AKU,KAMU,SAHABATKU,DAN ORANG BARU

AKU,KAMU,SAHABATKU,DAN ORANG BARU
Kepergian dia


__ADS_3

Jalanan Dikawasan Sinjai memang tak pernah sepi saatpagi hingga malam datang.Banyak angkutan kota yang lalu lalang mencari penumpang.Bolak balik dari pasar sentral menuju kampus Universitas negeri Sinjai.


Lisda berdiri di pinggir jalan raya didepan suatu mall.Berseberangan dengan toko buku Grandmedia.Ia menunggu jalanan agak sepi disebelah warung gorengan.Sebwkum menyebrang menuju toko buku itu untuk membeli sesuatu.Di tempat itu, ia dulu sering berbelanja di toko buku itu.


Lampu merah yang berjarak lima puluh meter dari sebelah kiri Lisda berdiri menghadap toko buku,Menyala.ia segera meng narik gas motornya untuk ke toko itu.Lisd a melangkahkan kaki menuju toko buku itu.Hari itu ia ingin membeli kertas warna warni.karena memang persediaan di rumah sudah tidak banyak.ia keseringan menulis akhir-akhir ini.Mungkun karena patah hatinya belum terlalu sembuh.Ia menulis sebab ia percaya,salah satu cara menghilangkan galau adalah dengan menulis .Kutipan yang pernah ia baca entah di mana.


Barisan Rak perlengkapan alat tulis itu tertata rapi beberapa orang sibuk berjalan mencari yang mereka inginkan.Sesekali petugas penjaga toko buku itu membantu mereka yang tak menemukan apa yang mereka cari.


"Sebelah sini.Kak," ucap salah seorang pramuniaga muda kepada seorang ibu muda yang terlihat mencarikan alat tulus untuk anak pertamanya yang terlihat seperti baru masuk TK .Anak perempuan cantik itu terlihat berdiri di samping ibunya.Lisda masih memilih beberapa kertas yang berada di antara rak itu.


Setelah merasa menemukan kertas yang ia suka.Lisda berjalan menuju kasir,membayar biaya kertas yang dibeli,lalu melangkah menuju lantai tiga Lantai tiga adalah tempat novel baru maupun novel lama.Hampir semua novel dari berbagai penulis dan bermacam genre ada disana.Karena itu,Lisda selalu menyempatkan ke ruang itu jika ia datang ke toko buku.


Selain membeli kertas warna-warni,hal yang tak pernah ia lewatkan saat datang ke toko buku itu adalah menengok novel keluaran terbaru dari penerbit kesukaannya, kadang ia lansung membeli,kaadang hanya melihat-lihat saja.Maklum,paada saat tertentu ia harus mengumpulkan uang jajan dulu untuk membeli novel.


La asyik membolak-balik lembar novel terbaru karyaa seorang penulis Baru.Namanya juga baru kali itu dua lihat.Karena covernya menarik dan judul yang unik.Ia tertarik membaca bab pertamanya.Ia keasyikan,lalu tersenyum sendiri. "lucu",bisiknya. Lalu ia berjalan menunduk menuju rak yang ada di depannya. Matanya menatap ke arah rak sebelah kanan, tempat barisan novel best seller terpanjang.


"Druuubbb!" Beberapa buku jatuh dari rak yang ada di hadapannya. Seserang sepertinya ceroboh di rak seberang sana.


"Ah,maaf.Saya tidak sengaaja." Orang itu segera mendekat.Membantu menyusun buku kembali ke rak.


"Ya udah nggak apa-apa.Bukunya juga baik-baik aja.


Kalau rusak,paling kamu harus beli sendiri," jawab Lisda tanpa melihat pada orang itu.Ia fokus membereskan buku-buku yang berserakan di lantai.


Sejenak ada hening,mereka saling menatap.


"Kak Adit?!"


"Kamu?"


Mata mereka masih saling menatap.


"Maaf,kak,Sayaa nggak tahu kalau kakak." iyaa sadar kalau ia baru saja bersikap jutek.


"Ya udah,santai aja.Saya juga salah.Kamu beli buku?"


