
Sejenak berhaasil lepas dari kesedihan siang tadi. Tetapi sesampai di kamarnya,Lisda kembali merasakan sedih.Pelukan Adit siang tadi ternyata tidak berefek apa-apa malam itu.Ia masih belum bisa benar-benar berlapang dada Beberapa adegan yang di lakukan Rey dengan pacar barunya itu maasih teringat jelas di benaknya.Hatinya sakit,perih.Tak dapat ia tahan air matanya untuk mengalir.Lembaran tisu sudah bertebaran di atas tempat tidurnya.
Tadi saat memutuskan untuk menemani Rey di bandara Ia sangat berharap Rey mengucapkan selamat tinggal dengan cara yang manis.Berharap lelaki itu mengatakan padanya jika yang ia lihat selama ini hanya kesalahpahaman .Lelaki itu tidak sejahat seperti apa yang ia lihat.Ia berharap Rey memberi penjelasan padanya.Ia sadar beberapa hari yang lalu ia sedang emosi.tidak bisa menerima kenyataan.Haatinya terlalu sakit.Ia berharaplelaki itu sungguh-sungguh menyesal dan meminta maaf padanya di bandara.Tetapi nyatanya harapan itu sangat berbeda dengan kenyataan yang ia dapati.
Matanya sembap,Ia hanya tidur menelungkup diatas kasur kos nya yang begitu sempit dan isinyaa yang seadanya.Dari tadi ia tak keluar kamar.
Ia berusaha agar tidak ada yang mendengarnya sedang menangis dalam kamar,menutup rapat pintu kamar,menyalakan lagu di ponsel yang disambungkan ke pengeras suara berukuran kecil,agar suara tangisnya tersamarkan.
Malam itu suasana Kos annya begitu senyap.Di kamar Lisda terus menangis sedih karena raasa kecewanya.Ia masih belum bisa melupakan seseorang yang menyakitinya itu.Sulit baginya menenangkan pikiran dan menghapus kenangan.Ia telah mencoba berkali-kali,tetapi sekian kali juga gagal.Bahkan,iaa tak yakin bisa melupakan Rey sepenuhnya.Perasaannga pada lelaki itu terlalu dalam.Meski di Khianati dan pernah disakiti ,Lisda tidak pernah lupa kalau Rey punya sisi baik dalam hidupnya .Rey yang membuat Lisda bisa melupakan masa lalu nya dulu yang.Rey yang membuat perempuan itu bisa mengikhlaskan Alfareza bahagia dengan sahabatnya bahkan Lisda tidak tau bagaimana dan dimana keberadaan mereka.
"Kamu jahat,Rey.Kamu tega banget sih sama aku padahal aku sayang banget sama kamu.Aku terlalu dalam jatuh hati padamu.Kamu sadar nggak sih,kalau aku udah terjebak dalam perasaan sedalam ini?" selembar tisu kembali berserakan dilantai kamarnya.Dia berbicara sendiri terus mengelap air mata.Berbicara pada Rey yang ada di kepalanya.
"Apakah ini karma Buatku?dalam hatinya.
Seketika ia mengingat perlakuannya saat bersama Alfareza yang pura-pura mencintainya dan Pernah mengkhianatinya.Dan saat ini dia merasakan hal yang di posisi Alfareza dulu.Dengan selalu mengingat masa lalunya dari situ ia belajar mengikhlaskan Alfareza dan membiarkannya di bahagiakan oleh sahabatnya sendiri.toh,ada Rey juga saat itu.Tetapi ia tidak menyangka saat ia sudah belajar fokus untuk satu orang malah ia di khianati.
"Aku percaya karma.Dan sekarang aku merasakannya.Aku harus bisa menerima resiko ini dan aku harus belajar ikhlas dan memperbaiki diri menjadi lebih baik agar bisa dimiliki baik oleh lelaki baru nantinya".Katanya sambil mengusap air matanya.
Kini Lisda bahkan tak peduli dengan tugas kuliah yang harus ia kerjakan malam itu.Bahkan tidak peduli dengan tugas koran kampus untuk kliping sebagai tugas calon anggota baru.Yang ia tahu,malam itu ia hannya ingin menikmati rasa sakitnya.Ia hanya ingin menikmati rasa sedih.Tak ada pikiran lain di benaknya selain lelaki yang sudah mengkhianatinya itu.
Malam itu Lisda ingin menangis sepuasnya.Sebab tiadak ada hak yang paling menyenangkan untuk dilakukan seseorang yang sedang patah hatinya.Seseorang yang sedang tidak baik-baik perasaannya.selain menangis sejadi-jadinya.Ia menumpahkan semua perasaan sedih itu dalam air mata.
