
Nenek paruh baya itu telah menyelesaikan tugasnya. Dia bilang mungkin 3 hari kedepan Anin akan sembuh. Tapi Anin jangan terlalu memaksakan diri Dia pun pamit pulang. Mama melanjutkan aktivitasnya dengan memasak. Memasak sesuai permintaan Anin, dan Anin hanya duduk di sofa ruang keluarga dan menonton tv. Karena mama tak memperbolehkan dia untuk membantu.
Tak beberapa lama, masakan pun matang, dan sudah waktunya makan siang. Mereka pun mempersiapkannya bersama. Hari Minggu ini adalah hari yang panjang untuk Anin.
Keesokannya
Pagi hari Senin yang begitu cerah, semua orang bersemangat melakukan dan memulai aktivitasnya diluar rumah, di jalanan yang begitu padat lalu lintas, ada seseorang yang sedang tiba kesialannya.
Bukk..
"Ahh sial!" ucap Gavin menendang ban mobilnya yang tiba tiba bocor. Ya, Gavin, seorang pemuda yang mudah marah, yang akan berangkat kuliah, namun nasib buruk sedang menimpanya. Dia bingung harus naik apa ke kampus. Untuk naik ojek online, ponselnya justru malah ketinggalkan di rumah.
Dia bingung, dan melihat keadaan sekitar, dann 'Ting' timbulah secercah harapan untuknya. Ia menemukan stasiun yang cukup dekat dari posisinya. Tanpa membuang waktu ia langsung menuju stasiun untuk naik kereta. Dia membeli tiket, dan masuk ke kereta KRL. Saat ia masuk ia bersamaan dengan seorang wanita tua. Gavin langsung menuju ke tempat duduk prioritas.
Dia melihat seorang gadis muda tengah bermain ponsel, dia langsung menyuruh gadis itu untuk mengalah dan memberikan bangkunya untuk wanita tua tadi. Gadis itu langsung berdiri dan masih sibuk memegang ponselnya. Dan membuat beberapa buku yang awalnya ia letakkan di pangkuannya terjatuh. Gadis itu langsung menyadari dia telah berbuat kacau di antara penuhnya penumpang KRL.
Begitu ceroboh dan mudah panik, suaranya yang tak terdengar asing untuk Gavin, juga postur tubuh dan model rambut yang ia kenali. Gavin bisa menebak bahwa gadis itu adalah Anin. Gavin lantas membantunya memungut beberapa buku yang terjatuh itu. Tapi Anin belum menyadari bahwa itu adalah Gavin, mungkin saja Anin sedang panik. Dalam keadaan kereta penuh, dia justru berbuat kekacauan. Anin belum melihat wajah yang membantunya, ia hanya menunduk karena malu. Akhirnya mereka berdua telah selesai memungut buku buku itu, lalu kembali berdiri.
Posisi Anin terhimpit antara Gavin dan seorang bapak bapak. Gavin melihat hal tak senonoh, dan bapak bapak itu melakukan pelecehan terhadap Anin. Anin yang menggunakan celana legging dan sweater, dengan rambut yang di cepol tanpa penataan malah membuat seorang bapak bapak melakukan pelecehan. Bagaimana jika Anin yang menggunakan baju terbuka. Anin mulai merasa tak nyaman dengan gesekan dari si bapak, dia berusaha menjauh tapi lagi lagi bapak itu malah mendekat ke Anin. Malah semakin tak bermoral, Anin berusaha bergeser kesana kesini untuk menjauhi si bapak, tapi tak berguna.
Gavin merasa tak senang akan hal itu, ia lalu menempatkan dirinya tepat di belakang Anin, seakan mau melindungi Anin. Akhirnya bapak bapak itu pergi menjauh. Anin masih belum menyadari keberadaan Gavin, karena terlalu penuh.
__ADS_1
Di stasiun berikutnya banyak penumpang yang turun, kereta kadi tak terlalu penuh dan sempit. Setidaknya ada ruang untuk bergerak kesana kesini. Dia melepaskan pegangannya untuk membenarkan posisi setelah berhimpitan dengan begitu banyak orang.
Saat sedang merapihkan, tiba tiba pintu tertutup dan kereta berjalan, yang menimbulkan guncangan. Anin yang sedang melepas pengangannya dan kaki kirinya tengah terkilir itu pun kehilangan keseimbangan dan kaki kirinya tak kuat menahan guncangan kereta membuatnya terjatuh ke kiri. Gavin yang berada di dekatnya langsung memegang Anin agar tak terjatuh. Anin sontak kaget untunglah ada yang memegangnya dan dia baru tersadar bahwa yang memegangnya adalah Gavin.
"Gadis bodoh, kamu gak papa?" ucap Gavin
"Loh kamu?" ucap Anin
"Kamu gak papa kan?" tanya Gavin
"Iya iya, makasih ya. Kamu dari kapan di sini?" tanya Anin
"Dari tadi~~ tapi aku ga nyangka ya seorang gadis yang sehat dan masih muda malah duduk di kursi prioritas."ucap Gavin memberikan tatapan meledek kepada Anin
"Heheh ngagetin darimana, kamu aja yang terlalu sibuk main hp, lagian tau diri lahh kamu masih muda, dan ini masih pagi udah duduk duduk begitu." ucap Gavin
"Kamu kalo gak tau apa apa diem deh." ucap Anin mulai kesal dan memalingkan wajahnya
"Loh? Eh? Emang kenapa? Aku cuma bercanda loh."ucap Gavin sambil berusaha melihat wajah Anin. Tapi Anin hanya diam dan mengacuhkan Gavin.
Beberapa saat kemudian, waktu telah menunjukkan pukul 7:20
Gavin bersiap untuk turun di stasiun tujuannya. Diluar dugaan Anin juga bersiap untuk turun di stasiun yang sama.
__ADS_1
"Loh loh.. Kamu turun disini juga?" tanya Gavin sambil menatap wajahnya Anin
"Iya." ucap Anin datar
"Apa jangan jangan kita satu kampus? Wahh wahh, hari hari gue di kampus bakal seru deh" ucap Gavin dalam hati. Dia merasa senang ternyata Anin satu kampus dengannya.
Sampai saat ini Gavin belum mengetahui perasaan apa yang ia miliki kepada Anin. Yang ia tau saat ini ia hanya merasa senang berada didekat Anin, ingin terus berada di dekatnya menjaganya dan meledeknya. Itu saja yang saat ini Gavin rasakan, tak ada yang spesial.
Bersambung...
\#\#\#
haii readers ter lup lup.. aku baru sempet update lagi nih, senin kemaren ga bisa update. jadi untuk hari kamis langsung 2 aja updatenya, biar seimbang lah.. ohya sebagai bonus nih aku mau kasih liat foto dari Anin sama Gavin menurut delusi aku ehehe semoga kalian ga tralu kecewa deh. Dann jangan lupa di like novel 'aku diantara mereka' kalo mau komen juga gapapa silakan, biar aku lebih semangat lagi nulisnya.
intinya lop yu all ❤❤
Anindita Safina dengan poni menutupi dahi dan wajahnya yang imut juga cantik, baby face ala cina/korea. Dia juga ga terlalu tinggi sekitar 165cm.
Gavin Aditya Wira, si cowok yang suka banget dunia fotografi, dengan wajah kebule bulean tinggi 169cm.
__ADS_1