
Reya terbangun dari tidurnya pukul 5 sore. Tapi tiba-tiba atasannya meminta nya mengirim ulang File yang kemarin sudah dia kirim.
Menyebalkan memang, atasannya itu memang sangat tidak profesional , tapi mau bagaimana lagi? Reya lah bawahannya disini. Reya juga tidak bisa seenaknya resign begitu saja, Reya butuh uang, dan dia tidak punya ide sama sekali untuk menulis novel nya.
Setelah mengirim dan beberapa perdebatan, ternyata sudah jam enam sore. Satu jam lagi dia akan ikut kencan.
Real pergi setelah mandi dan memoles kan make-up tipis di wajahnya. Reya tidak memilih dress sebagai pakaian nya, melainkan kemeja berwarna abu-abu abu dan celana hitam, sedangkan rambut sepunggung nya hanya dia gerai begitu saja.
Ini akan menjadi kencan yang benar-benar buta. Tidak akan ada acara jaga image bagi Reya dalam kencan ini. Hehe
Reya berangkat pukul enam tiga puluh. Sudah dua puluh lima menit berlalu, tapi Reya bukannya Sampai, dia justru terjebak macet karena pembangunan jalan.
Sial, terlambat tidak masuk kedalam rencana Reya, tapi kenapa justru ini yang pertama terjadi?
Pukul 19.10
Reya menatap arloji nya, sial sudah telat sepuluh menit! Reya masuk kedalam restoran dan menanyakan meja yang sudah di reservasi untuk nya.
Tentu saja, pria pasangan kencan nya sudah datang lebih dulu.
Dengan sedikit rasa bersalah karena terlambat dan membuatnya menunggu,
“Maaf, saya terlambat. Tadi saya ada sedikit masalah di jalan”, Reya minta maaf.
Laki-laki itu berbalik, “Enggak masalah”, ucap nya.
Wah.. Wah.. Jelas laki-laki ini sangat tampan dan maskulin, tapi.. Kenapa dia harus datang ke biro jodoh, kencan buta atau sejenis nya hanya untuk mendapat pasangan?
Reya bisa jamin kalau banyak perempuan yang mau mengantri untuk menjadi pasangan nya. Apa laki-laki ini pria miskin yang berusaha mencari wanita kaya?
Hemm...seperti nya tidak mungkin juga, mengingat biaya daftar blind date ini yang sangat mahal seperti yang Reya cari tahu tadi saat di rumah.
Apa pun itu, laki-laki ini pasti punya alasan tersendiri untuk itu.
__ADS_1
Kami berkenalan, nama pria itu Azka, dia seorang pengusaha. Reya semakin merasa aneh, kenapa laki-laki seperti dia butuh kencan buta untuk mendapatkan pasangan.
Laki-laki itu cukup menarik, dia sopan, dan tidak mempermasalahkan sikap Reya yang blak-blakan. Saat mengobrol pun mereka nyambung.
Mereka berdua tertawa karena lelucon aneh yang baru Reya cerita kan, setelah selesai tertawa, Reya menatap laki-laki itu dan menanyakan sesuatu yang membuat nya penasaran dari tadi.
"Jadi Azka, apa yang membuat mu ikut kencan buta?”
Pria itu menaikan alisnya, “Kenapa? Aku sangat menarik?”
Ugh, sangat menyebalkan saat seseorang sadar dirinya menarik. Reya berdecih, “Baik, anggap lah begitu, lalu kenapa kau ikut kencan buta ini?”,
Laki-laki itu tersenyum main main, “Kau terlalu memuji, Kau juga menarik Reya"
Reya memejamkan mata menahan kesal.
Azka tertawa, tidak tahu kalau Reya akan seimut ini kalau kehilangan kesabaran.
“Oke oke aku jawab, aku bukan orang yang menganggap cinta itu hal yang baik, aku tidak berharap seseorang bisa mencintai ku”
“Kau juga begitu kan, Reya?” Reya kembali menatap Azka dengan serius.
“Kau bukan orang yang percaya cinta itu sesuatu yang baik, sampai sampai temanmu mendaftarkan dirimu ke kencan buta?.. “, ucap Azka. Reya mau menyela, tapi Azka menghentikan nya.
