
Hari baru jatuh lagi.
Embun-embun turun rindu yang tertabur di dada bumi.Memeluk rerumputan yang baru saja terbangun.Memeluk dedaunan yang jatuh bersemai di tanah.Suasana pagi itu penuh keceriaan.Meskipun wajah-wajah kusut sebab semalam berkeringat terimbas panas api unggun.
Sejak tiga puluh menit yang lalu Adit telah meninggalkan tenda.Mencaru matahari yang muncul di puncak bukit.Menikmati embusaan angin daun ilalang.Mengabdikan perubahan warna langit.Membiarkan tubuhnya yang tadi di peluk embun kembali dihangatkan matahari pagi.
Adit membayangkan matahari sedang jatuh cinta.Matahari itu tersenyum layaknya gambar anak kecil dalam pelajaran menggambar ketika sekolah dasar .Keluar diantara sisi dua bukit.Lalu perlahan naik lebih tinggi.Adit senang,ia merasakan apa yang ia bayangkan;perasaan jatuh cinta Ia sudah lama sekali membiarkan dirinya asing dengan cinta.Kini ia menemukan alasan seperti beberapa tahun lalu.
Perempuan itu pun begitu,dia bangkit dengan tubuh yang masih terasa ringkih.Tetapi semangatnya tidak berkurang.Senyumny mengembang walau rambutnya terlihat sedikit acak-acakan.Ia bahkan menjadi orang paling bersemangat untuk bangun pagi,seolah tak ada rasa lelah sedikit pun ia rasakan.Energi dari tatapan Adit semalam masih utuh.Sesekali ia mengganggu Citra yang masih menelungkupkan kepala ke tas ransel yang dialih fungsikan menjadi bantal.Beberapa temannya mulai sibuk mengumpulkan tenaga,karena masih pusing dengan kondisi tidur yang seratus depan puluh derajat berbanding terbalik dengan kehidupan tidur normal mereka.
"Bangun cut,udah pagi. Ia menggerakkan tubuh Citra yang terkulai tak berdaya.
"Lisda,aku masih capek.Lagian ini masih pagi banget.Panitia saja belum bangun." Citra menutup kepalanya dengan kain panjang yang menjadi selimutnya.
"Tapi,diluar itu,pemandangan lagi keren!"
"Diluar itu dingin,Lisda.Bukan keren.Udah ah,aku masih mau tidur,nih."
"Lisda,masih pagi.Masih ngantuk nih.Jangan ribut,dong!" Celetuk salah satu teman sekelompok mereka.
"Ya udah,deh.jaadu beneran ya nggak ada yang mau merasakan udara pagi,nih?Aku keluar,ya." Lisda kehabisan akal.
"Yoi....silahkan!* jawab teman-temannya serentak.
Lisda tak peduli,akhirnya ia keluar tenda sendirian.Meninggalkan teman-temannya yang berada di dalam tenda Mengikuti arah angin yang begitu dingin menusuk hingga ke tulang.Suasana pagi di tempat mereka berkemah masih di turunu embun yang membias menetesi daun-daun pohon.Lisda berjalan mengitari berisan pepohonan yang tumbuh di sekeliling lapangan tempat mereka mendirikan tenda.
Di bagian bawah,arah selatan,ada hamparan tanah kelereng ke arah sebuah anak sungai kecil.Mata Lisda tertuju ke sana.Air yang mengalir menggoda mata untuk segera mendekat.Angin yang berembus menerpa wajah.lisda berjalan menuju sungai kecil yang berada seratus meter lebih dari tempat ia berdiri.Menelusuri anak tangga kecil-kecil yang terbuat dari semen.Mengikuti arah hatinya.membiarkan kaki berjalan mengikuti arah ke mana hatinya berkehendak.
Beberapa menit saja Lisda dipinggir sungai kecil itu.Di hadapannya ada sebuah batu besar berdiri seperti hamparan tempat duduk yang seperti sengaja disediakan bagi siapa saja yang berkunjung ke sana.Batu itu terlihat sangat nyaman untuk dinaiki.Lisda berjalan menuju batu itu Menikmati setiap suguhan pemandangan yang ditawarkan di hadapannya Dari jauh terlihat sebagian bukit yang hijau,hujan lebat.Beberapa meter ke arah Kananya,terlihat bukit gundul pabrik semen.Barangkalj jika bukit itu bisa bersuara,ia pasti sudah minta ampun dan malu dengan wajahnya yang tak lagi berbentuk sempurna sebagai bukit.
