![ALAS ROBAN [ END ]](https://asset.asean.biz.id/alas-roban---end--.webp)
Tantri menarik napas dalam sebelum mulai menjawab pertanyaan Bima. Tantri mengatakan bahwa ia masih sering memikirkan Azam karena masih mencintainya.
"Mungkin karena itulah yang akhirnya membuatku memimpikannya," ucap Tantri.
"Mimpi?"
"Iya, semalam aku bermimpi kalau Azam sedang berada di pelaminan dengan jin yang mengaku bernama Ayu itu. Entah benar atau sekedar bunga tidur semata. Yang jelas, dalam mimpiku, mereka telah menikah. Pernikahan yang sangat megah tapi semua tamu undangannya, jin yang memiliki wajah buruk rupa. Ada yang tangannya buntung, ada yang kakinya buntung, wajahnya hancur, mata dan hidung tidak simetris. Bahkan, ada juga yang tubuhnya dipenuhi borok, penuh luka dan nanah. Yang menurutku paling seram adalah, sosok yang memiliki mulut lebar hingga ke telinga."
"Azam memang belum pulang sampai sekarang."
"Aku hanya menebak, tidak tahunya, tebakanku benar."
"Yang sekarang aku khawatirkan adalah mimpimu Tan. Aku takut kalau itu merupakan sebuah firasat. Bagaimana jika Azam benar-benar menikahi Ayu? aku tidak bisa membayangkan."
"Aku masih berharap, ada keajaiban untuk Azam. Aku ingin dia kembali normal seperti sebelumnya."
"Aamiin, semoga! tolong bantu doa ya! aku mau balik ke Jepara untuk mencari Azam bersama kedua orang tuanya."
"Iya, aku pasti bantu doa! hati-hati ya Bim, kalau bisa, kabari aku juga!"
"Iya, aku tutup dulu Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam."
...🍂🍂🍂...
Setelah semuanya siap, Bima lekas berangkat ke terminal lalu mencari bus dengan jurusan ke Jepara. Bima memastikan betul-betul bahwa bus yang ia kendarai bukanlah bus setan. Maklum, pengalaman tidak menyenangkan yang ia alami membuatnya jadi lebih berhati-hati. Setelah yakin, barulah ia naik lalu duduk di bangku kosong yang ada di sana. Sepanjang perjalanan, ia gunakan untuk lebih banyak beristirahat agar tubuhnya fit saat melakukan pencarian bersama kedua orang tua Azam.
Waktu berlalu dan sampailah Bima di rumah orang tuanya. Kedatangan Bima sudah diketahui oleh mereka sebab Bima telah memberitahu keduanya. Bima diminta untuk lekas mandi oleh ibunya. Sementara ibunya, sibuk menyiapkan makanan untuk Bima. Usai mandi, makanan telah siap untuk disantap.
"Gimana Bim? ibuk ketir-ketir saat mendengar kabar kalau Azam menghilang," tanya ibunya di sela-sela agenda makan mereka.
"Masih belum tahu buk. Dugaan sementara, Azam dibawa makhluk halus ke Alas Roban."
"Siapa? sosok perempuan yang dulu pernah kamu ceritakan itu?"
"Iya buk, dugaannya sih gitu. Kemarin, Bima dan pak Anhar sudah mendatangi orang pintar dan orang pintar itu bilang seperti itu."
__ADS_1
"Duh! benar-benar jadi masalah besar. Bisa gak sih Bim, kamu gak usah ikut-ikutan?"
"Gak bisa buk, cuma Bima yang tahu lokasi Azam kencing sembarangan."
"Kamu pandu dari sini saja, tidak perlu ikut ke sana!"
"Buk, sudah jangan berlebihan!" sela ayah Bima.
"Bima tidak bisa hanya berpangku tangan tanpa membantu apa-apa. Secara tidak langsung, dia turut terlibat," timpal ayahnya lagi.
"Apa bapak tidak mengkhawatirkan anak bapak?"
"Tentu saja bapak khawatir tapi kan Bima hanya menunjukkan lokasinya saja. Perihal tindakan selanjutnya, keluarga Azam sendiri yang akan bertindak. Begitu kan Bim?"
