Aku Menjadi Istri Presdir!

Aku Menjadi Istri Presdir!
Rumah


__ADS_3

Setelah lama hiatus aku bakal coba untuk mulai nulis pelan pelan lagi ya..


selamat membaca...


******#*****##*


Sudah lama reya tidak merasakan perasaan ini, rasanya lega....


tidak biasanya reya merasakan kelegaan seperti ini, padahal biasanya bahkan di saat reya merasa senang pun dia tetap merasakan kesepian yang menyesakkan di dalam hati nya.


Reya memegang dadanya sendiri, tanpa sadar ia tersenyum.


reya kembali mengingat semua kejadian yang terjadi seharian ini, bagaimana Azka menjaganya, bagaimana azka menatap nya dan membuat nya tenang dan berdebar secara bersamaan.


ini mengerikan...


reya takut...


reya menjadi takut kalau perasaan nya pada azka akan terus berkembang, sedangkan ia bahkan belum sembuh dari rasa sakit yang sebelumnya.


Reya tidak yakin apakah ia masih bisa bertahan jika disakiti sekali lagi...


sepulang dari paris, mungkin reya harus bertemu dengannya lagi, seseorang yang sudah tidak reya temui tiga tahun terakhir...


"Kamu enggak apa apa kan re?"


Reya menoleh, dan ternyata azka sedang menatap nya dengan khawatir, kira kira separah apa ekspresi yang dia keluarkan saat ini?


Reya berusaha tersenyum, "Aku nggak papa kok"


"Kamu pucat, lebih baik kamu istirahat lagi" Azka menarik Reya mendekat dan menyandarkan kepala reya di bahunya.


"Azk... "


"Ssst... tidur" potong Azka.


Entah kenapa reya tidak bisa membantah Azka, dan tertidur sambil bersandar pada laki laki yang berstatus suaminya itu.


****


Saat Reya membuka matanya, dia sedang duduk di pangkuan Azka sambil memeluk suaminya itu. Reya kaget dan spontan bangkit.


JEDUG!


"Aduh!" kepalanya menghantam kuat langit langit mobil.


Azka menarik tangan reya dan mendudukkan perempuan itu di samping nya. "Kenapa tiba tiba loncat sih?"


Azka menguap, kelihatan nya laki laki itu juga tertidur saat memangku reya tadi. Spontan reya menatap kaki pria itu, Bukankah kaki nya akan keram mengingat dia memang ku reya sejak....

__ADS_1


Tunggu dulu... sejak kapan mereka ada di dalam mobil? bukankah tadi mereka masih di dalam pesawat?


"Azka.. "


"Hmm"


"bukannya kita tadi masih di dalam pesawat? kenapa kita sekarang ada di.. "


"Mobil"potong azka


"Bukan itu masalah, Azka. Masalah nya, siapa yang turun in aku dari pesawat, siapa yang bawa aku keluar bandara"


"Aku"


"Dengan cara... "


"Gendong"


Reya menepuk jidat nya frustasi, tanpa sadar dia membayangkan bagaimana Azka menggendongnya menuruni pesawat, aghh mau di taruh mana muka reya?!!


"Azka kenapa kamu enggak bangunin aku aja, aku punya kaki, Azka. aku bisa jalan sendiri"


Azka diam sejenak sambil menatap reya. Reya jadi panik sendiri, jangan bilang Azka udah berusaha bangunin tapi reya yang tidurnya kayak kebo.


Reya sudah siap meralat ucapan nya dan menggantikan nya dengan ucapan terimakasih, namun Azka sudah lebih dulu bersuara.


"Aku enggak tega mau bangunin, soalnya kamu keliatan capek banget"


sekarang tatapan reya kembali jatuh pada kaki Azka, "apa kakimu baik baik saja?"


"Hmmm" gumam Azka sebelum ia memejamkan kembali matanya. laki laki itu terlihat begitu lelah, liburan ini memang liburan pertama Reya dan Azka, tapi baru satu hari di sana, Azka sudah mendapatkan panggilan darurat.


Reya menatap Azka dan menyisir pony Azka dengan jarinya. reya menarik kepala Azka dan menyandarkan kepala laki laki itu di bahunya, sambil berharap itu bisa mengurangi rasa penat orang yang ada di samping nya.


