
Ainul berjalan Stengah berlari menuju Lisda.Perempuan yang di tuju sedang asyik dengan buku yang ada di tangannya.Lisda duduk sendirian diPondok Pertamina dekat kampusnya yang biasanya ramai itu.Mungjun karena ia datang terlalu pagi,jadi kampus masih sepi.Mata Lisda menatap Hp nya dengan merangkul tas.
Waktu masih pukul setengah enam pagi.Lisda sudah duduk di pendopo itu,Menatap Hp nya.entah dia sedang menonton youtube,tiktok,itu kebiasaan seharian perempuan itu ketika lagi bosan.Pagi itu akan ada ujian kecil mata kuliah di jam pertama.Semalam,ia tidak sempat belajar.Sepulang dari perjalanan semalam dengan Adit.Lisda malah memilih tidur sambil mendengarkan lagu-lagu pengantar tidur yang ia sukai.Dan akhirnya,terlelap tanpa sempat belajar.Sementara pagi tadi ia telat bangun,ia tidak bangun sebelum subuh.Ia terbangun menjelang pukul Enam pagi.Lalu buru-buru mandi,salat,berkemas,kemudian memanaskan motornya untuk dipakai ke kampus.
"Lisda! Tumben datang pagi banget"? Ainul menghampirinya dengan wajah semringah.
"Nggak ada apa-apa.Semalam aku nggak sempat belajar.Makanya sekarang datang lebih pagi biar bisa ngulang sedikit pelajaran buat ujian kecil," jawab Lisda datar.
"Yakin?Nggak ada yang lain gitu?" Goda Ainul.
"Jadi sekarang gitu ya?Nggak mau cerita lagi pada sahabatmu yang cantik ini?" Lanjut Ainul dengan sorot mata menuduh sesutatu.
"Ada apa sih,Ainul? sahabat aku yang cantiknya tumpah ke mana-mana ini." Lisda menutup hp nya,lalu menatap Ainul.
"Hmm..." Ainul masih tidak menjelaskan maksudnyaa.
"Ainul,jangan bikin penasaran,deh!"
"Semalam ke mana?"
"Dirumah."
"Tuh,kan! Kamu bohong.Huh! Kalau lagi sedih aja baru cerita sama aku.*
Lisda terdiam.Mereka terdiam sejenak.Lalu saling membaca pikiran .Dan saling tergelak.
"Oh.....itu.Hehehe," Lisda tersipu malu,pipinya merona.
"Gimana ceritanya?Kok bisa?"
"Tunggu! Kamu tahu dari mana?" Lisda menatap tajam.
"Jadi gini,Semalam aku nelepon kamu buat nanyain tentang ujian kecil pagi ini.Tapi,nomor hape kamu nggak aktif.Ya udah,aku telepon ke rumah.Yang angkat Ibu.Paas aku tanyain,hehe...gitu,deh.Kok bisa?Coba cerita!" Desak Ainul.
Ainul mendekatkan tubuhnya pada Lisda,Siap mendengarkan cerita sahabatnya itu.
"Cerita nggak ya? Ntar aja,deh!" Lisda balas menggoda.
"Lisdaaaaaa!!!!!!!!" Ainul merungut.Tangannya mencubit pinggang Lisda.
"Iya.Iya.lh,Sakit tahu,Nul." Lisda mengusap Kuliat pingganya lalu menarik napas,bersiap membagikan cerita yang membuat Ainul penasaran itu.
"Jadi,semalam nggak tahu kenapa,tiba-tiba ada dua udah datang di depan rumah.Aku juga nggak tahu dari mana dia tahu rumah aku.bayangkan,dari kos nya di kota ke kampung rumah aku kan lumayan jauh.Dan yang bikin aku heran,kok bisa-bisanya dia akrab sama mamahku.Sampai minta izin ke mamah buat ngajak aku keluar.Dan mamah ngizinin segala.Ya,aku nggak bisa nolak lagi,dong.Jadi,ikut aja diajak pergi," Jelas Lisda.
__ADS_1
"Oh ya,terus?Kamu diapain?"
"Diapain apanya?Pertanyaanmu nggak mutu,deh!"
"Hahahaha ...kali aja.Ditembak gitu."
"Ya kali,Ainul.Baru kenal lansung tembak." Wajah Lisda sinis.
"Bisa aja sih.....Banyak kok yang gitu.Baru kenal lansung ditembak," ucap Ainul.
"Minggu depannya lansung di putusin!" ucap mereka serentak.lalu saling tertawa.
"Eh,kamu di ajak pergi ke mana?" Ainul masih penasaran.
"Ke mana,ya?Kaasih tahu nggak,ya"
"Heh,nggak usah iseng,deh.Kasih tahu nggak?" Jadi Ainul sudah mencubit pinggang Lisdaa lagi.
"Auuu!Iya,iya.Aku Kasih tahu.Dasar nenek lampir.Main cubit sembarangan aja!" Lisda sambil mengusap Kuliat pinggangnya.
