
Anin mejalani rutinitasnya sehari hari. Dia berangkat kuliah saat pagi, dan membantu mama nya mengurus butiq setelah pulang kuliah. Dan malam hari, Anin membuka les untuk anak anak SD sebagai tambahan biaya kehidupannya. Dia tak mau terlalu membebani mamanya, dan dia sedang melatih dirinya untuk lebih mandiri. Dia mulai terbiasa dengan rutinitas ini.
Anin hanya, mengandalkan hasil les privat yang ia dapat untuk menabung dan membeli barang kebutuhannya sendiri. Sebenarnya mama mampu untuk membelikan apapun kebutuhan Anin, tapi Anin menolak dengan alasan ingin lebih mandiri. Mama sangat salut dengan kepribadian anaknya ini, dan menjadi semakin tak mau melepasnya pergi.
Mama merasa dia sudah terikat dengan Anin, dan tak rela untuk ditinggalkan oleh Anin. Mama tau betul saat Anin sudah besar nanti pasti dia akan meninggalkannya, terlebih lagi mama sangat takut bila rahasianya akan terungkap dan membuat Anin pergi dengan penuh kebencian pada mama. Dengan alasan mama tak memberi tahu akan kebenaran yang sebenarnya pada Anin dari awal.
Setiap hari, setelah Gryfan pergi ke luar negeri. Mama dan Anin semakin dekat. padahal sewaktu ada Gryfan, Anin tak terlalu dekat dengan mamanya, dan selalu menempel pada Gryfan. Namun saat ini berbeda, karena di rumah itu hanya ditinggali oleh dua orang, hanya mama Lina dan Anin, mama Lina berusaha mendekatkan diri ke Anin agar dia tak kesepian. Anin pun menghargai usaha mamanya itu.
Mulai dari sarapan hingga makan malam, Anin menyiapkan semuanya berdua mama. Pekerjaan desain baju dan kepentingan untuk butiq dikerjakan bersama, diiringi dengan obrolan hangat antara mereka berdua. Mama Lina adalah orang yang penggila kerja, dia tak tau waktu setelah menempatkan dirinya di mesin jahit. Dia menjahit baju untuk butiqnya sendiri, dengan desain buatan Anin. Membuat butiq itu cukup terkenal. Terkadang ada beberapa orang memesan, bahkan beberapa artis memakai baju yang mama jahit. Itulah sebabnya di awal mama dan Anin tak terlalu dekat.
Tapi sekarang keadaan sudah berbalik. Anin semakin perhatian pada mamanya, dan mama semakin memanjakan Anin. Contohnya, saat sudah larut dan mama masih bekerja, Anin menghentikan mama dan menyuruh mama untuk tidur. Jika memang mama dikejar pesanan, Anin setia menemani mama menjahit hingga larut malam. Terkadang ia juga membuatkan teh manis kesukaan mama, saat mama sedang asyik menjahit. Hal itu membuat mama semakin semangat menjahit.
Pagi ini adalah hari minggu, pagi yang cerah, dan sangat menggembirakan. Karena ini adalah hari minggu. Anin tak memiliki rencana apapun untuk keluar rumah, dan dia memutuskan untuk berada di rumah. Waktu menunjukkan pukul 8:00. Anin terbangun dan melihat mama masih tidur, karena hari minggu butiq buka di siang hari. Anin membangunkan mamanya dan mengajak mama pergi ke pasar. Sebelum itu mereka sedang sarapan bersama
"Ma ke pasar yuk.." ucap Anin
"Yuk, tapi mama mau mandi dulu." ucap mama
"Yasama aku juga, masa mau kepasar ama muka bantal begini, hihihi" ucap Anin tertawa kecil. Dan mama hanya bisa tersenyum. Setelah selesai sarapan, mereka beranjak untuk bersiap.
Tak lama kemudian mereka telah selesai bersiap, mama terlihat membawa dompet kecil untuk memudahkannya membawa uang. Mereka pun pergi ke pasar menggunakan angkutan umum.
Tak butuh waktu lama mereka sampai di pasar, mereka mulai berbelanja kebutuhan memasak untuk hari ini sampai beberapa hari berikutnya. Biasanya mama selalu membeli udang kesukaan Anin, tapi kali ini, mama lupa. Jadi merupakan tugas Anin untuk mengingatkan mama untuk membeli udang, yang merupakan hal wajib untuk dibeli saat ke pasar.
"Maa.. Tu.. Tu.. Hehehe..." ucap Anin sambil menunjuk ke arah tukang ikan.
Tak langsung mengiyakan kemauan anaknya, mama justru memilih untuk meledeknya dulu
__ADS_1
"Apa? Mau pete? Okedeh, yuk beli~" ucap mama menunjuk tukang sayuran yang ada di sebelah tukang ikan.
