AKU,KAMU,SAHABATKU,DAN ORANG BARU

AKU,KAMU,SAHABATKU,DAN ORANG BARU
Berlarut dalam kesedihan dan pertemuan lelaki asing


__ADS_3

Lelaki di hadapannya tetap saja bertahan.Tetapi perasaan perempuan itu terlanjur luka.Semua retak memang tidak akan bisa kembali begitu saja.Tidak semudah itu.Tidak secepat itu.


"Lisda ..apa nggak ada kesempatan lagi?"Rey memelas.


"Nggak ada kesempatan untuk pembohong.Kamu akan mengulanginya lagi dan lagi.sementara itu akupun sudah memberimu beberapa kesempatan kemarin dan beberapa kesempatan melukai berapa kali lagi yang harus ku kasi?.Aku nggak mau ngebiarin perasaanku terluka lebih dalam."Lisda menahan aliran air mata yang kian deras di pipinya.


Lisda berusaha menatap Rey dengan penuh kebencian,walaupun di hatinya ia begitu sangat menghargai perjuangannya yang awalnya ingin membuatnya lupa terhadap masa lalunya.Dan walaupun dihatinya ia juga sebenarnya mencintai lelaki itu.


Begitulah perempuan,Sebenci apapun dia,sesakit apapun perasaanya .Dia tidak pernah benar-benar mampu membenci sepenuh hati.Selalu ada rasa sayang tersembunyi dibalik kata-kata benci yang keluar dari bibirnya.Kata-kata benci yang meski disampaikan dengan cara memaki.Dan mulutnya yang begitu kasar tetapi hatinya yang begitu lembut dan mudah rapuh.


"Kalau kamu nggak mau pergi.Aku yang pergi sekarang".


Lisda meninggalkan Rey ditempat yang dulu pernah menghadirkan senyuman dan candaan manja di antara mereka.Tempat yang di penuhi dengan segala kenangan indah.akan tetapi,Kini tempat itu kelak akan menjelma bagian dari kenangan pahit.


Lisda semakin tidak tahan akan rasa sesak di dadanya.membuat ia semakin tak sanggup menahan deras air mata dipipinya.Ia menangis di sepanjang jalan dan tidak peduli lagi orang-orang meliriknya sepanjang jalan.


Ia menatap Langit-langit kamar.Loteng berwarna putih hampa.Sama seperti perasaan yang kini sedang laramIa merasa semakin kosong .Tidak punya pegangan.


Hari berlalu,namun rasa sedih dan kecewa tidak berlalu.


"Aku nggak percaya dia ngelakuin itu padaku,dia selalu membohongiku hingga mengcampakkan perasaanku yang separuhnya telah kuberikan padanya".

__ADS_1


Lisda duduk melapaskan kesalnya.Ia Menarik napas dan membuang napas perlahan.Rasa sesak yang dirasakan dari kemarin masih saja menusuk dada.


Beberapa saat berlalu,Lisda berpikir,ia menyadari "mengapa ia menahan dirinya untuk tidak dengan lelaki itu yang bahkan perasaanya masih padanya".Ia menenangkan perasaanya .Hak yang dia dapatkan ternyata tidak ada perasaan yang benar-benar tenang.Dalam dadanya terasa masih berkecamuk.Ia menatap langit senja yang mulai


gelap,seketika ingatan tentang Rey kembali hadir.


"Senja ini menyakitkan".Gumamnya.


Lisda berbalik badan.Ia segera beranjak berjalan menuju pulang.Rasa yang tiba-tiba menusuk jantung harus ia minimalisir agar tak menjadi air mata lagi.


Ia lagi-lagi didatangi hal yang keras sedang ia lupakan.Ia mencoba menolak dengan lebih keras perasaan dan ingatan itu.Hal yang tidak dia sadari;usaha semacam itu hanya akan membuatnya semakin lelah.


Ia merasa lelah sekali,hatinya sedang tidak mampu memutuskan sesuatu.Ia tidak ingin gegabah atas perasaan yang terasa.Takut semua yang terjadi akan menjadikan hatinya patah lagi.Lisda sadar perasaanya masih belum stabil .


Lisda menatap langit-langit kamar.Bibirnga masih berbisik.Kelopak matanya terasa memanas.Luka kembali menganga didada.Ia sebenarnya juga benci berlarut dalam sedih.Hal yang tak pernah ia pahami;kesedihan justru selalu datang saat ia berusaha memaksa perasaan itu hilang.