Ia bahkan tak mengangkat telepon dan tidak membalas pesan singkat Ainul.yang dulu hanya berteman biasa kini Lisda menjadikannya seorang sahabat bahkan saudaranya.Sahabatnya itu ternyata mengkhawatirkan dari taadi,Tetapi Lisda benar-benar ingin menikmati semua sedihnya sendiri.Ia membenamkan diri ke dalam perasaan benar-benar sendiri malam itu.Tak perlu ada orang lain.
Ia berjalan lunglai menuju cermin.Tubuhnya terasa lemah .Ia menatap Dirinya dalam cermin.Perempuan dengan mata sembap setelah menangisi mantan kekasihnya."Lisda,kamu kenapa seperti ini?Kenapa kamu terlalu mencintai Rey?dia sudah nggak peduli padamu!Ayolah,Lisda.Kamu nggak jelek-jelek amat.Masih panjang jalan yang bisa kamu tempuh.Huft." Ia menghembuskan napasnya setelah berbicara pada dirinya sendiri.Susah baginya untuk benar-benar tidak berharap.
Lisda merasa malam itu semakin sepi.Tetapi,bukan lagi karena Rey saja.Ada sosok ibu dan ayahnya yang muncul di ingatannya .sosok yang selalu menenangkannya saat ia merasa sedih.Sosok yang tak pernah tega membiarkan ia menangis sendiri.Seseorang yang mencintai Lisda seutuhnya.seseorang yang tak pernah lelah membuat lelucon agar ia berhenti menangis.Andai saja ia bisa menceritakan semuanya pasti ia bakal merasa agak tenang.
tapi. untuk saat ini,ia memilih untuk tidak berbagi pada siapa pun.Ia hanya menikmatinya sendiri Ia hanya ingin bicara dengan dirinya sendiri.Dengan bayangan Rey dan kenangan-kenangan yang datang menghampiri.Hingga larut malam,matanya semakin sembap.Ia bahkan tak sadar kalau bantal yang di tiduri sudah basah karena air mata.Akhirnya ia pun lelah.lisda tertidur.
__ADS_1
Ia terbangun begitu cepat pagi hari.karena telepon genggamnya bunyi.Ternyata ibu yang menelfon.
" semalam Ainul menelpon ke rumah.Nanyain kamu apa udah dirumah.Katanya kamu nggak angkat telepon dari dia.Jangan kayak gitu.Nggak baik bikin khawatir sahabat sendiri."
Ada rasa bersalah di dada Lisda.Ia menyesal telah membuat sahabatnya mengkhawatirkan dirinya sampai menelpon kerumah segala.Lisda sadar.Ternyata masih banyak orang yang mencintai dan begitu peduli padanya.Ayah,ibu,Ainul dan harusnya dia tak mengecewakan semua orang itu,hanya karena urusan patah hati.
"Ohiya,Mah hampir lupa,semalam Ainul pesan kalau hari ini ada kuliah jam 9:40.Kamu siap-siap deh untuk ke kampus.Nanti telat,loh.jangan lupa sarapan dulu.
"Iya,mah.Aku siap-siap dulu,ya.telepon mati.
Adit Bagas dengan komputer yang ada di ruangan redaksi.Hari itu ia harus menyelesaikan karikatur dan memilih beberapa foto yang akan di muat di koran edisi awal bulan.Susdah hampir sejam ia berkata dengan komputer.Hanya dia yang ada di ruangan redaksi.Teman-teman yang lain sudah menyerahkan kewajiban mereka pada redaktur dan sudah siap menyerahkan kewajiban mereka pada redaktur dan sudah sial untuk di muat.Adir masih memikirkan konsepnya,belum juga ada satu sketsa yang memikirkan konsepnya,belum juga ada satu sketsa yang mampu ia selesaikan.Sesekali ia meminum kopi yang sengaja dia bikin sebelum bekerja.Menurut Adit,kopi bisa membantu mengurangi tingkat stres dalam bekerja.
Beberapa orang anggota sudah mulai datang ke sekretariat.Mereka sibuk mengumpulkan tugas keliping yang sudah diberikan panitia.Beberapa orang terlihat sibuk membaca koran kampus terbitan bulan lalu.selain membuat kliping Minggu ini mereka juga di wajibkan untuk membaca dan mempelajari koran yang sudah terbit.Bagaimana gaya penulisan artikel,puisi,cerpen,membuat karikatur.Dan bagaimana bahasa penulisan berita yang baik.Sebagai calon anggota mereka sudah punya dasar sebagai bahan diskusi .Selama ini,itu budaya yang diterapkan.
