
Pukul 5 sore,Lisda Keluar kelas.Ia berjalan pelan menuju Tangga.Hari itu Ainul pulang lebih cepat,tidak masuk jam kuliah terakhir.Ada urusan yang harus Ainul selesaikan.Akhirnya Lisda pulang sendiri.
Lisda berjalan turun dari lantai tiga menuju lantai dasar melalui tangga yang di duduki oleh beberapa lelaki.Mahasiswa iseng yang sibuk menggoda perempuan yang lalu lalang di tangga itu.Lisda hanya tersenyum saat mereka juga menggoda dirinya Kemudian,Berlalu meninggalkan sekelompok lelaki itu.Para lelaki itu lalu melanjutkan menggoda perempuan lain yang melintas ditangga.
Sesekali mereka kepergok dosen yang turun melalui tangga yang sama.Mereka yang tadinya berani,seolah seperti kucing bertemu lidi,ternyata penakut dan hanya berani main ramai-ramai,itu pun kepada mahasiswi junior.
Udara terasa sejuk,dilangit angin berembus mengiringi awan.Dedaunan pohon pelindung yang tumbuh dipinggir pagar kampus,gugur berserakan ke halaman kampus .Beberapa daun sudah mengering beberapa lagi terlihat hanya menguning.Dari pintu bawah tempat keluar masuknya mahasiswa gedung kampus terlihat beberapa orang orang keluar.Kemudian,mereka berjalan ke dekat gerbang dipinggir jalan,berdiri menunggu angkutan kota.Beberapa diantara mereka menuju parkiran,pulang dengan keadaan pribadimSementara Lisda,juga berjalan menuju gerbang.Ia akan pulang dengan angkutan Kota juga dan berhenti di tempat parkiran motornya kemarin.
Wajahnya terlihat lelah.Hari itu jadwal kuliah memang padat,bahkan,ia tak datang ke sekretariat Koran,sebab dari pagi ia kuliah di kelas.
Beberapa saat sampai di gerbang,mata Lisda tertuju ke sosok lelaki yang menatap ke arahnya Lelaki itu menunggu diatas motor,berbaju Kemeja polos dan rambut yang di kuncir rapimDi motornya menggantung dua helm.Ia tersenyum ke arah Lisda.
Setelah sampai gerbang.Lisda berdiri di samping motornya.
"Adit,ngapain di sini?"
"Nungguin kamu," jawab lelaki itu.
"Kenapa harus ditunggu segala?Kita ada janji?" Lisda heran.
"Memangnya untuk menunggu harus bikin janji dulu?"
"Ya...."
"Masa begitu!Jangan seperti Pak Rektor Kamu masih mahasiswa.Jangan persulit aku untuk menemuimu.Nanti kalau kamu jari rektor,boleh deh persulit aku.Sekarang kamu masih cewek cantik,belum jadi rektor.Jangan bikin aku sulit." Adit tersenyum,matanya seperti memohon belas kasih.
Lisda tersenyum mendengar ucapan Adit .Ada perasaan senang di dadanya,mendengar ucapan Adit barusan.
"Jadi,Aku mau diajak ke mana ?" tanya Lisda pasrah.
"Aku mau ngajak kamu ke suatu tempat Ayo,Naik!"Adit mengarahkan mata ke jok motor.Memberi isyarat Agar Lisda segera naik.
"Tapi,ini udah sore Aku harus pulang,deh." Lisda mulai berubah pikiran..
"huft...susah ya ngajak perempuan cantik kayak kamu." Adit pura-pura putus asa,tetapi melemparkan rayuan.
"Haha..Segitu doang usahanya?" Lisda tergelak.
Lalu ia naik ke atas jok motor.
"Ayok berangkat.Tapi nanti sekalian anterin aku pulang ke rumah,ya," pinta Lisda.
"Ya udah.Nanti aku antar kamu pulang sekalian.Ngambil motor kamu yang semalam terus aku ikutin dari belakang.Sekarang ikut aja dulu!"
"Janji dulu,kamu harus nganterin aku".
"Iya,aku janji.Asal kamu mau ikut,apa pun deh aku turuti," ucap Adit.