"Nggak,kok.Masih lihat-lihat aja.Aku beli kertas tadi di lantai bawah."

__ADS_1


"Oh,iya.Kemarin saya buru-buru.Maaf ya,harus mengambil gambar baru edisi koran bulan depan.Mulau sekarang mulai panggil saya,Adit Nggak usah pakai sebutan kakak.Nggak enak,kesannya saya ketuaan banget." Adit Tersenyum.


"Iya deh,Kak.Eh,Adit."


Lisda terlihat canggung saat bertemu dengan Adit.Agak heran,kenapa haari itu Adit tidak begitu jutek,seperti dua kali pertemuan sebelumnya.Begitu juga Adit.Dalam pikirannya ada sesuatu yang sulit ia jabarkan.Keduanya seperti dua orang yang saling menyembunyikan rahasia.Setelah buku yang jaatuh tersusun kembali,mereka kembali melanjutkan aktivitas seperti sebelumnya.


Lisda berdiri di rak yang sama.Adir beranjak beberapa rak dari tempat Lisda berdiri.Diam-diam Lisda memerhatikan Adit yang sedang melirik beberapa buku yang terletak di hadapannya.Dari sudut ruangan terdengar lagu bernuansa lembut .Nada-nada tenang dan bikin betah berlama-lama.


Lisda di kagetkan oleh ponsel yang tiba-tiba berdering dari dalam saku celana yang ia kenakan."Ainul?Ada apa dia meneleponku?" Batin Lisda saat menatap ada nama Ainul di layar ponselnya.


"Halo,Nul."


"Lisda.Kamu dimana?Aku barusan dapat kabar dari Rey.Dia maau pergi hari ini." Terdengar suara Ainul Agak di tahan,seolah takut memberi kabar.


"Pergi?Maksud kamu,Nul?Pergi ke mana?Kamu di mana Nul?," Lisda terlihat Panik.


*Kamu,buruan aja ke sini.Aku di kampus.Ceritanta panjang.Kita susul aja dia ke bandara. Dia sebentar lagi berangkat ke Jakarta.Ayo cepat!


"Jakarta?" Pertanyaaan Lisda tak di jawab. Telepon ditutup Ainul.


Tiba-tiba ada rasa lemah menyerang ke tubuhnya Lisda.


Harusnya dia tidak sepanik itu mendengar kabar kepergian Rey.Dia sedang berusaha melupakan lelaki itu.Jika sekarang lelaki itu tiba-tiba akan meninggalkan kota ini,harusnya itu membuatnya lebih mudah melupakan.Tetapi perasaan takut kehilangan lelaki itu meski sesungguhnya dia telah kehilangan.Masih mendekam Di dadanya.


Ia terlihat semakin panik dan tahu harus melakukan apa.


Adit yang masih berdiri beberapa meter di dekatnya,tanpa sengaja mendengar obrolan telepon Lisda dengan Ainul.


"Pergi?Ke mana? Siapa yang pergi?"Tiba-tiba terdengar suara Adit di samping Lisda.Lelakj itu bertanya keadaan masih memegang buku di tangannya.


Tanpa pikir panjang,Lisda menarik tangan Adit.


"Tolong Antarkan,aku! pintanya.


Sebenarnya ia juga mempunyai kendaraan tapi motor yang tidak begitu keren dan tua sehingga tidak bisa menempuh jalan yang lumayan jauh.


"Ke mana?" tanya Adit.

__ADS_1


"Kumohon.Tolong!"


Adit tak sempat menjawab apa-apa .Ia hanya mengikuti tubuh Lisda yang membawanya menuju parkiran motor.Kasihan melihat wajah cemas perempuan yang menarik tangannya itu.


Motor Adit melaju membela jalanan menuju Bandara.Sementara motor Lisda ia tinggalkan begitu saja dengan keadaan terkunci leher sehingga ia merasa lumayan aman.


