
Dengan perasaan penuh dengan kebimbangan dan penasaran, ayu memutuskan untuk menerima ajakan Lukas untuk bertemu dengan max. "Baik lah, saya menerima ajakan pak max untuk makan malam." Mendengar ucapan ayu, seketika bibir Lukas melengkung tapi Lukas segera menormalkan kembali raut wajah nya yang datar seperti triplek.
"Baiklah, kalau begitu silahkan nona ayu masuk kedalam mobil saya akan mengantarkan nona ayu menemui pak max" Lukas bergegas membukakan pintu mobil dan mempersilahkan ayu duduk di kursi bangku belakang. Setelah ayu duduk, Lukas membuka pintu mobil dan menutupnya lalu menyalakan mesin mobil. Lukas melajukan mobilnya ke tempat yang telah max siapkan.
Sesampainya di restoran yang terletak di salah satu hotel bintang lima, Lukas membawa ayu menuju ruang VIP yang telah max pesan. Lukas membukakan pintu dan menyuruh ayu untuk masuk kedalam ruangan.
Max yang sudah lama menunggu ayu duduk dengan tangan yang dingin serta berkeringat karena gugup. Max melihat pintu ruangan terbuka dan ayu berjalan menuju kedalam ruangan. Sontak max berdiri dan tersenyum melihat ayu datang.
Max berjalan menghampiri ayu "Selamat malam nona ayu, terima kasih sudah mau menerima undangan saya." Ujar max sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
"Malam juga pak max." Jawab ayu dengan senyum menawan menjabat tangan max, jantung ayu berdegup dengan kencang ketika melihat wajah tampan max serta senyum yang menawan dari max.
"Silahkan duduk Nona ayu." Ucap max mengeser bangku agar ayu duduk.
"Terima kasih pak max."
Tak beberapa lama pelayan datang dan menyerahkan menu makanan. Max memesan makanan yang sesuai dengan selera ayu. Max sudah mengantongi semua data-data ayu dari orang kepercayaan nya yang disuruh nya.
Setelah kepergian pelayan, suasana sunyi. Ayu dapat merasakan detak jantungnya sendiri yang berdetak dengan kencang. Begitupun dengan max yang mencoba untuk mengontrol rasa gugupnya.
"Kalau boleh tahu ada apa pak max mengajak saya untuk makan malam" tanya ayu setelah dirinya menormalkan detak jantung nya sendiri.
"Hmmm..."
1 menit
2 menit
3 menit
"Saya ingin mengajak kamu untuk menikah dengan saya" jawab max setelah 3 menit memikirkan nya dengan matang-matang.
__ADS_1
Ayu yang mendengar jawaban max sontak melebarkan mata nya dengan tidak percaya. "Maksud pak max?? Menikah??"
"Iya menikah. Saya ingin menikahi nona ayu." Jawab max.
"Tapi.... Tapi pak max kita baru bertemu dua kali. Dan bukankah anda sudah mempunyai pasangan??" Ujar ayu bingung dan kaget.
"Wanita itu bukan pasangan saya. Dia hanya mantan sekretaris saya." Jawab max.
Ayu yang masih kaget dengan lamaran sontak terdiam. Bingung untuk menjawab apa. Tak beberapa lama hidangan datang. Max minta ayu untuk menyantapnya. "Ehmm.. nona ayu sebaik nya kita makan dulu baru kita bicara kembali."
"Aaah.. iya..." Jawab ayu kaget akibat melamun.
Ayu yang melihat hidangan diatas meja bingung. "Kenapa porsinya cuma seuprit." pikir ayu. "Apa kah makanan orang kaya cuma segini. Ini mah cuma sampai di tenggorokan. Mana kenyang." Bantin ayu sambil menikmati hidangan makanan.
"Pelit banget yang masak" batin ayu.
"Kenapa nona ayu? Apa makanan nya tidak sesuai dengan selera nona ayu?" Tanya max karena melihat raut wajah ayu yang aneh.
"Apa nona ayu mau minum wine?" Tanya max menawarkan.
"Aaaah... Tidak pak max... Saya tidak minum wine... Es teh manis atau enggak jus jeruk saja." Jawab ayu.
