![ALAS ROBAN [ END ]](https://asset.asean.biz.id/alas-roban---end--.webp)
Rayyan menghela napas lalu memperbaiki posisi duduknya.
"Dibenci atau disukai jin, sama-sama tidak ada enaknya," ucap Rayyan.
"Karena itulah, aku ingin sekali menyadarkan temanku."
"Maksudmu, temanmu tidak tahu kalau sedang diincar jin?"
"Begini Yan ceritanya.."
Bima mulai bercerita panjang lebar tentang Azam dan Ayu kepada Rayyan. Mulai dari mimpi yang dialami Azam hingga terakhir, tentang jamuan makan di rumah Ayu. Bima juga bercerita bahwa tadi pagi, ia pergi untuk memastikan kembali perihal keberadaan rumah Ayu ketika Rayyan dan keluarganya datang, berkunjung ke rumahnya. Dugaan Bima, sosok yang Rayyan lihat ketika Bima pulang adalah sosok Ayu yang mengikutinya sampai ke rumah.
"Jadi begitu," ucap Rayyan sembari manggut-manggut.
"Kamu ikut aku saja besok!"
"Kemana Bim?"
"Ketemu temanku yang aku ceritain barusan. Coba kamu lihat nanti, apa si Ayu juga ngikutin dia dan syukur-syukur kalau kamu bisa berkomunikasi dengannya. Cari tahu, apa alasan dia mengincar temanku, Azam!"
"Namanya Azam?"
"Iya."
"Ya sudah boleh, sekarang lanjut tidur dulu!"
"Iya."
...🍂🍂🍂...
Esok paginya, Bima mengajak Rayyan berkunjung ke rumah Azam dengan alasan, ingin mentraktirnya makan, mumpung THR (Tunjangan Hari Raya) miliknya masih banyak. Bima juga mengenalkan saudaranya, Rayyan kepada Azam. Setelah mengobrol sebentar, berangkatlah mereka ke sebuah rumah makan yang berada di tengah kota. Bukan tanpa alasan, Bima mengajak makan di tempat yang lumayan jauh dari tempat tinggal mereka karena ia ingin melihat, apakah benar, ayu terus mengikuti Azam kemana pun ia pergi?
Anehnya, sepanjang kebersamaan mereka saat makan bersama, Rayyan lebih banyak diam. Hanya sesekali menjawab pertanyaan yang ditujukan padanya tanpa menimpali lebih jauh lagi. Bima menyadari hal itu namun memilih untuk mengabaikannya. Bima pikir, Rayyan pasti telah melihat sesuatu hingga membuat sikapnya menjadi seperti ini. Benar saja, ketika mereka telah kembali ke rumah, Rayyan baru berani buka suara lalu menceritakan apa saja yang telah ia lihat. Menurut Rayyan, dia melihat sesosok perempuan cantik yang berjalan di belakang Azam. Terus mengikuti kemana pun Azam pergi. Perempuan cantik itu juga duduk di boncengan motor Azam ketika mereka berangkat dan pulang dari rumah makan. Rayyan masih biasa pada awalnya namun, ketika sampai di rumah makan dan kemudian duduk di kursi pelanggan, sosok perempuan cantik itu berubah menjadi buruk rupa.
"Jadi itu yang membuatmu diam seribu bahasa?" tanya Bima.
"Bukan, tidak sesederhana itu Bim. Perempuan itu terus mengomeliku sepanjang waktu kita makan. Dia mengancamku agar tidak ikut campur. Kami juga sempat berinteraksi secara batin. Saat itu kukatakan bahwa aku tidak akan ikut campur lebih jauh asalkan dia mau memberitahuku tentang apa penyebabnya sehingga ia terus mengikuti temanmu."
"Lalu, apa jawabannya?"
"Bim, masalah ini dimulai dari Alas Roban."
...Deg.....
"Kok bisa?"
__ADS_1
"Temanmu itu melakukan kesalahan yang bisa dibilang sengaja atau tidak sengaja."
"Maksud kamu gimana?"
"Coba kamu ingat-ingat! apa dia sempat kencing sembarangan?"
"Kencing..? oh iya, dia sempat kencing di bawah pohon saat bis setan yang kami tumpangi berada dalam kawasan alas roban. Apa itu penyebabnya?"
"Salah satunya iya."
"Maksudmu ada lagi?"
Rayyan menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Bima.
