Aku Istri Kedua Tapi Aku Bukan Pelakor

Aku Istri Kedua Tapi Aku Bukan Pelakor
Emosi ayu


__ADS_3

"Kenapa kamu enggak jadi menjualnya?" Tanya max sambil menatap wajah ayu yang mulai memerah akibat malu.


Ayu menundukkan wajahnya yang merah karena malu akibat ulahnya yang berbicara spontan tadi.


"Jadi gimana? Kamu masih mau menjual keperawanan kamu yu?" Tanya max lugas.


"Itu... Itu... Aku enggak tahu max. Aku bingung," jawab ayu jujur. Sebenarnya ayu enggan untuk melakukan nya, hanya saja kalau ayu tidak melakukan nya. Ke dua orang tua ayu pasti akan terus-menerus mengganggu nya meminta uang dan juga memaksanya untuk menikah dengan juragan Gunawan hanya karena uang.


"Seperti kata saya tadi ayu, saya siap membayar kamu lima miliar untuk keperawanan kamu. Tapi kamu harus tinggal bersama saya tanpa ikatan pernikahan yang sah. Dan perjanjian yang sudah kita sepakati sudah tentu batal. Kamu hanya tinggal memilih nya. Saya butuh jawaban kamu saat ini juga ayu." Ujar max lugas karena melihat ayu yang masih bimbang dengan keputusan nya.


Max tidak bermaksud untuk memaksa ayu, hanya saja max berusaha untuk melindungi ayu. Max tidak ingin ayu menjual keperawanan kepada orang lain. Lebih baik dirinya yang melakukan daripada orang lain. Toh max juga sudah hampir beberapa Minggu tidak berhubungan badan dengan lawan jenis semenjak max mendekati ayu.


"Kenapa aku harus tinggal bersama kamu?" Tanya ayu.


"Ya anggap saja kamu menjual diri kamu kepada saya ayu. Kalau suatu saat nanti kamu hamil anak saya, saya tidak mau kamu menggugurkan kandungan kamu atau pun menggunakan anak itu untuk mengancam saya. Jadi lebih baik kamu tinggal bersama saya dan saya bisa mengawasi kamu untuk menghindari hal-hal yang tidak saya inginkan." Jawab max dengan tajam sehingga menusuk relung hati ayu.


"Aku... aku..." ayu terbatah-batah menjawab pertanyaan max.


"Kenapa yu? Kamu tenang saja. Saya tidak akan meninggalkan kamu. Sejujurnya saya masih memiliki istri di luar negeri. Hanya saja pernikahan kami saat ini sedang dalam masalah yang cukup rumit, saya tidak tahu berapa lama masalah ini akan berakhir. Karena istri saya masih belum mau untuk berpisah. Sedangkan kedua orang tua saya sudah memaksa saya dan meminta saya agar kami segera berpisah secepatnya. Dan kedua anak saya pun sudah menyetujui nya." Ungkap max sambil menghelakan nafas panjang nya.

__ADS_1


"....."


"Kamu enggak usah takut ayu, saya pasti akan bertanggung jawab sama kamu. Saya hanya butuh waktu untuk menyelesaikan semua masalah rumah tangga saya terlebih dahulu. Mengenai masalah kedua orang tua kamu, saya pasti akan membantu kamu. Kamu bisa bilang kalau kita akan menikah secara siri tanpa ikatan hukum yang sah yang terpenting kamu bisa terbebaskan dari masalah perjodohan kamu. Bagaimana?"


"......"


Ayu memikirkan semua perkataan max dengan serius, biar bagaimanapun ini mengenai masalah kehidupan nya sendiri dan masa depan nya sendiri. Ayu tidak ingin melanggar norma-norma agama. Ayu takut akan dosa hanya saja desakan dari kedua orang tuanya dan saudara-saudarinya yang membuat ayu memilih jalan pintas agar dapat menghasilkan uang yang banyak. 


"Kalau kamu masih takut keluarga kamu akan terus-menerus mengganggu kamu, kamu bisa melakukan perjanjian hitam di atas putih buat keluarga kamu. Jika mereka melanggar perjanjian tersebut kamu bisa menuntut mereka atas tindakan tidak menyenangkan. Ya itu sih hanya pendapat saya saja. Tinggal kamu yang menentukan semua keputusan kamu. Saya hanya memberikan jalan keluar buat kamu." Ujar max sambil mengetuk-ngetuk stir mobil. 


