
Brukk...
Gavin merebahkan dirinya di kasur, karena ia merasa amat lelah. Dia memikirkan perkataan abangnya, bahwa gadis yang ia selamatkan tadi memiliki ketertarikan tersendiri. Tapi apa? Bahkan diapun tidak bisa melihatnya. Mungkin saja itu adalah imajinasi Seno belaka. Saat ia melihat wajah gadis itu, dia tidak merasakan ada yang aneh pada gadis itu.
Gavin terus memikirkannya
"Alaahh pusing gue, ketertarikan apanya sih? Alesan Seno ga masuk akal. Dah lah males, pusing gue dirumah terus..
Mumpung besok minggu apa gua jogging aja ya... Hmmm... jogging sambil bawa kamera? beuhh manteb juga kayanya, kali aja ada objek yang bisa gua foto. Ehehe.." gumam Gavin lalu tersenyum konyol sambil menatap langit langit kamarnya.
Tanpa tersadar karena terlalu lelah Gavin pun tertidur.
Gavin adalah seorang pemuda berumur 17 tahun. Ia baru saja melaksanakan ujian masuk universitas di tempat yang sama dengan Anin. Dia adalah anak ke 2 dari orang tua yang berada. Ayahnya memiliki perusahaan besar yang sudah memiliki cabang dimana mana.
Saat lulus kuliah nanti, ayahnya mempercayakan perusahaan kepada Gavin. Ayahnya lebih percaya kepada Gavin daripada Seno. Karena Seno memiliki kepribadian yang buruk, Seno selalu meremehkan segala hal. Bahkan sebenarnya Seno iri kepada Gavin, itu sebabnya Seno ingin merebut semua milik Gavin. Tapi tak bisa dipungkiri sebenarnya mereka saling menyayangi.
Gavin sendiri tidak terlalu tertarik dengan perusahaan ayahnya itu. Sebenarnya Gavin bercita cita menjadi seorang fotografer, dia lebih mencintai kamera nya dibanding apapun. Saat kuliah dia ingin mengambil jurusan fotografi. Tapi ayahnya tidak mengizinkannya dan malah menyuruhnya mengambil jurusan yang berkaitan dengan dunia bisnis.
Sementara itu..
Waktu menunjukkan pukul 14.00
Mama Lina dan Anin bersiap untuk pulang, karena Anin tak perlu dirawat. Karena tak ada luka serius yang terjadi pada Anin,Hanya luka kecil dan sedikit tekanan.
Mama Lina terus memegang tangan buah hatinya itu, karena tak ingin suatu hal terjadi lagi pada Anin
"Maa.. Memangnya mau nyeberang ya? Ko mama megang tangan aku erat banget?? Hihi" ucap Anin heran
"Engga, mama cuma takut kamu jatuh" ucap mama Lina khawatir
__ADS_1
"Omaygat.. Emang ada yang numpahin minyak di lantai ma? Aahh aku takut kepleset maa... Hihihihii" ucap Anin meledek dan makin menempel ke mamanya
"Kamu tuh yaa, emang gamau mama pegangin apa??" ucap mama Lina kesal
"Ehehe iya ma iyaa pegangin aku niii... Uuhh aku sayang mamaa..." ucap anin manja
Mereka pun pulang naik taksi, karena kondisi Anin yang tak memungkinkan untuk naik angkutan umum.
Setelah sampai dirumah. Anin memutuskan untuk melupakan masalahnya. Dia ingin refreshing membuang masalahnya, semua itu dia lakukan dengan cara menggambar. Dia berencana untuk pergi keluar bersama Firli, sahabatnya.
Saat diruang tamu. Mama Lina masih repot menjahit, dan Anin membantu menggabar desain untuk di butik mamanya.
"Maaa... Besok aku boleh gaa pergi keluar?" tanya Anin
"Ngapainnn? Ngaco kamu! Baru aja kena musibah tadi, udah mau nyari musibah lain. Bosen idup, hah?" jawab mama Lina kesal
"Iihh aku bete di rumah.. Aku mau cari inspirasi buat gambar. Kalo mama khawatir aku perginya sama firli dehh." ucap Anin manja.
"Udah ko maa."
"Yakin?"
"Yakin mama cantikk"
"Yaudah deh, mama kalah. Mama emang ga pernah bisa menang lawan kamu. Tapi beneran yaa ama firli!"
"Yeaayyy.. Iya ma ama firli. Makasih ya maa."
Firli adalah sahabat sepergambaran Anin. Mereka di persatukan waktu pembagian kelompok seni saat kelas 10. Mereka memiliki hobi yang sama, sehingga membuat mereka disebut sahabat sepergambaran dan mereka pun sudah saling mengerti satu sama lain. Mereka selalu menghabiskan waktu bersama untuk berlomba menggambar suatu objek yang ada didepan mereka. Lalu mereka akan meminta pendapat seseorang yang sedang lewat untuk menilai gambar siapakah yang lebih bagus. Yang kalah akan mentraktir makan yang menang.
__ADS_1
Anin pun lari ke kamarnya, lalu menelpon firli.
"Halow, bisa bicara dengan saudari Firli Fairuza?" ucap anin menggoda firli
"Iya saya sendiri. Ada apakah gerangan saudari Anindita Safina menelpon saya? Setau saya tidak ada badai dan angin topan melanda." sahut firli
"Ini bahkan lebih gawat dari badai dan topan. Ini siaga 1. Harus segera di atasi. Bisakah anda menemani saya?" ucap Anin dengan nada menggoda
"Hayokk. Bisa ko bisa. Jam berapa?" tanya firli
"Besok pagi, sekalian jogging gimana?" ucap anin
"Boleh laahh.. Kebetulan hari minggu, cogan bertebaran dimana mana." ucap firli
"Yap betul sekali. Jadi sepakat ya besok." ucap Anin
"Oke siyap" ucap firli
---
Keesokan harinya, mobil Firli sudah terparkir di depan rumah Anin. Firli dan Anin berpamitan pada mama Lina. Lalu mereka pun pergi. Anin memberi tau Firli kemana mereka akan pergi. Mereka pun pergi ke sebuah taman. Mereka turun dari mobil firli, lalu mulai berjogging.
Canda tawa mereka torehkan bersama. Bukan Anin dan Firli namanya jika saat mereka bersama tidak tertawa. Tingkah mereka yang seperti orang gila di jalanan, sangat konyol, hingga membuat orang lain ikut tertawa melihat tingkah mereka berdua. Mereka tak malu untuk memperlihatkan kegilaannya didepan orang lain, jika sudah bersama.
Hingga merekapun kelelahan, dan memutuskan untuk duduk. Mereka mulai memainkan permainan mereka. Kali ini Anin yang menentukan objeknya. Kebetulan Firli ingin pergi ke toilet saat itu, sekaligus untuk memberi waktu pada Anin untuk memikirkan objeknya. Lalu Anin pun mengijinkan Firli ke toilet.
Saat itu Anin melihat ada seorang pria yang tengah memotret burung dara. Dan Anin terpikir untuk langsung menjadikannya objek.
"Hmmm.. Objek pria yang sedang memotret burung dara. Sepertinya bagus.. kita lihat apakah gambar kamu bisa lebih bagus dari aku.. Hehehe nantikan saja Firli fairuza.." gumam Anin sambil tertawa jahat.
__ADS_1
Bersambung...