Aku Istri Kedua Tapi Aku Bukan Pelakor

Aku Istri Kedua Tapi Aku Bukan Pelakor
Menikah dengan Siapa?


__ADS_3

"Ooh tentu saja tidak keberatan pak, saya malah senang karena saya bisa irit ongkos dan juga uang makan. Sebelumnya terima kasih ya pak udah traktir saya makan dan antar saya pulang " jawab ayu santai dan jujur. "ditraktir makan enak siapa yang mau nolak" batin ayu.


Max yang mendengar jawaban ayu seketika sudut bibirnya berkedut. Entah max mau menangis atau pun tertawa dengan kejujuran dari ayu.


"Nona ayu boleh saya minta nomor yang bisa di hubungi?"


"Jangan panggil nona dong pak? Cukup ayu saja. Kalau nona rasa nya terlalu berat buat saya. Hehe..."


Sudut bibir max berkedut mendengar ucapan ayu. "Baik lah ayu. Saya boleh minta nomor telepon yang bisa saya hubungi?"


"Buat apa pak? Kalau buat masalah pribadi. Duh... Maaf pak nomor saya mahal. Kalau bapak mau traktir saya. Bapak kan bisa langsung ke kafe saja pak."


Mendengar jawaban ayu, max rasanya ingin membongkar apa yang ada didalam otak ayu. Rasanya max ingin membawa ayu pulang dan mengurung nya dirumah. Dan memberikan nya hukuman.


"Baiklah jika ayu tidak mau memberikan nomor telepon nya. Ini kartu nama saya. Jika ayu membutuhkan bantuan saya, ayu bisa langsung menghubungi saya." Ujar max sambil menyerahkan selembar kartu nama miliknya.


Ayu melirik kartu nama tersebut dan mengambil nya lalu meletakkannya kedalam tas miliknya. "Baik pak max, kartu namanya saya simpan. Kalau begitu saya permisi dulu. Terima kasih sudah mentraktir saya makan dan mengantar saya pulang. Terima kasih juga sudah membelikan saya makanan lagi." Jawab ayu sambil menunjukkan bungkusan yang di pegang nya dengan tersenyum manis. Semanis gula aren.


"Sama-sama. Kalau saya tidak sibuk saya akan traktir ayu lagi."


"Baiklah pak."


Ayu membuka pintu mobil dan turun dari mobil. Lalu berjalan ke arah kontrakan nya. Dengan wajah gembiranya ayu bersenandung riang. "Lumayan makan gratis lagi" gumamnya.


Setelah melihat ayu yang menghilang dari pandangan nya max menjalankan mobilnya menuju kerumahnya.


----

__ADS_1


"Bu, tadi juragan Gunawan hubungin bapak. Kata juragan Gunawan kapan juragan Gunawan harus datang kerumah buat melamar ayu?" Ungkap bapak saat makan malam.


"Kalau begitu sebaiknya kita segera pulang pak. Sekalian kita bawa ayu pulang. Biar bagaimanapun kita sudah janji sama juragan Gunawan untuk membawa ayu pulang dan menikahkannya dengan juragan Gunawan. Biar kita bisa mendapatkan banyak uang pak." Jawab Ratna.


"Iya pak sebaiknya kita bawa ayu pulang juga biar sekalian kita langsungkan pernikahan ayu dengan juragan Gunawan. Dengan begitu uang mahar dari jurangan Gunawan akan jadi milik kita. Ayu kan anak kita jadi itu berarti hak kita juga pak. Aah... Ibu sudah enggak sabar buat beli perhiasan baru. Sudah lama banget ibu enggak beli perhiasan." Ungkapnya dengan hati bahagia membayangkan uang yang sudah di janjikan oleh juragan Gunawan.


"Iya Bu, Ratna juga mau beli perhiasan dan juga baju baru. Baru Ratna udah banyak yang ketinggalan zaman. Ratna malu sama temen-temen Ratna yang lain Bu. Ratna juga mau beli rumah disini sama beli mobil baru Bu. Boleh kan Bu, pak?"


"Iya tenang saja anak kesayangan ibu, pasti nanti ibu sama bapak akan belikan apa pun yang bakalan kamu mau. Yang penting ayu dan juragan Gunawan menikah dulu. Baru kita bisa dapat uang nya. Benerkan pak?"


"Bener Bu, tapi kita haru bagaimana. Bapak dan Ratna sudah menandatangani surat perjanjian sama ayu. Lalu sekarang kita harus bagaimana dong Bu?" Jawab bapak dengan bingung.


