Aku Menjadi Istri Presdir!

Aku Menjadi Istri Presdir!
Batal nikah


__ADS_3

Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Bagaimana aku harus menyikapi keadaan seperti ini.


Tertawa ironis? Itu sudah ku lakukan tadi.


Menurut kalian, apa yang akan kalian lakukan jika berada di posisi ku?


Aku kembali menatap kearah dua orang yang hanya mengenakan bathrobe itu dengan tatapan jijik.


"Reya, please jangan batal kan pernikahan kita", Pinta Bagas.


Jangan batalkan pernikahan kita katanya? Setelah apa yang dia lakukan dengan...sekertarisnya? oke kita panggil saja dia selingkuhan.


"Tutup mulut mu! mendengar suara mu saja aku sudah muak, apa lagi melanjutkan pernikahan dengan mu?", Balas Reya sambil mati matian menahan agar tidak meludahi wajah Bagas di depan orang tua Bagas sendiri.


"Maaf kan aku Re... ", Ucapan bagas dipotong oleh Reya.


"Om Tante, aku pergi dulu, tante perempuan kan? tante harusnya paham kan gimana posisiku? tante urus aja semua pembatalan nya sebagai ganti rugi. kalau soal uang ikhlasin aja, toh juga kita sama-sama enggak semiskin itu kan sampe harus nuntut ganti rugi satu sama lain", Ucap gadis itu pada orang tua Bagas.


Yah, entah bagaimana caranya mereka semua berkumpul dan memergoki Bagas dan Sarah yang sedang melakukan hal laknat ini di dalam hotel.


Reya juga begitu, Saat Reya akan berangkat kerumah temannya, Reya tiba-tiba mendapatkan pesan misterius yang memberi tahukan perihal perselingkuhan Bagas yang sedang ada di hotel.


Reya mengikuti pesan itu, dan ternyata, ayah ibu Bagas, pengacara langganan Reya juga beberapa teman mereka juga mendapat pesan misterius itu.


Namun, siapa pun pengirim pesan misterius itu, ada satu kenyataan yang akan tetap sama. yaitu penghianatan Bagas.


Sebulan sebelum pernikahan nya dengan Reya, dan saat undangan sudah mulai di sebar dan saat persiapan sudah mencapai sembilan puluh persen. Bisa bisanya hal memalukan seperti ini terjadi.


Reya terlihat kuat, tapi.. sebenarnya Reya sudah sangat hancur saat ini.


Sampai di luar, langkah Kaki Reya mulai gemetaran. sekuat kuatnya seorang perempuan, dia akan hancur saat orang yang dia cintai menghianati nya.

__ADS_1


Nafas Reya tersengal sengal, cairan bening mulai membasahi pipinya. dia sudah menahan tangis sejak awal, egonya terlalu tinggi untuk menangis di hadapan orang itu.


Reya masuk kedalam mobilnya, ia kembali menangis dan terus menangis. Reya merasa ini salah, Tidak ada gunanya menangisi seorang penghianat.


Tidak ada yang berubah meski air mata Reya habis pun. Walaupun sadar tentang itu semua, tapi air mata nya justru terus mengalir. dada nya terasa sakit. Dalam hati Reya terus berharap kalau ini semua hanyalah mimpi. tapi sayang, inilah kenyataan pahit yang harus Reya terima.


Setelah cukup tenang, perlahan Reya menjalankan mobilnya kearah apartemen.


Sampai di apartemen, Reya mengemasi barang barangnya, ia memasukkan baju bajunya ke dalam sebuah koper. Lalu menghubungi sahabat nya "Halo Yura"


"Hai Reya, ap... ", Ucapan wanita itu dipotong oleh Reya.


" Yura, tolong jemput aku di bandara ya, aku mau pergi ke tempat kamu malam ini juga", Ucap Reya. Yura mengerutkan dahinya saat mendengar suara parau dari sahabat nya itu.


"Lah, Kenapa Re, kamu ada masalah ya?, emm iya oke, nanti kabarin aku ya, tentang nomer penerbangan dan jam kamu sampai kesini", Yura memang sahabat Reya yang paling pengertian, dia tahu kalau saat ini Reya sedang ada masalah, dan sebagai sahabat, Yura akan sebisa mungkin membantu nya.


