Aku Istri Kedua Tapi Aku Bukan Pelakor

Aku Istri Kedua Tapi Aku Bukan Pelakor
uang dan uang


__ADS_3

"Haaah.. miris banget hidup gue karena menikah dengan Claudia. Coba saja Claudia enggak mengkhianati pernikahan kami, dan enggak kembali dengan mantan suaminya. Mungkin pernikahan ini akan bertahan hingga ajal menjemput." Desah max panjang.


"Semoga saja semua lancar" gumam max.


****


Seperti biasa ayu bangun pagi dan melaksanakan kewajibannya. Ayu memutuskan untuk lari pagi di taman yang dekat dengan kontrakannya. Ayu memasangkan headset dan menyalakan musik dan salah satu aplikasi musik yang tersedia.


Ayu berlari-lari kecil mengitari lapangan sambil merenggangkan badannya. Ayu sudah membaca pesan dari adiknya Anton, ayu ingin segera lepas dari belenggu kedua orang tuanya. Jika bapak dan ibunya melarang ayu menikah dengan orang lain. Ayu lebih baik menjual dirinya dan memberikan semua uang miliknya ke kedua orang tuanya.


Max bersedia untuk membantu nya, walaupun ayu dan max tidak saling mencintai. Max bisa memberikan keuntungan untuk dirinya dan max juga membantu ayu agar bisa lepas dari perjanjian perjodohan yang di lakukan oleh kedua orang tuanya dengan juragan Gunawan.


Baik ayu dan max sudah menandatangani surat perjanjian hitam di atas putih, yang masing-masing dari mereka menyimpan surat perjanjian tersebut. Walaupun ada harga yang harus ayu bayar, yaitu kehilangan keperawanan nya. Ayu tidak mempermasalahkannya selama ayu bisa terbebas dari juragan Gunawan.


"Haaah. Ingin bahagia saja sulitnya minta ampun." Gumam ayu lirih sambil mengarahkan kepalanya ke atas melihat langit. Suasana di taman membuat ayu tenang. Ayu membutuhkan ketenangan buat jiwanya. Biar bagaimanapun ayu masih ingin menikmati hidupnya dengan bahagia tanpa tekanan sedikitpun.


Haaaah. Helahan nafas kembali keluar dari mulut ayu.


Ya tuhan kapan semua ini berakhir.

__ADS_1


(Bunyi nada dering)


Ayu mengambil handphone yang di bawa di kantongnya. "Anton" gumam ayu saat melihat id penelepon. Ayu langsung menggeser tombol hijau. (Assalamualaikum mbak)


(Wa'alaikumsalam ton, ada apa pagi-pagi nelepon mbak?)


(Ini mbak, kayak nya bapak enggak jadi pulang ke kampung dan jemput mbak ayu!)


(Hah... Kenapa dek?)


(Bapak tadi pagi jatuh kepleset di kamar mandi. Untungnya sih enggak apa-apa mbak. Cuma bapak kakinya keseleo. Mas Yuda sama mbak Ratna sudah bawa bapak ke tukang urut. Jadi rencana pulang ke kampung di tunda dulu sama ibu. Itu saja mbak, Anton enggak bisa nelpon mbak lama-lama takut ketahuan ibu dan mbak Ratna. Nanti Anton kabarin ke mbak lagi kalau ada berita terbaru. Tapi mbak jangan lupa ya kirimkan Anton uang jajan seperti janji mbak ayu waktu itu?)


(Oh begitu ya ton? Iya mbak janji nanti mbak kirimkan Anton uang jajan. Makasih ya atas infonya. Tapi bapak baik-baik saja kan dek selain keseleo enggak ada Luka apa-apa lagi?)


(Wa'alaikumsalam)


Klik.


Ayu yang mendengar berita dari Anton entah mau menangis atau bahagia mendengar berita nya. Haaaah. "Syukurlah enggak jadi pulang" batin ayu. Tak beberapa lama hp ayu berdering kembali. Ayu melihat id penelepon, "mbak Ratna?" Gumam ayu.

