
"Yap selesai. Yuk kita masuk." ucap Gavin yang telah selesai mengobati luka Anin, lalu menatap Anin
"Ehh ko ngembeng air mata? Aku terlalu keras ya nekennya tadi?" tanya Gavin khawatir
Anin hanya bisa menarik napas dan mengusap air matanya dan menggelengkan kepalanya.
"Gakpapa. Ayok masuk." ucap Anin langsung berdiri dan mengajak Gavin menuju ke pameran.
Mereka pun memasuki pintu masuk dan menitipkan barang di meja resepsionis. Mereka lalu masuk dan melihat lihat. Anin begitu senang bisa melihat karya seni yang begitu ia minati. Gavin pun sibuk dengan kamera ponselnya. Karena memang di pameran ini memperbolehkan memotret menggunakan kamera ponsel. Lalu Anin terhenti di sebuah lukisan. Yang memiliki arti begitu menyentuh hatinya. Gavin yang masih sibuk dengan ponselnya, tiba tiba tertegun melihat Anin. Dia memotret Anin yang sedang melihat lukisan itu diam diam. Tapi dia baru menyadari bahwa wajah Anin begitu sedih. Dia lalu penasaran apa yang terjadi
"Kenapa?" tanya Gavin memecah lamunan Anin
"Lukisan ini, maknanya kasih sayang seorang ayah pada putrinya, kan? Dari kecil aku gapernah merasakan kasih sayang seorang ayah." ucap Anin tanpa sengaja meneteskan air matanya saat menatap Gavin begitu sendu.
Gavin yang melihat hal itu langsung merasakan kesedihan Anin.
"Ssttt udah jangan nangis.. Malu diliatin orang, yuk kita liat liat yang lain." ucap Gavin sambil memegang kepala Anin. Lalu menarik tangan Anin untuk melihat lukisan yang lain. Dia paham akan kesedihan Anin. Tapi dia tiba tiba tak mau melihat Anin menangis.
Mereka lalu melanjutkan melihat lihat. Anin lalu menyeka airmatanya. Gavin berusaha menghibur Anin, dengan menunjukkan lukisan yang menurutnya lucu. Anin sedikit tersenyum. Lalu mereka telah sampai di akhir pameran seni. Mereka lalu keluar dari gedung pameran. Gavin mengajak Anin menaiki mobil dan pergi ke museum lukisan 3d.
Waktu masih menunjukkan pukul 10.30 jadi mereka melanjutkan perjalanan, dan Gavin bermaksud menghabiskan waktu berdua dengan Anin.
__ADS_1
Mereka pun telah sampai di museum lukisan 3d. Mereka berdua masuk. Karena di museum diperbolehkan menggunakan kamera, Anin diminta Gavin untuk berpose dengan lukisannya. Dan Gavin akan memotretnya. Anin pun menuruti saja perintah Gavin. Lalu mereka pun menikmati waktu bersama. Tertawa ria, melupakan semua beban. Sampai Anin berkata
"Orang ini gak buruk juga." ucap Anin dalam hatinya.
Mereka masih sibuk memotret. Terkadang mereka bergantian untuk memotret. Dan saat Gavin yang berpose, sungguh pose yang sangat konyol. Hal itu bahkan membuat Anin tertawa terbahak bahak. Lalu Anin merasa bahwa mereka perlu mendokumentasikan momen berdua mereka ini.
"Sini kamu diri disini. Biar aku foto dulu, yang ini bagus nih lukisannya." ucap Gavin sambil menunjuk tempat dimana Anin harus berdiri.
"Aiiih udah dong.. Sekali sekali kita fotonya barengan, jangan gantian mulu. Sini aja nih kamera kamu taro disini, terus kita foto berdua." ucap Anin pada Gavin. Yang sontak membuat Gavin terkejut dengan kata kata Anin
"Serius nih?" tanya Gavin untuk memastikan
"Iyaa. Udah cepetan taro disitu." ucap Anin sambil menunjuk ke arah bangku.
Sampailah mereka di akhir museum. Semua lukisan sudah mereka foto dengan pose yang berbeda beda. Mereka lalu berjalan jalan di depan museum 3d itu. Ada beberapa lukisan mural, lalu mereka berfoto lagi di mural itu.
Waktu sudah menunjukkan pukul 12.15
Waktunya bagi mereka istirahat sejenak dan makan siang. Gavin mengajak Anin untuk pergi ke sebuah restoran.
Mereka lalu memesan menu yang tersedia. Dengan pelayan disebelah mereka bersiap untuk mencatat pesanan mereka. Tanpa disadari makanan yang mereka sukai sama. Mereka tanpa sengaja menyebut makanan itu secara bersamaan.
__ADS_1
Lalu pelayan itu hanya bisa tersenyum melihat 2 orang yang disangkanya ini adalah sepasang kekasih.
Tak beberapa lama makanan yang mereka pesan pun tiba. Anin memakannya dengan lahap, tanpa meperdulikan sepasang mata yang melihatnya secara 'aneh'. Ya aneh, karena Anin adalah sosok wanita yang begitu imut dan cantik, tapi kelakuannya sedikit berada 'diluar nalar' menurut pandangan laki laki sebagai kebiasaan seorang wanita. Hal itu lah yang membuatnya unik dan lebih menonjol dalam diri Anin. Semua yang Anin lakukan hanya akan menimbulkan sebuah pertanyaan, dan membuat orang lain tertarik untuk dekat denganya. Baik itu perempuan atau laki laki.
Saking lahapnya ketika makan, dia baru menyadari bahwa Gavin sedang menatapnya. Anin tanpa sengaja melihat Gavin yang sedang menatapnya. Sontak membuat Anin kaget dan tersedak.
Dengan segera Anin mengambil minum yang ada dihadapannya. Dia meminumnya sampai setengah habis. Gavin yang melihatnya hanya bisa tertawa kecil dan berkata
"Itu kan minumanku." ucap Gavin sambil tersenyum
Lagi lagi Anin hampir tersedak kaget saat sedang minum, ketika mendengar omongan Gavin. Lalu segera menyudahi minumnya dan berkata
"Apa iya? Lalu dimana minumanku?" ucap Anin sedikit merasa malu
"Itu baru mau dianterin." ucap Gavin
"Kalo gitu ini untukku ya? Kamu ambil punyaku aja." ucap Anin
"Tapi itu udah aku minum sebelumnya."ucap Gavin yang membuat mata Anin membulat
"Yaudah gak masalah. Ini buatku aja. Okee lanjutkan makan. Ayo ayo kamu juga makan, jangan cuma liatin aku makan. Atau nanti jatahmu buat aku." ucap Anin menyuruh Gavin makan. Dan Gavin hanya bisa menurutinya.
__ADS_1
Bersambung....