
Setelah mendapatkan kabar dari Anton, ayu segera mengajak max untuk menuju kontrakan mbak Ratna sambil membawa amplop coklat yang sudah disiapkan oleh max dan lukas tak lupa pula ayu meminta agar supaya max mengantarnya ke bank untuk menyiapkan uang buat kedua orangtuanya. Selama di perjalanan. perasaan ayu sangat buruk. Ayu tidak menyangka sama sekali bahwa keluarga nya sangat tega membohongi dirinya. Untung saja ada Anton yang mau memberikan kabar dan kondisi tentang bapak dan ibu kepadanya. Walaupun ayu harus memberikan uang jajan tambahan kepada Anton, ayu tidak mempermasalahkan nya, lagi pula Anton merupakan adik kandungnya sendiri.
"Yu, kita sudah sampai" ucap max yang melihat ayu sedang melamun entah memikirkan apa.
"Ah iya."
"Kamu mau di temani sama aku atau gimana?"
"Aku sendiri saja max dulu max. Aku belum siap kalau sampai kedua orangtuaku melihat kamu. Aku takut mereka akan bertindak lebih jauh lagi."
"Ya sudah kalau memang itu mau kamu. Aku tunggu kamu disini. Kalau kamu butuh bantuan aku, kamu bisa langsung telepon aku ya. Aku tunggu kamu disini."
"Iya max. Aku turun dulu." Jawab ayu sambil menarik nafasnya dalam-dalam. Agar bisa menenangkan dirinya.
Setelah beberapa menit ayu keluar dari mobil dan berjalan menuju ke tempat tinggal mbak Ratna. Didepan rumah pintu rumah terbuka lebar, ayu melihat sang bapak sedang duduk di kursi sambil menikmati kopi panas bersama sang ibu.
"Rat, Ratna.." teriak ibu
Ayu langsung bersembunyi saat mendengar teriakkan dari ibunya. Ayu ingin mencoba mendengar percakapan mereka dari luar. "Apa Bu?" Tanya mbak Ratna sambil berjalan keluar dari kamarnya.
"Kamu sudah hubungi ayu lagi? Gimana? Ayu jadikan kirim kita uang buat berobat bapak kamu?"
"Udah Bu, Ratna sudah kirim pesan ke ayu. Ibu tunggu saja."
"Iiih.. itu anak semakin lama semakin susah di atur. Biasanya kalau ibu atau bapak minta uang ayu langsung kirim. Ini sekarang susahnya minta ampun." Dumel ibu.
"Lah Bu, ibu saja kalau minta ke ayu enggak tanggung-tanggung loh. Lagi pula ayu kan masih kirim ibu uang bulanan." Ucap bapak.
"Issh si bapak ini.. cuma minta dua puluh juta saja lamanya minta ampun. Tinggal kasbon saja susah." Jawab ibu enggak menerima.
"Bu, ayu itu sudah kasbon loh buat kita kemarin jalan-jalan. Mana ada sih tempat kerja yang mau kasih kasbon lagi. Apa lagi kalau kasbon nya sebanyak itu." Timpal mas Yuda sambil menenteng gelas kopi di tangannya.
"Ya itu kan urusan ayu, bukan urusan ibu. Kalau kelamaan, takutnya perhiasan yang waktu itu ibu lihat bakalan di ambil orang Yud."
Deg.
Ayu sontak kaget mendengar ucapan ibu Aminah. "Jadi uang itu buat beli perhiasan bukan buat rumah sakit?" Batin ayu. Ayu merasa sakit di hatinya. Seakan-akan ada pisau yang sedang mengiris hati nya.
"Iya mas, kalau ayu kelamaan nanti perhiasan yang ibu dan aku mau pasti akan di ambil orang. Pokoknya Ratna enggak mau tahu. Kalau sampai itu perhiasan diambil orang. Ibu harus terus maksa ayu buat kasih uang ke ibu. Ibu sayang sama Ratna kan?" Ucap Ratna sambil memeluk ibu dengan manjanya.
Ayu hanya bisa terdiam kaku mendengarkan percakapan seluruh keluarganya. Lagi dan lagi, hanya untuk kebahagiaan mbak Ratna. Ibu selalu menuruti semua kemauan mbak Ratna. Ibu tidak pernah sedikitpun menolak permintaan mbak Ratna. Apapun permintaan mbak Ratna, ibu akan selalu menuruti nya.
"Kalau gitu Yuda mau lah Bu di belikan jam tangan model baru yang harganya mahal itu."
"Iya nanti ibu belikan tapi adik mu dulu ya nak. Kalau ayu nikah sama juragan Gunawan. Ibu bakalan belikan apapun yang kamu mau. Mobil, rumah baru pasti akan ibu berikan."