Setelah singgah di kampus untuk menemui Ainul.Mereka lansung menuju bandara,Mata Lisda segera mencari sosok Rey Yang sedari tadi tak kunjung ia lihat. Ia bahkan tak memedulikan Adit yang dari tadi mengantarkannga.Ia memerhatikan lekat-lekat,matanya tertuju pada seorang laki-laki yang memiliki tubuh tak asing baginya.Ia kenal betul cara berdiri Rey.Ia hafal bagaimana Rey tersenyum.Bahkan dari jauh.


"Rey," Suaranya tertahan.Ia segera ingin melangkah.Tetapi ia mendadak berhenti seiring air mata yang mengalir di pipinya.Ada seseorang yang tiba-tiba memeluk tubuh Rey,lalu mencium pipi lelaki itu.Ret membalas dengan menncium kening perempuan itu,Kening Alif.


"Dua,benar-benar telah melupakanku," bisiknya .


Ia berlari membalikkan tubuhnya,tak sanggup melihat apa yang ada di hadapannya.Lelaki yang masih ia cintai,yang belum sepenuhnya ia lupakan sedang memeluk perempuan lain.


Lisda mendadak memeluk tubuh Adit.mencari rasa aman dan mencari tubuh untuk membuatnya tidak jatuh.Ia tak tahu ke mana harus melepaskan rasa sedihnya.Adit yang sedari tadi belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi hanya biasa diam membalas dekapan Lisda.Adir bahkan tak tahu kenapa perempuan itu tiba-tiba memilih memeluk tubuhnya.Padahal di sebelahnya ada Ainul.Ia berusaha menenangkan Lisda yang terisak menahan tangis.


"Lisda,kamu kenapa?Lelaki itu siapa?" Adit ingin melapaskan tubuhnya,tetapi ia tak tega.


"Rey.Mantan pacarku!" Lisda masih terisak,meluapkan segala emosi di dalam dekapan Adit.Setelah semuanya reda,Adit mulai bicara.


"Sudah!" Adit mulai paham kenapa perempuan itu begitu sedih.


Adit paham penyebab patah hati perempuan itu.


"Lisda,aku mau kamu berhenti menangis.Pertama ini bandara ,semua orang memerhatikan kita.Yang kedua,Baju aku hampir basah karena air matamu.Yang ketiga,kamu kenapa meluk aku?" pertanyaan terakhir Adit,membuat Lisda menjaga jarak.Ia pun tidak mengerti kenapa dia memeluk tubuh Adit.


"Ih! aku kan lagi sedih.Kamu nggak usah ikut nyebelin,deh." Lisda memukul pelan lengan Adit.Lalu mundur dua langkah .Di wajahnya tergurat campuran antara rasa sedih dan malu.


"Lah,kenapa aku yang kamu pukul? Kenapa bukan dia? Udahlah, sekarang dengar aku. Kamu lihat! Dia bahkan nggak peduli padamu,lalu kenapa kamu harus menangis? Dia sudah memeluk perempuan lain,lalu kenapa kamu membuang air mata untuk pelukan mereka?"


Lisda terdiam.Ia menatap Adit .Ada ketenangan di sana.Sesuatu yang membuatnya teduh.Adit mendekat dua langkah ke depan.Mengelap air mata Lisda yang membasahi pipinya.


"Makasih,ya," ucap perempuan itu.Ia tersenyum pada Adit.


"When." Ainul melirik Lisda yang tak sadar saling menatap cukup lama.


Sontak Lisda menjarah lebih jauh lagi dari Adit.Wajahnya yang masih lembap,terlihat merona malu.Bukan malu sebab diisengin adit. ia malu karena ketahuan menatap mata Adit oleh Ainul.Suasana hatinya sudah agak sedikit mereda.Setidaknya,dia tidak menangis lagi meski hatinya masih remuk.

__ADS_1


Beberapa saat sebelum Lisda memeluk tubuh Adit.Rey melihat Lisda datang dari jauh.Tetapi,sejurus kemudian Alif segera memeluknya.Ia melihat Lisda berbalik badan.Ia membalas pelukan Alif.Dari balik pelukan Alif.Rey menatap ke arah Lisda yang sedang memeluk tubuh Adit.Ada sesuatu di dadanya.sesuatu yang terbawa ikut ia sampai dijakarta Kelak.


__ADS_2