![ALAS ROBAN [ END ]](https://asset.asean.biz.id/alas-roban---end--.webp)
Setelah sempat bingung, akhirnya Bima memberanikan diri untuk bercerita kepada azzam tentang apa yang terjadi di rumah makan. Sayangnya, perkataan Bima dibalas dengan tawa. Azzam sama sekali tidak mempercayai Bima. Dia menganggap bahwa Bima sengaja mengerjai dirinya.
"Apa tampangku terlihat bercanda?" tanya Bima kesal.
"Justru itu poinnya, kalau wajahmu tidak meyakinkan, ya mana bisa membodohiku. Tapi sayang, bercandamu kali ini gagal."
Bima menghela napas panjang.
"Zam.."
"Jangan bilang kalau kamu juga suka ke Ayu!"
"Enggak Zam enggak."
"Baguslah, aku pegang kata-katamu. Kita ini teman semenjak orok (bayi). Jangan sampai hancur karena kamu merebut kekasihku."
"Kalian sudah pacaran?"
"Iya, sudah."
"Kapan?"
"Kemarin," jawab Azam sembari menyunggingkan seulas senyum di bibirnya.
"Celaka!" benak Bima.
"Kamu pasti mau menasihatiku tentang Tantri kan? tenang saja, aku tidak akan menjadikan kamu sebagai tameng perselingkuhanku kok. Aku akan bersikap adil pada keduanya."
Azam lantas tertawa cekikikan.
"Gila kamu ya? jangan mempermainkan perasaan perempuan begitu!"
"Bim, kamu sudah lihat kan pesonanya Ayu? aku sungguh tak kuasa menolaknya."
"Tapi Ayu bukan manusia, dia jin Zam."
"Halah, itu lagi yang kamu bahas. Jangan bercanda terus deh! Ohya, nanti malam ikut aku ke rumah Ayu. Sekalian untuk membuktikan kalau Ayu bukanlah hantu seperti yang kamu bilang."
"Enggak, aku gak mau. Kamu juga jangan ke sana!"
"Apa-apa an ini? gini deh, aku janji bakalan nurut sama kamu asalkan kamu mau ikut nanti malam. Cukup buktikan kalau Ayu itu hantu tapi, jika hasilnya sebaliknya, kamu jangan gangguin aku sam Ayu lagi ya!"
"Zam.."
"Oke deal, aku anggap kita sepakat. Aku jemput nanti malam!"
__ADS_1
"Zam.."
"Aku balik dulu, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Haduh! jari runyam urusannya."
...🍂🍂🍂...
Selepas maghrib tepat, Azam menjemput Bima di rumahnya. Bima sudah berusaha menolak tapi Azam, terus memaksa. Alhasil, Bima hanya bisa menuruti ajakan temannya tersebut. Seperti dugaan Bima, rumah Ayu tak jauh dari rumah mereka tapi anehnya, Bima merasa asing dengan rumah Ayu. Bima merasa bahwa selama ini, tidak pernah melihat sebuah rumah berdiri di sana.
"Zam.." panggil Bima seraya menarik lengan baju Azam.
"Apa?"
"Aku kok merasa janggal ya? rasanya, gak ada rumah deh di sini."
"Kalau gak ada, itu rumah siapa?" tanya balik Azam seraya menunjuk ke sebuah rumah di depan keduanya.
"Itu rumah Ayu Bim," ucap Azam lagi.
"Seingatku, ini kebunnya pak Hasan loh."
"Aduh Bim! kamu sama aku kan sudah lama merantau. Mana tahu kalau sebagian kebun pak Hasan sudah dibeli orang tua Ayu?"
Meski ucapan Azam masuk akal tapi batin Bima masih tidak tenang. Langkahnya pun terasa dipaksakan kala ia dan Azam lanjut berjalan dan kemudian mengucapkan salam. Sebuah suara menjawab salam mereka dari dalam rumah. Tak lama, pintu pun dibuka.
"Benar buk, saya Azam dan ini teman saya, Bima."
"Ayu sudah banyak cerita tentang kalian, mari masuk!"
"Terima kasih."
"Silahkan duduk!"
"Iya."
"Sebentar lagi, Ayu keluar, tunggu saja!"
"Baik buk. Ibuk pasti ibunya Ayu ya?" tanya Azam.
"Iya, saya ibunya. Nah, itu Ayu, sini cah ayu!"