__ADS_1
"Ratna juga ya Bu? Jangan cuma mas Yuda saja. Pokoknya Ratna enggak mau kalau hanya mas Yuda doang yang dibelikan rumah dan mobil baru. Sedangkan Ratna enggak."
"Sudah sudah. Nanti ibu dan bapak akan belikan apapun yang kalian mau. Yang penting ayu menikah dengan juragan Gunawan." Ucap bapak menimpali percakapan istri dan ke dua anak nya.
"Kaki bapak masih sakit enggak?" Tanya ibu Aminah.
"Enggak Bu, kan kemarin langsung di urut. Sekarang udah mendingan, enggak sesakit kemarin."
"Syukurlah. Rugi kalau kita habisin uang kalau tukang urutannya enggak bagus."
"Iya.. iya bapak tahu Bu."
Enggak mau terlalu lama mendengar percakapan seluruh keluarganya yang menyakiti hati. Ayu memutuskan untuk segera keluar dari persembunyiannya.
"Assalamualaikum, Bu bapak."
Semua keluarga ayu kaget melihat kemunculan ayu yang datang tiba-tiba. "Wa'alaikum.. loh ayu ngapain kamu kesini." Ucap ibu yang kaget melihat kedatangannya.
Ayu langsung mengambil tangan ibu dan bapak nya lalu mencium nya. "Gimana keadaan bapak?" Tanya ayu tanpa menjawab pertanyaan ibu Aminah.
"Ba..pak ba..ik..."
Ratna yang mendengar jawaban jujur dari bapak langsung menyela nya. "Bapak kurang sehat yu. Kamu lihat saja kaki bapak. Ngapain kamu datang kemari?" Sela mbak Ratna setelah tersadar dari keterkejutannya.
"Bukan gitu yu, seharusnya kamu bilang dulu kalau mau datang." Elak mbak Ratna.
"Kata mbak Ratna bapak di rawat. Tapi kok yang ayu lihat bapak dirumah dan baik-baik saja?" Tanya ayu langsung ke bapak tanpa memperdulikan mbak Ratna.
"Itu... itu..." jawab ibu gugup, sedangkan bapak hanya diam tanpa berbicara.
"Gimana kabarnya mas?" Tanya ayu sambil menyalami tangan mas Yuda yang sudah dingin seperti es.
"Mas... baik kok yu."
"Syukurlah kalau begitu. Kebetulan ada yang mau ayu bicarakan dengan ibu dan bapak. Dan Untung saja ada mas Yuda disini."
Ayu tanpa ditawarin duduk, langsung mendudukkan tubuhnya di kursi. "Ngapain kamu kesini?" Tanya mbak Ratna kesal.
"Ayu kesini mau bicara sama bapak dan ibu. Kenapa mbak? Emang nya ayu enggak boleh datang kesini?." Ratna yang mendapatkan pertanyaan dari ayu hanya bisa terdiam bingung mau menjawab apa. "Ayu kesini cuma mau menolak permintaan bapak dan ibu yang mau menikah kan ayu dengan juragan Gunawan." Ucap ayu langsung tanpa bertele-tele.
Ayu meletakkan selembar cek yang sudah disiapkan olehnya diatas meja. "Ayu ada cek sebesar lima miliar, lebih banyak dari yang ibu dan bapak minta sama juragan gunawan. Ayu akan berikan ke ibu dan bapak asalkan ibu dan bapak tidak memaksa ayu lagi."
Semua orang terkejut mendengar ucapan ayu dan melihat selembar kertas yang ada diatas meja. "Itu cek palsu." Kata mbak Ratna.
"Kata siapa palsu mbak? Itu ada tanda keaslian nya kok. Kalau enggak percaya mas Yuda bisa mengeceknya. Mas Yuda kan bekerja di bank. Ayu yakin mas Yuda tahu cek itu asli atau palsu."
__ADS_1
Yuda dengan sekilas bisa melihat kalau cek yang diatas meja itu asli. Biar bagaimanapun Yuda bekerja di bank dan selalu berurusan dengan hal-hal itu. "Coba kamu cek Yud, itu asli atau bukan." Desak ibu. Yuda yang disuruh untuk mengecek cek tersebut mengambil ceknya dan melihat keasliannya. "Ceknya asli Bu" jawab Yuda lalu meletakkannya kembali diatas meja.
Ibu yang mendengar jawaban Yuda hendak langsung mengambil nya. Hanya saja kalah gesit dengan ayu. "Ayu akan memberikan cek ini, asalkan ibu dan bapak mau menandatangani surat perjanjian. Gimana?"
"Maksud kamu apa yu?" Tanya ibu enggak terima.