Tiba tiba reya merasa sesuatu melilit di sekitar perutnya, dan ternyata itu tangan azka. Reya panik, ingin melepas sepasang tangan yang melingkar memeluk perutnya. namun azka tidak bergeming, "please, biarin aku gini sebentar, sebentaarr saja"


Reya mengehela napas, dan kembali duduk tenang sambil bersandar. tangannya pun kembali telulur mengelus rambut pria di samping nya.


Tidak Sampai setengah jam, mereka pun sampai ke tempat yang suka bisa reya sebut dengan Rumah.


mobil berhenti...


Reya Menggoyang kan bahu azka, "Ka, Kita udah sampai, ayo bangun"


"Lima menit lagi" ia menjawab dengan suara seraknya.


"Azka, kalau kamu mau bangun sekarang dan jalan beberapa langkah kedalam, kamu bisa lanjutin tidur sepuasnya"


"Memang kita sudah sampai dimana?" tanya Azka masih enggan membuka mata nya.

__ADS_1


Walau agak canggung, reya menjawab, "rumah?"


sebenarnya dibandingkan jawaban itu terdengar seperti pertanyaan, namun itu juga sudah cukup untuk membuat Azka tersenyum dan langsung membuka kedua matanya.


Laki laki itu langsung bangun dan menarik tangan reya, membawa gadis itu masuk kedalam tempat yang bisa mereka sebut dengan "Rumah" tempat hangat dimana mereka bisa istirahat saat lelah, dan bisa merasa bahagia walau hanya dengan hal hal kecil yang mereka bisa lakukan berdua di dalam nya.


****


"Saya sudah ada janji dengan dokter Vincent" ucap reya pada resepsionis di depannya.


Reya mengedarkan pandangan nya, ruangan ini adalah tempat yang cukup familiar untuk nya, setidaknya sampai tiga tahun yang lalu. sebelum ia berhenti untuk datang ke tempat ini lagi.


"Baik ibu reya, dokter Vincent sudah menunggu di dalam ruangan nya"


***


Reya membuka pintu perlahan, dan ia di sambut tatapan sengit dari Vincent.


Reya ingin meringis, tapi iya berusaha mengontrol emosi nya menjadi tatapan datar. "Long time no see, dokter Vincent"


"Kenapa kamu tiba tiba berkunjung"


Reya menaikkan sebelah alisnya,"Memangnya Salah kalau aku datang menjenguk teman lama? "


****


Andra menyerah kan amplop berisi semua kegiatan nyonya besar sejak pagi hari. Azka menerima nya dan langsung menyuruh nya pergi. memang hanya bosnya lah yang bisa menyalah gunakan kekuasaan tanpa harus khawatir jika di tegur oleh siapa pun.


Buktinya saja, dirinya sebagai seorang..... di perusahaan sekarang terpaksa menjadi stalker penguntit, yang harus menyerahkan daftar kegiatan yang istri nya lakukan setia hari.


Dan sial nya sekesal apapun, Andra tidak pernah bisa menghentikan Azka dan segala perintah nya, karena apa? karena Azkalah boss nya.


Mengenaskan bukan?


Andra hanya bisa memaki dalam batin nya, sambil melangkah keluar dan tetap memasang wajah datarnya.


Sedangkan di sisi lain, Azka menatap foto istrinya di depan klinik psikiatris.


Azka memejamkan matanya dan memijat pangkal hidung nya. kenapa reya datang ke klinik itu lagi?


Apa dia merasa tertekan lagi? tidak! bahkan sampai kemarin reya masih baik baik saja.


Apa dia merindukan Vincent?


Tangan Azka mengepal, tidak akan dia biarkan reya pergi darinya, bahkan jika Reya ternyata menyukai Vincent, tetap Vincent lah yang akan ia hilangkan dari hadapan reya.


Tidak ada yang boleh mengalihkan perhatian Reya darinya, dan tidak akan ia biarkan siapapun merebut reya dari nya.


Dan jika ada yang berani menantang nya, maka akan Azka pastikan orang itu akan hilang.

__ADS_1


Ya..


inilah sisi gelap yang selalu Azka sembunyikan terutama dari Reya, karena ia tau kalau reya akan ketakutan saat tau seperti apa Azka yang sesungguhnya


__ADS_2