
Hingga kini,Putri memutuskan memilih untuk tetap menjadi seseorang yang menanti,seseorang yang berharap.Walau nanti harapan itu akan membuatnya patah,lelah,mungkin mati.Tetapi ia tak pernah peduli,selama ia masih merasakan rasa itu pada Adit.Ia tak pernah ingin memaksakan hati untuk pindah.Karena sesungguhnya hati yang di paksakan untuk pindah,hanya akan membuat hati itu patah lebih parah.
Putri merentang Senyum.
"Semoga nanti kamu tahu,akulah orang yang selalu menunggumu".
Lalu ia meninggalkan ruangan redaksi.Beberapa orang calon anggota organisasinya sudah datang.Seperti biasa,mereka mengisi absen,membaca koran-koran edisi sebelumnya.Belajar menulis artikel,puisi,cerpen,dan beberapa orang terlihat diskusi dengan teman-temannya.
Koran edisi bulan ini akan terbit.Tentu hal itu menjadi kabar baik Lisda dan teman-temannya sedalam calon anggota.Sebab setelah koran edisi bulan ini terbit,mereka akan melaksanakan kampung untuk seleksi anggota ketahap selanjutnya.
"Akhirnya ...Akhir pekan kita camping." Terlihat Ainul semringah setelah melihat pengumuman yang di tempel di dinding Mading.
Beberapa teman mereka juga terlihat senang,semyaa terpancar jelas wajah-wajah mereka.
Lisda hanya tersenyum,ia sedari tadi sibuk dengan pikirannya sendiri.Entah kenapa ia masih kepikiran kejadian malam itu dengan Adit.Saat mereka menikmati malam dipinggir muara beberapa ratus meter dari jembatan Yang mengarah ke laut.Ia merasa ada perasaan bahagia di dadanya.
"Lisda?Kok senyum-senyum sendiri gitu?"
"Aku lagi bahagia."
"Pasti karena Adi...."
"Ainul!Pelan-pelan,banyak orang tahu!" Lisda segera mendekap mulut Ainul.
"Ih Apaan sih!" Ainul melepaskan tangan Lisda.Lalu tergelak.
"Duh,yang lagi jatuh cinta."
"Nul,Jangan mulai,deg.Ramai nih.Ada orangnya,tuh!" Lisda menekan Nada suaranya.
Wajah Lisda merona merah.Ia salah tingkah beberapa teman seangkatannya juga ikut tersenyum melihat Lisda.Diam-diam Lisda menatap ke arah Adit dari balik kaca yang membatasi ia dengan Adit yang ada di dalam ruangan redaksi.Lelaki itu terlihat sibuk dengan kerjaannya.Hal yang membuat Lisda bertanya-tanya.Lelaki itu terlihat seolah tidak peduli dengan Lisda saat di sekretariat.Jauh berbeda dengan beberapa kali pertemuan sebelumnya.
Namun,pikiran itu segera teralihkan oleh pembacaan pengumuman oleh panitia.Penjabaran perihal apa saja yang di butuhkan akhir pekan ini.Lisda dan yang lain harus fokus pada apa yang dibacakan itu.Setelah mendengar semua penjelasan dari panitia tentang apa saja yang harus di bawa dan di butuhkan saat camping mereka pun pulang meninggalkan sekretariat.
Tak heran jika organisasi ini Mengadakan Camping.Mengingat Adit sebagai sekretariat menyukai Senja.begitupun Lisda yang hobi Photgrapy dan Menyukai senja.
Ada tiga hal yang kini menjadi alasan untuk ia tuliskan di Sebuah kertas.Pertama,tentang Alfareza yang sudah bahagia dengan sahabatnya,Kedua Rey yang tak bisa ia bohongi dari hati kecilnya sendiri.Ia masih memikirkan lelaki itu,tetapi ia terlanjur bertekad ingin melupakan lelaki itu.ia Sudah meneguhkan hati tidak akan menuliskan apa pun lagi perihal kekasih masa lalunya itu.Dan yang ke tiga tentang Adit; lelaki yang akhir-akhir ini menjerat pikirannya.Lelaki yang diam-diam memenuhi rahasia malam-malamnya.Lelaki yang suatu ketika terlihat begitu ramah,hangat,namnun suatu waktu terasa asing,dingin,dan sedikit aneh.
__ADS_1
Ia merasa lelah sekali,hatinya sedang tidak mampu memutuskan sesuatu.Ia tidak ingin gegabah atas perasaan yang terasa.Takut semua yang terjadi akan menjadikan hatiny a patah lagi yang ke sekian kali.Atau,justru ia yang mematahkan hati seseorang .Lisda sadar,perasaannya masih belum stabil .Walau sebenarnya ia merasa Adit adalah lelaki yang berbeda dari kebanyakan lelaki yang ia temui.Ada hal lain yang mungkin tak di mengerti orang lain.Yang ia temukan dari Adit.Dan ia tak menemukan hal itu pada orang lain,termasuk pada Rey.Ia nyaman saat malam itu mendengarkan Adit bercerita perihal-perihal yang mungkin aneh terdengar awalnya.
"Rey.Banyak hal yang pernah kita lalui.Semuanya kini hanya tersisa kenangan.Kamu telah menelurkan luka pada kita,padaku.Aku pikir jatuh hati padamu adalah akhir dari segela pencarian,aku nggak pernah berpikir semuanya akan berakhir seperti ini.Sepahit ini.
Tapi,ternyata aku keliru.Kini kita berada di arah yang berbeda.Kamu lebih memilih seseorang yang bukan aku.Dan sungguh tidak paham,rasanya tidak dipilih itu...sakit."
