
"Menikah? Siapa yang menikah? Menikah sama siapa? Jangan-jangan juragan Gunawan? Maksud nya mbak ratna dapat uang banyak gimana?" Ayu terus memikirkan semua balasan dari mbak ratna dan teman-teman nya. "Apa jangan-jangan bapak sama ibu pengen gue menikah sama juragan Gunawan biar bisa dapat uang banyak? Tapi masa sih bapak sama ibu tega sama anak nya? Bapak sama ibu pengen jual gue? Enggak.. pokok nya gue enggak mau. Gue harus bagaimana biar bapak sama ibu enggak jadi menikahi gue dengan juragan Gunawan." gumam ayu.
"Aaarggh...." Teriak ayu sambil mengacak-acak rambutnya. Emosi berkecamuk didalam diri ayu. "Gue harus bagaimana biar gue enggak jadi nikah sama orang tua bau tanah itu?" Gumam ayu.
"Gue harus bagaimana? Arrrrrgh.."
Ayu terus mengacak-acak rambutnya karena emosi. Tanpa ayu sadari salah satu karyawan yang melihat nya geleng "mbak ayu kutuan ya? Kok garuk-garuk kepalanya. Aneh." Pikir yono.
"Mbak... Mbak... Mbak ayu kutuan ya?" Tegur Yono
Ayu yang tersadar karena teguran Yono mengedipkan matanya sambil menatap Yono yang tampang wajahnya bingung. "Eh mas Yono.. siapa yang kutuan mas?" Tanya ayu.
"Lah bukan nya mbak ayu yang lagi kutuan. Dari tadi saya lihatin mbak ayu terus-terusan garukin itu kepala. Kalau bukan kutuan apa lagi mbak? Makanya mbak, sering-sering keramasan biar kutunya hilang." Celoteh Yono panjang kali lebar kali tinggi.
Ayu terbengong mendengar celotehan Yono. "Hah... Saya enggak kutuan mas. Enak saja saya di bilang kutuan. Mas Yono kali yang kutuan." Jawab ayu dengan kesal sambil merapihkan kembali rambutnya dan mengikatnya menjadi kuncir kuda. Dan berjalan kedalam kafe menuju ruangan Luna.
Kebiasaan ayu kalau lagi banyak pikiran ayu selalu menumpahkan semua uneg-uneg nya ke sahabat nya Luna.
Yono yang mendengar jawaban Luna terbengong dan mengangkat bahunya. Dan melanjutkan acara istirahat siangnya.
Tok
Tok
Tok
"Masuk" teriak Luna dari dalam ruangan.
"Lun, kamu lagi sibuk enggak?" Tanya ayu dengan menampilkan wajahnya dari balik pintu.
__ADS_1
"Lumayan sibuk sih yu. Kenapa? Kamu lagi ada masalah?" Tanya Luna sambil menyelesaikan semua pekerjaan nya
"Iya sih lagi pusing. Ya sudah aku mau ijin cuti boleh enggak. Mau menyelesaikan masalah aku dulu. Itu pun kalau di bolehin sama big boss? Heheheh."
"Hmmm gimana ya? Bukannya enggak boleh. Tapi memang boleh. Lagi pula kamu kan jarang minta cuti selama kerja sama aku. Lagi pula pekerjaan pokok kamu kan bantuin aku buat laporan. Jadi bisa di kerjakan kapan saja. Benarkan manajer ayu?" Jawab Luna sambil menampilkan senyum merekah nya.
"Heheheh iya juga sih. Terima kasih banyak ya lun, urusan laporan pasti aku selesaikan tepat waktu kok. Kalau begitu aku pamit dulu ya Lun, sekalian ijin sama kepala koki dulu. Setelah urusan aku selesai aku langsung nemuin kamu kok."
"Iya aku tahu, aku yakin masalah kamu karena status nya mbak Ratna kan? Makanya kamu galau begini?"
"Kamu tahun lun sama status yang mbak Ratna bilang?" Tanya ayu heran
"Ya tahu lah, kan aku enggak sengaja lihat di beranda akun milik ku. Sudah sebaiknya kamu siap-siap pulang dulu. Dan segera selesaikan semua masalah kamu. Kalau udah selesai tinggal cerita ke aku gimana akhirnya. Oke sayang ku?"
"Sip makasih banyak cintaku... Lope... Lope deh buat kamu. Heheheh" jawab ayu riang sambil tersenyum.
Ayu sangat bersyukur bisa mengenal Luna, Luna bukan hanya seorang atasan untuknya. Tapi Luna menjadi seorang sahabat, teman bahkan kakak buat dirinya. Setelah berbicara banyak dengan Luna, ayu segera menuju ke dapur dan berbicara dengan kepala koki meminta ijin cuti setelah mendapatkan persetujuan dari Luna. Dan bersiap-siap untuk pulang ke kontrakan miliknya.
"Boleh pak terima kasih banyak." Jawab ayu tanpa sungkan sedikit pun. Buat karyawan dengan gaji kecil dapat tumpangan gratis mana ada yang menolak apa lagi yang menawarkan nya laki-laki dengan tampang wajah yang sangat luar biasa ganteng. Wajah yang mirip dengan dewa-dewa Yunani. Bentuk tubuh yang kekar dan tinggi serta memiliki mata berwarna biru. Wanita mana yang tidak akan tergila-gila bahkan Sudi untuk naik ke atas ranjang.