Dari pintu terlihat Ainul datang dengan senyum yang sering mungkin.Lalu ia menyapa senior dan teman-teman sesama calon anggota.
Kedatangan Ainul mengundang perhatian Adit.Terasa ada yang kurang.Adir bertanya dalam hati.Di mana dia?Ia tak meilhat Lisda. Perempuan itu tak datang bersama Ainul Seperti hari biasanya.Ainul beranjak menghampiri Putri,memberi syarat minta izin untuk menggnaaggu konsentrasi seniornya yang sedang sibuk dengan novel yang ia baca.Berhati-hati agar tidak marah.
"Ada apa,Ainul?" Putri menutup novelnya .
"Aku mau minta izin untuk Lisda,Kak.Hari ini Lisda nggak bisa ikut ngumpul.Tadi,sehabis kuliah,dia langsung pulang.Kurang enak badan katanya.Ini tugas klipingnya,Kak.Ia titipkan tadi." Ainul menyerahkan satu jilid kliping beruliskan nama Lisda di sampulnya.
"Oh,ya udah.Nanti,kamu informasikan pada Lisdaa pengumuman terbaru,ya".
"Baik,Kak."Ainul kembali berkumpul dengan teman-temannya sesama calon anggota.
Dari ruang redaksi Adit mendengar apa yang dibicarakan Ainul pada putri.Dia sakit?.
"Dit?" Suara itu mengagetkannya.Putri telah berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Kamu kenapa melamun?" Putri menatap ke arah sketsa yang ada di atas meja,lalu melihat kearah monitor.
"Kamu mau ngapain?" tanya Adit yang mulai heran dengan gelagat Putri.
"Ini kamu yang buat,Dit?"
"Siapa lagi kalau bukan aku?" Adit masih belum mengerti kenapa putri terlihat aneh.Kemudian,putri meraba sketsa yang terletak diatas meja.Lalu meraba monitor komputer .Menarikan jemarinnya mengikuti lekuk gambar gadis yang berdiri diatas jembatan yang di buat Adit.
"Ini indah banget!" ucapnya kagum.
"Maksud kamu?Gambar ini?"
"Iya,Sit.Ini sketsa yang paling indah yang pernah kamu buat.Aku setuju sketsa ini aja yang kita muat dia kolom wajah sastra bulan ini." Putri antusias melihat sketsa yang dibuat Adit.
Sebagai ketua redaktur ,Putri punya hak untuk meng-iyakan atau men-tidakkan sebuah karya anggota organisasinya untuk di muat atau tidak.ia sudah biasa menyeleksi karya yang bagus dan cocok dengan koran kampus mereka.
"Tapi,itu bukan karikatur sesuai yang kamu minta tadi."
"Nggak apa-apa.Aku suka gambar ini.Ini keren.Sepakat ya!" Putri memberikan perintah kalau gambar itu akan di muat dikolom wajah sastra Bulan ini.
"Oh iya,ini judulnya apa?" Putri lanjut bertanya.
Adit terdiam,ia bahkan tak tahu harus memberi judul apa pada gambarnya itu.ia hanya menulis mengikuti jemarinya,lalu memindahkannya ke komputer
"Dit?" Putri kembali mengagetkan lamunan Adit.
"Jadi,judulnya?" Putri menunggu jawaban.
"Menunggu pulang," ucap lelaki itu seketika.
__ADS_1
Entah apa yang terbayang di benaknya saat mengucapkan kalimat itu.Tetapi ,satu hak yang ia tahu,ada seseorang di dalam gambarnya yang sedang menunggu seseorang pulang.Seseorang yang menjadi pikirannya saat membuat gambar itu.Sedangkan,putri yang sudah terlanjur suka dengan gambar itu,tidak peduli apa maksa dari judulnya.Terluhat wajahnya senang melihat karya Adit.
Putri meninggalkan Adit sendiri dalam ruangan.Adit meyandarkan badannya ke punggung kursi,membiarkan kepalanya terkulai ke belakang.Melemaskan seluruh otot tubuhnya.Ia masih kepikiran kejadian hari itu saat Lisda memeluk tubuhnya dengan tangisan yang mengiris hati.Ada rasa yang bergetar di dadanya.Ia bahkan tak bisa mengartikan rasa itu.