Lelaki itu memberikan helm kepada Lisda yang sudah duduk di jok motor itu.Lisda memasang helm di kepalanya.Beberapa saat kemudian motor Adit melaju.
Beberapa saat diatas motor Lisda malah bertanya lagi.
"Dit,kita mau ke mana sih?"
"Udah.Kamu tenang aja.Ikut aja ke mana aku bawa ya." jawabnya dengan bibir tersenyum.
"Tapi...."
"Udah,nggak pakai tapi-tapi.Nanti kamu juga tahu aku mau ajak kamu ke mana.Sekarang,kamu nurut aja dulu.Yang pasti aku nggak bakal nyulik kamu,Kok."Adit tersenyum.Perempuan yang dibelakangnya hanya menurut saja,tanpa melemparkan respon dan protes lagi.
motor yang mereka tunggangi melaju meninggalkan jalan Jend.sudirman.Meski masih bingung hendak di bawa ke mana,ia percaya Adit tidak akan berbuat macam-macam.lelaki itu tidak akan melukainya Meski di sisi lain,ia kadang merasa asing dengan sikap Adit.Dan juga meras asing dengan dirinya sendiri.Entah kenapa di kesempatan-kesempatan tertentu ia seperti terhipnotis oleh lelaki itu.
__ADS_1
Baju kemeja dan celana jeans hitam.yang di pakainya membuat Lisda terlihat cantik.Sepanjang perjalanan mereka lebih banyak diam.Hanya menikmati suara angin yang menyelinap dilubang helm.Adit juga tak bicara banyak.Dekali hanya mengajak Lisda mengobrol untuk memastikan Lisda tidak tertidur Lalu,fokus kembali mengendarai motor Lisda menyandarkan pipi ke pundak Adit.Menikmati setiap embusan angin yang menerpa wajah.Ia merasakan detak jantung Adit.Darah yang mengalir di tubuh Adit seakan bisa dirasakan hangat oleh Lisda.
Motor itu berhenti.Adit membuka helm di kepala,lalu membukakan helm Lisda.
"Kita di mana?"
"Ayo ikut denganku!" Ia mengajak Lisda berjalan menaiki tangga,bukit batu.
"Hati-hati."
"Iya."
Jalanan menaiki tangga ini agak terjal.Jemari Adit menggenggam jemari Lisda.Memastikan perempuan itu merasa aman
"Kamu kuat?" tanya Adit.
"Kuat."
"Kita sebentar lagi sampai."
Lisda tersenyum .Ia terus menaiki satu persatu anak tangga yang tersusun dari batu-batu kecil di ujung batu dan batu lain yang setingkat dibawahnya,di topang oleh kayu.Beberapa saat kemudian mereka berhasil sampai di puncak.
Lisda terpana menatap apa yang ada di hadapan mereka.Jarak ratusan meter dari mereka berdiri terlihat hamparan laut membiru.Mereka menatap ke arah tepi pantai yang jauh itu.Lalu beberapa saat kemudian menatap ke arah bawah bukit.Di bawah mereka berdiri terlihat hamparan sawah dengan padunyang menguning.Mereia berdiri dengan kagum tanpa kata-kata di atas bukit batu itu.Mereka memang begitu sangat menyukai Bukit dan pantai dan sesuatu yang Tergolong dari senja mereka berdua begitu menyukainya.
Tempat itu berada lebih kurang 60 kilometer dari Sinjai kota,arah ke kawasan Daerah yang lain.Bukit yang terbentuk dari tanah bebatuan itu memiliki tinggi sekitar 50 meter.Berjarak tempuh sekitar tiga puluh menit dari pemukiman penduduk disekitar area bawahnya.Hanya ada satu saung milik penggarap tempat itu.Saung itu di dirikan di atas puncak bukit.
Tidak ada orang lain yang datang ke sana,sebab memang tidak banyak yang tahu.