Ayu pun duduk di samping ibunya. Untuk sesaat, Bima terpukau dengan kecantikannya namun kembali sadar kala mengingat kejadian di rumah makan. Setelah berbincang beberapa saat, Bima dan Azam dipersilahkan untuk makan. Menu hari itu adalah soto lengkap dengan sambal dan kerupuk. Selain itu, ada juga tempe dan tahu goreng sebagai pelengkap hidangan.
Semua hidangan terlihat menggugah selera. Aroma sedap merebak memenuhi ruangan. Tanpa basa-basi, Azam lekas menyantapnya. Sementara Bima masih bimbang. Melihat Bima yang diam, Ibu Ayu meminta Bima untuk lekas mencicipinya. Bima menganggukkan kepala sembari mengucapkan doa makan. Sayangnya, batinnya terus saja gusar. Alhasil, Bima membaca surat-surat pendek di dalam hatinya. Mulai dari ayat Qursi, Al Fatikhah, An Nas dan banyak lagi yang lainnya. Niatnya untuk menenangkan gegusaran namun yang terjadi malah membuatnya tercengang.
__ADS_1
Hampir saja Bima muntah andai tak bisa ia tahan. Bagaimana tidak mual, Bima melihat kalau hidangan soto yang Azam makan berubah menjadi potongan tubuh ular. Bahkan, kepalanya masih utuh di dalam mangkuk. Sedangkan kuahnya adalah darah segar yang berbau sangat anyir. Dengan cepat Bima menarik sendok Azam lalu membuang mangkok di depannya.
"Apa maksudmu Bim?" tanya Azam tak mengerti.
"Apa kamu tidak bisa melihat?"
"Bisa, aku bisa melihat dengan jelas saat kamu membuang makananku."
"Zam.."
"Apa? kamu kenapa? setidak sopan ini di depan ibunya Ayu."
Bima lekas menarik tangan Azam seraya mengajaknya pergi dari sana. Sayangnya, Azam mengempaskan genggaman Bima begitu saja dan terjadilah perdebatan di antara mereka. Azam marah sebab Bima membuat keributan tanpa dasar.
"Kamu gila ya?"
Bima diam dan kembali menarik paksa Azam hingga keluar dari rumah. Sekali lagi, Azam mengempaskan tangannya seraya melontarkan makian kepada Bima.
"Kamu yang gila Zam. Makanan yang kamu makan itu bukan soto melainkan daging ular dengan kuah darah."
"Bima cukup! aku tidak tahu apa alasanmu berbuat seperti ini. Kalau kamu tidak mau masuk, silahkan pergi! aku akan kembali dan meminta maaf atas insiden ini!"
"Jangan Zam jangan!"
"Pergi sana!"
Bima hanya bisa menghela napas panjang kala Azam berbalik, kembali masuk ke rumah Ayu. Batinnya dipenuhi rasa khawatir sekaligus takut. Pada Akhirnya, Bima melangkah pergi dari sana. Dengan hati gusar, ia berjalan pulang ke rumah sembari mendoakan Azam di dalam hatinya. Berdoa agar Alloh melindungi temannya.
Sesampainya di rumah, Bima bertanya kepada ibunya tentang tetangga baru mereka. Sayangnya, respon ibunya membuat Bima lebih khawatir sebab, ibunya terlihat bingung ketika Bima mengatakan tentang keluarga Ayu yang membeli tanah milih pak Hasan. Ibunya bersikeras kalau sampai detik ini, belum pernah dengar berita tentang pak Hasan yang menjual tanahnya atau pun tentang seseorang yang membangun rumah di tanah milik pak Hasan.
...Deg.. ...
"Ya Alloh apa lagi ini?"
"Ada apa Bim?" tanya ibunya yang mulai penasaran.
"Buk.."
"Ada apa? cerita ke ibuk!"
"Azam mengenal seorang perempuan bernama Puspa Ayu yang katanya, tinggal di sebuah rumah yang dibangun di tanah pak Hasan. Bahkan, Bima baru saja dari sana dan memang benar, ada rumah di sana. Bima juga bertemu dengan Ayu dan Ibunya. Diberikan jamuan makan juga tapi.."
"Tapi kenapa?"
"Bima sama sekali tidak makan karena batin Bima merasa gusar hingga saat Bima membaca doa-doa, makanan yang sedang Azam makan, berubah menjadi potongan daging ular beserta kepala ular utuh dengan kuah darah segar di mangkuknya."
__ADS_1
Seketika ibu Bima membulat terkejut.
...🍂 Bersambung... 🍂...