"Ishh mama, Anin mana suka gituan." ucap Anin sambil menekuk wajahnya karena mamanya tak mengerti isyarat dari Anin
"Hihihi, ayokk.. Udang atau lobster, sayang?" ucap mama Lina menarik tangan Anin ke tukang ikan.
Tanpa membuang kesempatan Anin langsung memilih keduanya, karena dia memang sangat menyukai itu.
Setelah selesai membeli makanan di pasar, mama dan Anin langsung pulang, mereka berjalan menuju pangkalan angkot. Ketika tengah berjalan, tiba tiba ada seorang pencopet mengambil paksa dompet yang mama pegang
"Eehh Anin ituuu.." ucap mama panik
"Ehh copet.." ucap Anin tanpa pikir panjang, dia langsung berlari mengejar copetnya. Dan bukan malah meminta tolong dia. Anin termasuk pelari yang cepat saat dia di smp. Dia selalu menang saat lomba lari dengan temannya, mungkin karena badannya yang tak terlalu tinggi, dan semangat yang berkobar setiap saat, membuatnya menjadi bergerak sangat lincah.
Anin berlari tetap berlari mengejar copet itu. Tapi tak bisa terkejar karena tiba tiba kakinya salah memijak dan malah membuatnya jatuh. Kakinya terkilir, mama yang melihat anaknya terjatuh pun merasa panik dan langsung menghampiri Anin.
"Gak papa ko mah, tapi itu pencopetnya bisa kabur." ucap Anin menyesal
"Aahh itu, kamu lupa ya.. Itu kan cuma dompet biasa, pencopetnya gabakal dapet apa apa, karena duitnya udah abis buat belanja, dan kembalian semuanya ada di kantong mama. Paling ada seribu dua ribu disitu" ucap mama sambil mengelus Anin tenang dengan wajah santai
"Ko bisa???" Anin kaget dan langsung berteriak
"Iyalahh, mana mungkin mama bawa dompet asli cuma buat ke pasar."
"KTP? ATM? Dan kartu lain gimana?" tanya Anin masih panik
"Oh jelas ada.. Dirumah, di dompet utama.. Haha"ucap mama dengan santainya, tanpa mama sadari ekspresi Anin sudah berubah
__ADS_1
Yaa berubah karena kesal, kenapa tak memberi taunya dari awal, jadi dia tak perlu capek capek mengejar copet itu. Dia lebih baik menyimpan energinya untuk menertawai pencopet itu.
"Pftt.. HAHAHAHAHA.." Anin tiba tiba tertawa bersama mama di tengah jalan yang terbilang sepi. Sungguh sebuah momen yang tak terlupakan untuk Anin dan mama.
Setelah puas tertawa anin berkata
"Tapi mama harus tanggung jawab, kaki ku keseleo ma. Mama harus masak udang saus asam pedas, untukku, oke?!"
"Leo siapa? Ko bisa kesel?" ucap mama meledek Anin
"Aahh mama..."ucap Anin manja, lalu mama tertawa kecil dan membopong anaknya untuk beranjak. Anin sedikit terpincang saat berjalan. Mama bertanya ama mau ke rumah sakit, Anin bilang tidak, jadi Mama memutuskan untuk memanggil tukang urut setelah sampai di rumah.
Mereka pun sampai di rumah, mama langsung memanggil tukang urut. Tak butuh waktu lama, datanglah Seorang wanita paruh baya yang akan mengurut Anin. Nenek itu mulai mengurut Anin. Anin hanya bisa menahan rasa sakitnya, karena memang tak terlalu parah. Tapi mama tetap setia menemani Anin. Saat sedang di urut tiba tiba ada telpon.
"Halo.. Aww.. Adududuh.." ucap Anin
"Eh kamu kenapa de?" ternyata itu adalah telpon dari Gryfan
"Eh kamu ka.. Ini aku lagi di urut, ADAWW.." Ucap Anin sedikit kesakitan
"Hah? Di urut? Dasar nenek nenek hahaha.. Mama gimana? Sehat?" ucap Gryfan
"Mama ada nih.. Nih ma kakak mau ngomong." ucap Anin memberikan telponnya kepada mama, karena memang saat ini tak memungkinkan untuk Anin untuk menerima telpon.
Mama pun langsung berbicara dengan Gryfan, dan beranjak menjauhi Anin. Anin sempat bertanya tanya, mama ngapain ngejauh,
"ah sudahlah urusan orang gede, aku aaaaduuhh.." Anin tak memperdulikan lagi urusan mama dan kakaknya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...