Setelah memutuskan sambungan telepon, Reya memesan tiket pesawat melalui handphone nya.


Reya menggeret kopernya, karena ia buru buru, reya hanya memakai celana jeans jaket jeans dan topi berwarna hitam, sedangkan rambut nya hanya di ikat asal. wajahnya sangat pucat, tapi Reya bahkan tidak mau repot repot memoles kan make up pada wajahnya.


Yura menunggu Reya di tempat penjemputan, dan yang dia lihat saat Reya datang bukanlah Reya si penulis terkenal yang selalu bersama nya sewaktu kuliah dulu, melainkan Reya yang kehilangan orang tuanya saat SMA, Reya yang selalu menutup diri, dan yang Hampir bunuh diri saat merasa tidak punya tujuan hidup lagi.


Yura berlari kearah Reya dan mendekap nya. Reya hanya diam, namun bahunya gemetaran, isak tangis mulai muncul lagi, di bandara yang masih sangat sepi ini, dua orang itu berpelukan.


Yura tidak tahu apa yang menimpa sahabat nya yang selalu bersikap sok kuat ini. Yang jelas, Reya pasti sangat terpukul saat ini.


Setelah Reya cukup tenang, Yura membawanya keluar bandara dan membawanya pulang ke tempat tinggal nya.


Saat ini, Yura dan Reya saling berhadapan, "Reya, please cerita ke aku apa yang terjadi, aku enggak akan komentar apa pun, aku cuma mau kamu enggak menanggung beban sendiri",


"Aku enggak akan bunuh diri, Yura. aku sudah enggak selabil dulu", Reya mencoba bercanda dengan wajahnya yang menyedihkan. dan itu justru membuat Yura semakin khawatir.

__ADS_1


" Reya... ",


"Aku enggak apa apa", Elak Reya.


Yura mendengus, " Kau tahu sendiri kalau aku pasti akan tahu nanti nya, tapi bukankah lebih baik kalau teman mu ini mendengar masalah mu dari mu sendiri?"


"Tapi Yura... ", Ucapan Reya dipotong oleh Yura.


"Buat apa kau mengungsi kemari jika kau tidak mau cerita pada ku? apa kau menganggap ku sahabat selamat ini?",


"Bukan begitu, Yura...", Reya menghela napas, lalu mulai menceritakan semua nya pada Yura, dari mulai Pesan aneh yang memberitahu kan perihal perselingkuhan Bagas sampai perselingkuhan Bagas itu sendiri.


Yura menghela napas sedih, lalu memeluk Reya, lalu menangis untuk nya. Malang sekali hidup sahabat nya ini.


Reya, kehilangan ayah dan ibu nya sewaktu SMA, Saat itu Reya benar-benar hancur, dia hampir bunuh diri. dan saat ini dia hancur untuk yang kedua kalinya.


Tidak terbayang bagaimana rasa sakitnya. Reya selalu hidup dalam keabu-abuan. Yang mulai menerangi nya adalah sahabat sahabat nya, dan Bagas, laki-laki yang 'Katanya' Mencintai nya.


Sebagai orang yang sangat Reya cintai dan Reya anggap penyemangat hidupnya, saat orang itu berkhianat, pasti itu jauh menyakitkan dari pada apapun.


Yura menangis, Reya tertawa. "Kenapa kau menangis?"


"Kau sendiri, kenapa kau tertawa?", Yura balik bertanya dengan kesal.


"Aku baik baik saja, aku hanya sedikit kaget dengan perubahan keadaan", ucap Reya sambil mengelus kepala Yura.


"Baik baik apa nya?", tanya Yura sengit.


"Aku pernah hancur sekali, hancur yang kedua kalinya aku tidak akan sehancur itu, dan aku tidak akan pernah hancur lagi", Ucap Reya lebih kearah menenangkan dirinya sendiri.


Aku tidak akan pernah hancur lagi...

__ADS_1


yah... aku harap begitu...


__ADS_2