"Maksud ayu, ayu bakalan kasih cek ini. Asalkan ibu dan bapak mau menandatangani surat perjanjian yang sudah ayu berikan. Lagi pula ayu mendapatkan uang ini enggak mudah loh. Ada yang harus ayu korbankan." Ucap ayu santai.
"Apa maksud kamu yu?" Tanya bapak yang sejak tadi terdiam karena kaget melihat cek sebanyak lima miliar.
"Ayu mendapatkan cek tersebut Karen ayu menjual keperawanan ayu." Jawab ayu cuek
"Kamu... kamu... dasar pelacur, wanita murahan.." Teriak ibu dengan penuh emosi mendengar jawaban ayu. Sedangkan bapak dan mas Yuda terkejut mendengarnya.
"Pelacur? Loh Bu. Bukannya ibu pengen menjual ayu ke juragan Gunawan demi uang sebesar dua miliar? Dan sekarang ayu bisa memberikan ibu dan bapak uang sebesar lima miliar. Apa bedanya Bu?" Tanya ayu santai. Walaupun hati ayu sakit mendengar ucapan ibu Aminah yang bilang dirinya pelacur.
"Kamu... kamu..."
"Kalau ibu dan bapak mau uang ini, tolong tandatangani surat perjanjian yang akan ayu kasih kebapak dan ibu buat di tandatangani."
Ratna segera menarik tangan ibu menuju kamarnya, Yuda menyusul ikut masuk kedalam kamar dan membisikkan sesuatu. "Bu, sudah ibu tandatangani saja. Kita jadi orang kaya Bu. Lumayan uang lima miliar." Bisik mbak Ratna di telinga ibu Aminah. "Iya Bu, tandatangani saja. Lagi pula uang yang di kasih ayu lebih banyak dari pada yang dijanjikan oleh juragan gunawan." Desak mas Yuda. Bapak hanya terdiam kaku sambil menatap wajah putri ketiga nya. Ayu hanya diam membisu tanpa memperdulikan tatapan dari sang bapak.
"Mana surat perjanjian nya." Tanya ibu setelah mendengar pendapat dari anak kesayangannya mbak Ratna dan Yuda.
Ayu mengeluarkan amplop coklat dan meletakkan nya di atas meja. Yuda langsung mengambil nya dan membacanya. Lalu memberikan nya kepada bapak dan ibu agar bapak dan ibu bisa mengetahui apa isi perjanjian yang sudah dilihatnya.
"Maksud kamu apa yu dengan surat perjanjian ini?" Tanya bapak tidak suka dengan isi perjanjian nya.
"Kenapa pak? Bukan kah selama ini ayu tidak pernah di anggap anak oleh bapak dan ibu. Jadi buat apa ayu masih berada di dalam kartu keluarga? Bukan kah sebaiknya ayu keluar dari kartu keluarga?" Tanya ayu.
"Kamu..." teriak bapak tidak terima.
"Sudah lah pak. Biarkan saja. Lebih baik seperti ini. Lagi pula siapa juga yang mau menikah dengan wanita yang sudah tidak perawan lagi. Lebih baik kita setuju saja daripada kita malu nantinya." Desak ibu ke bapak.
Mendengar desakan dari seluruh anggota keluarga, bapak hanya bisa menurutinya. Bapak dan ibu segera menandatangani surat perjanjian tersebut lalu menyerahkannya ke ayu. Ayu langsung menghubungi pengacara yang sudah tiba dan sedang bersama max. Tak beberapa lama pengacara yang sudah disiapkan oleh max datang. Ayu menyerahkan surat perjanjian tersebut.
"Ini om surat perjanjian nya." Ucap ayu sambil menyerahkan surat tersebut.
"Ok baik, boleh minta kartu keluarga nya dan KTP nya?"
Mbak Ratna langsung bergegas masuk kedalam kamar dan mengambil kartu keluarga serta berkas yang di minta oleh pengacara. Dan menyerahkan nya ke tangan pengacara lalu menyuruh salah satu assisten yang ikut bersamanya untuk di fotocopy.
Ayu hanya duduk diam, dan membiarkan pengacara yang diutus max untuk menyelesaikan semua urusannya. Ayu berusaha tegar menahan semua sakit yang diterimanya. Sedangkan bapak masih menatap wajah putri nya ayu. Bapak sedikitpun tidak menyangka jika keputusan nya yang mendengar omongan dari sang istri membuat nya harus kehilangan salah satu putri nya.
Setelah semuanya selesai ayu menyerahkan cek yang langsung di ambil sama ibu Aminah. Ayu tidak mau berlama-lama lagi tinggal di tempat yang membuat sesak dadanya. Ayu menyalami tangan kedua orang tuanya untuk yang terakhir kalinya. Dan segera keluar menuju mobil milik max.
__ADS_1