Aku Menjadi Istri Presdir!

Aku Menjadi Istri Presdir!
Malam minggu


__ADS_3

Reya merenung di dalam kamarnya, matanya, mengerjap menatap langit lagit.


Sudah beberapa hari sejak dia menerima pesan dari Bagas, dan sampai sekarang Reya terus memikirkannya.


Saat pertama membaca email itu yang Reya rasakan hanyalah amarah. Tapi saat emosinya tenang, Reya Jadi bingung dan membaca email itu lagi, dan setelah membacanya berulang ulang, perasaan reya jadi campur aduk.


Kalau perempuan yang waktu itu di pergoki tidur bersama bagas adalah wanita yang kesekian jadi selingkuhannya, lalu kenapa Bagas tidak bilang saja kalau dia sudah tidak betah dengan reya. Dengan begitu kan bagas tidak perlu jadi baj***** peselingkuh dan Reya juga tidak perlu hancur lagi.


Kalau memang dari dulu Bagas sudah tidak mau lagi dengannya, seharus nya dia bilang agar reya yang mundur. Harusnya dia tidak terus menerus ada saat reya butuh. Seharusnya dia tidak melamar Reya.


Reya memengang dada nya yang mulai sesak. Seharusnya Reya tidak pernah jatuh cinta, dengan begitu Reya tidak perlu sakit.


Reya mengambil kunci mobil nya yang tergeletak di nakas. Lalu keluar dari kamarnya. Berjalan menuruni tangga, Reya berpapasan dengan Azka yang sedang masuk ke dalam rumah.


“Mau kemana re?” tanya Azka.


“Ke rumah yura”


Azka mengerutkan dahinya, “Malam malam gini?”


“Iya lah”


“Aku antar” Ucap Azka sambil berbalik ke luar rumah.


“Eng..Enggak nggak papa kok”, Reya berjalan cepat mengikuti langkah Azka.


Langkah Azka terhenti saat Reya merentangkan tangan di depannya. “Kenapa?” tanya Azka.


“Udah kamu di rumah aja, kamu pasti capek kan?” ucap reya. Reya menatap Azka dari ujung kepala sampai ujung kaki, “Kamu bahkan masih pakai baju kantor, kamu istirahat aja ya”


“Aku enggak capek kok”


“Bohong” Reya tidak percaya, jelas jelas Azka terlihat lelah.


Azka menatap datar ke arah Reya lalu berjalan melewati Reya. Reya berlari ke depan Azka dan kembali memalang di depannya.


Azka menghela napas, “Ini sudah malam reya, biar aku antar aja”


“Masih jam sepuluh dan ini malam minggu azka, kamu enggak usah khawatir kalau aku di begal”

__ADS_1


Mendengar kata malam minggu, mata azka menyipit,


“Malam minggu? Kamu enggak....”


“Enggak Azka nggak ada orang yang pergi malam mingguan pakai piama gambar gajah”, ucap Reya malas.


Setelah memerhatikan piama yang Reya, mau tidak mau laki laki itu jadi tersenyum. “Ekhm...tapi memangnya Yura enggak punya seseorang yang nyamperin dia malam minggu?”


“pacar yura lagi dinas di luar kota, jadi dia jomblo malam ini”


Azka menimbang nimbang, setelah itu menyeringai.


“Oke, kamu boleh pergi. Tapi ada syarat nya”


Ini orang kok banyak banget syaratnya ya?


“ha?”


Azka menunduk menyejajarkan tingginya dengan Reya, lalu berbisik, “Cium”


Azka bermaksud bercanda, tapi ternyata Reya langsung menarik kerahnya lalu mencium pipi Azka dengan cepat. Azka membeku.


“Aku pergi dulu ya ka, dah”, Reya langsung kabur ke dalam mobil. Reya menggelengkan kepalanya. Azka memang selalu aneh aneh saja kalau memberi syarat, untung syaratnya bukan seribu candi lagi.


....


Seperti yang di harapkan, jalanan macet malam minggu ini. Perjalan menuju rumah Yura pun menjadi dua kali lebih lama.


Ting..tung....


