Aku Istri Kedua Tapi Aku Bukan Pelakor

Aku Istri Kedua Tapi Aku Bukan Pelakor
Setuju


__ADS_3

"Hahahah.. ayu.. ayu.. enggak apa-apa kalau kamu jujur sama saya juga. Saya juga enggak marah kok." Max spontan tertawa melihat tingkah ayu yang serba salah. Ayu yang baru pertama kali mendengar suara tawa max tertegun sejenak dan tanpa sadar berucap "Ganteng banget."


Max yang mendengar ucapan ayu langsung menjawab spontan "saya memang terlahir ganteng ayu."


Sudut bibir ayu berkedut dan menundukkan kepalanya karena malu mendengar jawaban max. Padahal ayu spontan berbicara seperti itu tanpa sadar, ayu tidak menyangka kalau ucapannya tersebut terdengar oleh max. Lukas hampir menyemburkan air yang ada dimulutnya.


Ehmm.. karena suasana mulai canggung max berusaha untuk mengalihkan pembicaraan, "kalau begitu kapan saya harus melamar kamu ayu?" Tanya max.


"Secepatnya pak, orang tua saya pasti akan menghubungi saya secepatnya dan meminta saya untuk kembali ke desa. Tapi pak, saya mohon agar bapak merahasiakan semua tentang pekerjaan bapak dan juga kekayaan bapak serta tentang perjanjian kita. Karena saya sangat memahami tentang keluarga saya pak." Mohon ayu.


"Baiklah saya paham. Kamu tenang saja."


"Terima kasih banyak pak."


"Apa ada lagi persyaratan dari ayu?" Tanya max.


"Itu saja pak max, saya harap bapak mengerti tentang kondisi saya." Ujar ayu pelan.


"Saya paham yu kamu enggak usah khawatir nanti saya akan mengurus semuanya. Handphone kamu mana?" Tanya max sambil menyodorkan tangannya.


Ayu mengambil handphone jadul miliknya dari dalam tas dan menyerahkan nya ke tangan max. Max langsung memasukkan beberapa angka dan menyimpan nya serta melakukan panggilan telepon ke nomor pribadi miliknya. Max menyerahkan handphone ayu. "Ok saya sudah mendapatkan nomor handphone kamu, dan saya juga sudah memasukkan nomor handphone milik saya ke handphone kamu. Nanti kamu bisa langsung hubungi saya kapan saja."


"Baik pak max." Jawab ayu sambil memasukkan kembali handphone miliknya kedalam tas.


"Luk, pesan beberapa makanan lagi untuk di bawa pulang oleh ayu." Perintah max kepada Lukas. "Ok siap." Jawab Lukas sambil berdiri dan berjalan menuju counter pemesanan.

__ADS_1


"Eh... Enggak usah pak. Saya enggak enak merepotkan bapak." Tolak ayu.


"Enggak apa-apa yu, biar kamu enggak kelaparan nanti malam." Balas max tanpa bisa di bantah oleh ayu sama sekali.


Tak beberapa lama Lukas kembali membawa beberapa bungkus plastik. Max dan ayu berjalan menuju mobil. Lukas menyerahkan bungkusan plastik ke tangan ayu. Max duduk di kursi belakang bersama ayu, Lukas menyalahkan mesin mobil dan menjalankan mobil menuju kontrakan ayu.


"Terima kasih banyak ya pak max." Ucap ayu.


"Sama-sama yu, kabarin saya kalau kamu butuh apa-apa. Jangan panggil saya pak? Panggil saja max."


"Baik pak... Eh... Max.." jawab ayu gugup.


"Besok kamu kerja tidak ayu? Kalau kerja. Saya antar kamu." Tanya max. Ayu yang sudah mengambil cuti langsung menjawab "besok saya libur Max, saya cuti beberapa hari." Ungkap ayu jujur.


"Hmm.. baiklah kalau begitu. Kalau kamu butuh bantuan, kamu tinggal bilang sama saya. Oke!!"


"Kalau begitu kami pulang dulu, kamu istirahat saja. Sampai ketemu lagi." Pamit max. Lukas membunyikan klaksonnya sebagai tanda pamit ke ayu. Selepas kepergian max dan Lukas, ayu berjalan memasuki kamar kontrakan nya. Ayu meletakkan bungkusan makanan dan tas miliknya di atas meja.


Ayu membersihkan dirinya dan melaksanakan shalat, selesai sholat ayu membuka aplikasi hijau miliknya dan mengecek beberapa pesan yang masuk. Ada beberapa orang yang mengunakan jasa nya mengirimkan bukti pembayaran, ayu membuka aplikasi mobil banking miliknya dan melihat saldo yang tertera di mutasi rekening. "Alhamdulillah, bertambah lagi saldo nya." Gumam ayu.