Adit menatap lepas ke arah pantai yang terlihat jelas dari jauh.Barisan ombak yang memutih dan laut biru yang tenang.Di sampingnya,Duduk Lisda yang sedari tadi tak henti kagum pada apa yang ada di hadapan mereka.Di sekeliling mereka tumbuh trumout ilalang yang bunganya berterbangan di emoas angin.Sesekalu bunga putih berbentuk kapas itu menerpa wajah Lisda.
"Kamu suka?"
"Dulu aku sering kesini,Setahun yang lalu.Dan baru hari ini aku bisa kembali ke sini.Nggak banyak yang tahu tempat ini.Setahun lalu aku lagi ngambil gambar di bawah sawah sana,kemudian salah seorang petani mengajakku ke sini.Namanya,Pak Said.Katanya,ini tempat mengintip surga." Adit bercerita kenapa ia tahu tempat itu.
Pak said yang di maksud adalah pemilik saung yang ada di puncak bukit.Adit sudah punya hubungan yang baik dengan bapak itu.Jadi,dia punya akses ke sana jika pun tidak ada pak Said disana,Adit tetap akan diizinkan.Itulah sebabnya ia bisa membawa Lisda ke sana.
"Iya.Disini kita serasa mengintip surga.Dibawah hamparan sawah yang menghijau.Berdamping dengan petak-petak sawah disebelahnya,yang padinya menguning.Rumah-rumah penduduk itu tersusun rapi.Dan di hadapan kita,di sana ada lautan yang begitu menakjubkan .Tapi sayang,tempat ini kurang terkelola...."
Lisda menyandar di bahu Adit.Angin petang hari berembus mesra.
"Aku lebih suka tempat ini tetap seperti ini Biarkan ia menjadi apa adanya.Karena ini sudah sangat indah .aku takut,kalau tempat ini di ubah,semuanya akan berubah.Dan kita nggak akan bisa menikmati momen seperti ini lagi.Momen berdua denganmu.Tempat ini akan jadi milik semua orang.Dan kamu pasti tahu,apa pun yang sudah di miliki semua orang,tidak akan terasa istimewa lagi."
"Huh.Kamu.Bisa aja."
Mereka saling menatap.lalu saling tersenyum.
"Terimakasih,ya," bisik Lisda.
"Sama-sama."
Waktu berlalu begitu cepat.Langit yang tadinya di selimuti awan putih kini telah merona jingga.Matahari terbakar gumpalan awan,perlahan menuju bibir laut.Lisda Adit menatap dari atas bukit batu.Dari jauh Pak Said tersenyum melihat mereka.
Burung-burung berterbangan menuju pulang ke sarang mereka.Di bawah,lampu-lampu jalan mulai menyala.
"Sudah hampir gelap .Aku harus mengantarmu pulang." Adit berdiri,Lalu membatu Lisda ikut berdiri Berjalan pelan-pelan Menuruni tangga.
"TerimaKasih,Pak." Sorak Adit menghadap ke arah Pak Said yang duduk di sayangnya.Lelaki paruh baya itu mengacungkan tangannya,pertanda ia mendengar ucapan Adit.
Motor Adit melaju menuju pulang.Udara mulai terasa dingin.Lisda menyandar di pundak Adit Menaruh dagunya di atas bahu Adit.Membiarkan wajahnya tersapu angin.Hangat Napas Adit yang berhembus ikut menerpa wajahnya.
Cahaya lampu-lampu jalan yang samar-samar membuat wajah Lisda terlihat cantik.Wajah yang lembut,beberapa bias air menetes di pipinya.
__ADS_1
"Hujan?"
"Lisda,hujan.Kita harus berhenti,berteduh."
"Nggak usah.terus aja.Udah malam .Aku harus segera sampai rumah dan mengambil segera motor ku."
"Tapi hujan."
Kamu takut berhujanan denganku?", Tanya Lisda
"Siapa takut!"
Lisda memegang pinggang Adit lebih erat Dibiarkannya rintik hujan membasahi tubuh mereka.Motornya melaju membelah rintik hujan.Meski tubuhnya basah,Lisda merasa senang.Itu pertama kalinya Lisda merasakan hal seperti itu.Menikmatu hujan diatas motor yang melaju
Direntangkan lengannya.Lalu bersorak.