Tepat di depannya,di dalam air sungai terlihat beberapa ekor ikan nila berenang melawan arus.Ikan-ikan yang tangguh menghadapi hidup.Hidup menghadap arus air yang tak pernah berhenti.
Lisda menghirup bulir-bulir embun di antara udara pagi.Ia memejamkan mata.merasakan setiap embusan yang menerpa wajahnya.Merasakan setiap bulir embun mengaliri di paru-paru.Membayangkan seseorang yang ia tunggu datang menghampirinya.
Beberapa detik seolah berhentu saat ia kembali membuka mata.ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya.Siapa yang ada di hadapannya.Semua seolah seperti dongeng.Tetapu itulah yang terjadi.Adirnberdiri tepat di hadapannya.Lelaki itu tersenyum sembari mengulurkan tangan.
"Ayo,Lisda Ikut denganku!"
Seolah terhipnotis,perempuan itu menurut saja
Tidak banyak kalimat yang terucap di antara mereka Lisda mengikuti ke mana pun Adit akan membawanya pagi itu Melangkahkan kaki menaiki anak tangga hingga tiba di sebuah tempat;sebuah saung yang berdiri diantara ribuan rumput ilalang yang tumbuh di sekelilingnya.Tiga ratus meter dari area tenda.
"Dit.Kita dimana Dit?"
Lisda terkagum menatap ke arah bawah.Terlihar hamparan membiru dari kejauhan.Bangunan kota yang tersusun seperti kotak mainan anak kecil.Udara berembus menerbangkan bunga-bunga ilalang.
"Kita di surga." Adit tersenyum.
"Kemarin aku nemuin tempat ini.Dan satu-satunya orang yang mau aku ajak kesini itu,kamu.Eh, diam-diam kamu malah ngikutin aku ke sini.Sebelum aku sempat ngajakin....."
"Ngikutin kamu?Eh,sorry,ya.Aku nggak niat ngikutin kamu."
"Terus,kenapa kamu ada diatas batu itu?"
"Ya,nggak tahu...emang harus ada alasan?Tadi aku jalan sendiri,kok.Terus sampai di sini.Ternyata kamu di sini juga.Ini bukan rencana aku ketemu kamu."
"Berarti ini rencana Tuhan."
Mereka tersenyum.Mata mereka saling menatap.Angin berembus meniup atap saung yang terbuat dari daun ilalang yang mengering.Wajah Adit mendekat sepersekian milimeter ke wajah Lisda.Dada mereka bergetar tak menentu.Dan tiba-tiba waktu seolah berjalan lambat.Mata mereka begitu dekat.Wajah mereka tak berjarak sama sekali.Dan....Sesuatu terjadi.
Angin berembus menerbangkan bunga-bungan ilalang.Mengantarkan benih-benih rumput itu untuk tumbuh di lahan baru.Seperti cinta yang jatuh pada hari yang baru.
Lisda menggigit bibir sendiri.
__ADS_1
"Aku harus pergi," ucap Lisda menyadari yang telah terjadi.
Ia berlari meninggalkan Adit yang masih terdiam.Tak menduga dengan apa yang sedang terjadi.Semua terjadi begitu saja.Begitu cepat.Lisda berlari menaiki anak tangga kecil-kecil.Membelah rumput ilalang yang tumbuh di pinggir tangga itu.Alam seolah berkonspirasi untuk menyatukan dua hati yang masih malu-malu untuk mengakuinya.Dua hati yang patah.Dua hati yang pernah kehilangan.Dua hati yang pagi ini di baluti angin pagi yang menuliskan kisah mereka.Di bawah atap saung dibalik daun-daun ilalang yang melambai tertiup angin.
"Lisda!"Panggil Adit setelah punggung perempuan itu semakin jauh.
Lisda berlari menuju tenda.Semakin cepat ia melangkahkan kaki.Dadanya masih saja bergejolak.Antara senang dan bercampur aduk dengan perasaan lain.Tetapi di wajahnya terlihat lengkungan senyuman dan pipi merona bahagia.
"Kamu dari mana?"Mita menunggu di sudut lapangan.
Kacau.Ternyata teman-temannya sudah mulai senam pagi.
"Saya dari toilet,Kak."
"Toilet?"
"Maksud saya,tadi saya mencari toilet,Kak Tapi..."