Bunyi nada dering.


"Kenapa enggak kamu angkat saja ayu? Siapa tahu penting?"


"Haaah... paling nanya masalah uang dan uang." Jawab ayu sambil mendesah panjang.


Karena ayu tidak mengangkatnya bunyi telepon pun mati. Dan tak beberapa lama berbunyi kembali. Ayu hanya bisa menyiapkan dirinya dengan menghembuskan nafas dan mengangkatnya.


(Hallo ayu,  kamu kemana saja? Mbak telepon kok enggak di angkat-angkat? Gimana kamu udah dapat kan uang nya? Kalau udah sebaiknya kamu langsung kirim ke nomor rekening mbak? Kasihan bapak dari tadi sudah mengeluh karena enggak diperdulikan sama perawat. Kamu tahu sendiri kan yu kalau kita belum bayar biaya rumah sakit, pasti enggak akan di perduli kan? Mbak pokoknya enggak mau tahu, sebaiknya kamu langsung kirim uang nya ke rekening mbak sekarang, sekalian kamu tambah kan uang nya buat kebutuhan darurat. Kurang lebih kamu kirim ke mbak sebesar lima puluh juta lah yu)

__ADS_1


(Haaaah kok banyak banget mbak? Bukanya tadi mbak bilang dua puluh juta kenapa sekarang jadi lima puluh juta?)


(Bapak maunya di rawat di ruang VVIP yu. Kamu tahu sendiri berapa biaya nya buat semalam. Belum lagi biaya dokter dan obat-obatan nya. Itu pun mbak rasa masih kurang.)


(Kan bisa diruangan biasa mbak? Kenapa harus di ruangan VVIP? Memang nya buat apa sih dirawat diruangan VVIP segala? Mending diruangan biasa.)


(Eh yu, dengerin mbak ya? Bapak mau nya diruangan VVIP biar kalau nanti keluarga atau saudara yang datang jenguk bapak enggak malu. Lagi pula kamu kenapa pelit banget sih sama bapak sendiri. Ini bapak kandung kamu loh yu?)


(Iya ayu tahu. Bapak, bapak kandung ayu sendiri tapi kan penyakit bapak enggak parah-parah banget mbak cuma keseleo loh, keseleo....) jawab ayu dengan geram nya.


(Walaupun keseleo bapak harus dirawat ayu, biar keluarga kita kelihatan kaya. Masa malu-maluin sih, sebentar lagi juga kan kamu bakalan menikah dengan juragan Gunawan jadi sudah sewajarnya dong bapak terlihat kaya.)


(Tapi mbak ayu kan enggak mau menikah dengan juragan Gunawan. Mending bapak di bawa ke tukang urut saja lah mbak. Bayar tukang urut paling-paling cuma lima puluh ribu, dari pada di bawa ke rumah sakit dan dirawat. Kita ini bukan orang kaya mbak. Tolong deh mbak jangan terlalu berharap kalau kita ini jadi orang kaya. Yang sewajarnya saja sesuai dengan kemampuan kita mbak) jawab ayu dengan penuh emosi.


(Kamu... kamu berani ya yu melawan mbak. Mbak ini mbak kandung kamu loh. Enggak sepantasnya kamu berbicara seperti itu sama mbak. Lagi pula ini kemauan bapak dan ibu. Jadi sebaiknya kamu turutin apa kata bapak sama ibu. Jangan jadi anak durhaka kamu yu. Berani-beraninya kamu berbicara seperti itu sama mbak. Nanti mbak adu-in kamu sama bapak dan ibu. Biar kamu di pecat jadi anak)


(Ya sudah kalau mau pecat jadi anak pecat saja. Lagi pula anak bapak sama ibu bukan hanya ayu sajakan? Ada mas Yuda, ada mbak dan juga Anton? Kenapa semuanya harus ayu yang tanggung. Mas Yuda kan juga punya pekerjaan bagus masa mas Yuda enggak punya uang sepeserpun buat biaya berobat bapak sih. Kenapa harus ayu yang harus mengeluarkan semua uang?) 


Tanpa menunggu jawaban dari mbak ratna ayu langsung mematikan panggilan telepon nya. Nafas ayu memburu dan seluruh urat-urat di wajah ayu menonjol karena emosi yang sangat kuat. Ayu mengepal buku tangannya dengan kuat dan berteriak kencang. 

__ADS_1


Aaaaaaaarrrrrgggghhhhh....


__ADS_2