
Reya menatap buku nikah yang ada di tangannya dengan tatapan kosong. anggaplah reya gila, tapi Reya memang sudah gila kan? buktinya Reya bahkan resmi menjadi istri nya Azka sekarang.
"Re, kamu terserah mau pilih kamar yang mana. kamu bisa juga keliling rumah ini dulu" ucap Azka yang nongol dari pintu.
Reya menghela napas, "apakah yang aku lakukan sudah benar?"
Tiba-tiba sekali? Reya juga bingung kenapa dia tiba-tiba nekat menjadi istri Azka.
sebulan terakhir Reya selalu mendapatkan tekanan dari semua keluarga nya, ya...ini semua murni tertekan, tapi Reya bisa apa? semua yang sudah terjadi tidak bisa dibatalkan.
Pernikahan dilakukan dengan sangat sederhana, hanya didatangi oleh keluarga Azka dan Reya, jadi semuanya cepat selesai.
Memang susah jadi perempuan yang sudah dewasa. seakan melajang adalah sebuah dosa. Setiap hari mendapatkan wejangan perihal kesuburan perempuan yang sudah terlalu lama menunda menikah. lah sekarang, giliran buru buru nikah, saudara yang datang nikahan pada bisik bisik di belakang. entah deh, mungkin Reya lagi di gibahin dan disangka hamil duluan.
Cih, saudara apanya! inilah yang membuat Reya malas untuk ngumpul bareng keluarga.
Reya menemukan satu kamar yang benar-benar cocok dengan seleranya, dia menatap sekeliling. "Wahh... "
Kamar ini mah Reya banget! didominasi warna pastel lembut, tempat tidur yang cukup besar tapi tidak terlalu besar dan...
"Kamu mau pilih kamar yang itu?"
Reya menoleh ke asal suara, Azka melipat tangannya, tersenyum kecil sambil menatap Reya. Hem... ganteng banget.
"Ya", Reya menggedik kan bahunya.
"Kalau begitu kamar mu ada di sebelah kamar ku" Ucap lalu pergi.
Disebelah katanya?
***
Makan malam berlangsung dalam keheningan, tidak ada diantara dua orang itu yang berniat memulai percakapan. hanya terdengar dentingan sendok dan piring.
Hujan diluar kian deras, Angin berhembus kencang. beruntung juga karena Reya sudah menikah, kalau masih melajang mungkin Reya sekarang masih mengendap di dalam kafe, Menatap layar putih polos dengan frustasi karena tidak bisa mengeluarkan ide untuk menulis novel nya.
sekarang dia sudah menikah. dia tidak bisa sebebas dulu, tapi setidaknya dia masih bisa dianggap bebas. mengingat kontrak yang dia tanda tangani sama sekali tidak mengenangnya.
__ADS_1
Reya jadi mengingat isi kontrak pernikahan yang dia tanda tangani beberapa hari yang lalu.
- Pihak 1dan 2, Dilarang berselingkuh atau punya hubungan khusus dengan lawan jenis.
-Dilarang melakukan kekerasan fisik Antara pihak 1 dan pihak 2.
-Pihak 1 Dilarang mengatai dengan kata-kata kasar pada pihak 2 begitupun sebaliknya.
-Pihak 2 dilarang menanyakan alasan pihak
1dalam hal apapun.
Masih ada beberapa poin lagi yang Reya lupakan, dan seingat Reya itu sama sekali tidak merugikan nya sama sekali, jadi ya.. kenapa Reya harus menolak? Tapi malah itu yang membuat Reya penasaran, kenapa semua Poin poin itu terlalu menguntungkan Reya?
sayang nya, mau se penasaran apa pun Reya, dia tidak boleh menanyakan alasan Azka melakukan itu. Ingat poin ke empat? Reya sebagai pihak kedua tidak boleh menanyakan alasan apa pun dari hal hal yang dilakukan pihak pertama. termasuk menanyakan alasan kontrak yang terlalu menguntungkan pihak kedua(Reya).
"Kau besok sudah masuk kerja kan?"
Reya melirik Azka yang sedang mengelap bibirnya dengan tisu.
