Aku Istri Kedua Tapi Aku Bukan Pelakor

Aku Istri Kedua Tapi Aku Bukan Pelakor
Kecurigaan


__ADS_3

Ayu merasa risih karena max memandangi ayu terus menerus, sehingga ayu tidak betah untuk berlama-lama di tempat ini. Ayu mengetik pesan kepada luna supaya Luna mau kalau ayu mengajaknya pulang duluan. 


"Max.. woy... Max... " Teriak laki-laki disebelahnya max.


"Apaan sih." Tanya max sewot karena laki-laki tersebut menganggu kesenangannya memandangi ayu.


"Enggak usah dilihatin terus. Itu perempuan risih kalau kamu lihatin." Ujar nya.


"Masa sih?" Tanya max dengan polosnya.


"Maaf ya nona. Max memang sedikit ada rada-rada miring." Ucap laki-laki tersebut kepada ayu.


"Enggak apa-apa kok pak. Kalau begitu saya permisi dulu mau cari temen saya." Jawab ayu. Laki-laki itu menyikut perut max, membuat max menyadari kesalahannya. 


"Tidak usah ayu, kamu disini saja biar saya dan Lukas yang pindah dari sini. Oh iya ini kartu nama saya. Kalau kamu butuh bantuan saya. Kami bisa hubungin saya langsung ke nomor handphone saya." Ucap max sambil mengeluarkan kartu namanya dan memberikan nya kepada ayu.


"Terima kasih pak." Ujar ayu sambil mengambil kartu nama tersebut.


Setelah menyerahkan kartu nama kepada ayu max dan Lukas memilih untuk bergabung dengan rekan-rekan pengusaha yang lain. Sedangkan ayu bernafas lega karena dirinya sudah tidak dilihatin oleh laki-laki bule tersebut. Jantungnya berdetak dengan kencang saat max memandangi tajam. 


Demi menetralkan jantungnya ayu meminum air putih dalam kemasan botol. Jujur saja ayu tidak pernah dekat dengan laki-laki, jika pun ada hanya sebatas teman sekelas. Ayu tidak pernah berhubungan atau berpacaran dengan laki-laki karena di dalam pikirannya ayu hanya ingin menjadi orang yang sukses. Ayu lebih banyak menghabiskan waktunya belajar di perpustakaan ataupun berjualan kue dan menjadi dropshiper.


"Dor... Bengong aja Loe." Ucap Luna mengangetkan ayu.


"Ish.. bikin kaget aja. Untuk aku enggak jantungan. Lun, pulang yuk? Enggak betah aku disini " pinta ayu 

__ADS_1


"Ini gue juga mau ajak elo balik, suasananya udah mulai enggak kondusif disini. Elo lihat semua pada minum minuman keras. Jadi sebaiknya kita pula." Jawab Luna 


Ayu melihat sekelilingnya, sesuai dengan yang Luna katakan kalau suasananya mulai tidak nyaman. Akhirnya Luna dan ayu meminta izin kepada Rosa untuk pulang dengan alasannya ayu tidak enak badan.


Ayu tidak masalah jika Luna menggunakan dirinya sebagai tumbal kebohongan Luna, daripada terjadi sesuatu dengan dirinya dan Luna. Setelah mendapatkan ijin dari Rosa, Luna dan ayu berjalan ke arah mobil milik Luna. 


"Lun, elo enggak masalah kan kita balik duluan?" Tanya ayu


"Ya enggak lah, kalau bukan karena masalah bisnis ngapain juga gue mau datang ke tempat ini. Hanya saja gue enggak menyangka kalau acaranya bisa separah itu. Rosa bilang nya ke gue enggak ada minuman keras. Tapi nyatanya dia aja begitu." Ujar Luna.


"Dan untungnya gue bawa elo. Jadi gue bisa jadiin elo tumbal buat gue menghindari ajakan Rosa. Hahahahah." Ujar Luna sambil tertawa bahagia.


"Terserah elo deh Lun, nasib jadi anak buah. Selalu jadi tumbal buat boss nya." Pasrah ayu.


"Wkwkwkwkwkwk... Thanks yah udah mau nemenin gue. Dan selamatin gue hari ini. Mungkin kalau enggak ajak elo, susah buat gue menghindari ajakan mereka. Terlebih lagi ada cowok yang mau di jodohkan bokap sama gue. Kalau dia enggak melihat gue bawa elo mungkin nasib gue rusak sama tuh playboy kakap." Ujar Luna lagi bergidik ngeri membayangkan gimana nasib nya.


