ALAS ROBAN [ END ]

ALAS ROBAN [ END ]
MENGHILANG


__ADS_3

"Lelah sekali ya kalian?"


"Iya pak," jawab Azam.


"Tidur saja kalau begitu! beberapa jam lagi, pagi."


"Bapak tidak apa-apa kalau kami berdua tidur?" tanya Bima.


"Tidak apa-apa, saya sudah terbiasa menyetir sendirian. Kalianlah yang harusnya kembai."


"Kembali ke mana pak?"


"Ke rumah masing-masing."


"Em.. iya," jawab Bima sembari menganggukkan kepala.


Sebenarnya, Bima merasakan keanehan dari ucapan si bapak namun karena kantuk dan rasa lelah yang telah mencapai puncaknya, membuat Bima mengabaikannya. Bima mengubah posisi ternyaman untuk kemudian mulai tidur, begitu pun dengan Azam. Entah berapa lama mereka tidur hingga kemudian, sinar mentari membangunkan keduanya. Bima dan Azam mengerjapkan mata beberapa kali seraya coba mengenali lokasi mereka saat ini. Ternyata, mereka telah keluar dari kawasan Alas Roban dan terbangun di tepi jalan. Bima kembali mengingat perihal apa yang terjadi semalam seiring munculnya beberapa pertanyaan dalam benaknya.


"Bukankah kami menumpang mobil pick up semalam?"


"Kenapa bapak itu meninggalkanku dan Azam di tepi jalan?"


"Mungkinkah bapak itu juga bukan manusia?"


...Deg.....


Tak lama kemudian, sebuah truk berhenti. Salah seorang dari penumpangnya turun seraya menghampiri Bima dan Azam.


"Mas berdua ngapain di sini? korban kecelakaan atau bagaimana?" tanyanya.


Bima dan Azam saling melempar pandang lalu mengamati orang tersebut dengan seksama.


"Kalian baik-baik saja kan?"


Bima dan Azam kembali saling melempar pandang sebelum kemudian mengangguk. Setelah yakin bahwa orang di depannya adalah manusia, Bima mulai menjawab:


"Kami bingung.."


Orang itu pun lekas mengambil sebotol air mineral dari dalam truknya dan memberikannya kepada Bima.


"Kalian berdua minum dulu!"


Bima dan Azam menurut.


"Sebenarnya ada apa? apa yang terjadi pada kalian?"


"Kami..."


Bima menghela napas panjang sebelum melanjutkan ucapannya, menceritakan seluruh kejadian yang telah Bima dan Azam alami.


"Jadi begitu, kalian sudah makan?"


"Belum pak."


"Yasudah, ikut kami saja! kita searah, nanti kita berpisah kalau mulai berbeda arah!"


"Baik pak, terima kasih!" jawab Bima dan Azam.

__ADS_1


...🍂🍂🍂...


Kali ini, Bima dan Azam bertemu dengan manusia yang sesungguhnya. Dua orang bapak yang menolong mereka, benar-benar mengantarkan Bima dan Azam ke tujuan. Bahkan, mentraktir mereka makan juga sebelum kemudian, berpisah di persimpangan jalan karena arah yang di ambil berbeda. Bima dan Azam mengucapkan banyak terima kasih seraya melambaikan tangan.


"Alhamdulillah Zam, bentar lagi kita sampai ke rumah."


"Iya Bim, itu angkutannya."


"Iya-iya, ayo naik!"


Bima dan Azam mengendarai angkutan umum lalu menaiki ojek hingga sampai ke rumah masing-masing.


...🍂🍂🍂...


"Assalamualaikum!" ucap Bima ketika sampai di rumah orang tuanya.


Tak lama kemudian, ibunya keluar dengan mata berkaca-kaca seraya langsung menghambur ke arahnya. Tangis pecah seketika membuat Bima bingung bukan kepalang.


"Kangen sih kangen tapi kok sampai begini?" tanya Bima di dalam hati.


Sesaat kemudian, ayah, kakak dan adiknya juga keluar.


"Alhamdulillah mas, kamu baik-baik saja," ucap adiknya.


"Hah? apa maksud Laras?" benak Bima.


"Sini nak, duduk sini!" pinta ayahnya.


Bima menurut dan lekas duduk di sofa ruang tamu.


"Ras, buatkan teh hangat buat masmu!"


"Iya yah."


"Ke mana maksudnya? sebenarnya ada apa yah? Bima kan memang kerja di Jakarta dan sudah ngabarin juga kalau mau pulang ke Jepara. Apanya yang ke mana saja?"


"Kamu pingsan atau bagaimana? apa yang terjadi sepanjang perjalanan mudikmu kali ini?"