Lisda menatap langit-langit kamar.Bibirnya masih berbisik.Kelopak matanya terasa memanas.Luka kembali menganga di dada.Ia sebenarnya juga benci berlarut dalam sedih.Hal yang tak pernah ia pahami;kesedihan justru selalu datang saat ia berusaha memaksa perasaan itu hilang.
"Lisda!" Terdengar suara mamahnya memanggil dari luar Kamar.
"Iya,Mah." Ia menyeka air mata,takut mamah tahu kalau ia sedang menangis.
"Ke sini! Ada telepon dari Ayahmu."
Ayah.
Lisda bergegas keluar kamar.
Ia mengambil telepon dari tangan mamah.
"Halo,Ayah.Apa kabar?"
"Udah,dong.Aku makan sama mamah,tadi.Masakan mamah enak banget.Ayah pasti kangen kan masakan Mamah?"
"Iya,Ayah kangen masakan Mamah kamu.Bagaimana kuliahmu?"
"Baik.Lancar.Bulan depan aku udah ujian Semester.Ayah,gimana kerjaannya?"
"Ayah,bulan depan dapat cuti seminggu.Jadi ayang bisa pulang."
"Beneran?Yeee..Asyik!Ayah pulang!" Lisda girang mendengar kabar ayahnya.Ia masih selalu menjadi anak remaja yang manja bila berurusan dengan Ayahnya.
"Iya.Nanti mau ayah beliin oleh-oleh apa?Ayah baru saja menyelesaikan proyek di Bone.Makanya bulan depan bisa cuti seminggu." Sebagai karyawan perusahaan konsultan berkelas nasional,Ayahnya sering kerja pindah kota.
"Ayah pilihkan saja,deh.Yang penting Ayah pulang,itu udah bikin aku senang," jawab Lisda.
"Baik,Anak kesayangan Ayah.Ayah istirahat dulu,ya.Selamat malam sayang."
__ADS_1
"Selamat istirhat,Ayah tersayang."
Telepon ditutup.
Lisda sangat senang mendengar kabar ayahnya akan pulang bulan depan.Ia begitu rindu pada lelaki itu Wajar saja kalau tiba-tiba wajahnya menjadi bahagia saat tahu rencana Ayahnya.Mamah tersenyum melihat Anak pertamanya Itu.
Matahari Bergerak cepat,Menghangatkan suasana Pagi.Jalan Sinjai Kota kembali ramai seperti biasa.Beberapa orang paruh baya terlihat berjalan.Sekadar berolahraga ringan.Dan beberapa yang lebih muda terlihat menunggu angkutan kota untuk berangkat kerja dan sekolah.untuk mencari penghidupan dan usaha-usaha menghidupkan .Pohon-pohon pelindung yang ditanam Sepanjang jalan Sinjai membuat suasana pagi menjadi semakin sejuk,nyaman,dan hangat.
Sudah sepuluh menit lebih Lisda Menyetir motornya .Lisda mulai gelisah berkali-kali,ia menatap jam tangan,memastikan jarum jam bergerak ke angka berapa.tiba-tiba motornya kehabisan bensing dan berhenti di pinggiran jalan.Tiba-tiba ada seorang lelaki datang .
"Lisda motor kamu kenapa?
"Kamu?Lisda tertegun.Dihadapannya ada Adit yang tiba-tiba muncul dengan motornya.
"Ini motor aku kehabisan bensing.Mana yang jual bensing juga agak lumayan jauh dari sini".Kata Lisda.
Daerah situ memang agak sepi Ia dari kampung halamannya menuju Kota.
"Yaudah sini naik aja.Motor kamu,kamu titip dulu dirumah orang sekitaran sini.Keburu kita terlambat ke kampus".Adit Sambil tersenyum.
"Oh ya udah deh.Lisda dan Adit segera menitipkan Motornya di suatu rumah yang bisa dibilang mereka kenal karna motor Lisda sering kehabisan bensing sekitaran situ Berulang kali.Karna kelalaiannya mengisi Bensin.
Adit menyerahkan helm pada Lisda.Dengan perasaan setengah heran,Lisda memasangkan helm ke kepala.Lalu naik ke jok motor Adit.
Beberapa detik kemudian,Motor Adit melaju membela angin pagi yang begitu sejuk.
"Kamu dari mana?" Tanya Lisda masih penasaran.
"Habis menikmati pagi," Jawabnya datar,suaranya agak samar-samar diantara embusan angin.Tapi Lisda bisa mendengarnya dengan jelas.
"Menikmati pagi?Sejak kapan?Bukannya kamu penyuka senja?"
"Sejak pagi ini.Kadang kita tahu,jika kebahagiaan nggak hanya ada pada suatu titik.Tapi,pada banyak.hal.Bahkan,pada hal.Bahkan,pada hal yang nggak kita duga sekalipun."
"Seperti pada pagi?"
"Benar.Ternyata pagi juga punya bahagia.Pagi adalah awal dari segaala bahagia yang akan kita teguk hingga sore." Motornya melaju lebih cepat.
__ADS_1
Lisda tersenyum.Lagi-lagi,ia dibuat kagum oleh perkataan lelaki itu.Tanpa ia sadar,pipinya telah disandarkan ke pundak Adit.Ada rasa nyaman di sana,Angin berhembus menerpa wajah Lisda.Rambut yang tergerai membuat Lisda Terlihat memesona.Tangannya melingkar ke pinggang Adit.
Yang tidak Lisda ketahui tentang kejadian pagi itu.Pertemuan itu tidak sesederhana yang terlihat.Adit Sudah menyiapkan dan memperhitungkan segalanya.