"Iya pak," jawab Bima.
"Kalian ini, bapak dan anak sama saja."
"Tenang saja buk, Bima pasti jaga diri!" sahut Bima menenangkan.
...🍂🍂🍂...
...🍂🍂🍂...
Keesokan harinya, orang tua Azam mendatangi Bima di rumah bersama dengan seorang lelaki paruh baya bernama mbah Woto yang tak lain adalah orang pintar dalam tanpa kutip. Orang tua Azam sengaja mengajaknya untuk menjaga mereka dari hal-hal yang tidak diinginkan sekaligus untuk mencari Azam juga. Usai berpamitan, Bima lantas masuk ke dalam mobil dan perjalanan pun dimulai.
Sesampainya di kawasan Alas Roban, Bima sibuk mengingat perihal lokasi dimana Azam kencing sembarangan. Tak dapat dipungkiri jika Bima merasa kesulitan sebab, warung-warung yang saat itu berderet banyak kini, telah tiada. Ayah Azam memperlambat laju kendaraannya guna memberikan ruang untuk Bima agar lebih mudah mengingatnya. Butuh waktu lama sebelum kemudian, Bima dapat menentukan lokasi warung, tempat mereka memesan mie instan. Semua orang turun dari mobil seraya memandang ke sekeliling.
"Di sini Bim?" tanya Ayah Azam.
"Iya pak."
"Tidak ada tanda-tanda pernah berdiri sebuah warung di sini," sahut ibunya.
"Iya buk, saya juga heran tapi saya yakin kalau di sini tempatnya dan di sebelah sana itu lokasi bus kami mogok," jawab Bima sembari menunjuk ke suatu arah.
"Baiklah, bagaimana sekarang mbah?" tanya Ayah Azam kepada mbah Woto.
__ADS_1
"Nak Bima, di mana lokasi Azam kencing sembarangan?"
"Di sana mbah, mari saya tunjukkan!"
Semua orang pun berjalan mengikuti langkah kaki Bima.
"Di sini mbah, tepat di bawah pohon ini dan ini... ini pasti pohon bunga mawar yang sempat Azam petik."
"Hemm.. baiklah, tunggu sebentar!" pinta mbah Woto dan semua orang pun diam.
...🍂🍂🍂...
Di alam jin, Azam tengah berduaan bersama Ayu. Menghabiskan waktu berdua seolah Azam telah tersihir dan tak sedikit pun membicarakan perihal alam manusia. Persiapan pernikahan pun hampir rampung dilakukan. Bahkan, Azam sudah tidak sabar untuk segera mempersunting Ayu sebagai istrinya.
...🍂🍂🍂...
Mbah Woto terlihat merapalkan sesuatu sembari menutup kedua matanya. Kurang lebih, sepuluh menit lamanya ia berdiam di tempat yang sama. Setelah itu, barulah beliau berkata bahwa Azam memang ada di sana hanya saja, ada jin perempuan yang sedang menyembunyikannya. Usai mengatakan hal tersebut, mbah Woto kembali memejamkan mata dan membaca doa-doa. Bima beserta kedua orang tua Azam hanya bisa diam sembari terus berdoa di hati masing-masing.
"Dia marah," celetuk mbah Woto.
"Dia tahu kalau kita sedang mencari keberadaan Azam dan dia tidak ingin mengembalikannya," ucap mbah Woto lagi.
"Jin perempuan itu yang melarang?" tanya ibu Azam.
"Iya."
"Lalu bagaimana?"
"Saya akan mencobanya sekali lagi."
"Saya ingin tahu, buka mata batin saya mbah! saya ingin melihat di mana anak saya!" pinta ayah Azam.
"Apa yang akan anda lihat bukanlah sesuatu yang akan anda sukai. Rupa mereka..."
"Tidak masalah, saya kuat."
"Baik."
__ADS_1
Karena ayah Azam bersikeras maka,bah Woto pun mengabulkan permintaannya.
...🍂 Bersambung... 🍂...