ALAS ROBAN [ END ]

ALAS ROBAN [ END ]
ALAS ROBAN - PENCARIAN


__ADS_3

Mbah Woto membuat sebuah garis di tanah dan meminta agar Ayah Azam melangkahi garis itu menggunakan satu kaki. Sementara kaki yang lainnya tetap berada di tempat semula. Beliau mewanti-wanti agar ayah Azam tidak melangkah ke mana pun atau pun menggeser posisi kakinya.


"Kenapa tidak boleh bergeser mbah?" tanya ayah Azam.


"Karena ini sifatnya mengintip, anda amati saja dulu sebelum benar-benar mencari Azam ke alam lain! karena ini adalah mengintip maka, mereka tidak akan tahu tentang keberadaan anda. Intinya, jangan sampai semua kaki anda, melangkah ke sana! kalau itu anda lakukan sama dengan anda masuk ke alam lain dan saya harus mencari anda juga nantinya. Anda bisa turut disembunyikan juga oleh mereka. Jadi, tolong patuhi ucapan saya! Setelah selesai mengamati, silahkan anda putuskan untuk ikut mencari atau menunggu saya di sini!" jelas mbah Woto.


"Baik mbah."


"Sekarang, buka mata pelan-pelan!"


"Iya."


Ayah Azam membuka matanya perlahan dan terlihatlah suasana yang sangat berbeda. Hutan lebat di sekelilingnya berubah menjadi sebuah perkampungan. Rumah-rumah di sana tampak seperti rumah lawas di pedesaan yang masih menggunakan dinding bambu dan berlantaikan tanah.


"Hati-hati, jangan digeser kakinya!"


"Iya."


Tak lama kemudia, muncul beberapa jin dengan rupa yang sungguh tidak enak dipandang mata. Sebagian wajahnya berkerut seolah pernah tersiram air panas. Rambutnya hanya beberapa helai. Ada juga yang matanya hanya satu sementara mata lainnya hanya tinggal kelopaknya. Ada pula yang tubuhnya dipenuhi bulu dan masih banyak yang lainnya. Suasana di sana terlihat normal seperti para penduduk desa kecuali rupa mereka yang beragam dan tentu bisa dibilang, buruk rupa. Banyak yang memiliki anggota tubuh tidak lengkap.


"Bagaimana? masih mau lanjut? yang seperti anda lihat ini, baru hal biasa, belum yang memiliki wujud separuh binatang," ucap mbah Woto.


"Ya, saya tetap mau ikut mencari!" jawab ayah Azam dengan mantap.


"Baiklah, kalian berdua (Bima dan ibu Azam) tetap diam di sini, bantu doa untuk kami!"


"Baik mbah," jawab Bima dan ibu Azam bersamaan.


Mbah Woto menganggukkan kepala seraya turut melangkahkan kaki masuk ke dimensi mereka.


"Pegang baju saya pak!" pinta mbah Woto.


"Iya mbah."


Mbah Woto mulai komat-kamit sebelum kemudian melangkah dan hilang dari pandangan Bima beserta ibu Azam.


"Loh.."


"Tenang tante, mungkin mereka sudah masuk ke alam ghaib," sahut Bima.


"Oh, iya.."


Keduanya hanya bisa menunggu sembari terus berdoa di dalam hati.

__ADS_1


...🍂🍂🍂...


Di alam ghaib, Mbah Woto dan ayah Azam dihadang oleh beberapa makhluk bertubuh besar. Mbah Woto menyebutnya sebagai buto. Ada sekitar empat buto yang datang dan langsung melontarkan pertanyaan bernada kasar.


"Mau apa kalian kemari? kalian tidak diterima di sini!" ucap salah satu di antaranya.


"Maaf! kami ingin bertemu dengan sosok yang bernama Puspa Ayu," jawab mbah Woto.


"Pulang! jangan berani-berani kemari lagi!"


"Kami akan kembali setelah bertemu dengannya. Setidaknya, kami harus berdiskusi."


"Lancang!"


Sesaat setelahnya, terdengar suara seorang perempuan yang meminta agar para buto membawa mbah Woto beserta ayah Azam untuk menemuinya.


"Kalian sudah dengar kan? cepat jalan!" pinta buto yang sama dengan ketusnya.


Mbah Woto dan ayah Azam pun berjalan mengikuti langkah para buto di depan mereka.


...🍂🍂🍂...