"Semalam,dia ngajak aku ke suatu tempat.Dan,kamu tahu,tempatnya indah banget.Keren!Aku heran,tau dari mana yaa diaa nemuin tempat itu.Padahal aku dari kecil di kota ini,malah nggak tahu." Lisda berhenti sejenak.
"Kamu di ajak ke mana?Jangan gantung gitu deh ceritanya!" Ainul mulai gemes.
"Terus,abis itu diajak jadian?"
"Gila!Jadian!Belum.Orang cuma nikmati suasana santai aja."
"Percuma di ajak jalan ke tempat indah,kalah nggak diajak jadian haha!" Ainul tertawa.
"Mungkin dia masih malu-malu," ucap Lisda tersipu.
Lisda malu-malu,Entah kenapa ia senang saja mendengarkan kata "jadian" pagi itu.
"Ciyee....Yang senyum sendiri.Nunggu di ajak.jadian.Ciyeee! Ainul tergelak,meledek.
"Ainuuuuullllllllll," Lisda salah tingkah,wajahnya merona,malu,bahagia,entah apa yang sedang ia rasakan.Tetapi ia senang dengan semua yang terjadi belakangan ini.Setelah kejadian menyakitkan itu,ia mulai menemukan beberapa hal yang tidak pernah ia duga.Hal-hal kecil yang menyenangkan.
Pukul tujuh pagi.Mereka bergegas menuju kelaas.Sudah saatnya mengikuti ujian kecil.
Cuaca pagi begitu cerah ,Matahari mulai terasa hangat.Begitu jugaa suasana hati Lisda.Ada getar bahagia di dadanya.Seakan sedih kemarin telah hilang.Dengan modal bahagia dan hanya sedikit belajar .Sebab waktu belajarnya lebih banyak diambil alih oleh rasa penasaran Ainul-Lisda merasa cukup siap.untuk menghadapi ujian kecil.Ada benarnya,seseorang yang hatinya sedang bahagia akan lebih bisa menganggap semuanya menjadi lebih muda.
Putri mengambil gelas yang ukurannya tak begitu besar di dapur sekretariat organisasi mereka,dapur yang bersebelagan dengan kamar mandi kecil.Ia ingin membuat secangkir teh untuk dirinya dan menawarkan secangkir teh untuk Adit.Tetapi,Adit menolak tawaran itu.Adir memang tak begitu suka teh.Ia lebih suka minum kopi dari pada teh.Rasa kopi bisa membuatnya tenang.Apalagi saat di kejar Deadline,bisa habisntiga cangkir kopi atau lebih olehnya.Dan pagi ini,ia telah membuat kopi sendiri.
__ADS_1
Selesai membuat segelas teh,putri duduk di kursi yang ada dalam ruangan redaaksi,memerhatikan Adit yang sibuk dengan komputer yang ada di hadapannya.Putri memerhatikan Adit lekat-lekat Ada sesuatu yang berkutat di pikirannya.Ada rasa tenang di dadanya saat menatap ke arah Adit.Lelaki dengan tampilan rambut yang jarang tak rapi,Kemeja yang di kenakan Adit juga tak begitu mencolok,bahkan bisa di sebut kusam.
Sesekali ia basahi bibirnya dengan secangkir teh yang ia pegang. "Adit",ucapnya berbisik hampir tak terdengar.Adit tak mendengar suaranya.Lelaki itu asyik aja dengan komputernyaa,menyelesaikan pekerjaan sambil mendengarkan lagu musisi dengan earphone.
Sejenak ingatan Putri kembali pada beberapa tahun lalu.Saat Adit memilih seseorang yang bukan dia.Saat Adit memilih Anila,temann baiknya.Tetapi ia tak pernah dendam,walau hatinya perih menerima kenyataan bahwa orang yang ia sukai bahagia dengan sahabatnya sendiri.Cinta macam apa yang lebih kuat dari itu?
Ia menyadari,Ia tak berani mengatakan rasa sukanya pada Adit.Mungkin karena itu,akhirnya Adit menjadikan Anika kekasihnya Tetapi,sejak Anila meninggal,ia merasa punya harapan kembali pada Adit .Kemalangan lelaki itu membuatnya merasa memiliki celah memperjuangkan perasaan yang pernah ia bunuh.Meski ia tahu,ia sangat jahat bila akhirnya mengambil kekasih sahabatnya.Tetapi,kepergian Anila bukan atas kemauannya.Sekecewa apa pun ia atas kenyataan itu.Dia sama sekali tidak pernah berdoa seburuk itu perihal Anila dan Adit.Itu Semua semata tuhan yang berkehendak.
