
Sudah enam bulan berlalu. Tapi tidak ada yang berubah. Menyembuhkan hati yang patah tidak semudah yang Reya pikirkan.
Reya merenggangkan kedua tangan, lalu berlari mengelilingi komplek perumahan.
Reya tidak mau merepotkan Yura, walaupun Yura bilang tidak apa apa, tapi Reya sadar kalau Yura juga kehidupan pribadi. Jadi Reya tidak akan merepotkan sahabat nya yang sudah sangat banyak membantu nya itu begitu saja.
sudah puas joging, Reya mendatangi sebuah mini market yang ada di pinggir perumahan yang dia tempati.
Ia mengambil minuman isotonik yang biasa dia minum, lalu membayar nya di kasir. sebenarnya Reya cukup stress, akhir akhir ini.
Bagas tidak mau menyerah pada nya, bagaimanapun Reya menolak nya. Dia mendengar dari temannya yang bekerja tempat penerbitan buku-buku nya selama ini, kalau Bagas terus meminta tolong untuk memberi tahunya di mana lokasi Reya saat ini.
begitu pula Yura, Yura juga sering dihubungi Bagas untuk menanyakan keberadaan Reya.
bahkan Bagas sempat mendatangi rumah Yura untuk mencari keberadaan Reya dua bulan yang lalu.
untung saja dia sudah pindah rumah waktu itu. Jadi dia tidak perlu repot repot melihat wajah pria yang memuakkan itu.
Reya meneguk isi minuman yang baru di belinya barusan, lalu berjalan kembali kearah rumahnya.
Sampai di rumah, Reya mandi lalu mengganti pakaian nya dengan kemeja hitam yang sering dia pakai.
Ia mengambil tas, memakai sepatu nya lalu berjalan keluar. Ia akan mencari inspirasi untuk menulis novel nya. sejak kasus Bagas enam bulan yang lalu, otak Reya serasa di sumbat oleh sesuatu. Reya tidak tau itu apa.
perempuan itu mengemudikan mobilnya menuju Kafe langganan nya. setelah sampai dia memesan makanan, lalu menghabiskan sarapannya.
Makanannya habis, Reya sudah kenyang. Reya membuka laptopnya untuk menulis sesuatu, tapi sama sekali tidak ada ide yang bisa keluar. Reya justru merasa otaknya blank.
Reya menyusun laptopnya kembali ke dalam tas, lalu bangkit. Mungkin ini bukan tempat yang tepat untuk mencari idenya.
Reya memutuskan untuk pergi ke taman. setelah sampai di taman, Reya melihat lihat orang yang sedang lalu lalang.
Reya memang penulis, tapi, menulis bukanlah pekerjaan utamanya. Reya adalah seorang staff di sebuah perusahaan.
setelah pindah ke kota ini, Reya juga mengajukan surat resign, lalu mendaftarkan lamaran nya di perusahaan yang dekat dengan tempat tinggal nya.
Jadi, besok dia masih harus bekerja lagi. Reya menghela napas, kalau memang tidak bisa dapat ide yasudah lah, lebih baik Reya menikmati hari minggu dengan santai saja.
__ADS_1
setelah menutup laptopnya, Reya menyandarkan tubuh nya pada bangku taman, lalu memejamkan matanya, menikmati semilir angin di tengah taman yang cukup ramai itu.
Tiba-tiba sebuah panggilan masuk. Reya membuka matanya, lalu merogoh kantong nya untuk mengambil handphone nya
Yura?
sambil menekan tombol hijau, Reya menebak nebak perihal apa Yura menelpon nya. Yura adalah sahabat terbaik yang Reya miliki, dan selalu melakukan apapun untuk kebahagiaan sahabat nya yang malang ini.
karena itu jika Yura sedang dalam suatu masalah, Reya ingin menjadi orang yang berdiri di dekat Yura dan sigap menangkap nya jika sewaktu waktu Yura terjatuh.
Namun walaupun begitu, Reya harap Yura tidak akan pernah terjatuh.
"Halo Yura, ada apa? ", Tanya Reya.
" Cepat lah datang ke tempat ku, ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan mu", Ucap nya dari seberang sana.