"Ketemu?"
"Nggak,Kak." Lisda menunduk.
"Ya udah Lain kali kalau mau pergi,izin dulu sama saya atau panitia yang lain.Kalau terjadi apa-apa,kami yang akan dituntut keluargamu.Paham?Sekarang kamu ke toilet dulu,setelah itu bergabung dengan teman-temanmu.Sebentar lagi akan sarapan.Nanti sore kita akan kembali ke kampus."
"Iya,Kak.Makasih."
"Iya,buruan!"
"Tapi,Kak?"
"Tapi apa lagi?"
"Toiletnya sebelah mana,ya?"
"Ia Kak,maaf.Terima kasih."
Ia meninggalkan Mita yang masih melirik ke sana ke mari Memastikan tak ada lagi anggotanya yang berkeliaran.
Lisda bergabung dengan kelompoknya menyesuaikan diri dengan teman-temannya,mengikuti setiap gerakan senam.Beberapa orang sempat melirik ke arahnya saat ia datang.Tetapi,sekarang semua fokus pada kegiatan senamnya lagi.
"Lisda,kamu ke mana aja?" Ainul berbisik sembari terus mengikuti gerakan senam.
"Ceritanya panjang.Nanti aku ceritain."
"Tapi..."
"Kita diperhatikan Kak Putri.tuh."
Lisda melirik ke arah putri yang dari tadi berdiri di sudut tenda.Putri mengenakan baju berwarna putih,celana hitam,dan jilbab berwarna hitam.Wajahnya terlihat lelah.Matanya sayu seperti orang yang sedang demam.Ia menyadari Lisda melihat ke arahnya,lalu memberikan senyuman.Hatinya pilu tetapi ia tak pernah ingin menggabungkan urusan hati,dengan hak yang lain.Dengnaa sisi hidupnya yang lain.
Sebagai redaktur organisasi ia selalu bersikap sama terhadap semua anggotanya.Walau kadang ia harus berpura-pura baik pada semua kesakitan yang menumpuk di dada Berpura-pura tak terjadi apa-apa pada dirinya sendiri.Membohongi dirinya sendiri.Baginya itu jauh lebih baik,jauh lebih baik bohong pada diri sendiri daripada menyakiti orang lain hanya karena hati kita yang terlanjur sakit.
Lisda membalas senyuman Putri.Lalu,kembali mengikuti gerakan senam yang masih berlangsung.
"Put,kamu kok pucat?"Suara Adit yang datang tiba-tiba itu membuat Putri kaget.
"Adit...jangan ngagetin,dong!Bisa jantungan,nih,"sahutnya jengkel.
"Duh.Pagi-pagi Bu Redaktur udah ngelamun.Mikirin apaan sih,Bu?"
"Ba',Bu,Ba,Bu.Siapa juga yang ngelamun.jangan manggil 'bu'ah.Emang aku udah tua apa?"
"Iya,deh.Tapi serius,kamu pucat banget.Kamu sakit?"tanya Adit.
__ADS_1
"Nggak,Dit.Ini kecapean aja.Kamu sendiri kenapa riang banget pagi ini?"
"Lagi mau aja.Tadi Nemu tempat keren lagi...." Adit tersenyum,terlihat raut wajah bahagia.
"Huuuu....percuma tiap kali bilang ketemu tempat keren.tapi aku nggak pernah di ajak kesana.
"Ya.Kamu itu pakai jilbab.Kadang pakai rok.Sedangkan tempat yang aku temui banyak yang daerah bukit-bukit gitu.Gimana bisa ngajak kamu."Adit mengeluarkan kamera dari tas tangannya.
"Emang masalahnya di mana?Di jilbab?Sejak kapan jilbab jadi penghalang jalan-jalan?"tanya Putri tajam.
"Bukan di jilbab,tapi diribet.Ya udah,kamu lihat di foto aja,ya.Aku mau cari sarapan pagi dulu.Mau ngerampok makanan panitia." Adit memberikan kameranya pada Putri.
"Uh,dasar.Aneh.Bilang aja kamu nggak mau ngajak."
"Nah,itu tahu." Adit tergelak,lalu beranjak.
"Eh,makanya jangn di abisin.Adek-adek belum makan,tuh."
Adit terus berjalan menuju panitia bagian konsumsi.