Pelayan yang sedang berdiri di sudut ruangan, bibirnya berkedut mendengar ucapan ayu. "Emang nya disini warung kaki lima. dasar orang kampung" batinnya.
"Apa es teh manis atau jus jeruk ada?" Tanya max ke pelayan restoran.
"Baik pak" jawab pelayan.
Setelah kepergian pelayan, max menatap ayu "nona ayu, apa nona ayu bersedia untuk menikah dengan saya?" Tanya max kembali.
"Maaf pak max. Boleh tahu alasannya apa bapak mengajak saya untuk menikah?" Tanya ayu
__ADS_1
"Karena saya menyukai nona ayu. Apakah jawaban saya bisa nona ayu terima?".
"Ciiih... Suka... Emangnya anda pikir saya anak kecil apa?" Batin ayu.
Melihat respon ayu yang diam max langsung memanggil Lukas melalui handphone miliknya. Lukas yang berada di ruangan yang berbeda bergegas datang keruangan max dan menyerahkan beberapa lembar kertas ke tangan max dan kembali keluar dari ruangan.
Max meletakkan kertas tersebut di atas meja ayu. Ayu yang melihat kerta tersebut sontak langsung membacanya.
(Surat perjanjian pra nikah)
"Maksud pak max apa ya?" Tanya ayu bingung.
"Sesuai dengan yang ada di kertas. Jika nona ayu tidak setuju. Nona ayu bisa langsung menambahkan nya." Jawab max
"Kita tidak akan melakukan hubungan suami istri jika nona ayu memang tidak mengijinkannya. Saya juga akan memberikan uang bulanan sebesar lima puluh juta rupiah setiap bulannya bukan termasuk kebutuhan rumah tangga, uang itu uang saku untuk nona ayu belanjakan buat kebutuhan nona ayu sendiri. Saya juga akan memberikan rumah dan mobil atas nama nona ayu sendiri. Jika nona ayu ada keinginan untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi saya bersedia untuk membiayai semuanya. Kita bersikap romantis didepan orang saja. Saya juga tidak akan melarang atau pun ikut campur urusan pribadi nona ayu jika nona ayu menginginkan nya. Bagaimana?? Apakah nona ayu bersedia untuk menikah dengan saya?? Hanya lima tahun. Jika memang nona ayu sudah tidak menginginkan pernikahan ini, nona ayu bisa mengajukan perceraian." Ucap max
"Kenapa saya?" Tanya ayu
"Bukankah tadi saya sudah bilang kalau saya menyukai nona ayu sejak pertama kali kita bertemu. Apa nona ayu tidak mendengar ucapan saya?"
"Saya ingin membantu nona ayu, saya tahu bagaimana kehidupan yang nona ayu jalani selama ini. Dan saya bisa memberikan apa pun yang nona ayu inginkan. Nona ayu bisa untuk tidak menjawabnya sekarang. Nona ayu bisa memikirkan nya matang-matang. Saya akan menunggu jawaban nona ayu."
"Bukan kah kita berbeda agama?"
"Memangnya kenapa kalau berbeda agama?" Tanya max bingung, karena selama ini max sedikit pun tidak pernah mengenal namanya agama. Max tidak pernah mempercayai Tuhan ataupun agama.
"Karena saya tidak mau menikah dengan orang yang berbeda keyakinan dengan saya. Maaf pak max, saya rasa. Saya menolak ajakan pak max." Jawab ayu tegas. Karena ayu selalu memegang teguh dengan apa yang selama ini ayu percayai.
Max yang mendengar jawaban ayu menghenyitkan dahinya. "Apakah aku harus mengenal tuhan? Sedangkan selama ini Mommy dan Daddy tidak pernah mengenalkan tuhan kepadanya." Batin max
Max yang didalam pikirannya dan berbagai macam pertanyaan di dalam hatinya mencoba untuk mencari jawaban. Ayu menunduk kepalanya, karena dirinya merasa bersalah karena telah menyingung max.
__ADS_1
"Sebaiknya pak max memikirkan ulang semuanya." Ucap ayu setelah terdiam beberapa menit.