"Oh iya pak, ibu lupa kalau bapak sama Ratna kan sudah menandatangani surat perjanjian untuk tidak mengganggunya lagi. Gimana dong nih pak? Rat, kamu harus mikirin jalan keluarnya. Ibu enggak mau ya sampai kita enggak dapat uang itu." Desak ibu kepada bapak dan Ratna.


"Iya Bu, ibu tenang kita harus mikirin gimana caranya supaya ayu mau ikut kita kembali kedesa. Dengan begitu ayu harus mengikuti kemauan ibu dan bapak." Jawab Ratna sambil memikirkan cara yang terbaik agar ayu mau ikut bersama mereka kembali ke desa.


"Iya pak nanti Ratna hubungi mas biar mas mau membantu kita."


------


Sekujur tubuh ayu bergedik, "ada apa ya kok perasaan gue enggak enak? Apa gue mulai masuk angin?" Gumam ayu. "Sudah lah sebaiknya minum obat dulu biar besok enggak tambah parah sakitnya."


Ayu mengambil obat yang disimpan nya di dalam laci mejanya dan meminum obat. Ayu merebahkan dirinya dan terlelap dalam tidur.


Perasaan ayu gelisah, entah kenapa ayu tidak fokus bekerja. "Kamu kenapa yu?" Tanya salah satu juri masak. "Enggak tahu nih pak, perasaan ayu kok enggak enak ya? Ayu juga bingung." Ungkap ayu.


"Ya sudah kamu istirahat saja dulu. Daripada nanti jari kamu kena potong karena pikiran kamu yang entah kemana." 

__ADS_1


"Baik pak kalau gitu ayu ijin dulu ya pak. Takut nya nanti ayu malah nyusahin semuanya lagi. Hehehe." 


"Iya sudah sana kamu. Sumpek juga bapak lihatin muka kamu yang enggak jelas itu."


Semua karyawan yang bekerja menahan tawa akibat candaan ayu dan salah satu juri masak. Ayu yang memang supel dan ceria selalu menjadi bahan candaan buat para senior di dapur. Mereka menganggap ayu sebagai anak ataupun adik. Jadi tidak jarang kalau ayu selalu di ledekin oleh karyawan senior. 


"Iya deh pak, ayu istirahat dulu ya. Jangan kangen sama ayu ya. Bye bye semua" ayu langsung lari keluar dari dapur. "Wuuuuh, siapa juga yang kangen sama situ." Sorak para senior yang sempat di dengar oleh ayu.


Ayu tertawa geli mendengar teriakan mereka. Untung saja kondisi cafe sedang tidak terlalu ramai jadi tidak menggangu para pengunjun. Ayu berjalan keluar melalui pintu belakang cafe dan duduk di salah satu kursi yang memang disediakan untuk karyawan yang mau merok*k. 


"Sebenernya kenapa ya? Kok perasaan gue enggak enak banget." Gumam ayu kecil. Sambil memikirkan nya ayu membuka salah satu aplikasi media sosial dan tanpa sengaja melihat status mbak ratna.


(Alhamdulillah sebentar lagi bakalan dapat uang banyak nih.)


(Komentar Sonia : uang dari mana rat? Bagi-bagi dong)


(Komentar Ratna : ada deh. Tunggu nanti ya pasti gue traktir makan.)


(Komentar Dewi : ya pelit banget sih loh kasih tahu kita-kita dong. Masa sama temen elo pelit banget?)


(Komentar Ratna : tunggu adek gue nikah dulu baru nanti gue traktir deh.)


(Komentar Sonia : adik elo yang mana? Emang nya dia mau menikah sama siapa?)


Deg...


"Menikah? Siapa yang menikah? Menikah sama siapa? Jangan-jangan juragan Gunawan? Maksud nya mbak ratna dapat uang banyak gimana?" Ayu terus memikirkan semua balasan dari mbak ratna dan teman-teman nya. "Apa jangan-jangan bapak sama ibu pengen gue menikah sama juragan Gunawan biar bisa dapat uang banyak? Tapi masa sih bapak sama ibu tega sama anak nya? Bapak sama ibu pengen jual gue? Enggak.. pokok nya gue enggak mau. Gue harus bagaimana biar bapak sama ibu enggak jadi menikahi gue dengan juragan Gunawan." gumam ayu.

__ADS_1


"Aaarggh...." Teriak ayu sambil mengacak-acak rambutnya.


__ADS_2