"Bim, mungkin Azam tidak berniat mengusik siapa pun tapi tidak bisa dipungkiri juga kalau ia memang kencing sembarangan tanpa permisi, tidak sopan. Sementara pohon itu adalah tempat tinggal sosok perempuan yang kini, terus mengikuti Azam kemana pun ia pergi. Satu lagi kesalahannya, Azam memetik bunga mawar kesukaan sosok tadi dan membawanya pulang ke Jepara."
"Bunga mawar?"
"Iya."
"Jangan-jangan mawar merah yang dia bawa setelah kencing waktu itu."
"Sepertinya begitu."
"Lalu bagaimana caranya agar dia bisa pergi?"
"Wah ini yang susah, bagaimana caranya untuk bicara ke Azam?"
"Pikirkan pelan-pelan! aku tidak bisa membantu lebih dari ini."
"Iya aku tahu, makasih ya!"
Rayyan menganggukkan kepalanya sembari menepuk pelan pundak Bima.
...🍂🍂🍂...
Bima berpikir cukup keras hingga akhirnya, ia bertekad untuk tetap memberitahu Azam. Seperti yang dapat ditebak, Azam mementahkan semua penjelasan yang diutarakan oleh Bima. Azam bersikeras kalau Ayu, tidak ada hubungannya dengan penunggu alas roban. Terlebih lagi, tidak ada kaitannya dengan bunga mawar yang pernah ia petik di sana.
"Kupikir, kamu benar-benar sudah sadar Bim. Ternyata masih saja memojokkan Ayu hingga begini. Lagi pula, apa masalahnya dengan mawar? itu hutan, yang menguasai ya PERHUTANI, bukan jin atau pun si Ayu dalam imajinasimu itu. Apa sih mau? Ayu yang kukenal itu cantik, baik dan jelas, dia manusia. Bukan seperti yang kamu tuduhkan."
"Terserah kamu mau percaya atau tidak. Sekarang aku tanya, di mana kamu simpan mawar yang kamu petik dari Alas Roban?"
Azam mendengus.
"Itu sudah beberapa hari yang lalu. Mawarnya sudah kering, sudah aku buang."
__ADS_1
"Hah? kamu buang di mana? sampah depan?" tanya Bima sembari celingukan.
"Ngapain sih Bim? sampahnya juga sudah dibakar."
"Duh, celaka!"
"Jangan sok peduli kamu! aku tahu kalau kamu, punya maksud lain kan?"
"Maksud lain apa?"
"Kamu juga suka kan ke Ayu makanya berusaha banget biar aku putus sama dia?"
"Enggak Zam."
"Halah, mana ada maling ngaku?"
"Sungguh, apa yang aku lakuin ini demi kebaikanmu."
"Kalau memang itu niatmu maka, biarkan aku tenang bersama Ayu!"
"Zam.."
Azam menggelengkan kepalanya seraya membalik badan lalu masuk ke dalam rumah. Sementara Bima, hanya bisa menghela napas melihat temannya mengabaikan peringatannya lagi.
"Aku harus gimana Zam?" benak Bima sebelum kemudian melangkah pergi.
...🍂🍂🍂...
Di rumah, Tantri kembali menghubungi Bima untuk menanyakan perihal kesibukan Azam di sana sebab, kian hari Tantri merasa kian diabaikan. Mendengar ucapan Tantri, Bima hanya bisa mendengus di dalam hati.
"Mungkin, Azam keasikan ngobrol dan menghabiskan waktu bersama saudara-saudaranya. Lagi pula, besok atau lusa, kami juga balik ke Jakarta. Maklumin saja dulu, jangan berpikir macam-macam!" jawab Bima.
"Iya sih tapi rasanya.. beda banget loh Bim. Aku gak bisa jelasin, ini tuh cuma bisa kurasain. Feeling perempuan sering kali benar loh, aku takut.. aduh!"
"Gini aja Tan, nanti setelah Azam balik ke Jakarta, kalian ketemu deh berdua, lalu tanya langsung ke dia sekalian meluruskan semuanya. Khawatirnya, terjadi salah paham yang mana kalau tidak diluruskan akan semakin runyam."
"Iya Bim, ide bagus. Aku ikutin saran kamu saja!"
"Iya."
"Yaudah, makasih ya! aku tutup dulu, assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam."
Bima meletakkan ponselnya di ranjang seraya merebahkan badan di sana.
__ADS_1
"Azam, cepetan sadar!" gumamnya kemudian.
...🍂 Bersambung... 🍂...