Lelaki dengan kemeja kotak-kotak berwarna agak lusuh berdiri menghadap ke arah gunung yang tidak begitu tinggi dan tidak jauh dari tempat pemukiman warga.Ia penyuka hal yang tidak disukai kebanyakan orang.Ia sering terlihat asing di mata orang lain yang baru mengenalnya.Ia sering berdiri sendiri atau berjalan kaki sendiri ditepi gunung ini.Kali ini pun begitu.Ia melakukan hal yang sama.Menikmati udara menjelang senja yang di bawa angin dari pepohonan.Sudah hampir tiga puluh menit ia berdiri di taman gunung ini.Merasakan kencangnya angin,menatap pepohonan dan pemandangan yang begitu indah.


Beberapa meter dari tempat ia berdiri.Terlihat beberapa orang berjalan kaki.Seperti sore-sore biasanya.wisata pegunungan ini selalu ramai di datangi .disisi lain langit mulai melukis diri dengan warna-warna petang hari.


Ia menatap begitu dalam pada apa pun yang di tawarkan bentangan laut di bawah nya.Seperti biasa,tidak ada yang ia hiraukan .tidak juga orang-orang yang melihat aneh kepadanya.

__ADS_1


Sesekali ia membidik langit yang mulai kuning kelabu dengan kamera yang ada di tangannya.Ia penyuka senja dan segala misteri tentang senja.Baginya,senja tidak sekadar fase waktu dalam sehari berlaku.Baginya senja adalah fase waktu yang membuatnya pernah melalui hal-hal besar dalam hidupnya.hal-hal yang manis,juga pahit,senja pernah membuatnya tersenyum.Senja pernah membuatnya hampir kehabisan air mata.


Lensa kamera mengarah ke sudut pegunungan pada jajaran batu-batu yang di susun menjorok ke arah pemandangan tebing.Tempat orang-orang bisa duduk menikmati embusan angin dari pohon pegunungan .lelaki itu mencoba menggambar wajah senja yang jatuh disana dengan lensa kamera.Beberapa jepretan mengabadikan warna-warna terbakar.Sebelum beberapa saat kemudian .Matanya tertuju pada seseorang perempuan yang berada di atas bidang batu-batu yang di susun menjorok ke pemandangan tebing itu.Perempuan yang diam-diam sangat menarik menjadi objek fotonya.Beberapa kali ia menjepretkan kamera.Mencuri momen,menangkap bayangkan perempuan itu.


"Hei,jangan sembarangan motret.dong!" yang di tangkap gambar dirinya itu sadar.Ia sedang menjadi objek lelaki asing beberapa meter dari tempat ia berdiri.Protes!


Dihampirinya lelaki itu. "Kamu tidak sopan.Jangan ambil foto orang sembarangan .Harusnya kamu minta izin dulu." ucapnya dengan nada meninggi.


Lelaki itu justru meninggalkannya tanpa banyak bicara. "Maaf saya lagi nggak mau berdebat sama orang yang sedang patah hati.Saya nggak mau jadi imbas dari rasa sakit anda." Ia pergi meninggalkan Lisda.


"Jangan sok tahu.Saya nggak sedang patah hati."Sanggah Lisda.


"Kamu mungkin nggak tahu;nggak ada orang patah hati yang benar-benar bisa menyembunyikan patah hatinya." jawab lelaki itu dingin.Sambil mengemasi kamera yang ia pegang.Memasukkan perlahan kedalam tas.


mengingat Lisda pun memiliki keahlian dalam memotret dan mengambil gambar .Ia pun memiliki beberapa kamera di rumah yang kini tidak begitu terawat sebab ia sangat berlarut dalam kesedihannya.


"Jangan semakin kurang ajar.Kamu tidak mengenal saya.Jangan mudah menyimpulkan hal yang tidak kamu kenal."


"Saya tidak sok tahu.Nona yang sedang patah hati.lagian anak bau kencur seperti kamu ini juga tidak paham.Bagaimanaa pemahaman saya hanya mengatakan apa yang saya lihat .Permisi."


Kemudian lelaki itu segera pergi.

__ADS_1


"Hey.mau kemana kamu?"


Pertanyaan Lisda tidak ia hiraukan.ia pergi begitu saja memunggung Lisda.


__ADS_2