"Ada apa sih, Yura? apa kau butuh bantuan? apa ada masalah? ", Reya yang panik mulai membombardir Yura dengan banyak pertanyaan.
" Iya aku akan dalam adalah jika kau tidak cepat kemari", jawab Yura ambil tertawa.
Reya mengerutkan dahinya, ini serius atau tidak sih? "Yasudah yasudah, Aku kesana sekarang", Ucap Reya. Setelah mematikan handphone nya, Reya membereskan barangnya lalu pergi ke tempat Yura.
pintu terbuka. Yura keluar hanya untuk menarik Reya kedalam. mereka duduk di ruang tamu, Yura memegang tangan Reya.
"Re.. aku tahu kalau aku terlalu ikut campur, tapi... menurut ku lebih baik kamu move on dari mantan gila kamu dan cari laki-laki lain, jadi... ", Yura terlihat agak ragu.
"Jadi?", Reya membeo.
"Jadi, aku sudah daftar kan kamu ke blind date. acara kencan buta gitu.. jadi... "
"Yura, aku tahu kamu khawatir, tapi percayalah aku baik baik saja", ucap Reya.
"Iya aku baik baik saja, tapi seenggaknya nya kamu harus coba ya, siapa tahu ada yang cocok", Yura tidak mau menyerah.
Reya menghela napas lelah, buat apa? buat apa dia mencari jodoh lagi? toh juga siapapun laki-laki itu, nanti juga berkhianat.
Cinta?
__ADS_1
Menurut Reya, cinta bukanlah sesuatu yang indah untuk nya. cinta lah yang selalu menghancurkan nya. Reya sanggup menahan rasa hancur seperti kemarin. tapi bukan berarti Reya mampu merasakan nya lagi.
karena itu Reya memutuskan kalau dia akan menutup hati nya saja.
"Yahh Reya, aku sudah daftarin kamu ke tempat kencan buta nya, kamu tinggal tunggu informasi tentang tanggal, jadwal, dan informasi tentang pasangan kencan kamu. Please Reya, mau ya", pintar Yura memelas.
Reya mengusap wajahnya, mana bisa dia menolak Yura jika sudah seperti ini? , Reya mengangguk pasrah, sedangkan Yura berubah sumringah.
Setelah itu, Yura tiba-tiba menyodorkan beberapa lembar kertas.
"Itu informasi tentang kencan pertama kamu sore ini", Ucap yura
"What?! sore ini! ", Reya kaget, perempuan itu mendelik kearah Yura yang di balas dengan ringisan penuh rasa bersalah.
"Aku bayarin salon nya, ya", tawar Yura.
Tiba-tiba satu ide muncul di kepala Reya. Bukankah bukan Reya? lalu kenapa Reya harus sampai berdandan?
"Enggak usah", Ucap Reya. Yura yang melihat seringai Reya merasa cemas pada calon kencan Reya, Kira-kira apa yang Reya rencana kan?
Reya bangkit dari duduknya, sambil melihat lihat isi kertas nya. " Yura, aku balik dulu ya, mau siap siap?", Ucap nya lalu berjalan keluar.
"Bener nih? Enggak mau aku bantu? enggak mau ku antar? enggak mau ku.... "
"Aku baik baik saja, Yura aku bukan anak kecil", ucap Reya yang sudah sampai luar ruangan yang tadi dia tempati.
perempuan itu menaiki mobilnya, Sekarang sudah pukul dua belas siang. jadi masih ada waktu...
Reya membuka membuka kembali lembaran yang diberi oleh Yura tadi.
Lah, sore apa nya? ini mah malam. pukul tujuh yah? berarti masih ada waktu tujuh jam lagi.
****
Tujuh jam kemudian...
Reya bergegas masuk kedalam restoran yang sudah di pesan oleh agen kencan buta nya, setelah di tunjukkan dimana meja yang sudah di reservasi untuk nya. Reya melihat seorang pria duduk membelakangi nya.
__ADS_1
"Maaf saya sedikit terlambat", Ucap Reya tidak enak.
"Tidak apa apa", Ucap laki-laki itu sambil berbalik.