Hanya saja ayu berbeda. Ayu hanya mengagumi ketampanan max, dan tidak berniat untuk menjadi selimut hangat di ranjang max. Buat ayu kesuciannya hanya akan diserahkan untuk suaminya kelak.
Kruuuuk... Kruuuuk...
Ayu yang memang belum makan sejak tadi, tidak menyangka bahwa cacing-cacing di dalam perutnya mulai berdemo massal. Max yang mendengar bunyi keroncong dari sebelah nya tanpa sengaja tersenyum kecil. "Apa ayu sudah makan?"
Ayu merasa malu karena ulah dari hewan peliharaan yang berada di perutnya. " Heheh belum pak." Jawab ayu sambil cengengesan.
"Kalau begitu kita makan dulu. Kebetulan saya juga belum sempat makan. Apa ayu enggak keberatan?" Tanya max.
__ADS_1
"Boleh pak... Boleh... Dengan senang hati saya terima tawaran bapak." Jawab ayu tanpa malu-malu.
Lukas yang sedang mengendarai mobil hampir tertawa geli karena sifat ayu yang tidak ada tahu malunya. Sudah beberapa hari ini Lukas menyadari tentang sifat ayu. Selama itu gratis ayu akan dengan senang hati menerimanya.
Max meminta Lukas untuk membawanya ke restoran cepat saji. Sesampainya di restoran ayu dan max memesan makanan untuk mereka masing-masing. Ayu yang memang sedang kelaparan memesan banyak makanan untuk dirinya. Max dan Lukas hanya bisa tersenyum melihat tingkah laku ayu yang apa ada nya. Ayu sangat berbeda dengan wanita-wanita yang selama ini mereka kenal. Kebanyakan dari mereka selalu menjaga image mereka. Sedangkan ayu berbeda.
Sambil makan ayu memandangi max, "apa sebaiknya gue terima aja ajakan pak max ya?" Batin ayu. "Lagi pula pak max ganteng, dan juga kaya. Daripada juragan gunawan. Udah bau tanah, banyak istri. Eugh... Ogah deh." Batin ayu kembali.
Max yang merasa sedang dipandang oleh ayu langsung mendongakkan kepalanya. "Ada apa ayu lihatin saya? Apa ada sesuatu di wajah saya?" Tanya max tiba-tiba.
Ayu yang kepergok sedang memandangi max sontak terhentak kaget dan langsung menunduk kan kepalanya karena malu. "Ah.. en..gak kok pak max. Siapa juga yang lihatin bapak. Bapak jangan ke Ferran deh." Jawab ayu terbatah-batah.
"Hmmm... Kalau gitu saya yang terlalu percaya diri ya." Jawab max cuek padahal dia yakin tadi ayu sedang memandangi nya. Tapi max tidak ingin membuat ayu bertambah malu karena kepergok sedang menatapnya.
"Hmmm pak max, mengenai ajakan pak max. Apa.. kah masih berlaku?" Tanya ayu gugup.
"Ajakan yang mana yu?" Tanya max iseng. Ayu yang mendengar pertanyaan max hanya bisa memandangi makanan nya. "Huuft.. pakai nanya lagi." Gumam ayu kesal.
"Enggak jadi pak... Enggak jadi... Lupain aja." Jawab ayu kesal. Max terkekeh geli mendengar jawaban ayu. "Masih berlaku kok ayu. Kenapa? Kamu mau menikah dengan saya? Kalau kamu mau saya akan segera menyiapkan semuanya."
"Beneran pak? Bapak serius?" Tanya ayu tidak percaya.
"Saya serius ayu. Saya juga sudah mulai belajar sedikit demi sedikit. Tapi kalau kamu ingin saya segera menikahi kamu. Saya harap kamu mau membimbing saya untuk belajar." Jawab max.
"Makasih pak max. Sejujurnya saya bingung, orang tua saya berniat untuk menikahkan saya dengan seorang juragan di desa saya. Tapi saya enggak mau. Jadi saya harap pak max jangan tersinggung." Ungkap ayu jujur. Max yang sebenarnya bingung dengan perubahan ayu yang tiba-tiba menanyakan tentang ajakannya untuk menikah akhirnya tahu apa penyebabnya ayu memutuskan menerima ajakannya.
"Begitu ya... Kamu saat ini sedang memanfaatkan saya ya?" Tanya max asal.
"Iya pak... Eh... Enggak pak... Enggak..." Jawab ayu gugup sambil mengibaskan tangannya.
__ADS_1
"Hahahah.. ayu.. ayu.. enggak apa-apa kalau kamu jujur sama saya juga. Saya juga enggak marah kok." Max spontan tertawa melihat tingkah ayu yang serba salah. Ayu yang baru pertama kali mendengar suara tawa max tertegun sejenak dan tanpa sadar berucap "Ganteng banget."
Max yang mendengar ucapan ayu langsung menjawab spontan "saya memang terlahir ganteng ayu."