Ting


Ting


Ayu memencet pesan yang masuk di aplikasi hijau nya. (Hallo ayu, kamu lagi sibuk kah?) Ayu membaca pesan yang dikirimkan oleh max. (Enggak max, ada apa ya?) Balas ayu tanpa embel-embel.

__ADS_1


Tidak ada balasan dari max, lalu ayu memulai melanjutkan pekerjaannya. Ada banyak tulisan yang harus dia kerjakan. Sepuluh jari lentik ayu mulai berselancar ria di atas keyboard laptop milik nya. Hampir satu jam atau dua jam ayu mengerjakan semua pekerjaan nya. Ayu merenggangkan tubuhnya karena pegal. Ayu langsung menyimpan semua nya kedalam data base miliknya dan mengirimkan nya langsung ke alamat email para pelanggan nya. Dan memberikan kabar ke mereka. Agar nanti mereka bisa langsung meng-printnya.


Ayu mendapatkan banyak penghasilan dari pekerjaan nya, uang nya ayu kumpulkan untuk masa depan. Sedangkan gajinya ayu dari cafe sebagian ayu berikan untuk ke dua orang tuanya. Ayu berencana ingin membuka usaha jangka panjang. Ayu juga ingin membeli tanah dan rumah yang bagus untuk kedua orang tuanya. Tapi sekarang ayu hanya ingin membelinya untuk dirinya sendiri. Bapak dan ibu sudah terlalu banyak memberikan goresan luka di hati ayu. Biarlah, bila banyak orang yang menghujat nya tidak berbakti kepada dua orang tuanya. Sedangkan kedua orangtuanya lebih memberikan banyak kasih sayang untuk ketiga saudara nya. Dan memberikan apapun yang mereka minta.


(Nada dering handphone)


Ayu mengambil handphone miliknya yang dia letakkan di atas meja dan melihat id penelepon "ibu" gumam ayu. Ayu bergegas menerima panggilan telepon dan ibu. (Assalamualaikum Bu) ucap ayu.


(Wa'alaikumsalam yu, kamu Minggu kerja atau libur yu?) 


(Ayu kerja Bu, ada apa memang nya?) Tanya ayu bingung.


(Begini yu, ibu sama bapak mau pulang ke desa. Sekalian mau ajak kamu pulang. Udah lama juga kan kamu enggak pulang kerumah.) Rayu ibu.


(Hmm gimana ya Bu, ayu ada jadwal shift kerja. Ayu bisa pulang kalau ayu udah setahun kerja Bu.) 


(Loh kok begitu sih yu? Masa tempat kerjaan mu seperti itu. Pokoknya ibu enggak mau tahu. Kamu harus pulang bareng sama ibu dan bapak. Ibu enggak terima penolakan sedikit pun. Bagaimana caranya kamu harus ikut pulang bareng bapak sama ibu.) Ucap ibu penuh dengan amarahnya.


(Tapi Bu...)


(Enggak ada tapi tapian. Kamu harus balik sama bapak dan ibu, kalau perlu kamu berhenti bekerja dan nurut sama apa yang bapak dan ibu perintah. Semua ini demi kebaikan dan masa depan kamu yu.)


(Bu, ayu ingin kerja dan mandiri demi masa depan ayu sendiri Bu...)


(Enggak pokok nya kamu harus pulang bareng bapak sama ibu, kalau kamu enggak mau nurut sama bapak dan ibu. Kamu enggak akan ibu anggap anak lagi. Kamu akan di cap sebagai anak durhaka yang melawan ibu dan bapak. Apa itu yang kamu mau yu) bentak ibu dengan nada tinggi nya lalu mematikan panggilan telepon nya.

__ADS_1


Ayu terpaku diam dengan semua kata-kata dari sang ibu, tanpa ayu sadari setetes air mulai turun dari sudut matanya. Dada ayu sesak, ayu memukuli dadanya agar supaya sesak di dadanya menghilang.


"Ibu, kenapa ibu tega sama ayu. Apa salah ayu? Apa ayu bukan anak ibu? Apa ayu enggak boleh bahagia? Apa ayu enggak boleh memiliki masa depan ayu sendiri. Kenapa Bu... Kenapa ibu sama bapak begitu tega sama ayu... Kenapa..." Ucap ayu dengan air mata yang terus mengalir deras dari matanya.


__ADS_2