Tak perlu menunggu lama, pintu terbuka, Yura kaget saat melihat sahabatnya berdiri di depan pintu sambil mengenakkan pakaian tidur. “Re...lo..suami mu di mana?! Jangan bilang kalian ber...”


“kita enggak berantem Ra, aku udah izin kok sama azka kalau main ke sini,” ucap Reya


“Yura menatap Reya tidak percaya, Re..kamu kok malah ke sini sih, gimana kalau azka lagi pingin ***** sama ka...aduh”, Yura mengusapi kepalanya yang baru saja di jitak oleh Reya.


“Otak mu Yura” peringat Reya.


“Lah emang bener tau, kan kalian udah menikah, hal kayak gitu harusnya wajar dong”,Ucapnya tak mau kalah. Reya memutar bola matanya malas. Yura menarik Reya masuk ke dalam rumahnya lalu membawanya duduk di atas tempat tidur di kamar nya.

__ADS_1


“Jadi.. kamu apa kabar?” tanya yura.


Mata Reya berubah sendu, tiga hari yang lalu aku enggak sengaja ketemu bagas, ucap reya.


Yura mendelik, “,kok bisa sih?”. Reya menceritakan semua kejadian yang terjadi di restoran jepang. Sampai email yang dia terima.


“bangsat banget tuh bagas!” omel Yura tidak terima.


“Ya itu Ra, tapi gue jadi bingung sendiri, kenapa kalau bagas suka sama cewe cewek yang dia tidurin, dia selalu cari gue selama ini? Kenapa dia enggak nikahin aja itu sekertarisnya?”


Reya memutar bola matanya, “Cewek yang mau dia tidurin pasti nggak bakal dia anggap cewek baik baik lah, dan se brengsek brengsek nya laki laki, dia pasti mau nya nikah sama cewek baik baik dong. Karena itu dia masih nguber nguber kamu” ucap Yura yakin.


“aku bodoh banget ya, sampai sekarang aku masih susah ngelupakan bagas, Ra. Tapi ya.. mau gimana lagi, kan Dia selalu ada untuk ku dia juga yang ada waktu aku down dulu”


“Yah... anggap aja waktu itu bagas masih polos polos nya. Dan bagas yang sekarang udah bukan bagas yang sepuluh tahun lalu ada buat kamu, Re” Yura menepuk bahu Reya. “Lupakan bagas, toh kamu sekarang punya suami yang seratus kali lebih bagus dari pada bagas, dan yang terpenting mencintaimu sepenuh hati” ucap Yura sambil tersenyum.


Reya membalas senyuman Yura dengan senyum kecut nya. Seratus kali lebih baik dari pada bagas sih mungkin saja, tapi...mencintai reya? Sepenuh hati? Kalau saja Yura tau kalau pernikahan Azka dan Reya hanyalah sebatas kontrak..


“Kenapa mukanya begitu?”,


“Reya menggeleng, enggak apa apa kok” jawab Reya.


Yura menghela napas lelah lalu memeluk Reya, Kalau saja Yura waktu itu tidak pindah sekolah, pasti Reya tidak akan bergantung pada bagas dan jatuh cinta pada laki laki itu. Tapi semua yang sudah terjadi tidak bisa di putar kembali.


“Yura aku enggak apa apa kok”, ucap Reya. Tapi yura terus memeluk Reya sambil memejamkan mata nya.


“Re, aku Cuma pingin kamu bahagia” ucap Yura.


Reya menghela napas, lalu membalas pelukan Yura. Satu chat masuk, Yura melepaskan pelukannya nya agar reya bisa membaca pesan di handphone nya.


Dari Azka?


Pesan singkat yang membuat siapa pun yang membacanya terbelalak.


From Azka: ‘Aku jemput, sekarang aku di depan”


What?! Kok Azka main jemput jemput aja sih?


Yura menepuk bahu Reya, “Re, kok enggak terasa udah jam satu malam ya?”

__ADS_1


Oke, pantes Azka jemput aku. Udah jam segini ternyata. “Ra, Pulang dulu ya” ucap Reya.


“Ciee di jemput suami!”


__ADS_2