Sejak Anila meninggal,Putri taj pernah lelah menaruh harapan lagi pada Adit.Harapan yang pernah dibunuh paksa itu memaksa untuk hidup kembali.Walah itu tetap saja tak pernah berani mengatakannya Hampir setiap hari ia memerhatikan Adit dari jauh.Dari sudut matanya yang selalu ia sembunyikan .Setiap kali ia merasa damai melihat kenangan wajah lelaki itu.Dan pagi itu,ia sangat menikmati momen menjadi pencuri keindahan diam-diam.Hal.yang menyenangkan Putri,semua teman-tenan organisasinya sedang ada jam kuliah.Hanya ada ia dan Adit di sekretariat.Ia merasa bahagia,meski tak jarang waktu yang mereka habiskan hanya saling diam.Adit sibuk dengan pekerjaannya sedangkan Putri sibuk dengan kepura-puraannya membaca buku.Padahak sebenarnya hampir tak ada yang luput dari perhatiannya terhadap Adit.
"Put,Aku bisa lihat cerpen untuk edisi bulnan ini,nggak?Soalnya aku mau buat ilustrasinya." Suara Adit terdengar,sesaat setelah ia membuka Earphone di telinganya.
Setelah pertanyaan itu terlontar,Adit tetap sibuk menatap ke layar komputernya.Berharap putri menjawab pertanyaannya.Tetapi,beberapa saat tak kunjung ada jawaban dari putri.
"Putri!" Adit berhenti menatap layar komputer,lalu menatap Ke arah putri.
"Oh iya.Apa,Dit?" sadar lamunannya diketahui Adit.
"Kamu kenapa?Sakit?" tanya Adit,Serius.
*Oh,Nggak.Aku nggak apa-apa,kok.Tadi kamu mau tanya apa?
Maaf.Aku lagi kurang konsentrasi aja,mungkin terlalu capek,semalam kurang tidur.* Putri berusaha membuat keadaan membaik.
"Oh,ya udah Kalau capek,istirahat.Janagan kebanyakan begadang makanya Aku mau lihat cerpen buat bulan ini,soalnya mau ngerjain ilustrasinya.."
"Ada tuh di komputer itu.Lihat aja di folder redaktur cerpen bukan ini ada judulnya, "Perempuan dan kenangannya." Putri menunjukkan detak letak cerpen yang di minta Adit.
"Oke,terima kasih," Balas Adit.
Putri menenangkan dirinya,ia masih kaget saat Adit tiba-tiba membuyarkan lamunannya tadi." Untung dia nggak tahu," Putri membatin.Ia kembali memerhatikan Adit yang kembali sibuk dengan Komputernya.
"Beruntungnya Anila pernah memilikimu Dit,bahkan saat dia nggak ada lagi di bumi ini,kamu masih aja mencintainya.Andaikan Anila itu adalah aku.Aku pasti akan bahagia sekali Tapi sedahlah,setidaknya aku masih bahagia,bisa selalu melihatmu,menikmati momen seperti ini,meski kamu nggak sadar,aku sudah terlalu lama jatuh hati sendiri padamu."
Putri tersenyum .Mencoba menikmati setiap getaran gerir yang di dadanya Rasa yang belum pernah mampu ia katakan pada Adit Mungkin hanya akan ia simpan hingga nanti.Ia sudah cukup bahagia bisa merasakan semua itu.
Hingga saat ini,Putri memang tak pernah menerima hati lain.Meski ada seseorang yang pernah mencoba membukaa pintu hatinya.Tetapi,semuanya tak pernah mampu menembus dinding pertahanan hati putri.Hanya sesaat datang lalu semuanya berlalu begitu saja.
Mungkin laki-laki yang datang padanya bukan lelaki yang tangguh,bukan lelaki yang jatuh cinta sebenarnya .Karena lelaki yang jatuh cinta sebenarnya tak akan menyerha untuk mendapatkan seseorang yang membuatnya jatuh cinta.Orang yang jatuh cinta itu keras kepala Ia akan tetap bertahan hingga benar-benar habis daya juangnya Bukan yang datang sekadar coba-coba,lalu layu tanpa ada usaha lebih.
Seperti Putri,yang diam-diam masih memendam rasa untuk melepaskan legam di hatinya Tetapi,Cinta memang tak pernah bisa di paksakan.Cinta selalu butuh waktu untuk menerima dan menyatakan Dan ia tahu,kapan ia bisa menyatakan pada Adit.Pernah ia mencoba menghapus semua perasaan pada Adit .Pernah ia mencoba menghapus semua perasaan itu.Menghempaskan rindu sendiri yang berkali-kali membelenggu.Tetapi,tetap saja hatinya menuju Adit.Menuju kehilangan-kehilangan hal yang belum pernah ia miliki sepenuhnya .
Bagi,putri semuanya tetao berarti,Ia pernah mendengar pepatah,cinta bisa datang karena terbiasa bersama Dan ia sedikit percaya akan hal itu.Tetapi,setelah sekian lama mereka terbiasa bersama,Entah kenapa Adit tak pernah sadar kalau dia mencintai lelaki itu.
__ADS_1
Putri bertanya pada dirinya sendiri.