Adit terus berjalan menuju panitia bagian konsumsi.Putri duduk di tenda.Mendudukkan dirinya di antara tumpukan ransel panitia.Baru saja ia di panggil Mita.Salah satu peserta senam pingsan,dan harus di bawa ke tenda.Putri sibuk menyiapkan alasan yang akan menjadi tempat tidurnya.Beberapa orang lelaki mengangkat tubuh gadis itu,lalu menaruhnya diatas tempat tidur yang sudah di sediakan.Putri memijit kakinya,melepaskan sepatu,dan melonggarkan kerah bajunya.Semua anggota yang laki-laki diminta untuk melanjutkan kegiatan.
Hampir lima belas menit akhirnya gadis itu saadarkan diri Ia hanya kelelahan.Putri meminta Mita mengambilkan segelas air putih dan memberikannya pada gadis itu.Ia menerimanya.
"Makasih,Kak," ucapnya.
Putri tersenyum."Silahkan diminum airnya.Nanti,Kak Mita akan mengambilkan kamu sarapan,ya.Kalau ada apa-apa,kasub tahu panitia aja." Sari menatapnya.Tersenyum.
"Iya,Kak.Maaf,saya jadi ngerepotin.
"Nggak apa-apa,Dek.Ini wajar,kok.Kamu pasti kecapean.Nih buburnya,di makam,ya." Mita memberikan semangkuk bubur kacang hijau yang di ambilnya dari tenda konsumsi.
"Mit,aku harus keluar sebentar.Dari tadi di dalam tenda Mulu.Sekalian mau balikin kamera Adit." Putri pamit pada Mita.
"Oh,iya.Biar aku yang jagain di sini," sahut Mita.
Putri melangkah keluar tenda.Membawa kamera yang tadi sempat dibukanya.Matanga mencari di mana Adit berada.
"Ke mana dia?" Tanyanya dalam hati.
Tak ada tanda-tanda tubuh Adit terlihat.Hanya calon anggota dan panitia yang sedang istirahat dan sarapan pagi yang ada di tengah lapangan.
Matanya terus mencari Adit.Berjalan menyusuri tenda,menanyakan kepada beberapa orang yang ada di tenda; apa mereka melihat Adit?Tak ada yang tahu.
Adit memang suka seperti itu.Hilang tak tahu di mana Kadang muncul tiba-tiba.Aneh.
Putri berhenti.Pandangannya terhenti.Ia berdiri tegak menatap ke depan.Dadanya tiba-tiba kembali terasa nyeri.Ada uang memberontak.Meminta segera dikeluarkan,di sampaikan saat itu juga.Tetapi Putri meredamnya.Ia tahu kalau dirinya bukan siapa-siapanya Adit.Ia sadar dirinya tak punya hubungan khusus dengan Adit.Kalau bukan sebatas rekan kerja di organisasi saja.
Lelaki itu sedang duduk memerhatikan Lisda yang sedang bercanda di lapangan bersama teman-temannya yang lain.Matanya menatap penuh makna pada Lisda.Dari sudut beberapa meter Putri berjalan menuju Adit.Kesekian kali ia merasa cemburu yang begitu menyesakkan dada.Saat Adit tidak begitu fokus mendengarkan panggilannya.
"Oh,iya,maaf.Aku kurang konsentrasi." Adit menyambut kamera dari tangan Putri.
"Kamu merhatiin siapa,sih?"
"Nggak.Aku nggak merhatiin siapa-siapa.Cuma lagi lihat anak-anak aja,"Adit mengelak.
"Ya udah,aku balik,ya.Aku harus ke tenda.Lagi nggak enak badan."
"Gimana fotonya?Bagus?"
"Nanti aja.Belum dilihat." Putri berjalan meninggalkan Adit.Membawa pergi rasa cemburu yang ada di hatinya.
Adit kembali memerhatikan Lisda.Sesekali matanya dan mata Lisda saling menatap.Lalu mereka saling tersenyum.Tak ada yang tahu apa yang mereka pikirkan.Tak ada yang peduli dengan apa yang terjadi.Mereka menikmati senyuman malu-malu yang melengkung di bibir masing-masing.
__ADS_1
Sesekali Adit menjepret kamera ke arah Lisda.Mengabadikan senyuman perempuan itu.Daun-daun pohon jatuh ditiup angin.Angin berembus menerpa wajah Lisda.Rambutnya yang tergerai dibelai angin yang mesra.Jepret.Satu gambar dengan senyuman melengkung di bibir Lisda abadi di kamera Adit.