"Soal mudik, memang Bima sedang apes. Bima mengalami kejadian yang tidak mengenakan. Bis yang Bima tumpangi ternyata bis setan. Belum lagi banyak sekali penampakan dan gangguan dari jin-jin penunggu Alas Roban."


"Hemm.. Ayah mengerti sekarang, kamu di putar-putar kan di Alas Roban rupanya."


"Enggak diputar-putarkan kok pak. Hanya gangguan ghaib saja dari mulai berangkat sampai ke Jepara."


"Nak, apa kamu tahu kalau kamu sudah menghilang selama tiga hari?"


...Deg.....


Bima bungkam seketika, betapa hal ini sangat sulit diterima nalarnya.


"Bagaimana bisa?"


"Setelah kamu memberi kabar perihal keberangkatanmu, kamu sudah tidak bisa dihubungi lagi. Keesokan harinya pun sama, ibumu sudah khawatir dan mulai berpikir yang bukan-bukan. Tengah hari kemudian, kami berdiskusi dengan orang tua Azam dan di sepakati untuk membuat laporan orang hilang di kantor polisi pada malam harinya. Tepat tiga hari berselang, kamu datang."


...Deg.....


"Ya Alloh, hal gila apa lagi ini?" gumam Bima di dalam hati.

__ADS_1


"Apa pun yang telah terjadi, ayah bersyukur karena kamu masih bisa kembali dengan selamat."


"Iya yah."


"Diminum dulu tehnya!"


"Iya."


"Ibuk siapkan makanan buat kamu ya nak? setelah makan, baru mandi lalu istirahat!"


"Iya buk."


Bima menyruput teh hangat buatan adiknya sembari berpikir tentang bagaimana bisa hal seperti ini terjadi padanya.


"Kok bisa sih? gak terbayang kalau aku bakalan mengalami hal setidak masuk akal ini," ucap Bima di dalam hati.


...🍂🍂🍂...


Di tempat lain, Azam mengalami hal serupa. Orang tuanya amat senang melihat anaknya datang. Azam yang bingung lantas dicerca dengan banyak pertanyaan. Setelah saling bercerita, diketahuilah bahwa ia dan Bima telah menghilang selama tiga hari lamanya.


"Tiga hari, rasanya hanya semalam," gumam Azam.


...🍂🍂🍂...


Setelah mandi dan makan, Azam beristirahat di kamarnya sembari mengisi daya ponselnya. Saat ponsel dinyalakan, banyak sekali pesan masuk serta panggilan yang tak terjawab, salah satunya dari Tantri, kekasihnya.


"Tantri, kamu pasti khawatir," gumam Azam sembari menekan nomer di layar ponsel untuk menghubungi kekasihnya.


[ Hallo! sayang, itu kamu kan? kamu ke mana saja? kamu baik-baik saja kan? kata orang tuamu..]


[ Sayang, aku baik-baik saja.]


[ Kamu.. ]


Tantri tak dapat melanjutkan ucapannya seiring suara tangis yang terdengar.


[ Maaf ya sayang, sudah membuatmu khawatir! ]


[ Kenapa? apa yang terjadi? ]


[ Ceritanya sangat panjang. ]


[ Akan aku dengarkan.]


[ Baiklah tapi, kamu harus diam dulu, jangan nangis lagi ya! ]


[ Iya sayang. Jujur, aku lega banget, kamu baik-baik saja. Rasanya seperti orang gila nungguin kabar darimu. Dadaku sakit, aku takut kamu kenapa-kenapa.]


[ Alhamdulillah semua sudah terlewati. Pengalaman yang tidak akan pernah bisa kulupakan dan lain kali, sebaiknya aku menuruti firasat Bima. ]


[ Firasat apa? ]


[ Jadi, semenjak awal keberangkatan kami, Bima sudah didatangi seorang kakek dalam mimpinya yang melarang kami untuk mudik. Aku yang memaksa Bima untuk tetap berangkat hingga kejadian ini bisa menimpa kami.]


[ Apa saja yang kalian alami? ]


[ Banyak yang, semua sudah salah dari awal. Kami berdua menaiki bis setan. Semua penumpangnya bukan manusia. Banyak sekali penampakan. Kami juga masuk ke dalam warung setan. Benar-benar malam yang sial. Anehnya lagi, kami merasa hanya melakukan perjalanan semalam tapi ternyata, kami telah menghilang selama tiga hari di dunia nyata. Mungkinkah, kami dibawa ke dimensi mereka? ]

__ADS_1


...Deg.....


...🍂 BERSAMBUNG... 🍂...


__ADS_2