Di alam manusia, hari telah gelap. Ibu Azam gelisah sebab suaminya belum terlihat. Bima bertanya perihal apa yang akan ibu Azam lakukan? Apakah tetap menunggu di sini atau bagaimana sebab, beliau seorang perempuan. Bima khawatir kalau menunggu di hutan akan membuatnya merasa takut dan tidak nyaman.


"Baik tante, tante tolong temani saya mencari kayu bakar ya! agar kita tidak terpencar."


"Iya ayo!"


...🍂🍂🍂...


Sementara itu, mbah Woto dan Ayah Azam telah sampai di sebuah rumah yang sangat megah, layaknya istana. Ayah Azam terperangah melihatnya.


"Ini adalah rumah bu lurah. Puspa Ayu adalah putri bu lurah satu-satunya," jelas buto.


"Rumah bu Lurah semegah ini? tidak masuk akal," celetuk ayah Azam tanpa sadar karena saking terpukaunya.


"Sembarangan!" bentak buto.


"Maaf!" ucap ayah Azam kemudian.


Mbah Woto mendekat seraya berbisik ke telinga ayah Azam.


"Ini semua hanyalah tipu muslihat jin. Tempat tinggal mereka yang sebenarnya sangatlah kumuh, mereka menyukai sampah dan tempat yang kotor. Dia sengaja membuat tipu muslihat seperti ini karena kita manusia, kita menyukai sesuatu yang seperti ini."

__ADS_1


"Oh, iya-iya saya mengerti."


"Cepat masuk!" bentak buto sekali lagi.


"Perlakukan ayah mertuaku dengan baik!" sebuah suara kembali terdengar yang mana jelas, itu adalah suara Ayu.


Para Buto mengangguk mengerti.


...🍂🍂🍂...


Ibu Azam mengeluarkan rantang berisi makanan yang rencananya akan ia berikan kepada Azam kalau ia berhasil ditemukan. Sayangnya, hingga malam tiba, Azam, ayah Azam dan mbah Woto belum terlihat batang hidungnya. Alhasil, bekal makanan pun dimakan berdua bersama dengan Bima. Bagaimana pun, perut mereka harus diisi agar tidak jatuh sakit.


...🍂🍂🍂...


Para buto membawa ayah Azam dan mbah Woto ke sebuah ruangan yang cukup besar. Di sana terdapat sebuah meja panjang dengan banyak kursi di sisi-sisinya. Keduanya diminta untuk duduk dan menunggu. Usai mengatakan hal itu, para buto mundur, berjaga di sekitar pintu. Sesaat kemudian, datang beberapa jin perempuan berparas cantik seperti manusia pada umumnya. Masing-masing dari mereka membawa baki berisi makanan. Beragam makanan di sajikan. Buah-buahan pun tak luput dihidangkan. Aroma masakan menusuk indra penciuman.


"Silahkan dimakan!" ucap salah seorang pelayan dengan lembutnya.


"Bagaimana mbah?" tanya ayah Azam.


"Jangan dimakan! ini semua sampah dan bangkai binatang."


Mendengar jawaban mbah Woto membuat Ayah Azam tercekat.


...🍂🍂🍂...


"Kenapa lama sekali ya Bim?"


"Bima juga tidak tahu tante. Kita memang berbeda alam dengan mereka, mungkin perundingannya juga alot karena perbedaan itu. Bagaimana pun, mereka ingin menahan Azam sedangkan kita, ingin mengambil Azam. Tidak mungkin kan mereka memberikannya begitu saja?"


"Iya tapi tante takut kalau ayah Azam dan mbah Woto malah ikut terperangkap juga di sana."


"Hemm.. Bima juga mengkhawatirkan hal yang sama tapi, kita tidak bisa berbuat apa-apa selain berdoa."


"Tante tidak rela kalau mereka membawa anak tante," ucap ibu Azam diiringi tangis yang tak lagi bisa ia tahan.


Bima hanya bisa diam sembari coba menenangkan.


"Ya Alloh, tolong Azam! tolong ayahnya dan mbah Woto juga! selamatkan mereka, selamatkan kami semua!" pinta Bima di dalam hati.


"Tante tenang ya! kita lanjut berdoa! doa yang tulus pasti didengar! terlebih doa orang tua untuk anaknya."


Ibu Azam mengangguk lalu kembali khusuk berdoa, memohon pertolongan dari yang maha kuasa.

__ADS_1


...🍂 Bersambung... 🍂...


__ADS_2