"Kalau begitu, besok aku antar", Ucap Azka tidak menerima penolakan.
Reya kembali mengangguk, toh juga kalau di antar dia tidak rugi sama sekali.
Entah kenapa tiba-tiba saja Reya merasa sangat ngantuk, matanya sangat berat. "Azka, aku tidur duluan ya", Ucap Reya sambil mengucek matanya.
Azka mengangguk, Reya menaiki tangga ke lantai dua dengan langkah gontai. Tanpa Reya sadari, Azka terus menatap nya lekat sampai Reya menghilang dari pandangan nya.
Azka mengeluarkan Handphone nya dan menghubungi Asisten nya.
"Cari tau lebih banyak tentang perempuan itu, apa makanan kesukaan nya, kafe dan restoran langganannya, butik langganan nya, semuanya" perintah Azka.
"Baik Pak", Asisten nya hanya bisa meng iyakan permintaan bos nya itu.
"Jangan lupa, pecat semua orang yang menyiapkan makan malam saya dan istri saya malam ini", Azka kesal mengingat Reya terlihat tidak memakan beberapa hidangan, dia tidak tau saja kalau Reya memang tidak pernah selera untuk makan malam, dan selalu menggantinya dengan segelas kopi.
Azka menutup panggilan nya. ia menaiki tangga lalu berjalan kekamar nya, tapi saat sampai didepan kamar Reya, langkah kakinya terhenti. Cukup lama Azka menatap pintu yang tertutup itu, dan akhirnya Azka memutuskan untuk membukanya...
__ADS_1
****
pukul dua malam, Reya terbangun dari tidurnya.
Suara hujan sudah tidak terdengar lagi, mungkin karena itu Reya sudah tidak kedinginan. Jujur saja, kemarin Reya sempat menggigil, tapi tiba-tiba ada angin hangat yang menyelimuti tubuh nya, jadi dia tidak menggigil lagi.
Reya berkeliling dapur, Gini deh kalau orang yang biasa begadang mendadak tidur lebih awal, langganan bangun tengah malam deh.
Reya membuka kulkas besar yang ada di depannya, "Woaahh"
Isi kulkas itu penuh dengan semua hal yang Reya sukai, apa Azka kebetulan punya selera yang sama dengan Reya? Kalau begitu bagus!
Reya mengambil sepotong puding coklat. mata nya memejam sambil menikmati rasa puding itu. Ini puding ter enak yang pernah Reya makan selain buatannya sendiri!
Reya memakan puding itu lambat lambat, hemm.... ini benar-benar enak.
Saat Reya membuka mata nya, yang pertama Reya lihat adalah Azka. "Aaahk", pekik Reya.
Reya mudur dan hampir terjatuh, untungnya Azka menahan pinggang nya. sedangkan tangannya yang satu lagi menahan piring kecil di tangan Reya agar tidak jatuh dan pecah.
Reya membeku. kenapa Azka ada disini!
" Sedang ada kau keluyuran malam malam seperti ini?", tanya Azka, wajahnya datar seperti biasa. Reya pikir dia akan dimarahi.
Sadar dengan posisi mereka yang aneh, perlahan Reya berusaha berdiri sendiri, berusaha melepaskan tangan Azka yang masih memegang pinggangnya.
"Hehe, aku... hanya ingin makan puding", jawab Reya.
"Kau suka puding nya?" tanya Azka lagi.
Reya mengangguk semangat, lalu mengambil sepotong lagi. Reya sadar Azka terus menatap nya, tapi... apa pun yang terjadi, Reya tidak akan menyerahkan puding ini pada Azka!
pelan pelan Reya melangkah meninggal pria itu. Setelah menutup pintu kamar, Reya bisa mendengar Azka tertawa terbahak bahak dari lantai bawah.
Sial! Laki-laki itu menertawakan Reya!
sedangkan Azka memegang perutnya yang sakit karena tertawa. dia tidak menyangka perempuan berumur dua puluh enam tahun bisa terlihat seimut itu. seenak itukah puding nya? haha lucu sekali...
__ADS_1