“Aku tidak menyindir mu, aku hanya tau karena kau tidak tahu siapa aku padahal pihak blind date seharusnya sudah menceriakan info tentang ku secara langsung. Lagi pula, kau pasti bukan jenis wanita yang kesulitan cari pasangan, bukan begitu?”
Skakmat!
“Lalu?”
“Bukankah kita kemari dengan alasan yang sama? Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan?” Ucapnya serius.
Reya menyipitkan matanya. “kesepakatan?”
__ADS_1
“Iya kesepakatan, Kau aku, kita dua orang dewasa di haruskan untuk melakukan pernikahan yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Bukankah itu sangat menyebalkan?”
Mau tidak mau Reya mengangguk, memang begitu lah keadaan nya. Walaupun tidak punya orang tua, tidak serta merta masalah diingatkan menikah dengan alasan supaya tidak menjadi perawan tua menghilang.
Reya masih punya bude dan bulek yang selalu nyinyir, sok bijak dan selalu merasa dirinya paling paham tentang masalah orang lain. Apalagi tentang masalah pernikahan, mereka merasakan sesuatu seperti senioritas dalam bidang itu.
Bahkan dua bulan yang lalu, salah satu bude nya menelpon nya hanya untuk mengingat kan kalau dia sudah cukup umur untuk menikah. Cih, untung saja Reya masih ingat kalau perempuan tua itu adalah kakak ibunya, kalau tidak, mungkin sudah Reya maki.
Pernikahan ya... Eh tunggu dulu!
Reya mendelik kan matanya kearah Azka. “Anda mau mengajak ku untuk menikah kontrak?”
“Binggo” Jawabnya. Reya mengeryit, “Tapi, pernikahan tidak bisa di permainkan... “
“Ini bukan main main, ini pernikahan dengan kontrak" jawab nya serius. Reya ragu kalau ini adalah hal yang benar. Melihat itu Azka menambahkan, “kau tidak perlu Menjawabnya sekarang, Kau bisa menjawabnya pada kencan kita berikut nya. Acara makan malam selesai. Mereka pulang ke rumah mereka Masing-masing.
Sampai di rumah, Reya menanyakan informasi tentang Azka pada Yura. tapi menurut Yura, Nama pasangan kencan Reya bukanlah Azka, tapi Reza.
Pukul enam sore tadi, pihak blind date memberi tahukan kalau ada perubahan. Yura tadinya ingin menanyakan Reya apa sebaiknya di batalkan atau tidak, tapi Reya sama sekali tidak bisa di hubungi.
Setelah mendengar penjelasan Yura. Reya merasa ada yang aneh, tapi Reya tidak tahu itu apa. Reya menyeruput tehnya. dia merasa aneh, kenapa Reya merasa tertarik pada tawaran Azka yang baru pertama kali bertemu dengan nya.
Apa Reya sudah terlalu Depresi dengan semua masalah yang dihadapi nya, sampai sampai dia merasa hal seperti ini layak untuk dia pertimbangkan?
****
Esok telah tiba, hari Minggu yang singkat berganti dengan senin yang panjang. Reya mendesah kesal saat berjalan menuju kubikel nya. kenapa dia harus punya atasan seperti Rina yang masih muda tapi ganjen nye kayak tante tante jablai gini?
Rina masih berumur Dua puluh delapan tahun, hanya dua tahun lebih tua daripada Reya, tapi dia selalu galak pada bawahannya yang berjenis kelamin perempuan dan sedang kan untuk laki-laki, sifat nya berubah Seratus delapan puluh derajat.
yap, ramah kurang ramah, baik kurang baik. cih, ngeliatin banget kalau jablai. dering handphone Reya terdengar.
Reya memutar bola mata saat melihat yang menelpon adalah buleknya.
__ADS_1
"Reya, kamu apa kabar? kamu kapan nikah? kamu enggak takut jadi perawan tua? adek sepupu kamu aja udah mulai pada bernikahan loh", dan lain lain. Reya mendesah kesal, Tiba-tiba tawaran Azka muncul di benaknya.
Menjadi perawan tua bukan hal yang buruk. apa lagi menjadi perawan tua tanpa ada yang bertanya, 'kapan nikah?'