__ADS_1


Ayu langsung menggeser tombol hijau. (Hallo ayu, kamu punya uang enggak? Bapak sakit, butuh uang untuk berobat kerumah sakit. Kalau bisa kamu kirim sekarang. Bapak harus dirawat dirumah sakit sekarang. Kalau bisa kamu kirim uang nya hari ini juga. Enggak banyak kok paling cuma sepuluh juta rupiah. Kamu tahu kan yu, bapak sama ibu enggak ikut bpjs jadi apa-apa harus bayar. Mbak sama mas Yuda belum sempat ngurusin masalah itu. Kamu pokoknya harus kirim uang nya ke rekening mbak hari ini juga ya.) Celoteh Ratna panjang kali lebar kali tinggi tanpa mengucapkan salam.


(Assalamualaikum mbak, kok bapak dirawat mbak? Memang nya bapak kenapa? Lagian kenapa juga mbak sama mas enggak ngurusin bpjs. Kalau begini kan jadi susah. Ayu juga lagi enggak pegang uang sama sekali mbak.)


(Pokok nya mbak enggak mau tahu. Kamu harus transfer uang nya hari ini juga. Kamu kan bisa pinjam ditempat kamu bekerja. Mbak tunggu ya yu. Pokok nya hari ini juga uangnya sudah harus dikirim ke rekening mbak. Mbak tutup dulu telepon nya. Mbak mau ngurus-ngurus administrasi bapak dulu.)


Klik.


"Mbak... Mbak..."


"Haaaah." Ayu menghela nafas nya dengan keras. Dikira gampang apa nyari uang segitu dengan cepat. Pakai acara maksa pula lagi. Lagi pula kenapa juga musti bilang bapak masuk rumah sakit dan dirawat. Bukannya tadi kata Anton bapak hanya keseleo dan sudah dibawa ke tukang urut.


Ayu langsung menghubungi nomor telepon ibu Aminah. Hanya nada panggilan yang terdengar ditelepon. Tak lama kemudian mati. Ayu berulang kali mencoba menelpon ibu. Tapi tidak di angkat sama ibu.


(Ada apa yu? maaf ibu lagi sibuk ngurusin bapak. Untuk sementara jangan telepon dulu. Ibu lagi dirumah sakit sama mbak mau Ratna dan mas mu Yuda. Kamu tolong kirim uang hari ini juga ya yu. Biar bapak bisa langsung di tangani sama dokternya dan masuk keruangan rawat inap. Ibu tunggu kabarnya.)


Ayu hanya membaca pesan yang masuk kedalam hapenya tanpa berniat untuk membalasnya. Apa-apaan ini, kenapa ibu juga ikut-ikutan minta uang. Bukan karena ayu pelit atau enggak mau berbakti ke kedua orang tuanya. Hanya saja apa yang Anton kabarkan tadi berbeda dengan kabar yang dia dapat sekarang dari ibu dan mbak ratna. Apa selama ini ibu dan mbak Ratna sudah membohongi nya mentah-mentah. Kemarin ibu, dan sekarang bapak. Kenapa semua keluarga nya hanya menghubungi dirunya saat mereka membutuhkan uang. Sedangkan mereka sedikitpun tidak pernah perduli akan keadaan nya. Yang mereka inginkan hanya uang, dan uang. Apa dirinya hanya menjadi sapi perah buat keluarga nya?


Sesak.. dada ayu seakan-akan seperti terhimpit batu yang sangat besar. Sulit bagi ayu untuk bernafas. Ayu sudah tidak sanggup lagi untuk menjalani semuanya. Ingin rasanya ayu melarikan diri dan melepaskan semua beban hidupnya dengan menggantung atau melompat dari gedung yang tinggi. Hanya saja ayu masih ingat akan dosa yang nanti harus ia pertanggung jawaban kan. Dan siksaan dari api neraka. 

__ADS_1


Ayu ingin berteriak kencang sekencang-kencangnya, tapi hal itu tidak bisa ayu lakukan sekarang. Karena saat ini dirinya sedang berada di muka umum. Kalaupun ayu berani untuk berteriak mungkin banyak orang yang akan menganggap nya tidak waras. Ayu mengepalkan handphone di tangan nya dengan kencang. Jika handphone tersebut benda hidup mungkin saja handphone tersebut akan berteriak "ampun... Ampun.. badan saya remuk."


Ayu hanya bisa menahan gejolak emosi di dirinya. Ayu mencoba untuk menenangkan dirinya dengan menarik nafas beberapa kali. Ya tuhan cobaan apa lagi ini.


__ADS_2