"Aaaaaaaa......"
Lisda tidak peduli orang-orang yang ada di sepanjang jalan memerhatikan mereka.
"Lisda,pegangan.Nanti jatuh!" Adit cemas.
"Aku lagi senang.Ini pertama kalinya aku menikmati hujan seperti ini."
"Iya,tapi kamu tetap harus pegangan.Nanti kamu jatuh."
"Iya." Ia memeluk Adit ,menyandarkan kepala ke pundak Adit.
Motor terus melaju .Hujan masih turun deras,tetapi masih aman untuk di tempuh.Jarak pandang masih jauh.dan kendaraan tidak begitu ramai.
"Kamu,lelaki pertama yang membuatku merasa menjadi beda.Bebas!" Ucap Lisda diantara derai suara hujan.
Adit tersenyum.
"Aku juga pertama kali melakukan hal konyol seperti ini.Dan itu denganmu."
Bibir tipis Lisda melengkung setengah lingkaran.Ada bahagia di dada Lisda.Ada bahagia di dada Adit.Bahagua itu jatuh dari langit.Menjelma dalam hujan yang terus turun menyirami Jalan.Di jalan yang di terangu lampu-lampu samar.
Mereka berhenti ditempat penyimpangan motor kemarin.Dan segera mengambilnya.Lisda turun dari jok motor Adit dan segera naik ke jok motornya dan melaju .Ada Adit yang mengikutinya dari belakang.
"Lisdaa,Kok pulang telat?Basah-basah begini." Mamah membawakan payung menuju pagar.Perempuan itu sudah menunggu sedari tadi di depan rumah.
"Hujan,Mah.Terus motor Lisda kemarin sempat kehabisan Bahan bakar jadi Lisda titipin ke rumah kampung sebelah.Untung ada Adit yang mengantarkan pulang," jawab Lisda.
"Nak Adit,Silahkan masuk dulu.Ibu bikinkan teh." Mempersilahkan Adit unutk meneduh dulu.Sebab lelaki itu tidak turun dari motornya,setelah Lisda turun.
"Makasih Bu.Tapi,saya lansung pulang aja.Udah basah Juga.Permisi,Bu.Lisda,aku pulang,ya." Adit lansung pakit .Bajunya basah kuyup.
"Hati-hati,Nak Adit.Terima kasih udah mau mengantarkan Lisda pulang," ucap mamah Lisda.
Adit menyalakan motornya,lalu pergi meninggalkan Rumah Lisda.Mamah tersenyum melihat anaknya yang dari tadi terlihat begitu bahagia.
"Kamu kenapa jadi hujan-hujan gini,sih.Kan bisa neduh dulu tadi.Ya sudah,sekarang masuk ke dalam.Mandi.Ganti baju.Mamah akan buatkan teh hangat." Mamah menggelengkan kepala.
"Iya,mah,Makasih,ya." Ia segera masuk rumah dengan wajah berseri.
Hujan masih turun mengguyur rumah mereka.Adit akhirnya tiba di Indekosnya.Mengambik handuk lalu membersihkan diri.Memanaskan air untuk membuat segelas kopi.Indekosnya masih seperti biasa berantakan.Di tatapnya foto Anila yang terletak di atas meja.Perempuan itu tersenyum manis di pinggir pantai.Ia membelakang ke arah laut dengan posisi tangan di rentangkan .Itu foto terakhir Anila yang di ambil Adit di pantau.Sebelum sebuah kejadian menyedihkan.Menjemput Paksa Anila dan membawanya ke alam sana.
Adit terdiam .Di kepalanya .Ia menyadari sekarang ada Lisda.Seseorang yang hadir dan membuat Adit merasa kembali nyaman,merasakan kembali bagaimana rasanya memikirkan seseorang .Lisda bagaikan kiriman tuhan yang membuat Adit mengerti lagi; bahwa jatuh cinta bisaa datang saat hati telah sangat remuk sekalipun.
"Apa aku sungguh jatuh cinta?" Adit merebahkan tubuh diatas kasur.Lelah seharian beraktivitas.
__ADS_1