Aku Istri Kedua Tapi Aku Bukan Pelakor

Aku Istri Kedua Tapi Aku Bukan Pelakor
Keputusan Ayu


__ADS_3

Tanpa menunggu jawaban dari mbak ratna ayu langsung mematikan panggilan telepon nya. Nafas ayu memburu dan seluruh urat-urat di wajah ayu menonjol karena emosi yang sangat kuat. Ayu mengepal buku tangannya dengan kuat dan berteriak kencang.


Aaaaaaaarrrrrgggghhhhh....


Max hanya terkejut melihat ayu yang berteriak dengan kencang, sambil menutup kedua telinganya suara ayu yang merdu hampir merusak gendang telinga max. Bagaimana tidak ayu tepat berteriak disebelah max.


Setelah puas mengeluarkan emosi didalam hatinya, ayu baru tersadar jika dirinya sedang berada didalam mobil. Ayu memutar kepalanya dan melihat max yang sedang menatapnya sambil menutup kedua telinganya. "Maaf max... aku lepas kontrol... maaf banget ya." Ucap ayu tidak enak hati karena ulahnya berteriak kencang.


Max hanya bisa menggelengkan kepalanya dan melepaskan kedua tangan dari telinga nya. "Enggak apa-apa kok yu, kamu sudah puas belum teriaknya? Kalau belum, teriak saja lagi sampai kamu puas." Ucap max cuek, "tapi sebelum teriak kamu bilang-bilang sama saya dulu ya? Biar saya siap-siap menutup kuping saya biar telinga saya enggak rusak." Lanjut max dengan entengnya.


Sudut bibir ayu berkedut mendengar kata-kata max, entah ayu harus menangis atau marah mendengarnya. Untuk memecah keheningan max mencoba mencari bahan pembicaraan.


"Ada masalah apa yu? Kenapa kamu emosi seperti itu?" Tanya max.


"Mbak ratna menanyakan masalah uang, dan yaaa begitulah." Jawab ayu kesal. Ayu langsung menceritakan semuanya kepada max tentang percakapannya tadi. Ayu tidak menambah kan atau mengurangi sedikit pun. Max mendengar kan semua nya dengan baik.


"Kenapa kamu enggak langsung ketempat mereka saja yu?" Tanya max


"Kekontrakan nya langsung gitu?" Tanya ayu balik.


"Iya, kamu langsung saja ke tempat mereka. Kalau kamu mau, kita kesana sekarang? Biar saya antar kamu." Tawar max.


"Aku enggak tahu mereka dimana, entah di kontrakan mbak ratna atau dirumah sakit. Kalaupun aku tanya, mereka pasti tidak akan memberi tahu kepada aku mereka dimana." Desah ayu lemas. Ayu merasa dirinya seperti di bodoh-bodohin oleh keluarganya. Entah ayu yang terlalu bodoh atau karena ayu yang terlalu baik selama ini sehingga mereka bisa bertindak seperti itu.


Kruuuuk...


Bunyi nyaring terdengar dari dalam perut ayu. Cacing-cacing didalam perut ayu mulai berdemo massal. Spontan raut wajah ayu langsung memerah karena malu. Max yang mendengar suara dari perut ayu tanpa sadar sudut bibirnya terangkat sedikit. "Kamu laper yu?" Tanya max.

__ADS_1


"Ya laper lah max, masa enggak laper. Cacing-cacing udah mulai pada demo nih." Jawab ayu dengan polosnya dan ceplas-ceplosnya. 


Max tertawa geli mendengar jawaban ayu, "ya sudah kita makan dulu. Apa mau makan di tempat saya atau kita jalan lagi cari makan?"


"Memang nya di tempat kamu ada makanan max?"


"Ya kita pesan dulu lah ayu. Biar nanti saya suruh Lukas buat membelikannya."


"Ya sudah kalau begitu. Hmmm max, kamu beneran mau antar aku menemui keluarga ku?" Tanya ayu, ayu merasa harus segera mengetahui kebenarannya. Apapun yang akan terjadi nanti ayu harus siap.


"Tentu saja jika kamu mau. Apa perlu saya menyuruh Lukas untuk menyiapkan surat dokumen hitam diatas putih berserta uang nya juga?" Tanya max


Ayu bimbang, keputusan apa yang harus dia ambil. Jujur saja ayu takut salah mengambil langkah. Kalau ayu benar benar harus memutuskan untuk menyerahkan keperawanan kepada max dan tinggal tanpa ikatan pernikahan jujur saja ayu masih takut akan masa depan nya. Tapi jika ayu tidak melakukannya, kedua orang tua ayu pasti akan terus-menerus memintanya untuk segera menikah dengan laki laki yang seharusnya bisa ayu anggap kakek. Sedangkan ayu tidak mau akan hal itu.