"Bokap gue mana perduli, selama hal itu menguntungkan untuk perusahaan miliknya. Bokap akan mengorbankan apapun demi harta dan kekayaan." Jawab Luna sendu.


"Yang sabar ya lun, gue enggak tahu kalau jadi anak orang kaya bisa seperti itu." Jawab ayu tidak enak.


"Santai saja kali yu, gue harap elo selalu mau jadi temen dan sahabat gue. Terlepas elo memang karyawan gue." Ucap Luna


"Siap boss. Hehehehe." Jawab ayu tertawa.


Sesampainya di kostan ayu, Luna mengemudi kan mobilnya kearah apartemen miliknya. Ayu yang melihat mobil Luna telah menjauh dari kost-an nya berjalan menuju kamarnya. Dan merebahkan tubuhnya, untung saja besok hari libur jadi dia bisa bersantai ria di kostan nya.

__ADS_1


Pagi hari nya ayu mendapatkan pesan dari kakaknya. (Yuk, gimana kamu udah dapet kan uang nya? Kalau enggak ada uang nya biaya pengobatan ibu, pihak rumah sakit enggak mau melakukan operasi buat ibu.)


Ayu hanya bisa menatap pesan yang telah dikirim oleh mbak nya. Ada perasaan kecamuk didalam dirinya. "Tega banget mbak membohongi ayu." Batin ayu.


Ayu mencoba mendial nomor telepon ibu. Berkali-kali tidak di angkat oleh ibu, ayu juga mencoba menghubungi nomor telepon bapaknya, juga tidak diangkat oleh bapak. Ayu menghubungi mbak, tidak juga di angkat. Semua rasa bercampur menjadi satu. Harus kah dia mengirimkan uang untuk mbak nya, atau haruskan dia menolak untuk mengirimkan uang.


Dua puluh juta bukan hanya sekedar angka di mata ayu. Itu uang yang sangat banyak, dimana dia harus mendapatkan uang sebanyak itu. Dengan pikiran kalutnya ayu mencoba kembali menghubungi ibu.


(Hallo) jawab ibu.


(Assalamualaikum Bu, gimana kabar ibu?) Tanya ayu basa basi.


(Kabar ibu seperti yang mbak mu bilang nduk. Gimana kamu udah dapat uang nya?) Tanya ibu langsung.


(Belum Bu, ayu enggak punya uang sebanyak itu.) Jawab ayu sendu.


(Memangnya kamu udah enggak perduli lagi sama ibu ya nduk? Ibu kan harus menjalankan operasi. Kalau kamu enggak bisa kirimkan ibu uang, gimana ibu mau operasi nak?) Ujar ibu berbohong.


(Ayu perduli kok sama ibu, ibu sekarang di rawat dirumah sakit mana? Biar ayu kesana ya datang jenguk ibu?) Tanya ayu.


Klik.


Ibu mematikan telepon dari ayu ketika ayu menanyakan tempat ibu dirawat. Rasa curiga mulai tumbuh di dalam pikiran ayu. Apa kah ibu dan mbaknya telah bersekongkol untuk meminta uang kepada dirinya. Jika iya, untuk apa uang itu. Tiba-tiba bunyi pesan masuk dari handphone ayu.


(Kamu enggak perlu tanya dimana ibu dirawat, sudah ada mbak disini yang menjaga ibu. Tugas kamu hanya mencari uang buat biaya operasi ibu. Dan kerja yang bener supaya menghasilkan uang untuk ibu. Kamu percayakan saja ibu sama mbak)

__ADS_1


Deg.


Hati ayu terasa di iris-iris membaca pesan dari mbak nya. Bagaimana mungkin ibu dan mbak melarang dirinya untuk mengetahui dimana keberadaan ibunya dirawat, mbak hanya menyuruh nya bekerja untuk menghasilkan uang demi ibu. Bukan nya ayu selalu memberikan uang kepada ibu dan bapak. Lalu kemana kah uang yang selama ini dia berikan. Sedangkan ayu memberikan tidak sedikit untuk ibu dan bapak nya. 


__ADS_2