pesan pada Anin karena dia takut akan mengganggu Anin. Tapi pagi ini, Gavin memutuskan untuk mengirim pesan pada Anin untuk memastikan waktu untuk lebih jelas.


Gavin sudah bangun lebih awal untuk bersiap. Pukul 7.00 dia sudah bangun, lalu langsung pergi mandi. Setelah dia selesai mandi, dia langsung bertanya pada Anin. Tanpa butuh waktu lama Anin pun membalas pesan dari Gavin. Anin bilang, dia akan berangkat pukul 8.30 dari rumah. Dan Anin berkata siapapun yang sampai lebih dulu, haarus menunggu di pintu masuk. Lalu Gavin pun menyetujuinya.


Gavin memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu. Setelah selesai sarapan, Gavin memilih bermain game untuk mengisi beberapa waktunya yang kosong.


Waktu menunjukkan pukul 8.15 lalu Gavin mematikan ponselnya dan bergegas berangkat. Tapi saat akan keluar pintu rumah, Gavin dijegat oleh Seno. Seno yang sudah berpakaian rapi berencana untuk ikut dengan adiknya.


"Mau kemana lo bang?" tanya Gavin


"Lu mau kemana? Gua ikut dong. Bosen gua dirumah." ucap Seno

__ADS_1


Gavin kaget dengan yang dikatakan abangnya, dia tidak mau Seno sampai bertemu dengan Anin. Dia takut Seno akan kehilangan kendali dan justru akan membuat Anin tau siapa orang jahat yang telah melukainya.


"Gua.. Gua... Mau jalan sama temen." ucap Gavin tergagap


"Nah yaudah gua ikut." ucap seno sambil tersenyum dan merangkul bahu Gavin


"Ga ga, apa apaan lu. Lagian emng lu gaada kerjaan apa dikantor?" tanya Gavin mengalihkan pembicaraan.


"Ga ada, papa bilang hari ini gua bisa dirumah dulu. Karena kerjaan lagi ga terlalu banyak. Udahlah ayok berangkat shombong amat lu gua gaboleh ikut." ucap Seno langsung menarik Gavin ke garasi.


Lalu Gavin hanya bisa menuruti tanpa bisa mengelak. Waktu menunjukkan pukul 8.50 Gavin sudah berada di depan gedung pameran dan akan memarkirkan mobilnya. Tiba tiba Seno mendapatkan telpon. Dia mengangkatnya dan tak lama kemudian dia langsung menyuruh Gavin untuk putar balik.


"Balik dulu balik. Anterin gua ke kantor, papa tiba tiba telpon dia bilang ada kerjaan.


Ck ada ada ajasih pak tua ini, tadi bilang boleh dirumah." ucap Seno


Lalu Gavin memutar balikkan mobilnya. Lalu langsung melaju ke kantor papanya untuk mengantar Seno. Gavin menyempatkan sebentar untuk mengirim pesan pada Anin bahwa ia akan sampai sedikit terlambat. Dan Anin hanya meng iyakan pesan dari Gavin. Lalu Gavin melaju kecepatannya, ditengah perjalanan tiba tiba Seno berkata hal yang membuat Gavin kaget.


"Gua jadi pengen deketin tuh cw. Kalo ada kesempatan ketemu lagi, pengen gua ajak kenalan ah. Toh dia juga ga bakal tau muka gue yang udah nyaris nodai dia. Bisa ga ya gua ketemu dia lagi." ucap Seno sambil menatap keluar jendela mobil.


"Bang, lo waras gak sih. Mau ngedeketin cw yang nyaris lo kotorin. Lagipula, kesempatan gabakal dateng terus menerus. Belom tentu lo bisa ketemu ama dia lagi." ucap Gavin sengaja membuat Seno putus asa.


"Yaa kan siapa tau. Kalo jodoh pasti ketemu lagi." ucap seno dan Gavin hanya bisa tertawa masam


"Gaakan gua biarin dia ketemu lo bang." ucap Gavin dalam hati.


Tak beberapa lama kemudian, mereka sampai didepan kantor papanya dan Seno bergegas turun. Gavin juga tanpa membuang waktu langsung pamit dan melajukan mobilnya ke pameran.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Gavin sampai di pameran. Dia langsung memarkirkan mobilnya dan menuju pintu masuk. Terlihat Anin sedang melihat denah dari pameran itu


"Hai.. Udah nunggu lama?" ucap Gavin yang saat ini berada di belakang Anin


Anin lalu berbalik dan melihat Gavin.


"Gak ko, baru 40 menitan aku nunggu sini. Untung ga tumbuh jamur." ucap Anin sedikit sinis pada Gavin karena ia harus menunggu Gavin begitu lama


"Ohh maap soalnya tadi..."


Brukk..


Beberapa orang yang sedang bercanda tanpa sengaja menyenggol Gavin, sehingga membuat Gavin menabrak Anin dan membuat Anin hampir terjatuh. Untungnya sikut Anin menahan ke tembok, tapi kaki Anin tergores pot yang ada di sampingnya.


"Aw" teriak Anin spontan


"Ehh kamu gak apa apa?" ucap Gavin khawatir dan dia langsung memarahi orang yang menabraknya dari belakang. Orang itu hanya bisa meminta maaf. Dan Anin berkata pada Gavin tidak udah dipermasalahkan. Lalu Gavin hanya bisa menuruti ucapan Anin.


"Sini ikut aku dulu." ucap Gavin langsung menarik Anin ke mobilnya. Gavin mengambil kotak p3k di mobilnya dan menyuruh Anin duduk di mobil, sementara Gavin mengobatinya dari luar.


"Kamu gak usah sampe serepot itu. Ini cuma luka kecil. Kecil banget malah, cuma seujung jarum" ucap Anin agar Gavin tak terlalu khawatir


"Gapapa, lagian kalo ga diobatin nanti malah infeksi, mau? Ini juga salah aku yang ga seimbang pas kena dorongan kecil segitu." ucap Gavin seius mengobati luka kecil Anin


"Iya juga, ini salah kamu ya. Cowok pembawa sial. Hihihi" ucap Anin meledek Gavin. Lantas membuat Gavin kesal dan malah menekan luka Anin yang sontak membuat Anin berteriak kesakitan


"Aw.. Niat ngobatin gak sih?"  tanya Anin kesal

__ADS_1


"Maap.. Gadis bodoh.. Haha" ucap Gavin


Bersambung....


__ADS_2