Dengan pemikiran yang matang ayu memberikan jawaban kepada max, "aku mau max."


Max yang mendapatkan jawaban ayu tersenyum kecil. "Baiklah ayu kalau begitu kita makan dulu, besok saya akan segera mengantar kamu menemui kedua orang tua kamu."


"Ya sudah kalau begitu kita turun dulu yuk?"


Ayu menganggukan kepalanya dan membuka pintu mobil milik max, max mengambil handphone miliknya yang dia letaknya diatas dasboard mobil dan langsung menghubungi Lukas. (Luk, bawa makanan ke penthouse buat gue dan ayu. Sekalian elo siapin yang lima miliar dan juga sekali hubungi pengacara. Gue tunggu sekarang)


(Ok siap)


Setelah menghubungi Lukas, max mengantongi handphone nya dan bergegas keluar dari mobil. Tak lupa max menguncinya. Biar enggak di cuti orang. Maklum jaman sekarang Meleng sedikit aja, barang ada yang hilang.


Max mengandeng tangan ayu dan membawanya kelantai paling atas tempat tinggalnya. Max membuka pintu dan menyuruh ayu untuk masuk terlebih dahulu. Ayu memandangi penthouse max dengan perasaan kagum. Gaya yang simpel dan elegan terpampang jelas di depan nya. Suasana hitam dan putih sangat nyaman dilihat. Tak luput pula pemandangan dari luar jendela. Ayu bisa melihat ibukota yang padat akan bangunan nya. Dari yang bagus hingga yang kumuh. 

__ADS_1


"Mau minum apa yu?" Tanya max sambil membuka pintu lemari es.


"Es teh manis." Jawab ayu spontan.


"Es teh manis? Ini bukan warung kali yu?" 


"Eh... maaf apa saja boleh kok" jawab ayu yang baru tersadar jika dirinya sedang di tempatnya max.


Max terkekeh dengan tingkah ayu. Max mengambil dua gelas dan mengisi air putih dingin lalu membawanya dan meletakkan nya di atas meja. Dan max mengambil dua kaleng minuman softdrink dan beberapa cemilan yang memang max sering sediakan di tempatnya.


Max suka menyimpan banyak cemilan di lemari khusus. Dari coklat, Snack dan wafer, max menyediakan nya sebagai teman dikala dirinya sedang bekerja ataupun menonton film dan juga saat bermain game untuk menghilangkan kejenuhan max dan lukas setelah bekerja. 


Walaupun max playboy tapi max lebih banyak menghabiskan sebagian waktunya dirumah daripada pergi ke club'. Untuk minuman keras max menyediakan lemari khusus di tempat tinggalnya. 


"Maaf ya yu cuma ada ini saja. Di minum ya. Tenang kok bukan minuman keras." Tawar max


"Ma..kasih ya max." Jawab ayu gugup karena ini pertama kalinya ayu datang ketempat laki laki. Dan hanya berduaan dengan laki laki. Seumur hidup ayu, ayu belum pernah berduaan dengan lawan jenis dalam satu ruangan.


"Kamu tunggu disini ya, saya mau mandi dulu. Gerah soalnya." Ucap max, lalu berjalan menuju kamarnya.


"Iya" jawab ayu pelan.


Setelah kepergian max ke kamar, jantung ayu berdegup dengan kencang. Tangan ayu mendadak basah karena keringat. Ayu mengambil gelas yang terletak diatas meja dan meminumnya untuk mengurangi debaran jantung nya. Teringat akan ucapannya tadi ayu langsung mengambil handphone miliknya dan mengetik pesan untuk mbak ratna.


(Uang nya besok ayu antar. Mbak kirim saja alamat rumah sakit bapak. Ayu sibuk)


Setelah pesan nya terkirim ayu langsung segera mematikan handphone miliknya dan memasukkan nya kedalam tas. Ayu sudah membuat keputusan ini, apapun yang akan terjadi ayu harus siap menerima konsekuensinya. 

__ADS_1


*******


Terima kasih sudah mau membaca novel ini. Maaf jika ceritanya kurang bagus. 


__ADS_2